Laporan dan Berita
Temu Ramah Sebagai Keluarga Besar RKI - KBS
Jika sempat mendengar siarannya mungkin Anda akan
dengan mudah mengenalinya, karena dalam melafal bahasa Indonesia suara
penyiarnya terdengar klasik dan cukup khas di telinga kita. Nona Kim,
Mi-no salah satu penyiar dan produser Radio Korea Internasional KBS Seksi
Bahasa Indonesia berkenan menjamu para pendengarnya pada hari Sabtu, tanggal
21 Agustus 1999 di Jakarta, dan hari Minggu tanggal 5 September 1999 di
Yogyakarta.
Acara temu ramah itu dihadiri oleh cukup banyak peserta,
yang dalam kesempatan tersebut bertanya mengenai apa saja mengenai Radio
Korea Internasional KBS. Selain memberi masukan pada stasiun radio
tersebut. Secara umum, siaran RKI - KBS dinilai masih kurang bagus,
sementara sinyalnya lemah dan sering mendapat gangguan.
Acara yang disajikan pun cukup beragam, mencakup berita,
hiburan, dan informasi dalam bidang budaya, sosial, ekonomi, politik, dan
pendidikan, tentang Korea dan masyarakatnya. Nilai lebih dari RKI - KBS
adalah pelayanan surat surat pendengar, selain perhatian yang diberikan
kepada klub DX dan pendengar di Indonesia.
Diharapkan, dengan acara-acara seperti ini, penyelenggara
siaran akan memperoleh masukan berupa saran dan kritikan demi kemajuan RKI
- KBS. Temu ramah berlangsung secara santai, sambil menikmati hidangan yang
disajikan. Suasana semakin akrab dengan obrolan, diselingi canda dan gelak
tawa peserta. Pada penghujung acara, ekspresi dan gaya para peserta sempat
diabadikan dengan acara foto bersama.
Para peserta pulang kembali ke tempat masing masing dengan
membawa cindera mata khas RKI-KBS, selain kenangan manis yang tidak akan
terlupakan. Terima kasih Mbak Kim, Mi-no, kamsahamnida RKI. Sampai jumpa !!
(Ajie Sukardi)
Mengenal Lebih Dekat Nona Kim, Mi-no
Ternyata lagu "Halo Halo Bandung" yang patriotik dikenal
serta dihafal bukan saja di Indonesia, melainkan juga oleh para mahasiswa
Fakultas Sastra dan Bahasa Asia Universitas Hanguk di Seoul, Korea. Salah
satu alumninya adalah nona Kim, Mi-no yang saat ini bekerja sebagai penyiar
sekaligus produser seksi bahasa Indonesia Radio Korea Internasional - KBS.
Lahir di Pusan sebagai anak sulung dengan seorang adik
kandung, Nona Kim, Mi-no mengenyam pendidikan formal dasar sampai menengah
di kota kelahirannya, sebuah koa industri dan kota terbesar kedua setelah
kota kosmopolitan Seoul. Minatnya yang begitu besar di bidang bahasa
mendorongnya untuk mengambil jurusan bahasa Indonesia pada Fakultas Sastra
dan Bahasa Asia Universitas Hanguk di Seoul.
Di Universitas Hanguk tersebut, peminat jurusan bahasa yang
diambilnya menempati urutan ketiga setelah bahasa Cina dan bahasa Jepang.
Kenapa bahasa Indonesia ? Alasannya, bahasa Indonesia relatif mudah
dipelajari dengan jumlah penutur cukup banyak dibandingkan dengan bahasa
Thai, misalnya. Alasan yang sama pun diiyakan oleh para mahasiswa asal Korea
yang saat ini sedang menekuni program S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Mereka sempat ditemui pada acara temu ramah di Resto Serayu,
Quality Inn, Yogyakarta. Lanjut Nona Kim yang mempunyai hobi renang, kasus
imbuhan dan akhiran kata pada bahasa Indonesia cukup sukar, mengingat
banyaknya perkecualian. Bagi Nona Kim, Mi-no, negeri Indonesia tidak asing
lagi, karena sudah beberapa kali dikunjunginya, dengan tidak lupa singgah di
pulau dewata, Bali, selain kota gudeg, Yogyakarta.
Kedua tempat ini adalah tempat yang paling berkesan dari
segi keramahan penduduknya, juga keindahan alam lingkungannya. Apabila Anda
ingin mengenalnya, temui saja ia di udara RKI - KBS dalam acara Panorama
Musik Korea. Pantaulah terus RKI - KBS, dan sering-seringlah menyurat ke
redaksi, baik berupa laporan penerimaan siaran (LPS), saran, ataupun kritik,
untuk kemajuan RKI - KBS di masa mendatang, demikian pesan Nona Kim, pemilik
Hyundai Elantra, yang selalu setia menemaninya ke manapun dia pergi di Korea.
Memang, bagi Nona Kim, Indonesia sudah menjadi negerinya
yang kedua setelah negeri ginseng asalnya. Perjalanan dan pengetahuannya
mengenai negeri nusantara sudah melebihi jarak Antara Anyer dan Jakarta,
yang
merupakan salah satu judul lagu yang juga dihafal, dan menjadi salah satu
lagu favoritnya. Jatuh cinta pada profesinya, juga jatuh cinta pada negeri
Indonesia dan para pendengarnya. (Ajie Sukardi)