Profil Stasiun
Suara Jerman Deutsche Welle, SJDW
Singkatan yang sudah begitu akrab khususnya bagi pendengar
gelombang pendek di tanah air tercinta ini. Dalam acara Obrolan Bung Rudi
edisi 17 Oktober 1999, jam 11.11 UTC, bersama Mbak Mariana Kwa, Bung Rudi
menyinggung masalah penghematan di dalam tubuh Deutsche Welle, yang
dikatakannya sebagai salah satu pengguna uang pajak yang dipungut dari
rakyat negara Jerman.
Bayangkan saja, betapa seorang warga suatu negara yang
termasuk salah satu negara anggota kelompok G7, kumpulan negara industri
maju, sangat sadar atas keberadaannya, dan tidak melupakan asal usul dari
mana dia bisa membiayai semua kebutuhannya, baik sebagai suatu institusi
maupun sebagai pribadi. Bukan bermaksud memuji, tetapi berusaha menarik
garis pembanding.
Dan menarik kesimpulan bahwa sikap semacam itu seharusnyalah
dimiliki setiap warga negara Indonesia, mulai dari kepala negaranya sampai
ke rakyat pada umumnya. Setidaknya dari pemahaman semacam itu dapat
dibudayakan sikap tahu diri dan menghargai orang lain. Sebagai penguasa
tidak asal bicara, sok kuasa, dan harus lebih banyak mendengar.
Sebaliknya, sebagai rakyat biasa selalu berusaha untuk
saling memelihara situasi dan kondisi, tidak gampang melampiaskan kekecewaan
dengan merusak atau mengambil aset aset negara maupun fasititas umum, sebab
dengan sikap-sikap yang kontra produktif itu yang rugi kita semua sebagai
bangsa dan pemilik negara ini. Kalau yang diambil atau dirusak milik orang
lain, apa bedanya dengan pencuri atau perampok ?
Hidup cuma sekali, kalau diwarnai hal-hal yang negatif
begitu yang rugi kita sendiri juga. Kembali ke uraian si bung di atas,
kelihatannya segala carut-marut di negeri ini, dari aspek lain, malahan
membawa sesuatu yang positif, setidaknya bagi para penguping radio. Isu
penghematan ternyata tak berpengaruh terhadap kelangsungan siaran SJDW.
Justru total jam siaran per harinya bertambah 20 menit, yaitu siaran pukul
11.00-11.25 UTC diperpanjang menjadi 11.00-11.45 UTC.
Perpanjangan jam siaran itu sudah dimulai pada siaran tanggal 31 Oktober
1999. Warta berita terakhir dibacakan pukul 11.30 sampai sekitar pukul
11.36 UTC, selanjutnya interval signal "Es sucht der Bruder seine Bruder"
terdengar sampai jam 11.45 UTC. Resminya memang baru dimulai tanggal 1
November 1999, tetapi alasan perpanjangan jam siaran itu sendiri terasa aneh dengan adanya isu penghematan tadi.
Bung Rudi katakan bahwa alasannya karena situasi di
Indonesia semakin gawat, dan SJDW sebagai pemancar radio yang independen
ingin adanya dialog, tentunya dengan pakar pakar dan tokoh tokoh masyarakat,
serta pendengarnya. Memang, pada saat acara tersebut diudarakan, situasi di
Indonesia masih diwarnai kegiatan elit-elit politik kita menjelang pemilihan
presiden. Setelah presiden terpilih, menyusul kemudan wakil presidennya,
apakah situasi masih gawat ?
Rasanya lebih pas, kalau alasan perpanjangan jam siaran
tersebut lebih mengarah pada peran Jerman sebagai negara besar yang ingin
melihat pertumbuhan negara Indonesia berjalan dengan mulus dan demokratis,
satu dan lain hal tentunya berkaitan juga dengan kepentingan kepentingan
ekonominya. Dalam "Siaran Bahasa Indonesia di Jantung Eropa" edisi Januari
1999 ditulis bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama di kawasan Asia
yang disiarkan DW sejak berdirinya tahun 1953.
Titik berat siaran adalah kejadian internasional, laporan
serta analisis perkembangan kejadian di Indonesia dengan para pengamat yang
kritis, penyajian secara aktual, kritis, akurat, dan berimbang. Selain
menyajikan informasi juga disiarkan opini, maupun dialog, dengan tujuan
terciptanya jembatan persahabatan, kebudayaan, dan sainig pengertian antara
kedua bangsa. Dengan perpanjangan jam siaran itu, dalam satu harinya, siaran
Suara Jerman Deutsche Welle berjumlah 120 menit.
Tambahan jam siaran itu tak akan berarti apa-apa apabila
dari pihak para pendengar sendiri tak ada tambahan keinginan untuk turut
serta mengisinya, dengan mengambil kesempatan pada acara-acara yang ada
sesuai dengan minat masing masing pendengar. Melalui mimbar ini, redaksi
menghimbau pembaca, khususnya anggota IDXC, agar ikut berperan aktif mengisi
acara-acara SJDW, Suara Jerman Deutsche Welle, yang selama ini telah banyak
berperan serta dalam kegiatan kegiatan IDXC.
Kesempatan bagi para pendengar untuk berpartisipasi dalam
siaran siaran SJDW lebih dipermudah dengan adanya alamat surat di Indonesia,
yaitu : Tromolpos 1128, Jakarta 10011. Bagi yang suka lewat jalan tol, dapat
melalui alamat e-mail-nya di : indones@dwelle.de. Ada pengalaman kami yang
menggelikan, namun cukup menyakitkan, sehubungan dengan urusan surat
menyurat ini.
Pada awal bulan Oktober 1999 lalu, kami mengirim ringkasan
laporan penerimaan siaran SJDW selama bulan September 1999 dengan alamat
tersebut di atas. Jelas dan benar, pakai komputer lagi. Ternyata, pada akhir
bulan yang sama, surat tersebut kembali ke P.O. Box 2001 DPPS, Depok 16432.
Label alamatnya dicoret (cross), dan ada stempel Bagian Administration
Deutsche Bank, lengkap dengan tanggal dan jam.
Ini jelas-jelas diakibatkan ngantuknya petugas pos dalam
membagi atau menyortir surat, sehingga Deutsche Welle dibaca sebagai Deutsche
Bank, tanpa melihat nomor tromolpos-nya. Yah, mau gimana lagi ? Paling paling
berdoa saja mudah-mudahan kejadian semacam itu tidak terulang lagi.
Barangkali Anda punya pengalaman lain lagi ? Kenapa tidak layangkan surat ke
alamat kami, atau langsung ke alamat SJDW ?
Siapa tahu, dengan mengirim surat itu Anda mendapat sekedar
kenang kenangan berupa souvenir SJDW. Seperti yang sudah sering diudarakan,
acara Kotak Surat bukan hanya membalas surat surat pendengar saja, tetapi
juga membacakan tulisan atau pendapat pengirimnya. Semacam itulah yang
dimaksud Bung Rudi dengan dialog di atas. (SAS)
Radio Prague
Dekade yang lalu telah memperlihatkan perubahan yang radikal
dalam masyarakat Ceko secara keseluruhan. Media bukan lagi merupakan alat
propaganda negara. Radio Prague, bagian dari layanan umum Czech Radio,
secara penuh telah menyerap perubahan itu, dan membangun suatu identitas
baru baginya.
Saat ini, kami melangsungkan siaran dalam lima bahasa, Ceko,
Inggris, Perancis, Jerman dan Spanyol, dan berusaha keras untuk sebaik
mungkin menjalankan misi memberikan informasi kepada pendengar pendengar di
seluruh dunia internasional segala perkembangan di Republik Ceko. Untuk
mencapai semuanya itu, secara teknis, kami berusaha mengembangkan kualitas
sinyal kami.
Tahun ini, Radio Prague mulai merelai siaran siaran bahasa
Ceko, Inggris, dan Spanyol melalui Radio Miami International. Relai tersebut
menyiarkan sinyal gelombang pendek ke bagian utara Amerika Selatan, dan
bagian barat tengah Amerika Serikat, yang sebelumnya tidak pernah terjangkau.
Kami juga bisa dipantau melalui satelit dalam siaran bahasa Ceko, Inggris,
Jerman, dan Spanyol, dengan bantuan World Radio Network.
Sebagai tambahan, acara-acara kami juga bisa diakses melalui
Internet, dengan alamatnya di : http://www.radio.cz. Setiap tahunnya, Radio
Prague menerbitkan kartu-kartu QSL baru. Dan bila Anda memerlukan barang
barang lain mengenai stasiun kami, Anda bisa menulis surat atau mengikuti
kompetisi yang kami selenggarakan. Kami tunggu laporan penerimaan siaran
Anda, dan semoga siaran kami bisa terpantau dengan baik !!
Miroslav Krupicka
Direktur Radio Prague
Tahun ini, Radio Prague telah menerbitkan satu seri QSL
yang terdiri dan delapan kartu QSL baru dengan gambar pesawat pesawat radio
antik. So, pantau terus siaran siaran kami, dan kirimkan laporan penerimaan
siaran Anda ke alamat kami. Kompetisi Radio Prague tahun 1999 dapat diikuti
siapa saja.
Kirim jawaban atas pertanyaan yang kami berikan, yang
dapat didengar melalui siaran siaran kami, atau situs Web kami di :
http://www.radio.cz. Pemenang setiap bulannya akan menerima satu pesawat radio
portabel FM/AM/SW. Radio Prague, Vinohradska 12, Praha 120 99, Republik
Ceko, e-mail : cr@radio.cz (Terjemahan bebas dari leaflet kiriman Sugeng
Santoso, IDXC-0309/INS, Surabaya 60291). (SAS)