Temu Pendengar
Yogya Kemungkinan Jadi Tuan Rumah Temu Pendengar
Tahun 2000
Acara DX Camp yang diselenggarakan pada tanggal 26-27 Juni
1999 di Losmen Giri Mulya, Tawangmangu, di luar dugaan, diikuti oleh banyak
peserta, baik yang tergabung dalam Indonesian DX Club, pencinta DX, maupun
tidak. "Saya tak menduga sedemikian besar animo rekan-rekan," ujar Ketua
Penyelenggara, Aries Subagyo, sekaligus Ketua IDXC. "Saya pikir tadinya hanya
akan hadir paling banyak 5 sampai 10 orang."
Dalam kata sambutannya, Aries mengatakan bahwa acara ini
dilakukan untuk menggalang dan mengarahkan para peserta pada dunia DX,
sembari santai mendengarkan radio luar negeri dan lokal. Sedangkan tujuannya
adalah pencarian data frekuensi FM maupun MW, untuk dikirimkan pada World
Radio Television Handbook, di mana Indonesian DX Club menjadi kontributor.
Serta untuk mengisi kevakuman pertemuan antar pendengar, meski di Jakarta
telah beberapa kali dilakukan namun bersifat lokal.
Kesan Para Peserta
Bapak Soebianto, seorang peserta yang datang dari kota
Semarang menyatakan bahwa kini pendengar radio bukan lagi zamannya hanya
aktif dalam acara Pilihan Pendengar, karena radio kini telah menyajikan
berita yang lebih bisa dipercaya. Sambutan positif diungkapkan oleh Suparto,
seorang DXer sejati yang datang dari Bandung. Walaupun baru sekali ini
datang dalam pertemuan pendengar, namun berharap di masa yang akan datang
akan bisa terus mengikutinya.
Uniknya, ada satu keluarga yang senantiasa datang beserta
anak-anak dan istrinya manakala Indonesian DX Club mengadakan pertemuan.
Pasangan Hendrik Rotinsulu, Nike Lie dan anak anaknya menjadikan pertemuan
ini bertambah hangat. Sekaligus menyosialisasikan dan untuk mendidik anak
anaknya betapa pentingnya mendengar radio, serta menciptakan keluarga
yang sakinah. Keluarga Hendrik banyak membantu, dengan menampung beberapa
peserta yang datang lebih dulu, sebelum menuju lokasi.
Demikian juga membantu dengan memberikan makanan ekstra,
berupa kue. Ernst Meiki Rorong, peserta dari Jakarta, yang lama berkecimpung
dalam dunia pendengaran radio berharap agar IDXC menyiapkan media
komunikasinya lebih bagus, khususnya Dirgantara, karena telah memasuki alam
maya. Sekaligus mengingatkan betapa pentingnya nilai persahabatan melalui acara
pertemuan ini. Peserta DX Camp yang lain, yang selalu hadir pada setiap
temu pendengar radio adalah Aloysius HM dari Tuban.
Mas Allo mengusulkan agar Temu Pendengar di tahun 2000
dilaksanakan lebih dari dua hari, ditambah dengan persiapan yang matang.
Jauh hari sebaiknya dilakukan pemberitahuan, baik melalui Dirgantara maupun
radio luar negeri. Tempat pertemuan diharapkan di Jawa Tengah, ataupun
Yogyakarta. Kali ini, Mas Allo memberikan dukungan berupa roti yang dibuat
sendiri, yang rasanya tak kalah dengan roti manca negara.
Redaksi Dirgantara yang kini tinggal di Indramayu, Soekirno,
berharap bahwa tempat pertemuan nantinya sangat mudah dijangkau oleh peserta,
khususnya mudahnya transportasi. Hal ini juga didukung oleh peserta asal
Sumedang, Jejen Jamiluddin, yang senantiasa selalu hadir tiap kali IDXC
mengadakan Temu Pendengar, berharap lokasi sebaiknya di Yogyakarta, di mana
tarifnya sangat murah.
Meski belum mengetahui apa manfaat pertemuan ini, Ida
Syauket Sabirin, yang berasal dari Cilacap berharap bahwa Yogyakarta akan
menjadi tuan rumah Temu Pendengar di tahun 2000 nanti. Sebaiknya Temu
Pendengar dilakukan pada hari ataupun tanggal sekitar hari jadi Indonesian
DX Club, usul peserta termuda, Bakhrul Effendy. Akbar Indra Gunawan, Redaksi
Dirgantara yang mengasuh rubrik Dirganet, sekaligus menduduki ranking
tertinggi IDXC Top 50 mengusulkan bahwa Temu Pendengar sebaiknya dilakukan
secara kontinyu dua tahun sekali.
Ajie Soekardy, yang kini bertempat tinggal di Tanggamus,
lebih banyak bercerita tentang awal mula IDXC berdiri dan penerbitan
di Yogyakarta, dan mengkritik rutinitas penerbitan Dirgantara masih agak
molor. Agus Sutikno, yang beberapa penerbitan Dirgantara sempat sebagai
ilustrator, terserah kepada peserta mengenai tempat untuk pertemuan. Dwi
Budhi Rahardjo, Redaksi yang kini rumahnya ditempati sebagai markas IDXC,
mengharapkan bahwa Temu Pendengar nantinya tidak saja dihadiri oleh anggota
melainkan juga para simpatisan lainnya.
Yogyakarta atau mana saja yang ditunjuk sebagai tempat
penyelenggara sebaiknya sangat mudah dijangkau oleh peserta dengan kereta
api maupun bus. Jemmy Liwang lebih menekankan kepada keberadaan klub yang
sangat penting, serta IDXC sebaiknya segera mengonsolidasi ke dalam. Sugeng
Santoso, peserta dari Surabaya berharap sebaiknya pemantauan DX lebih banyak
mempergunakan jasa e-mail. Peserta yang datang paling belakang, tapi
pulangnya paling duluan adalah Devy Rinawati.
Sementara Arief Broto Sunarso, yang sekaligus jadi panitia
penyelenggara karena kedekatannya dengan tempat penyelenggaraan, bercerita
tentang sempitnya waktu penyelenggaraan dan persiapan yang dilakukan maraton.
Meski demikian, beberapa stasiun radio luar negeri sempat memberikan
kontribusi, baik dengan mengirimkan souvenirnya maupun pemberitahuan tentang
tempat dan waktu DX Camp diadakan. (HSB)