Sapa Redaksi
Suara Daerah
Saat ini masalah otonomi daerah masih diperbincangkan.
Apakah sudah sesuai dengan prinsip prinsip keadilan, dan mampu menampung
aspirasi daerah ? Memang, selama ini terlalu berpihak kepada pusat sentris,
yang berakibat pada kesenjangan pembangunan, pusat maju dengan pesatnya,
sementara daerah sangat jauh ketinggalan.
Padahal, sumber daya daerah yang memberi sumbangan bagi
kemajuan pusat tidak terbilang dan hasil pengelolaan sumber daya daerah
seperti "sinterklas" saja dampaknya sangat terasa sekarang pada masa krisis
ini. Dirgantara pun sepertinya tak adil, sebab hampir didominasi oleh
pengurus di pusat, bahkan suara anggota di daerah seperti tak terdengar.
Oleh karena itu, redaksi sangat berharap semua perwakilan
untuk aktif dalam buletin ini, setiap saat redaksi siap membuat kolom
"Suara Daerah", agar semua potensi dapat tertampung dan dapat menambah
wawasan bagi kita semua. Bagi daerah yang belum ada perwakilannya, bisa
mengajukan diri kepada pengurus, dengan syarat yang cukup mudah, yaitu :
anggota aktif yang bertanggung jawab, jujur, beritikad baik, serta belum
ditunjuk sebagai perwakilan daerah organisasi sejenis.
Kami di redaksi siap menampung semua suara daerah, supaya
Dirgantara semakin semarak. Contoh suara daerah yang cukup membawa pengaruh
bagi kemajuan buletin Dirgantara, yaitu rencana Temu Anggota dan Temu
Pendengar III, yang direncanakan di kota Yogyakarta, kira-kira tanggal 22-23
April 2000, dan biaya peserta sekitar Rp 50.000.
Oleh karena itu, jangan sampai timbul suara dari daerah
tidak diperhatikan oleh pengurus. Untuk menyukseskan acara Temu Anggota itu,
kiranya semua anggota dari sekarang bersiap siap dengan menabung, dan jangan
lupa, mengisi Dompet Djokdja 2000, supaya biaya para peserta bisa lebih
murah. Selain itu, suara dan aspirasi daerah yang menghendaki
pencetakan kalender akan terealisasi segera. Untuk lebih kompletnya, nikmati
saja seluruh kolom pada edisi ini pasti akan terjawab semua !! (DBR)
Surat dari Ibukota
Khas Betawi
Pada bulan Agustus yang lalu, dalam rangka Ulang Tahun Kota
Jakarta dan Republik Indonesia, Pemerintah Daerah DKI Jakarta meresmikan
selesainya pemugaran Museum Fatahilah yang terletak di Jakarta Kota, serta
menyelenggarakan Festival Makanan Betawi di pelataran museum tersebut, dan
diramaikan kesenian daerah Betawi.
Kami sempat berkeliling ke setiap stand yang menyajikan
makanan khas Betawi dan tak lupa mencicipinya. Ternyata, daerah Betawi
menyimpan sejumlah sajian makanan khas yang cukup enak, tetapi jarang
ditemui di rumah makan atau warung warung jajanan. Sajian khas Betawi ini
perlu dipelihara dan dilestarikan agar tidak punah, oleh karena kita tidak
mau mengonsumsinya atau gengsi.
Dirgantara pun menyajikan yang khas dan beragam bagi
pembacanya. Oleh karena itu, jangan cuma dicicipi saja, tetapi dinikmati.
Bila rasanya kurang lezat, tolong redaksi diberitahu, agar dapat
memperbaikinya. Jadi, Betawi punya yang khas, apalagi Dirgantara. So pasti
Dirgantara punya yang lebih khas. (DBR)