IDXC DX Camp 99
Tawangmangu, Kota Sejuk di Kaki Gunung Lawu
"Cukup jauh dan makan waktu lama untuk mencapai lokasi,
tetapi begitu singkat waktu yang tersedia untuk penyelenggaraannya," begitu
kata kata yang terlontar dari sebagian peserta dan panitia dalam acara itu.
Memang ada benarnya, tetapi yang ternyata di luar dugaan panitia berkaitan
dengan minimnya waktu persiapan adalah jumlah peserta yang hadir dalam acara
tersebut (lihat tanda tangan peserta pada sampul depan edisi ini, red).
Pertemuan berlangsung nyaris tanpa susunan acara tetap, jadi semuanya
berlangsung secara spontan.
Justru itulah yang membuat suasana menjadi lebih akrab dan
komunikatif. Hari Sabtu Pahing, tanggal 26 Juni 1999, anggota dan simpatisan
yang datang dari berbagai kota dan daerah di pulau Jawa sudah ngumpul di
lokasi. Baru sekitar pukul 08.00 UTC acara dimulai, tanpa sambutan seremonial,
langsung dengan memberi kesempatan kepada masing masing peserta untuk saling
mengenalkan diri dan bercerita tentang pengalaman selama menjadi DXer.
Awalnya biasa saja, lama-lama menjadi gayeng karena sesekali diselingi
dialog dan canda.
Suasana pun menjadi gerrr dan sumringah, di samping lebih
hangat, karena memang bukan dimaksudkan untuk mencari solusi untuk
mendapatkan kesepakatan. Ada juga beberapa usulan dan masukan untuk IDXC,
kritik dan saran untuk panitia, dan kru Dirgantara, dengan harapan agar
buletin bisa terbit rutin. Muncul juga usulan agar pertemuan semacam ini
bisa diselenggarakan secara rutin, kalau bisa setiap tahun dengan mengambil
momen Ulang Tahun IDXC.
Diakui pula, adanya kendala untuk penyelenggaraan pertemuan
secara rutin karena keterbatasan personil panitia dan waktu persiapan.
Khusus untuk tahun 2000, banyak usulan dari peserta agar bisa diselenggarakan
di kota Yogyakarta. Alasan mereka, antara lain banyaknya lokasi wisata,
relatif rendahnya biaya akomodasi, dan kemudahan untuk mencapai kota
Yogyakarta dari jurusan manapun. Dalam bahasa Jawa, Yogyakarta atau Jogja
bisa dibaca nggo dijujug, artinya untuk tujuan atau kota tujuan. Sesi
pertama ini berakhir sekitar pukul 10.00 UTC.
Sekitar pukul 13.00 UTC, peserta ngumpul lagi untuk sesi ke
dua, yang berkaitan dengan kiriman souvenir maupun barang barang cetakan
dari berbagai stasiun radio internasional. Ada pembagian gratis, ada juga
lelang untuk barang barang yang hanya bisa diperoleh dalam event semacam ini.
Sesi ini berakhir sekitar pukul 15.00 UTC, dilanjutkan dengan acara DX Camp.
Peserta bebas untuk memantau stasiun radio sebanyak mungkin dengan membuat
catatan seperlunya.
Acara yang berlangsung sampai pagi ini diselingi dengan
obrolan santai sambil minum kopi dan menyantap hidangan roti "Merdeka"
produk asli kota Tuban. Dinginnya Tawangmangu seakan tak terasa !! Hari
Minggu, tanggal 27 Juni 1999, panitia mempunyai acara tunggal yaitu tamasya
ke Grojogan Sewu di kawasan hutan wisata dengan kerindangan dan hijau pohon
pinus dan damar, selain udara sejuk. Peserta pun bisa menyaksikan air
terjun, dan mendengar gemericiknya air sungai yang jernih.
Pada tengah hari, peserta kembali ke Wisma Giri Mulyo, di
mana sudah disiapkan makan siang dengan menu spesial pecel. Usai makan siang,
peserta berkemas untuk kembali ke rumah masing masing. Sayang waktu yang
serasa begitu cepat berlalu. Terima kasih buat Mas Aloy, Mas Arief Broto,
segenap anggota panitia, serta semua peserta. Semoga pertemuan tersebut
menjadi momen yang berarti bagi kelangsungan dan kemajuan Indonesian DX Club,
sekaligus menjadi kenangan manis, penuh makna yang tak terlupakan bagi para
peserta. (ASK)
TERIMA KASIH atas partisipasinya dalam penyelenggaraan
IDXC DX Camp 1999, di Tawangmangu, 26-27 Juni 1999, pada : 1. Radio Canada
International, 2. Radio Korea International, 3. Radio Taipei International,
4. Suara Jerman Deutsche Welle, 5. Radio Japan NHK World, 6. Radio Nederland,
7. BBC WS, 8. Aloysius H.M., Tuban, 9. Nike dan Hendrik Rotinsulu, Surakarta,
10. Devi Rinawati, Surabaya, 11. Sugeng Santoso, Surabaya, 12. Soebianto
Wijaya, Semarang, 13. Eddy Setiawan, Jakarta. Semoga kerjasama dan
kebersamaan bisa ditingkatkan di masa datang.
Orang bijak bilang "There's Nothing New Under the Sun",
yang kalau diterjemahkan kira-kira berarti tidak ada yang baru di bumi ini.
Tetapi di bumi Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya
pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 26 dan 27 Juni 1999 ada saja yang aneh,
lucu, dan unik. Karena itu, sayang kalau dilewatkan begitu saja. Ikuti
catatan kecil DBR berikut.
Korban DX : Maunya benahin antena luar dengan bantuan kursi
sebagai pijakan kaki. Entah karena bebannya terlalu berat buat kursinya,
atau memang yang empunya kaki ngantuk gara-gara semalaman ikut monitor radio,
Pak Ketua Aries nyungsep bersama kursinya. Untung cuma cedera ringan saja.
Keluarga DX : Pasangan suami istri yang sekarang sudah
mempunyai dua pengawal ini selalu berpartisipasi dalam Temu IDXC yang
diselenggarakan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Maklumlah, keduanya sama
sama punya hobi nguping radio. Selain punya koleksi kartu QSL dan sertifikat
monitor, salah satunya pernah menjadi orang nomor satu di RLC. Tak salah
lagi, dia adalah Hendrik Rotinsulu, yang berpasangan dengan Nike Lie
membentuk satu keluarga bahagia karena ber-DX.
Preman DX : Suasana DX Camp aman-aman saja, sebab panitia
sudah menyiapkan petugas keamanan swasta alias preman. Walaupun tubuhnya
kecil, tetapi bicaranya keras, selalu pasang wajah angker, plus kaca mata
hitam. Menjelang malam, sang preman sudah tidak bertampang galak lagi, sebab
kaca matanya sudah dilepas. Tinggal wajah sayu seperti bangun tidur,
walau sudah mandi air dingin segar. Pantes, Aji lagi sakit mata.
Roti DX : Bukan sembarang roti, jelas roti ini buatan sang
ahli yang sudah tidak asing lagi bagi para DXers yang suka kumpul kumpul.
Merknya "Merdeka Bakery", bukan "DX Bakery", dan pembuatnya pastilah sudah
Anda kenal ... Cak Aloysius H.M. Terima kasih yo Cak, mudah mudahan bersedia
jadi sponsor pertemuan mendatang.
Anti DX : Ah, yang bener aja, acara DX Camp kok malah takut
sama DX !! Mas Akbar, yang notabene seorang DXer ulung, dan sekarang menjadi
penjaga gawang Dirganet, setiap acara makan tiba, selalu menolak menu yang
mengandung daging. Sewaktu ditanya kenapa alergi dengan daging ? Jawabnya,
takut kena DX. Ternyata maksudnya takut terkena DioXin. Paling bisa deh !!
Saudara DX : Rekan Jemmy Liwang, yang selain berkampus di
Unika Atmajaya Yogyakarta juga tercatat sebagai seorang pecinta alam,
dengan gesit dan berani bersenjatakan kamera mengejar buruannya. Ketawanya
lepas setiap kali berhasil mengabadikan pose yang diinginkannya. Melihat itu,
Pak Soebianto nyeletuk, "Masa' saudaranya dikejar kejar ?" Jemmy cepat
membalas, "Ah, yang bener Pak Bie, masa' saudara kita monyet."
Dubes DX : Panitia mengucapkan bertrilyun-trilyun terima
kasih (habis, kalau jutaan terlalu kecil) kepada rekan DXer yang satu ini.
Selain atas inisiatifnya sendiri mempromosikan keberadaan klub, dia pun
selalu hadir pada tiap acara yang kami selenggarakan, termasuk acara DX Camp
kali ini. Seorang peserta menyebutnya sebagai seorang yang pantas jadi Duta
Besar Keliling. Bukan calon presiden sekalian ? Siapa dia, tak lain adalah
Arek Tuban, Cak Aloysius H.M.
20 + 2 : Dari Buku Tamu tercatat 20 orang peserta, tapi
kalau dihitung benar, ada 22 orang. Siapa yang dua lagi? Oh, ternyata ada
dua bocah yang tidak mencatatkan diri, yaitu Erel dan Frans putra rekan
Hendrik. "Biar kecil, jangan sampai dilupakan, mereka generasi penerus kita,"
kata Pak Sugeng Santoso dari Surabaya. Kecil bocahnya, yang jelas besar
tekadnya.
Tripod Serbaguna : Ke manapun alat ini selalu dibawa si
empunya, karena dengan bantuan alat inilah semua kejadian akan terekam, dan
tercatat dalam sejarah perjalanan IDXC. Bukan cuma itu, alat punya Mbak Ida
ini multi fungsi juga. Bisa untuk tongkat penyangga badan, bisa juga untuk
menarik teman yang jalannya kelelahan di tanjakan. Masih ada lagi, untuk
nggebuk orang yang mau jahil !! Bener, Mbak ?
Istimewanya Yogya : Waktu ditawarkan lokasi untuk Temu
Pendengar tahun 2000, rata-rata peserta mengajukan Yogyakarta. Alasan
mereka antara lain karena obyek wisatanya banyak, letak yang strategis di
tengah, transportasi mudah. Tetapi menurut rekan Bakhrul Effendy dari Ngawi,
karena makanannya yang ueenak !! Oh, jadi Yogyakarta yang istimewa makanannya,
bukan daerahnya ? Tapi kalau DIY diganti MIY, Makanan Istimewa Yogyakarta,
Sri Sultan bisa marah lho !!