Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 9 No 4 Jul-Agu 1999
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DX Camp 99
Citizen Band
Aktif
Profil Stasiun
DirgaNet
Amateur Radio
Kliping
Antena
Review Top 50
Redaksi

Volume 9
  IDXC DX Camp 99
Tawangmangu, Kota Sejuk di Kaki Gunung Lawu

"Cukup jauh dan makan waktu lama untuk mencapai lokasi, tetapi begitu singkat waktu yang tersedia untuk penyelenggaraannya," begitu kata kata yang terlontar dari sebagian peserta dan panitia dalam acara itu. Memang ada benarnya, tetapi yang ternyata di luar dugaan panitia berkaitan dengan minimnya waktu persiapan adalah jumlah peserta yang hadir dalam acara tersebut (lihat tanda tangan peserta pada sampul depan edisi ini, red). Pertemuan berlangsung nyaris tanpa susunan acara tetap, jadi semuanya berlangsung secara spontan.

Justru itulah yang membuat suasana menjadi lebih akrab dan komunikatif. Hari Sabtu Pahing, tanggal 26 Juni 1999, anggota dan simpatisan yang datang dari berbagai kota dan daerah di pulau Jawa sudah ngumpul di lokasi. Baru sekitar pukul 08.00 UTC acara dimulai, tanpa sambutan seremonial, langsung dengan memberi kesempatan kepada masing masing peserta untuk saling mengenalkan diri dan bercerita tentang pengalaman selama menjadi DXer. Awalnya biasa saja, lama-lama menjadi gayeng karena sesekali diselingi dialog dan canda.

Suasana pun menjadi gerrr dan sumringah, di samping lebih hangat, karena memang bukan dimaksudkan untuk mencari solusi untuk mendapatkan kesepakatan. Ada juga beberapa usulan dan masukan untuk IDXC, kritik dan saran untuk panitia, dan kru Dirgantara, dengan harapan agar buletin bisa terbit rutin. Muncul juga usulan agar pertemuan semacam ini bisa diselenggarakan secara rutin, kalau bisa setiap tahun dengan mengambil momen Ulang Tahun IDXC.

Diakui pula, adanya kendala untuk penyelenggaraan pertemuan secara rutin karena keterbatasan personil panitia dan waktu persiapan. Khusus untuk tahun 2000, banyak usulan dari peserta agar bisa diselenggarakan di kota Yogyakarta. Alasan mereka, antara lain banyaknya lokasi wisata, relatif rendahnya biaya akomodasi, dan kemudahan untuk mencapai kota Yogyakarta dari jurusan manapun. Dalam bahasa Jawa, Yogyakarta atau Jogja bisa dibaca nggo dijujug, artinya untuk tujuan atau kota tujuan. Sesi pertama ini berakhir sekitar pukul 10.00 UTC.

Sekitar pukul 13.00 UTC, peserta ngumpul lagi untuk sesi ke dua, yang berkaitan dengan kiriman souvenir maupun barang barang cetakan dari berbagai stasiun radio internasional. Ada pembagian gratis, ada juga lelang untuk barang barang yang hanya bisa diperoleh dalam event semacam ini. Sesi ini berakhir sekitar pukul 15.00 UTC, dilanjutkan dengan acara DX Camp. Peserta bebas untuk memantau stasiun radio sebanyak mungkin dengan membuat catatan seperlunya.

Acara yang berlangsung sampai pagi ini diselingi dengan obrolan santai sambil minum kopi dan menyantap hidangan roti "Merdeka" produk asli kota Tuban. Dinginnya Tawangmangu seakan tak terasa !! Hari Minggu, tanggal 27 Juni 1999, panitia mempunyai acara tunggal yaitu tamasya ke Grojogan Sewu di kawasan hutan wisata dengan kerindangan dan hijau pohon pinus dan damar, selain udara sejuk. Peserta pun bisa menyaksikan air terjun, dan mendengar gemericiknya air sungai yang jernih.

Pada tengah hari, peserta kembali ke Wisma Giri Mulyo, di mana sudah disiapkan makan siang dengan menu spesial pecel. Usai makan siang, peserta berkemas untuk kembali ke rumah masing masing. Sayang waktu yang serasa begitu cepat berlalu. Terima kasih buat Mas Aloy, Mas Arief Broto, segenap anggota panitia, serta semua peserta. Semoga pertemuan tersebut menjadi momen yang berarti bagi kelangsungan dan kemajuan Indonesian DX Club, sekaligus menjadi kenangan manis, penuh makna yang tak terlupakan bagi para peserta. (ASK)

TERIMA KASIH atas partisipasinya dalam penyelenggaraan IDXC DX Camp 1999, di Tawangmangu, 26-27 Juni 1999, pada : 1. Radio Canada International, 2. Radio Korea International, 3. Radio Taipei International, 4. Suara Jerman Deutsche Welle, 5. Radio Japan NHK World, 6. Radio Nederland, 7. BBC WS, 8. Aloysius H.M., Tuban, 9. Nike dan Hendrik Rotinsulu, Surakarta, 10. Devi Rinawati, Surabaya, 11. Sugeng Santoso, Surabaya, 12. Soebianto Wijaya, Semarang, 13. Eddy Setiawan, Jakarta. Semoga kerjasama dan kebersamaan bisa ditingkatkan di masa datang.

Orang bijak bilang "There's Nothing New Under the Sun", yang kalau diterjemahkan kira-kira berarti tidak ada yang baru di bumi ini. Tetapi di bumi Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 26 dan 27 Juni 1999 ada saja yang aneh, lucu, dan unik. Karena itu, sayang kalau dilewatkan begitu saja. Ikuti catatan kecil DBR berikut.

Korban DX : Maunya benahin antena luar dengan bantuan kursi sebagai pijakan kaki. Entah karena bebannya terlalu berat buat kursinya, atau memang yang empunya kaki ngantuk gara-gara semalaman ikut monitor radio, Pak Ketua Aries nyungsep bersama kursinya. Untung cuma cedera ringan saja.

Keluarga DX : Pasangan suami istri yang sekarang sudah mempunyai dua pengawal ini selalu berpartisipasi dalam Temu IDXC yang diselenggarakan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Maklumlah, keduanya sama sama punya hobi nguping radio. Selain punya koleksi kartu QSL dan sertifikat monitor, salah satunya pernah menjadi orang nomor satu di RLC. Tak salah lagi, dia adalah Hendrik Rotinsulu, yang berpasangan dengan Nike Lie membentuk satu keluarga bahagia karena ber-DX.

Preman DX : Suasana DX Camp aman-aman saja, sebab panitia sudah menyiapkan petugas keamanan swasta alias preman. Walaupun tubuhnya kecil, tetapi bicaranya keras, selalu pasang wajah angker, plus kaca mata hitam. Menjelang malam, sang preman sudah tidak bertampang galak lagi, sebab kaca matanya sudah dilepas. Tinggal wajah sayu seperti bangun tidur, walau sudah mandi air dingin segar. Pantes, Aji lagi sakit mata.

Roti DX : Bukan sembarang roti, jelas roti ini buatan sang ahli yang sudah tidak asing lagi bagi para DXers yang suka kumpul kumpul. Merknya "Merdeka Bakery", bukan "DX Bakery", dan pembuatnya pastilah sudah Anda kenal ... Cak Aloysius H.M. Terima kasih yo Cak, mudah mudahan bersedia jadi sponsor pertemuan mendatang.

Anti DX : Ah, yang bener aja, acara DX Camp kok malah takut sama DX !! Mas Akbar, yang notabene seorang DXer ulung, dan sekarang menjadi penjaga gawang Dirganet, setiap acara makan tiba, selalu menolak menu yang mengandung daging. Sewaktu ditanya kenapa alergi dengan daging ? Jawabnya, takut kena DX. Ternyata maksudnya takut terkena DioXin. Paling bisa deh !!

Saudara DX : Rekan Jemmy Liwang, yang selain berkampus di Unika Atmajaya Yogyakarta juga tercatat sebagai seorang pecinta alam, dengan gesit dan berani bersenjatakan kamera mengejar buruannya. Ketawanya lepas setiap kali berhasil mengabadikan pose yang diinginkannya. Melihat itu, Pak Soebianto nyeletuk, "Masa' saudaranya dikejar kejar ?" Jemmy cepat membalas, "Ah, yang bener Pak Bie, masa' saudara kita monyet."

Dubes DX : Panitia mengucapkan bertrilyun-trilyun terima kasih (habis, kalau jutaan terlalu kecil) kepada rekan DXer yang satu ini. Selain atas inisiatifnya sendiri mempromosikan keberadaan klub, dia pun selalu hadir pada tiap acara yang kami selenggarakan, termasuk acara DX Camp kali ini. Seorang peserta menyebutnya sebagai seorang yang pantas jadi Duta Besar Keliling. Bukan calon presiden sekalian ? Siapa dia, tak lain adalah Arek Tuban, Cak Aloysius H.M.

20 + 2 : Dari Buku Tamu tercatat 20 orang peserta, tapi kalau dihitung benar, ada 22 orang. Siapa yang dua lagi? Oh, ternyata ada dua bocah yang tidak mencatatkan diri, yaitu Erel dan Frans putra rekan Hendrik. "Biar kecil, jangan sampai dilupakan, mereka generasi penerus kita," kata Pak Sugeng Santoso dari Surabaya. Kecil bocahnya, yang jelas besar tekadnya.

Tripod Serbaguna : Ke manapun alat ini selalu dibawa si empunya, karena dengan bantuan alat inilah semua kejadian akan terekam, dan tercatat dalam sejarah perjalanan IDXC. Bukan cuma itu, alat punya Mbak Ida ini multi fungsi juga. Bisa untuk tongkat penyangga badan, bisa juga untuk menarik teman yang jalannya kelelahan di tanjakan. Masih ada lagi, untuk nggebuk orang yang mau jahil !! Bener, Mbak ?

Istimewanya Yogya : Waktu ditawarkan lokasi untuk Temu Pendengar tahun 2000, rata-rata peserta mengajukan Yogyakarta. Alasan mereka antara lain karena obyek wisatanya banyak, letak yang strategis di tengah, transportasi mudah. Tetapi menurut rekan Bakhrul Effendy dari Ngawi, karena makanannya yang ueenak !! Oh, jadi Yogyakarta yang istimewa makanannya, bukan daerahnya ? Tapi kalau DIY diganti MIY, Makanan Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan bisa marah lho !!

 
Dirgantara Online - Vol 9 No 4 Jul-Agu 1999
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space