Sapa Redaksi
Kaizen
Kaizen adalah kata bahasa Jepang yang mengandung makna luas,
yaitu perubahan yang berkesinambungan. Bagi orang yang bergerak di dalam
bidang bisnis maupun organisasi yang memakai manajemen modern, kata Kaizen
sudah tidak asing, karena metode Kaizen telah terbukti membawa kemakmuran
bagi masyarakat Jepang, dan menjadikannya salah satu negara industri maju
di dunia dewasa ini.
Kami, redaksi, mencoba meresapi metode Kaizen itu di dalam
mengelola buletin Dirgantara, walaupun implementasinya baru taraf coba-coba,
dan masih jauh dari dasar ilmunya. Dalam Kaizen dikenal istilah 5 S atau
Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Sedangkan di Indonesia, lebih
dikenal dengan 5 R, atau Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin, yang meliputi
perencanaan, proses, dan terakhir hasilnya.
Di dalam Kaizen, kepuasan pelanggan merupakan fokus utama,
sehingga tuntutannya adalah untuk tampil prima dan pelanggan tetap setia.
Jadi, langkah yang telah diambil oleh redaksi untuk melakukan perubahan yang
berkesinambungan adalah cerminan kemauan pelanggan, yaitu para pembaca
Dirgantara. Mari, kita renungkan apakah Dirgantara sudah menerapkan Kaizen ?
Pembaca saja yang menilainya.
Dan yang terpenting, jangan dilewatkan sajian edisi kali
ini yang selain memuat laporan tentang IDXC DX CAMP 1999, di lokasi
pariwisata Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, juga porsi atau
menu tetap, di antaranya Dirganet, Laporan DX, Sapa Mitra, Aneka Quiz dan
Informasi, dan yang lain-lainnya. Seperti gado-gado, pasti komplitlah
bumbunya dan mantap nikmat rasanya. Selamat menikmati. (DBR)
Surat dari Ibukota
Bingung
Setelah hiruk pikuk kampanye dengan puncaknya pencoblosan,
suasana ibukota kembali tenang, tidak gerah lagi. Hujan pun sudah mulai
sering mengguyur bumi, walau sedikit merepotkan, tetapi mampu menyejukkan
suasana. Sampai tulisan ini dibuat, beberapa media cetak selalu memasang
kepala berita yang mencolok dengan dukungan, penolakan, sindiran, dan
bahkan hujatan kepada kelompok tertentu.
Ini sudah menandakan bahwa sekelompok kecil orang yang
menyandang nama elite politik di era reformasi ini bertarung habis habisan,
agar dapat berkuasa atas bumi pertiwi ini, tanpa mengindahkan rambu rambu
lagi. Sungguh sangat menyedihkan dan menyeramkan isyu yang dilontarkan
untuk mengganjal lawan politik, dari isyu gender, SARA, sampai hal-hal
yang menjurus perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Sungguh sangat ironis sekali bangsa yang besar ini belum
juga mampu melahirkan manusia Indonesia yang berjiwa besar. Bagi kita semua,
siapa saja yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia tak menjadi masalah,
yang penting mampu menyatukan seluruh bangsa Indonesia dengan segenap
potensi yang ada, dan bisa diterima oleh rakyat Indonesia. Jadi sampai saat
ini kita cuma dibuat bingung pernyataan politikus.
Makanya, dari pada bingung-bingung, lebih baik baca saja
Dirgantara. Paling tidak, Dirgantara mampu memberi pembaca panduan stasiun
radio mana saja yang dapat menyajikan berita yang aktual, benar, dan berimbang.
Yang pasti, dari ibukota, Dirgantara meluncur ke tangan pembaca, untuk
menjawab kebingungan Anda soal DX. Sekian dan salam. (DBR)