Laporan dan Berita
Dalam era reformasi setelah rejim Orde Baru jatuh yang
ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto muncul masa transisi, sehingga
diperlukan media yang mampu menginformasikan berita-berita yang memang harus
diketahui oleh masyarakat secara cepat, aktual, dan berbobot. Karena pada
masa-masa itulah, untuk mengubah keadaan diperlukan informasi, yang selain
menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi, sekaligus mampu melakukan
empowerment atau pemberdayaan masyarakat.
Untuk itu, Direktorat Radio Departemen Penerangan Republik
Indonesia didukung World Space Management Corporation, pada tanggal 16 Maret lalu
di Hotel Borobudur menyelenggarakan diskusi panel "Peran Strategis Radio Dalam
Membangun Indonesia Baru". Drs. Herbert Sunu Budihardjo yang mewakili
Indonesian DX Club (IDXC) memperoleh undangan untuk menghadirinya.
Di dalam diskusi tersebut, selain angkasawan RRI dari seluruh
Indonesia, juga hadir penyiar radio swasta, undangan, beberapa praktisi
penyiaran. Berikut, laporan acara tersebut, yang juga disiarkan secara
langsung oleh RRI. Direktur Radio, Suryanto Salleh, S.H. di dalam sambutannya
mengemukakan bahwa diselenggarakannya diskusi ini untuk memperoleh masukan
tentang peranan radio untuk membangun masyarakat madani, dan untuk memperluas
cakrawala para angkasawan RRI, agar menyelaraskan diri dengan situasi dan kondisi.
Sementara Dirjen Radio Televisi dan Film yang berhalangan hadir, karena ada
rapat dengan Menteri Penerangan diwakili oleh Sekjen RTF, Dahlan B.A.
menekankan betapa penting mengantisipasi perubahan masyarakat reformasi,
dengan tingkat persaingan ketat akan menyangkut kepentingan publik.
Tinjauan terhadap Pemahaman Mengenai Peranan Radio Sebagai Media Komunikasi Pembangunan
Demikian judul makalah dari pemrasaran Ir. B. Sembiring,
Kepala Badan Litbang Deppen R.I. yang diwakili oleh Thomas Pasaribu.
Pembahasan ini dipandu oleh Drs. H. Beni Koesbani, Kepala RRI Stasiun
Nasional Jakarta. Dr. Bachtiar Ali, pakar komunikasi selaku pembahas pertama
menanggapi betapa pentingnya reevaluasi terhadap struktur organisasi radio,
apakah sudah menjalankan fungsinya secara optimal, materi acara diberi
keleluasaan sehingga mempunyai nilai unggulan.
Dari segi teknologi bagaimana mengembangkan kinerja,
meski merupakan bagian dari Pemerintah, serta bagaimana meningkatkan
kinerja dengan magang di stasiun luar negeri, serta peningkatan tingkat
kesejahteraan. Pembahas kedua, Ahmad Tohari, sastrawan atau budayawan yang
dikenal dengan novelnya Ronggeng dari Dukuh Paruk, mengatakan bahwa RRI
menempati hati masyarakat pada tahun 1960-an dan 1970-an.
Sedangkan, dalam masa krisis ini hendaknya mulai merenggangkan
dengan Pemerintah, memilih model mana berpihak kepada masyarakat atau pada
pemerintah. Sementara pembahas yang ketiga, Dr. Imam Budi Prasojo, sosiolog
dari Universitas Indonesia lebih menekankan pada pendekatan "constructionism"
yang menempatkan masyarakat sebagai "an active, interpreting meaning,
constructing audience" (W. Russel Neuman et al. 1992), bukan sebagai obyek
ataupun sasaran perubahan semata, tanpa mereka sendiri ikut mendefinisikan
arah perubahan itu.
Dalam pendekatan ini, yang dikaji adalah seberapa jauh
media komunikasi berinteraksi dengan masyarakat, dengan masyarakat pendengarnya,
bukan "pengaruh" dari media terhadap mereka. Hanya dengan memakai peran
media dalam konteks semacam inilah, media komunikasi milik Pemerintah akan
sejalan dengan arah demokratisasi dan reformasi yang sedang dilaksanakan
sekarang ini.
Efektivitas Radio Sebagai Media Pendidikan dan Komunikasi Politik
Judul di atas disampaikan oleh mantan Menteri Penerangan
Kabinet Pembangunan VII, Dr. M. Alwi Dahlan yang juga guru besar komunikasi
Fisip, dan Program Pasca Sarjana Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia.
Pemandu dalam acara ini adalah M. Kabul Budiono, B.A. angkasawan RRI.
Pembahas pertama, Dr. Indria Samego, pakar politik, menekankan bahwa radio
masih mempunyai peran yang besar. Misalnya memberikan informasi haji, mudik
lebaran, dan harga-harga sembilan harga pokok.
Oleh karenanya, Radio Republik Indonesia harus bebas
kendala, terutama untuk mensosialisasikan pemilu, yang akan berlangsung
Juni yang akan datang. Sedangkan menurut Faisal Basri, M.A. akademisi,
pengamat ekonomi dan politik, peranan radio kecil karena banyaknya pembatasan
peran non-hiburan. Peranan radio swasta untuk menghadapi tantangan dibendung,
juga terbatasnya jurnalisme radio. Untuk itu keberadaan radio sebagai
institusi lokal harus dilakukan.
Institusi radio harus menjamin adanya suatu proses
pendidikan yang bertendensi mendorong munculnya kesadaran, pencerahan, yang
bukan sekedar memberitakan pengertian dan informasi an sich, baik itu dari
pemerintah, kelompok kepentingan, organisasi sosial atau lembaga swasta,
akan tetapi mampu memberikan nilai lebih dalam membentuk sikap dan perilaku
masyarakat, demikian bahasan Haryo Setyoko, Sekjen Kesatuan Aksi Mahasiswa
Muslim Indonesia, KAMMI.
Sebagai ilustrasi, ketika terjadi penembakan yang menewaskan
Benigno Aquino, sangat sedikit sekali pemberitaan mengenai pembunuhan yang
digambarkan sebagai "tembakan" yang terdengar di seluruh dunia. Hal itu
disebabkan oleh dikooptasinya beberapa media di Filipina oleh Marcos.
Praktis, hanya satu media massa yang memberitakannya secara utuh, media itu
adalah Radio Veritas.
Format Stasiun Penyiaran Radio yang Ideal pada Era Reformasi
Dipandu oleh Drs. Fachrudin Sukarno, makalah tersebut
disampaikan oleh Drs. Ade Armando, M.A. ahli komunikasi dan peneliti media
massa. Menurut pemakalah, tidak ada jawaban tunggal karena masing masing
jawaban bergantung pada definisi mengenai pengertian "ideal" ataupun segmen
masyarakat yang dijadikan pasar sasaran. RRI adalah lembaga yang tidak
diharapkan menjadi lembaga bisnis penghasil keuntungan.
Maka RRI justru bisa menjadi semacam mercu suar bagi
masyarakat yang dilanda kebingungan di tengah banjir informasi yang
dimuntahkan ratusan media yang sebagian rela melakukan apa saja agar dapat
selamat dalam kompetisi yang sedemikian ketat. Secara garis besar, Ade
Armando mengemukakan bahwa ada 4 persoalan berdasarkan tema yang
diberikan oleh panitia, yakni definisi ideal, reformasi, kebebasan dan
kompetisi, masyarakat dan format.
Andy Rustam, Direktur Utama P.T. Usaha Mediatronika
Nusantara RRI Pro 2 FM, mengupas dari sudut pandang radio dan media pada
masa orde baru, segmentasi khalayak, keinginan dan kebutuhan masyarakat
pada era reformasi. Mempertimbangkan keadaan tersebut di atas ada tiga
alternatif langkah yang bisa dilakukan radio, yakni melakukan
penyesuaian format hiburannya dengan menambahkan elemen berita (buletin,
straight news, wawancara, feature, diskusi, vox pop, komentar, dan
lain lain), secara bertahap sedikit sedikit, tanpa mengubah sasaran khalayak.
Melakukan perubahan radikal dari stasiun dengan format
hiburan menjadi stasiun berita saja (repositioning dan reformating), serta
tidak melakukan perubahan apapun dalam format radio, bertahan dengan format
hiburan saja. Pembahas yang kedua, Bagus Sugiarto, BSc. Kepala Stasiun
RRI Semarang, lebih menekankan kepada format dihibur dulu baru diberikan
informasi. Sedangkan format yang ideal adalah termasuk strategi untuk mencapai segmen.
Oleh karenanya, yang terpenting bukan menyampaikan pesan
melainkan mengkomunikasikan pesan. World Space Managemant Corporation, yang
diwakili Michael Whitener dan Eddy Sabaruddin, lebih memperkenalkan
betapa pada era sekarang ini pemakaian Digital Audio Broadcasting sangatlah
tepat, mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Dengan mempergunakan
AfriStar, AsiaStar, akan lebih tepat dan cepat dalam penyampaian informasi
ke seluruh Indonesia.
World Space Management menjanjikan akan memproduksi
perangkat radio satelit yang bisa dibeli dengan harga 250-300 US Dollar,
dengan teknologi canggih, serta bisa menerjemahkan ke dalam beragam bahasa,
termasuk bahasa Jawa, Bali, dan Sunda. (HSB)
Kliping
Terbentuk, Asosiasi Radio Swasta
Sebanyak 50 stasiun radio swasta dari berbagai daerah di
Indonesia akhirnya memutuskan membentuk wadah baru bernama Asosiasi Radio
Siaran Swasta Indonesia, ARSSI. Kehadiran ARSSI merupakan jawaban langsung
atas keberadaan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia, PRSSNI,
yang selama ini dinilai kerap menghambat perizinan bagi kehadiran radio
radio baru.
"Sebagai organisasi independen, ARSSI tak ingin mencontoh
organisasi sejenis yang terkooptasi oleh kepentingan pemerintah. Tetapi,
sebagai organisasi profesional, ARSSI tetap bersedia bermitra dengan siapa
pun, termasuk pemerintah," kata Ketua Umum ARSSI, Ade Kusumah, berkaitan
terbentuknya wadah berhimpun radio-radio siaran baru yang bisa mengudara
setelah era reformasi. Menurut Ade Kusumah, keputusan membentuk organisasi
ini berawal dari Musyawarah Besar I Radio-radio Siaran Baru di Tasikmalaya,
24-25 April lalu.
Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 50 wakil Badan
Penyelenggara Radio-radio Siaran dari sembilan propinsi itu akhirnya
diputuskan perlunya dibentuk sebuah wadah yang betul-betul independen
dan demokratis. Di antara peserta musyawarah, kata Ade, juga hadir beberapa
mantan pengurus cabang PRSSNI. "Selain tak ingin terkooptasi oleh
pemerintah, ARSSI juga punya visi baru, yakni anti monopoli.
Terkait dengan sikap ini, ARSSI juga tidak ingin menjadi
pihak pemberi rekomendasi bagi calon pendatang baru yang akan bergerak di
bidang radio siaran," ujar Ketua Umum ARSSI pertama tersebut. Selain Ade
Kusumah, duduk di jajaran Pengurus ARSSI Periode 1999-2002 adalah H.M.
Wasito Donosaroyo (Wakil Ketua I), Wirnita Eska Dipl. (Wakil Ketua II), Dr.
Sc. Ahman Syah (Sekretaris Jenderal), Rati A. Kusumah (Bendahara).
(Ken, Kompas, 3 Mei 1999)