Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 9 No 2 Mar-Apr 1999
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Profil Stasiun
Citizen Band
Asal Tau Aja...
Pro Anda
Antena
Surat Terbuka
Tinjauan Buku
Review Top 50
Redaksi

Volume 9
  Antena
Antena Radio FM

Pada satu pesawat penerima, radio, fungsi antena mengubah Gelombang Elektro Magnetik menjadi Gaya Gerak Lisrik (GGL) yang selanjutnya disalurkan ke pesawat radio. Pada pesawat pemancar (transmitter) antena berfungsi mengubah Tenaga Listrik menjadi Gelombang Elektro Magnetik. Hal yang harus diperhatikan di dalam pembuatan antena adalah aspek resonansi dan aspek penempatan atau lokasi.

Aspek resonansi dinyatakan dengan panjang fisik kawat atau konduktor bahan antena. Untuk mencapai resonansi pada frekwensi tertentu, panjang antena dihitung dengan persamaan : Panjang = 0,5 x 300/f. Panjang dalam satuan meter, f (frekwensi) di dalam satuan MHz. Contoh perhitungan: frekwensi pemancar = 100 MHz, maka panjang fisik antenanya : 0,5 x 300/100 = 1,5 meter.

Frekuensi 100 MHz, panjang gelombang (lambda) adalah 3 meter, maka panjang fisik antena 1,5 meter disebut antena setengah lambda. Ujung ujung antena selalu membentuk kapasitor parasit terhadap lingkungannya, sehingga panjang fisik yang 1,5 meter itu secara listrik mempunyai panjang yang lebih dari 1,5 meter. Gelombang Elektro Magnetik tidak peduli pada panjang fisik, melainkan pada panjang listriknya.

Untuk memperoleh panjang fisik yang mendekati panjang listrik, harus dilakukan reduksi pada panjang antena. Persamaan di atas menjadi : 0.8 x 0,5 x 300/f = 120/f meter. Antena harus diletakkan di tempat yang bebas, dalam arti pada posisi setinggi, mungkin hingga daya tangkap Gelombang Elektro Magnetik semakin baik. Penempatan arah antena harus tegak lurus dengan arah datangnya Gelombang Elektro Magnetik.

Bila pemancar berada di sebelah Timur atau sebelah Barat, maka kedua ujung antena harus mengarah ke Utara - Selatan, begitu pula sebaliknya. Usaha ini akan membangkitkan GGL hingga beberapa volt. Menyalurkan GGL ke pesawat radio tanpa mengurangi besarnya GGL adalah dengan memperhatikan hubungan antara impedansi titik catu (feed point), kabel penghubung (transmission line) dan impedansi input pesawat radio FM, umumnya 75 ohm.

Matching antara ketiga unsur tersebut dinyatakan dengan nilai VSWR = 1. VSWR adalah singkatan dari Voltage Standing Wave Ratio. VSWR = 1 berarti tidak ada kerugian antara GGL yang dibangkitkan oleh antena dengan GGL yang diterima oleh pesawat radio. Untuk impedansi 75 Ohm, kabel transmisi yang cocok digunakan adalah kabel coaxial RG-59 atau kabel CV-3, CV-5 biasa digunakan saluran transmisi TV warna.

Feed point antena dibuat dengan cara membagi kawat antena menjadi dua bagian yang sama panjang, masing-masing 1/4 panjang gelombang. Emisi gelombang elektro magnetik bisa digambarkan seperti gambar 1, e = tegangan, I = arus. Dua bagian antena 1/4 lambda dihubungkan seperti terlihat pada gambar 2. Satu bagian dihubungkan dengan bagian tengah (inti) kabel transmisi, sedangkan bagian yang lain dihubungkan dengan bagian luar (serabut) kabel transmisi.

Bagian antena yang pertama dihubungkan dengan rangkaian penyesuai impedansi (baluns) yang terbuat dari potongan kabel koaksial sepanjang 1/4 panjang gelombang. Baluns yang merupakan kependekan dari balance to unbalance sangat penting dalam transformasi antara bentuk balans menjadi bentuk tidak balans. Elemen itu disebut elemen driven.

Untuk pengarahan yang tajam dalam proses penerimaan, sebuah antena memerlukan elemen tambahan yang disebut elemen direktor. Elemen ini terletak di depan elemen driven dengan ukuran yang lebih pendek, dengan jarak 0,11 x panjang gelombang. Di bagian belakang harus ditambah lagi elemen reflektor yang lebih panjang ukurannya daripada elemen driven. Disarankan jarak antara reflektor - driven 0,15 x panjang gelombang.

Elemen-elemen tersebut dipasang pada sebuah pipa yang disebut boom. Jadilah sebuah antena terarah tiga elemen yang sering disebut antena Yagi (gambar 3). Antena dengan lima buah elemen direktor akan lebih besar GGLnya dan lebih terarah daripada antena sejenis yang hanya mempunyai tiga elemen direktor.

Gambar 3 adalah model antena Yagi dengan kerenggangan driven 5,7 cm. Gambar 4 beberapa pilihan antena Yagi. (Dirangkum dari harian Jawa Pos tulisan Drs Bambang Poerwantono, Benediktus Arief D. Issac oleh Amir Makhmud, IDXC 0182/INS)

Tempurung Kelapa Jadi Antena UHF

Selain dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar ataupun alat rumah tangga, tempurung kelapa juga dapat digunakan sebagai komponen utama antena Ultra High Frequency (UHF) televisi, handy talky maupun telepon seluler. Menurut Drs Minto Supeno MSc, ketua tim penelitinya, rancangan antena tempurung kelapa itu telah dipatenkan dengan nomor paten P 981517.

Munculnya ide untuk menggunakan tempurung kelapa sebagai bahan utama antena, menurut Staf Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Mikroskil Medan itu, didasarkan pada bentuknya. "Ketika masih utuh, bila kita goyang akan terdengar airnya. Itu tandanya tempurungnya dapat mengantar gelombang," tuturnya, Selasa (9/3).

Kemampuan menerima serta memantulkan cahaya matahari merupakan salah satu indikasi tersebut. Salah satu hasil rancangan antena tempurung kelapa ini sudah digunakan TNI AL dan ternyata dapat digunakan dalam radius 250 km. (Kilasan Iptek Kompas 10 Maret 1999 / nic)

 
Dirgantara Online - Vol 9 No 2 Mar-Apr 1999
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space