Sapa Redaksi
Catatan Kecil di Hari Jadi Indonesian DX Club
Saat-saat ini mengingatkan saya kembali pada kota Yogyakarta,
karena cikal bakal keberadaan Indonesian DX Club (IDXC) dan Dirgantara tak pernah
lepas dari Kota Gudeg ini. Di waktu itu, sebagian besar awak redaksi masih
berstatus mahasiswa. Tinggal di Yogyakarta, kota budaya, yang banyak
memberi makna. Mengingat kembali masa lalu, ada catatan menarik dan berkesan
buat saya. Awal Dirgantara terbit masih menggunakan ketikan manual, huruf
standar, dengan ukuran kertas kwarto.
Kemudian, pada edisi berikutnya mulai tampil dengan format
buku, ukuran huruf pun lebih kecil. Dari sinilah kami, Aries serta saya, sebagai awak redaksi punya kesibukan dan keasyikan sendiri. Mulai dari memilih naskah dari
surat-surat yang masuk, menyeleksi, mengetik. Hasil ketikan difoto kopi
dan diperkecil, selanjutnya dipotong-potong sesuai dengan ukuran kolom.
Setelah itu, ditempelkan sesuai dengan format yang ada.
Langkah selanjutnya, memberi sentuhan artistik, agar mendapatkan
hasil yang lebih menarik. Kata "menarik" inilah yang jadi pemikiran redaksi,
sehingga tidak jarang, kami harus mengulang kembali tata letak, sampai hasilnya
benar-benar cocok, pas, menarik, enak dibaca, atau paling tidak
jika dilihat tidak membosankan. Selanjutnya, naik cetak dan diperbanyak,
kemudian melekatkan perangko, nama, dan alamat tujuan, serta terakhir
diposkan. Memang kerja yang mengasyikkan !!
Kami selalu berusaha untuk mendapatkan hasil kerja yang
lebih baik, karena itu pada penampilan edisi berikutnya, kami mempergunakan
komputer. Dengan komputer, pekerjaan mengedit dan mengatur tata letak jadi
lebih mudah. Waktu itu, kami pergunakan jasa rental komputer, dengan sewa
perjamnya 400 perak, masih diberi bonus minum kopi atau teh. Lebih mengasyikkan,
kami jadi betah duduk di depan layar komputer, bahkan sering bergadang
sampai dini hari.
Usaha untuk selalu tampil beda senantiasa kami lakukan,
hingga beberapa kali kami mengubah kop tulisan Dirgantara di sampul depan,
mengganti logo IDXC, dan juga kata-kata dalam motto klub kita ini. Seiring
dengan perjalanan waktu, kami mesti berpisah, masing-masing dari kami
sudah menyelesaikan kuliah, meninggalkan kota Yogyakarta. Akhirnya,
Dirgantara pun ikut hijrah, diterbitkan dari kota Jakarta, karena sebagian
dari awak redaksi bermukim di ibukota negeri ini.
Komitmen "maju terus dan terus maju untuk Dirgantara" terus
dilakukan dengan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan kemajuan teknologi.
Dengan merebaknya Internet, redaksi telah membuka situs Web, dan juga e-mail.
Selain itu, Dirgantara juga sudah memiliki nomor ISSN, yang merupakan pengakuan
sebagai terbitan berkala yang bisa terbit secara rutin. Di atas semuanya,
surat-surat dari Anda sangat berarti bagi kami, karena tanpa Anda, kami tak
punya makna apa-apa.
Dirgahayu Indonesian DX Club, dan sukses selalu Dirgantara-ku.
Terima kasih, serta salam dari Bumi Ruwai Jurai, Lampung. (Aji Sukardy, IDXC 0003/INS)
Ujung Abad
Tahun ini merupakan penghujung abad, tahun depan adalah abad
yang baru, dengan segala macam misteri yang menyelimutinya, sehingga banyak
orang menunggu dan berharap, agar dapat ikut tercatat sebagai warga dunia
di abad yang baru itu. Bagaimana dengan keberadaan Dirgantara tercinta ini ?
Apakah pesimis ? Optimis ? Ataukah bingung ? Yang jelas, kami segenap jajaran
redaksi telah bergandengan tangan bersatu padu menyongsong tahun yang baru
dan abad yang baru dengan segala macam agenda, baik bersifat nasional maupun internasional.
Untuk mengetahui agenda apa saja yang akan redaksi gulirkan,
mohon pencinta Dirgantara menunggu acara syukuran sederhana pengurus memperingati
kelahiran IDXC pada hari Minggu, 14 Februari 1999 yang akan datang. Ujung
abad ini memang bagi bangsa Indonesia merupakan catatan yang buram, yaitu
terpuruknya ekonomi yang memasuki tahun ketiga, dan belum menampakkan
tanda-tanda perbaikan. Semoga saja, ujung abad ini memberi pelajaran bagi
kita semua merefleksikan diri.
Bahkan, kalau perlu lebih sungguh-sungguh mendekatkan diri
kepada Sang Pencipta, karena kebetulan masih dalam suasana damainya Natal,
serta sucinya bulan Ramadhan. Perjalanan Dirgantara di ujung abad ini mulai
menampakkan titik cerah dengan semakin banyaknya tanggapan dari para
pendengar, penyiar, dan badan-badan yang mempunyai kepentingan dengan
keberadaan Dirgantara. Oleh karena itu, di sini kami perlu tegaskan lagi
kepada para anggota, bahwa pilihan Anda sudah tepat.
Karena Dirgantara merupakan media DX yang komplet dan tak
perlu ragu, bahwa Anda akan dibawa ke ketidakpastian kelangsungan terbit.
Namun demikian, redaksi mohon maaf sebesar-besarnya karena penyakit lama
masih belum juga sembuh, yaitu molornya tanggal terbit. Kami terus berupaya,
agar bisa terbit pada saat yang tepat, pertengahan bulan ganjil.
Kami menghimbau semua anggota mau beramai-ramai dan bersama-sama mengisi Dirgantara, agar nama Anda dapat tercatat dalam sejarah perjalanan Dirgantara di penghujung
abad ini. Jangan lewatkan kesempatan ini begitu saja. Dari meja redaksi,
kami sampaikan salam sejahtera, semoga sukses selalu menyertai Anda sekalian. (DBR)
Surat dari Ibukota
Sepi dan Dingin
Itulah suasana jalanan ibukota yang dulu biasanya hingar-bingar
dengan demonstrasi mahasiswa maupun kendaraan yang saling berebut untuk
mendahului, tanpa menghiraukan panas dan pengapnya udara. Suasana yang sepi
dari demonstrasi mahasiswa karena bulan suci Ramadhan, sedangkan dingin
karena hujan sudah mulai mengguyur dengan deras dan merata ke seluruh bumi
ibukota tercinta ini.
Pada saat suasana sepi dan dingin ini, kami segenap
pengurus justru kegerahan memikirkan keberadaan Dirgantara, berusaha
keras menjadikannya suatu media yang mampu bertahan dengan idealisme yang
telah tertanam sejak lahirnya, di tengah bermunculannya media-media bak
cendawan di musim hujan. Kami, pengurus, tak jemu-jemu dan malu-malu
mengoreksi kekurangan yang ada saat ini.
Oleh karena itu, kami mohon bantuan
dari semua pencinta dengan memberi saran dan kritik, supaya idealisme yang
menjadi komitmen kita bersama bisa mengkristal di hati sanubari setiap
pencintanya. Jadi, suasana sepi dan dingin di ibukota tidak menjadikan
pengurus berdiam diri, tetapi kami terus berkarya, dan di samping itu kami
juga perlu bantuan, agar kami tidak kehilangan arah.
Tidak perlu curiga dan ragu dengan kerja redaksi, kami semua
masih kompak bahkan solid. Hal ini bisa dibuktikan dengan terus meluncurnya
Dirgantara edisi demi edisi, di mana termuat juga nama-nama anggota baru
yang terus menambah perbendaharaan nama pelanggan pada bank data kami.
Sesuatu yang cukup membanggakan hati kami tentunya. Sekian dan salam. (DBR)