Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 6 Nov-Des 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
DX Tips
Bengkel DXer
Sosok
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  Sosok
Di Balik Dunia Olah Raga Suara Jerman

Bagi pendengar Suara Jerman yang menyenangi acara Dunia Olah Raga, tentunya hafal dengan intonasi suara yang khas yang membawakan acara tersebut. Siapakah sebenarnya penyiar yang berada di balik mikrofon acara tersebut ? Dia adalah Bung Boetje Pattinasarany, salah seorang mantan penyiar Suara Jerman yang masih aktif membantu Suara Jerman pada hari-hari tertentu, saat para penyiar tetap berlibur akhir pekan, meskipun beliau sudah memasuki masa pensiun.

Nama lengkapnya adalah Matheus Hanoch Pattinasarany, yang pernah bekerja di Radio Republik Indonesia, dan diperbantukan di Suara Jerman dalam rangka realisasi kerja sama antara dua lembaga tersebut, mulai 1 Juli 1970. Bung Boetje pulalah penyiar seksi Indonesia yang pertama kali muncul di Majalah Hallo Friends edisi 4/71 (kini sudah tidak terbit lagi), sebelum pada akhirnya terbit Sahabat (juga tidak terbit lagi). Hingga akhirnya muncul Salam Hangat sebagai penggantinya.

Berikut kutipan tulisan yang diambil dari Hallo Friends 27 tahun yang lalu, di bawah judul "Demi RRI dan Deutsche Welle". Pada suatu hari nan indah, di luar dugaan semula, nampak suatu kemungkinan yang sangat menarik, yang sangat merangsang perasaannya sebagai seorang wartawan, untuk segera berbuat sesuatu. Namun, di mana urat-urat syarafnya telah demikian tegang, timbullah dalam alam pikiran sesuatu yang memaksakannya untuk merenungkan sejenak, sebelum melakukan langkah berikut :

"Hoi, jangan lupa, saya ini mempunyai kedudukan yang khusus di sini. Memang, sebagai seorang wartawan, rangsangan untuk mencari, mengumpulkan, serta akhirnya meneruskan suatu berita sangatlah besar. Akan tetapi, pada lain pihak, tidak dapat pula dilupakan, bahwa khusus bagi saya telah ditentukan batas-batas serta garis-garis pemisah untuk pelaksanaan tugas kewajiban selama diperbantukan di bagian ini. Karenanya, juga saya harus menjaga, agar jangan sampai garis demarkasi yang sudah ditetapkan itu dilampaui".

Kemudian, ketika peristiwa yang dihadapinya itu diceritakan pada rekan-rekannya di kantor, ia mulai berkisah dengan meminjam istilah yang biasa digunakan dalam dunia keolahragaan, yang merupakan kegemaran khususnya. Maka ia mengibaratkan demikian :

"Agar sang wasit tidak akan sampai membunyikan peluitnya menandakan ada terjadinya suatu FreistoB, suatu free kick atau pelanggaran, maka sebagai pemain, saya senantiasa berusaha dan menjaga, agar bermain dengan mentaati sepenuhnya peraturan permainan yang sudah disahkan. Dengan demikian, semua pihak akan merasa puas, baik pemain sendiri maupun sang wasit, karena sudah barang tentu akan terkesan oleh permainan yang bukan main itu".

Ternyata kerja sama antar dua lembaga tersebut masih terus berkelanjutan sampai kini. Suara Jerman masih terus menjaga tali silaturahmi dengan para mantan penyiarnya. Caranya adalah dengan mempekerjakannya sebagai penyiar pengganti, manakala mantan penyiarnya masih berada di Jerman. Sedangkan bagi mantan penyiar yang kembali ke Indonesia dan masih bekerja di RRI, dengan mengadakan ko-produksi dalam mata acara tertentu. Inilah salah satu kelebihan Suara Jerman, tetap mengenang mantan penyiarnya.

Sebagai seorang pendengar lama Suara Jerman, saya ingin juga menjalin kembali tali silaturahmi yang sudah lama terputus dengan para mantan penyiar Suara Jerman, seperti : Yayuk Ratam (penyiar wanita pertama), Agus Setiadi dan August Nasution (aktif di tahun 70-an), Imam Hudaya dan Niniek Djokolegowo, Titi Said (bertugas tahun 1974-1979), Sri Mahaswani, Willy Sitompul, G.M. Bagus Sugiarto, Oesye Sudarga, dll. Apabila pembaca Dirgantara mengetahuinya, mohon memberikan informasi kepada redaksi. Sementara stasiun radio yang lain seakan melupakannya. (HSB)

Yang Mulia Pendengar Setia

Beliau mendengarkan siaran bahasa Inggris Cina Radio Internasional (CRI) hampir setiap hari, dan tahu nama-nama penyiarnya, serta nama beberapa reporter. Pada tanggal 30 Juli 1998, Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Cina, Li Lanqing, dalam kapasitas sebagai pendengar setia, berkunjung ke gedung baru CRI. Sesampai di sana, beliau berjalan di lobi yang luas menemui para karyawan asing CRI, yang sudah menunggunya. Dijabatnya tangan mereka dan diucapkannya ungkapan terima kasih dalam bahasa Inggris.

Dalam kunjungan itu, termasuk acara meninjau Pameran Sejarah CRI dan hadiah-hadiah menarik dari pendengar di seluruh dunia. Beliau memuji keberhasilan usaha CRI dan menaruh perhatian pada keterlibatan yang mendalam dalam menjalin persahabatan dengan pendengar CRI di seluruh dunia. Di News Room siaran bahasa Inggris, beliau menanyakan berbagai tugas rutin penyusunan siaran berita dan memperhatikan karyawan menyiapkan siaran berita.

Di Studio Joy FM, beliau mendengarkan dengan seksama penjelasan yang disampaikan oleh para pembawa acara. Beliau memuji penampilan foto-foto pendengar Joy FM pada ke empat dinding studio, dan mengatakan bahwa para pembawa acara itu menyimpan pendengar pendengarnya di hati mereka. Seusai kunjungan, beliau diwawancarai reporter-reporter CRI dalam bahasa Inggris dan Rusia. (Tang Minguo, The Messenger)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 6 Nov-Des 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space