Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 5 Sep-Okt 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Bengkel DXer
DirgaNet
Tinjauan Buku
DXperimen
DX Mania
Amateur Radio
Asal Tau Aja...
DX Tips
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  Profil Stasiun
Lustrum ke-7 Suara Jerman

Tiga Puluh Lima Tahun sudah Suara Jerman siaran dalam bahasa Indonesia mengudara. Selama kurun waktu tersebut berbagai kisah yang unik dan menarik telah dilalui. Bukan saja oleh penyiarnya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, melainkan juga para pendengarnya sendiri. Sudah barang tentu, kisah-kisah yang saya tulis berkenaan dengan 35 tahun sebuah stasiun radio menyiar dalam suatu bahasa dapat dipergunakan untuk saling mengaca diri.

Dari lebih 35 stasiun radio yang menyiarkan dalam bahasa Indonesia dari lima benua, masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri. Tentu saja berkaitan erat dengan sistem pemerintahan negara yang bersangkutan. BBC tentu saja menganut sistem pers yang biasa berlaku di Inggris, Suara Amerika lebih condong menyuarakan suara pemerintah Amerika, Radio Nederland kini sedang banyak menggarap serial dokumenter. Bagaimana dengan Suara Jerman yang 30 September 1998 ini memperingati lustrumnya yang ke-7 ?

Namanya Saja Pendengar !!

Ulang tahun ke-35 di Koln akan dirayakan pada malam hari dengan pagelaran musik di ruang siaran Deutsche Welle. Dari Indonesia akan datang grup "Bona Ni Ogung" menghadirkan ritmus gendang Sumatra Utara di antara para tamu. Para pendengar dapat juga menikmatinya dalam beberapa siaran khusus, begitu tulis Bung Rudi, selaku kepala seksi dalam Salam Hangat. Namanya saja pendengar, hanya bisa menikmati melalui telinga, ujar seorang teman.

Benar juga !! Meskipun kini pendengar Suara Jerman tersebar di seluruh pelosok tanah air, namun jarang yang bisa ikut melihat macam apa acara yang diselenggarakan Suara Jerman. Kita tidak bisa lantas menyalahkan dan terlampau mengharapkan Suara Jerman akan mengundang kita, karena memang tidak mudah mengundang pendengar untuk selama sepekan berada di Jerman. Tetapi kalau semuanya tidak akan dirintis, tentu saja tidak akan terlaksana.

Beberapa stasiun radio memang pernah menyelenggarakan sayembara dengan kerja sama antar instansi terkait, di mana hal-hal yang tadinya dianggap memberatkan bisa dijinjing bersama. Misalnya, beberapa maskapai penerbangan yang menjalani rute kota besar, di mana akan menjadi persinggahan, diminta kerjasamanya untuk memberikan tiket, ternyata mau juga.

Kemudian, biro perjalanan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata akan menjadi pemandu selama di negara tersebut. Demikian juga akomodasi disediakan oleh hotel-hotel yang mempunyai reputasi internasional, sehingga dengan demikian tidak stasiun radio yang bersangkutan yang menanggung biaya. Bisa juga memanfaatkan perusahaan besar Jerman, yang menanamkan modalnya di Indonesia.

Simbiose Mutualistis

Di era globalisasi seperti sekarang ini, masyarakat disodori beragam model informasi, sehingga tinggal memilih mana yang disukainya. Mau melihat tayangan televisi dari berbagai penjuru dunia tinggal mengarahkan antena parabola yang dimilikinya. Atau ingin memasuki alam cyber (maya) dengan Internet. Sedangkan yang murah meriah adalah memutar tombol fine tuning, atau menyentuh nomor tertentu jika memakai pesawat radio digital. Kita akan memperoleh sajian yang cepat, hangat, dan akurat.

Peran seorang pendengar dengan klubnya (apabila membentuk) dengan sebuah stasiun radio adalah layaknya sebuah kerja sama yang saling menguntungkan. Apalah artinya sebuah stasiun radio yang mempunyai reputasi internasional, namun tidak pernah merespon surat, laporan, dan pertanyaan pendengar ? Hal ini disadari benar oleh Suara Jerman, sehingga setiap kali ada pertemuan pendengar radio, dengan tidak henti-hentinya mengirimkan beberapa cinderamata untuk dibagikan. Demikian juga apabila bertepatan dengan cuti para penyiarnya, tentu saja diharapkan bisa datang.

Suara Jerman Tetap Tiga Besar

Dalam hal penyajian informasi, Suara Jerman bersama dengan BBC dan Radio Nederland saling bersaing. Melalui Laporan dan Komentar, pendengar diajak lebih jauh untuk mendalami isi berita yang disajikan. Tak kalah menarik dengan Gema Warta. Tentunya di masa yang akan datang, pendengar dapat memperolehnya melalui e-mail yang dimiliki, seperti Radio Nederland, 2 kali seminggu mengirim berita ke e-mail IDXC.

Salah satu kelemahan Suara Jerman adalah dalam hal sosok yang diwawancarainya. Sudah semestinya, Suara Jerman memperoleh nomor telepon lebih banyak lagi orang-orang yang akan menjadi nara sumber. Selama ini, orang-orang yang diwawancarainya hanya itu-itu saja. Padahal latar belakang peristiwa sangat berlainan sekali. Di balik kelemahan yang dimiliki, Suara Jerman mempunyai kelebihan, yaitu dalam hal membalas surat dari pendengar, maupun mereka yang mengirimkan laporannya.

Hanya saja, di tengah-tengah mahalnya tarif pos, Suara Jerman tentu saja juga menyadari kalau surat yang dikirimkan langsung ke Jerman mengalami penurunan. Demikian juga, tetap menghargai laporan penerimaan yang dikirimkan melalui perwakilan di Jakarta. Tiga puluh lima tahun sudah Suara Jerman menjalin kerja sama dengan pendengarnya di Indonesia. Kerja sama ini tentunya akan terus dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Selamat berhari jadi. (HSB)

VOA News Now

Itulah nama format acara baru siaran bahasa Inggris punya Voice of America. Tulisan berikut saya rangkum dari VOA Guide edisi Juni / Juli dan Agustus / September 1998. Direktur VOA, Evelyn S. Lieberman, dalam kata sambutannya memberikan alasan pemunculan format acara ini. Dikatakannya bahwa teknologi berkembang terus dan mereka harus berusaha menemukan kapan dan bagaimana cara melayani pendengar dengan tepat. Menurutnya pendengar menginginkan acara yang lebih singkat dan disesuaikan dengan kebutuhan. Jadi, VOA memperhatikan ide-ide pendengar, dan selanjutnya merancang perubahan.

Pada tanggal 29 Mei 1998, jam 00.00 UTC, muncullah VOA News Now, paket siaran berita dan informasi berbahasa Inggris. Siaran ini berlangsung 24 jam sehari, 7 hari seminggu menyajikan berita-berita dunia, regional maupun Amerika Serikat dengan artikel-artikel yang lebih singkat dan cepat tentang olah raga, ilmu pengetahuan, bisnis dan hiburan. Dua orang pemandu acara akan selalu hadir untuk menyiarkan berita-berita terakhir, membacakan artikel-artikel baru dan menanggapi berita-berita yang baru muncul. Lieberman mengharapkan pendengar VOA akan menikmati jam-jam siaran yang informatif dan berarti bagi kehidupan sehari-harinya.

Pendengar di tiap daerah siaran akan mendengar berita-berita yang sudah dikemas sesuai dengan masing-masing daerah siaran itu. Jadi, apabila matahari sedang terbit di Asia, VOA News Now akan terdengar di jalur SW dan satelit, dengan berita-berita dari Asia. Bila fajar merekah ke arah Barat, pendengar di Timur Tengah akan bangun dari tidurnya dengan mendengarkan berita-berita tentang Timur Tengah. Walaupun demikian, pemunculan acara ini tidak akan mengurangi acara acara lain yang sudah ada misalnya siaran Special English pada SW, yang sudah mengudara lebih dari 38 tahun.

Special English disiarkan dengan pengucapan kata-kata lebih lambat dan perbendaharaan 1500 kata. Bagi mereka yang biasa memantau siaran VOA, tentu tidak asing dengan acara-acara Development Report and This is America, Science Report and Explorations, Science Report and The Making of a Nation, Agriculture Today and Science in the News, Environment Report and American Mosaic, In the News and American Stories. Dua dari 22 orang pemandu acara VOA News Now adalah Barbara Klein dan Russ Woodgates yang sudah cukup dikenal oleh pendengar VOA di seluruh dunia.

"Satu tantangan baru," kata Barbara yang sebelumnya menangani Studio 38, "dan saya akan melakukan wawancara dengan sumber-sumber berita dari seluruh pelosok dunia." VOA News Now bisa didengar baik di jalur SW maupun stasiun radio lokal yang berafiliasi dan menerimanya dari satelit. Hasil riset menunjukkan bahwa banyak pendengar VOA yang tidak punya waktu lagi untuk duduk berlama-lama di depan pesawat radionya. Mereka ingin mendapatkan informasi yang mereka kehendaki dengan cepat.

"Setiap jam dimulai dengan siaran berita dan dilanjutkan dengan laporan koresponden dan artikel," kata Russ. "Laporan langsung adalah bagian yang tak terpisahkan dari acara baru ini. Selama berlangsung pertandingan-pertandingan sepakbola World Cup di bulan Juni misalnya, Anda bisa dengar riuh rendah suara penonton di latar belakang." Pendengar di Asia dapat mendengarkan suara Barbara dan Russ setiap siang dari jam 12.00 sampai 14.00 UTC (jam 08.00 sampai 10.00 Waktu Washington) dan dari jam 16.00 sampai 17.00 (jam 12.00 sampai 13.00 Waktu Washington).

Bagi Barbara dan Russ mungkin tidak tepat istilah siang itu, karena untuk melakukan siaran ke pendengar yang berada di belahan dunia yang berbeda wilayah waktu mereka harus bangun dari tidurnya pada pagi-pagi benar. "Saya tidak pernah menyadari betapa terlambatnya jam 09.00 pagi sampai saya menjalani tugas giliran ini," kata Barbara. "Sekarang separuh dari tugas-tugas saya selesai pada jam 09.00 pagi."

Russ juga mengakui "belum terbiasa" bangun pada jam 04.30 setiap pagi. Mereka berdua sampai di Kantor Pusat VOA pada jam 06.00 pagi, lalu memeriksa berita-berita dan artikel yang telah disiarkan dalam empat jam terakhir dan merancang siaran mereka sendiri. Memilih data-data baru, meng-update berita-berita, dan sudah tentu membuang berita-berita yang sudah bukan berita lagi. Barbara dan Russ adalah penyiar-penyiar VOA kawakan. Barbara sudah berdinas di VOA sejak tahun 1980, sebagai pembawa acara Talk to America dan Studio 38. Russ mulai menjadi penyiar VOA pada tahun 1977, dan membawakan acara Now Music USA dan VOA Morning.

Dalam kemasan VOA News Now, bisa didengar, antara lain Communications World setiap hari Sabtu oleh Kim Andrew Elliot, dengan perkembangan terakhir dalam media elektronik dan stasiun-stasiun radio internasional, Talk to America hari Senin sampai Jum'at, di mana para pakar menjawab pertanyaan pendengar via telepon, Issues in the News setiap hari Minggu, diskusi dengan wartawan tamu, Press Conference USA setiap hari Sabtu, wawancara dengan sumber berita, Encounter setiap hari Minggu, debat antara dua pakar tentang isu yang sedang marak dan Editorial setiap hari. (SAS)

Sarana, Ketrampilan, dan Cakrawala Baru

The Messenger, media CRI siaran bahasa Inggris, melaporkan tentang the Challenges V, yaitu pertemuan ke-5 the Challenges for International Broadcasting di Ottawa, Kanada. yang disponsori oleh RCI. Forum dua tahunan, yang dimulai tahun 1990 ini, berdiskusi dan mencari penyelesaian masalah-masalah umum. Di antara peserta, selain Wakil Presiden CRI, Wang Guo Qing, dan Kepala Seksi Inggris CRI, Xia Jixuan, juga hadir (tampak dari foto / pen.) Dieter Weirich, Direktur Jendral Deutsche Welle. Tema diskusi tahun ini adalah bagaimana mengadaptasi cepatnya perkembangan teknologi baru.

Hal itu merupakan tantangan yang serius atas cara-cara dan sarana-sarana yang tradisional, serta sekaligus juga menunjukkan kemungkinan kemungkinan baru bagi industri siaran radio. Siaran radio internasional dimulai pada tahun 1930-an, dengan tujuan untuk melayani warga negara yang bekerja dan hidup di perantauan. Selama Perang Dunia II, siaran SW adalah alat tercanggih untuk menembus daerah yang diduduki musuh, sehingga juga merupakan alat propaganda. Demikian juga pada era Perang Dingin, siaran itu merupakan alat propaganda negara-negara yang bertikai, blok Barat yang dipimpin AS, dan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Setelah mengalami pasang surut, menginjak tahun 1980-an, stasiun-stasiun radio sampai pada titik balik. Rintangan terus berlanjut sampai saat ini dengan berbagai sebab. Pertama, kemajuan teknologi mass media, seperti TV berwarna, siaran FM stereo, dan yang paling akhir Internet, yang menghadirkan pilihan semakin luas bagi sumber-sumber informasi dan hiburan.. Semakin banyak saja orang-orang yang membuang radio SW-nya, karena kesulitan memantau siaran di jalur itu. Kedua, dengan runtuhnya Tembok Berlin, maka perdamaian, kerja sama ekonomi dan pembangunan menggantikan konfrontasi dan menjadi trend baru dalam hubungan internasional.

Propaganda politik yang tadinya merupakan identitas stasiun radio, tidak sesuai lagi bagi penentuan haluan pemerintah dan berakibat pada pemotongan budget bagi stasiun-stasiun radio. Ketiga, kemajuan teknologi dan perubahan-perubahan sosial membuat dunia semakin sempit tetapi juga semakin rumit.Itu berarti dibutuhkan lebih banyak berita dan informasi, sementara pemotongan budget dan pengurangan pegawai menyebabkan stasiun-stasiun radio mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tanpa uang, maka fasilitas-fasilitas penyiaran yang sudah kuno tidak bisa di-up grade.

Demikian juga, tanpa pegawai-pegawai yang berpengalaman, isi dan susunan acara-acara yang lapuk tidak bisa diperbarui dan disesuaikan dengan pendengar yang semakin maju. Tanpa dukungan pendengar, stasiun-stasiun radio seakan jadi tidak punya kawan. Sebagian orang menunjuk ketiga hal itu sebagai jalan buntu bagi stasiun-stasiun radio. Tetapi, sebagian besar peserta Challenges V tidak setuju. Mereka justru menganggap pada saat ini stasiun-stasiun radio punya posisi yang unik.

Globalisasi ekonomi berarti akan semakin banyak orang yang tertarik untuk mempelajari perkembangan ekonomi dan ilmu pengetahuan di negara-negara lain yang tidak diliput oleh media setempat. Pada saat yang sama, sejalan dengan perluasan kerjasama antar bangsa, bertambah pula jumlah orang-orang yang bekerja dan hidup di perantauan. Hanya stasiun radio dari negara asal dan negara tempat mereka tinggal yang bisa memberi mereka berita-berita dari daerah asal dan luar negeri.

Jadi, kunci kelangsungan hidup dan perkembangan stasiun-stasiun radio internasional adalah menetapkan kembali misinya, memilih kembali sasaran pendengarnya, dan menyusun kembali isi dan susunan acaranya, dengan mengadopsi teknologi maju. Misi utama untuk memperkenalkan saling pengertian antar bangsa dengan diskusi dan saling menghargai. Untuk mencapai sasaran di atas, maka selain pendengar orang asing di daerah siaran harus juga dilayani pendengar warga di perantauan. Acara siaran harus disesuaikan dengan kebutuhan informasi di bidang teknologi maju dan perkembangan ekonomi.

Dalam pertemuan di Ottawa itu, banyak diinformasikan teknologi baru dalam siaran SW untuk mencapai pendengarnya. Digitalisasi siaran menghasilkan program yang bermutu lebih tinggi dengan ongkos yang lebih rendah, karena penerimaan siaran yang lebih baik, demikian juga pemilihan pancaran frekuensinya. Acara-acara digital dengan mudah dapat disebarkan melalui satelit dan Internet. Masalah yang mendasar adalah tingginya biaya transisi dari peralatan analog ke digital. Sebagai alternatif sedang dilakukan riset pada modul radio digital (DRM), yang diharapkan akan membuahkan hasil yang sama pada tingkat biaya transisi yang lebih rendah.

Siaran melalui satelit memungkinkan pembuatan paket-paket program siaran untuk dijual ke usaha siaran kabel, atau menyiarkannya melalui jalur FM. Beberapa usaha siaran kabel, misalnya Skyworld dari AS, dan World Radio Network dari Inggris, memberikan paket-paket program siaran berbagai stasiun radio internasional kepada stasiun-stasiun lokal AM dan FM di larut malam, sebagai pilihan, selain acara musik. Siaran melalui Internet membuka cakrawala baru, di mana kita bisa menyimpan catatan dan acara-acara, selain menawarkan jasa berita e-mail ke pelanggan. Mengadaptasi globalisasi dan menyajikan kebutuhan para pendengar jadi lebih mudah.

Mengingat adanya perbedaan antara Internet / Web dengan audio, perlu diadakan riset pendengar mengenai isi, mutu, susunan, bentuk, dan topik program, dan juga menentukan apa yang harus dilakukan untuk perkembangan siaran Internet. Beberapa stasiun radio memasang kamera di studio untuk menampilkan pembicara dan gambar-gambar selama siaran dalam siaran televisi internasional. Usai pertemuan delegasi CRI terbang ke Markas Besar PBB di New York, untuk penanda tanganan perjanjian penyiaran program CRI bahasa Cina, yang dibuat oleh United Nations Radio. (SAS)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 5 Sep-Okt 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space