Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 4 Jul-Agu 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Amateur Radio
DX Tips
Bengkel DXer
DirgaNet
Tinjauan Buku
Surat Terbuka
Asal Tau Aja...
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  DX Tips
Dengan Aries Subagyo Ngobrol Tentang DXing

Di Indonesia, jenis receiver yang bagus di pasaran masih belum banyak, itupun hanya dari kelas budget and travel portables (harga tergolong murah dan modelnya tentengan). Tapi jangan kaitkan pengertian harga murah di sini dengan melambungnya kurs US Dollar sekarang. Itu soal lain lagi. Sebab sekarang, kalau barangnya ada dipajang di etalase toko elektronik saja, sudah lumayan. Lumayan buat dilihat, habis harganya pun pastilah selangit, karena kendala-kendala itulah, ngobrol tentang kiat-kiat dalam DXing jadi lebih menarik. Berikut ringkasan obrolan kami.

A. Seorang DXer harus ulet, tekun, sabar, jujur dan sportif, misalnya karena hasrat yang menggebu mau mendapatkan QSL dari pemancar salah satu stasiun yang punya frekuensi MW, lalu pakai kiat memantau paralelnya yang di SW saja, terus dalam laporannya ditulis sebagai MW. Programnya sama kan. DXer yang beneran ngga bakalan mau berbuat begitu karena malu pada dirinya sendiri.

Apalagi, dengan modal ulet, tekun, dan sabar, dia pun bisa memantau siaran di jalur MW tersebut. Keyakinan bahwa pemantauannya itu benar, bisa dia buktikan dengan, misalnya pakai receiver digital, dan ini dituliskan dalam laporan monitoringnya ke stasiun bersangkutan. Ternyata mendapat balasan, bahwa laporan itu benar adanya. Kepuasannya tak tergantikan !

B. Jangan kaget, kalau ketemu frekuensi bayangan, yaitu frekuensi yang bisa didengar dengan baik, dan pasti karena monitoringnya pun pakai receiver digital, tetapi pada waktu dilaporkan, mendapat balasan "can not verify" sebab frekuensi itu memang tidak tercantum dalam daftar frekuensi yang mereka pakai.

C. Dalam monitoring, ada dua faktor yang sangat dominan, yaitu ketepatan dan kecepatan. Untuk ketepatan memang receiver digital jagonya, tapi untuk kecepatan atau kemudahan rasanya receiver analog yang lebih pas, soalnya tinggal tekan tombol kelompok frekuensinya, dan langsung tune in. Pakai receiver digital mesti nunggu scanning dulu, padahal waktu siaran kan terbatas, kecuali kalau frekuensinya sudah dimasukkan dalam memori. Adanya sarana penyimpan data frekuensi inilah salah satu kelebihan receiver digital. Lebih bagus lagi kalau pakai adaptor, karena receiver jenis ini lumayan boros dalam pemakaian baterai.

D. Kesabaran bukan hanya pada saat monitoring. Tetapi juga pada saat menunggu balasan dari stasiun radio, ada yang sampai 2 tahun belum juga ada balasan walaupun sudah diulang laporannya dan bahkan sudah dilampiri IRC. Pada waktu diberitakan, bahwa gedung stasiun Radio Lithuania dibom, terlintas rasa kecewa. Karena kebetulan, saat itu sedang menunggu QSL untuk laporan monitoring yang sudah dikirim ke stasiun radio tersebut. Tapi syukurlah, balasan yang sudah cukup lama ditunggu itu akhirnya datang juga, dan dilihat dari cap posnya, ternyata QSL itu dikirim sebelum terjadi pengeboman. Alhamdulillah. (SAS)

Memantau Siaran FM dari Luar Kota

Pengantar Redaksi : Ada yang berpendapat, bahwa data-data stasiun radio FM pada DX Parade Indonesia tak perlu dimuat karena daya pancarnya yang terbatas. Tanpa bermaksud mengabaikan pendapat tersebut, redaksi tetap memuatnya, karena di pihak lain, justru rekan-rekan DXer di luar negeri menyatakan sangat berminat pada data tersebut. Tulisan berikut, mungkin bisa mengubah pendapat yang pertama. (SAS)

Memang, merupakan suatu kebanggaan tersendiri apabila berhasil memantau siaran pada frekuensi FM dari luar kota. Frekuensi yang dipergunakan oleh siaran FM berada pada kategori frekuensi yang sangat tinggi (VHF). Sehingga, daya jangkauannya pun tidak sejauh siaran radio yang menggunakan frekuensi tinggi (HF) pada jalur SW, yang pada dasarnya dibantu pemantulannya oleh lapisan ionosfer (berada di antara 80 sampai 100 km dari permukaan bumi, ed). Namun, tidak tertutup kemungkinan, ada gelombang VHF yang dihantarkan oleh lapisan troposfer (lapisan terbawah atmosfer, ed), sehingga siaran FM bisa diterima sampai jarak yang sangat jauh.

Gejala-gejala seperti inilah yang dimanfaatkan pada sistem komunikasi troposcatter. Gelombang VHF merambat lurus seperti berkas sinar, sehingga mudah terhalang, baik oleh gedung-gedung tinggi, maupun karena pengaruh permukaan bumi yang melengkung (garis pandang mata atau line of sight). Karena itu, gelombang radio FM hanya bisa diterima dengan baik pada jarak sekitar 60 km dari pemancarnya. Meskipun sudah dibantu dengan elemen antena pengarah, hasil pemantauan hanyalah suara yang lemah dan noise yang besar.

Dengan semakin menjamurnya stasiun-stasiun radio FM, maka gangguan/splatter pada pemantauan siaran FM dari luar kota pun semakin besar. Maka diperlukan satu kiat tersendiri. Apalagi, kalau kita hanya menggunakan tuner yang manual, maka frekuensi 96.7 dan 98.8 MHz misalnya, akan berhimpitan. Padahal dengan memakai tuner digital, bahkan bisa terpisahkan antara frekuensi 98.1 dengan 98.4 MHz, setelah dibantu dengan antena luar dan booster FM.

Ada berbagai macam model antena untuk memantau siaran FM dari luar kota, di antaranya : Yagi, Hy-gain (omni directional), LPY (Log Periodic Yagi), Twin Quad, Bowtie, dan lain-lain. Antena model Quad pernah dimuat dalam Dirgantara, vol 5 (1), Februari 1995. Pemilihan model antena yang akan dipakai sangat menentukan hasil pemantauan. Penulis memilih antena twin quad dengan pertimbangan polarisasinya yang hampir merata pada bidang vertikal maupun horizontal. Setelah memparalelkan (stack) 2 antena quad 4 elemen, diperoleh hasil yang sangat memuaskan.

Dengan tambahan Booster FM, Tuner Digital penulis bisa memantau siaran FM luar kota (lihat : Laporan DX, Dirgantara, vol 8 (2), Maret 1998, dan vol 8 (3), Mei 1998). Bahkan ada beberapa stasiun FM yang dulu terpantau dengan SIO 333, atau 444. Sekarang, bisa terpantau dengan sempurna, tanpa noise, dan lampu indikator stereo menyala. Pada siang hari, stasiun FM yang bisa terpantau adalah Radio Wijaya dan SC FM - Surabaya, Swara Giri FM - Gresik, Jaya FM - Tulungagung, dan Patria FM - Blitar, di samping beberapa stasiun eksperimen.

Pada pagi hari yang cerah, bahkan bisa terpantau siaran dari kota Semarang, yaitu : Radio POP, Radio Imelda dan Radio Rasika. Rekan penulis dari Pasuruan Adhian Surya P. berhasil memantau siaran FM stereo dari Singapura, dengan antena VHF 22 elemen 2 stack, dengan perangkat FM booster. Beberapa hal lain yang harus diperhatikan dalam pemantauan siaran FM dari luar kota, adalah :

•  Antena harus pada panjang gelombang siaran FM 88-108 MHz
•  Gain booster yang dipergunakan juga harus besar
•  Impedansi antena harus sesuai dengan impedansi input penerima FM
•  Arah antena

Ada 1 pengalaman menarik ketika memantau siaran radio eksperimen Teknik Elektro Universitas Brawijaya, dikenal dengan TEUB FM 98.8 MHz pada tahun 1989. Pada saat saklar tuner ditekan pada posisi mono, siaran dari TEUB hilang, tetapi saat saklar tuner ditekan pada posisi stereo, siaran TEUB terdengar kembali. Pengalaman yang sampai saat ini belum pernah terulang. (Amir Makhmud, Malang)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 4 Jul-Agu 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space