DX Mania
SW Scanning dan QSLing bersama Soekirno (Seperti Dituturkan kepada Dirgantara)
Bagi yang belum kenal anggota redaksi yang satu ini, mungkin tak begitu saja percaya kalau diberi tahu bahwa dia sudah "gila radio" semenjak duduk di bangku kelas 3 SD. Beberapa stasiun radio, di sekitar Indramayu dan Cirebon, sudah menjadi langganan menerima permintaan lagu darinya. Bertambah usia seiring dengan semakin berkembangnya daya pikir membuatnya jenuh kalau seharian hanya minta lagu dan minta lagu. Menginjak bangku kelas 3 SMP, timbullah keisengannya untuk coba-coba memindah jarum gelombang pesawat radionya ke jalur SW.
Mula-mula didapatnya Suara Jerman, kemudian berturut-turut Radio Nederland, Suara Amerika, dan Radio Australia. Dari radio-radio itulah semakin bertambah wawasannya tentang dunia luar. Bertambah pula perkenalannya dengan teman-teman sesama penguping radio dari seluruh Indonesia. Tahun 1986, dalam suatu pertemuan SWL bertempat di Jakarta, untuk pertama kalinya dia bisa bertemu langsung dengan seorang penyiar radio luar negeri, yaitu Hilman Yatim dari Radio Nederland, betapa gembira hatinya. Dengan pesawat radio JVC 2 band, semakin menggebu penjelajahannya di dunia radio, dunia DXing.
Hatinya mulai tergerak pula untuk masuk menjadi anggota klub SWL manca negara, dan dorongan semangatnya membuatnya berhasil, dan dengan catatan prestasi yang mengagumkan. Dia menjadi anggota klub : Radio Praha Monitor Club (No.9 103/85), Radio Berlin DX Club (No.5792), Radio Budapest SW Club (No.YB-1513/RB), BRT SWL Club (No.4064), HJCB Andex DXers International (No.6953), Radio Tashkent Shalom Aleikum LC (No.3429).
Sementara prestasinya antara lain : tiga sertifikat dari VE2FMA Quebec, Kanada, Radio Budapest Worldwide 30th DX Competition 1987 (ranking 16), the 1st International DX Contest DSWCI 1989 - the Grand Tour with Cancer and Capricorn (ranking 15, dengan jumlah point 922.70), menerima plakat KBS tahun 1986 sebagai pemenang lomba penulisan essay tentang Olimpiade Seoul, dan Juara ke-2 kontes mendesain kartu QSL yang diselenggarakan oleh AWR Asia.
Bicara tentang kartu QSL, entah apa gerangan yang menyebabkan keengganannya untuk lebih menyemarakkan IDXC Top 50, padahal sampai saat ini, dalam koleksinya ada lebih kurang 400 lembar kartu QSL dari 74 stasiun radio, selain vandel sejumlah 36 buah. Karena itulah, tepat setahun yang lalu redaksi pernah menulis, bahwa masih banyak pemburu QSL yang prestasinya melebihi mereka-mereka yang namanya telah terdaftar dalam IDXC Top 50, namun sepertinya lebih senang berdiri di luar arena sebagai penonton. Padahal, sejak edisi kemarin, IDXC Top 50 sudah masuk ke jalur Internet.
Masih tentang kartu QSL, Mas Soekirno, yang lebih dikenal dengan inisial SKN, menyebutkan beberapa kartu yang unik, misalnya : QSL dari Radio Kathmandu, Nepal berupa gambar (foto ?) hitam putih studio Radio Kathmandu, yang dicetak pada kertas berwarna kusam dengan kualitas saaangat jelek. Walaupun begitu, mereka membalas laporan penerimaannya dalam waktu relatif singkat. Lalu QSL yang didapatnya dari ORF, Wina, dan dari Radio Tashkent. Yang pertama, bergambar wanita (ah !) tanpa busana dan satunya lagi bergambar simbol partai terlarang di negeri kita tercinta.
Karuan saja, waktu terima kartu-kartu itu, hati SKN jadi dag dig dug dibuatnya. Mungkin karena koleksinya yang serem-serem begitu, maka SKN jadi kagok mau bikin foto kopi kartu QSL-nya buat ikutan IDXC Top 50, bener Mas ? Di bawah ini salah satu koleksi kartu QSLnya, walaupun bukan dari kelas unik, tetapi antik punya.