Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 2 Mar-Apr 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sosok
Amateur Radio
Bengkel DXer
Uji Coba Radio
Tinjauan Buku
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  Sosok
Wawancara dengan Rudiger Siebert

Pengantar : Seorang kepala seksi ketika berkunjung ke Indonesia senantiasa padat dengan jadwal, baik untuk urusan keluarga maupun yang ada kaitannya dengan perjalanan jurnalistiknya. Setelah sebulan lebih menunggu, redaksi memperoleh kesempatan untuk bersilaturahmi. Kali ini yang ditampilkan adalah Bung Rudi. Wawancara dilakukan beberapa jam sebelum meninggalkan Indonesia. (HSB/DBR)

Sejenak Bersama Bung Rudi

Dia hadir dari minggu ke minggu, Rudiger Siebert dengan sapaan akrab Bung Rudi. Obrolannya santai, ringan, tapi toh berbobot, karena memang sarat dengan informasi, juga segala masalah dengan sentuhan kemanusiaan. Mulai dari soal merokok sampai pertumbuhan penduduk, soal telepon yang mulai menjamah pedesaan Indonesia sehingga komunikasi melalui surat tergeser. Mengingatkan kita pada almarhum Pak Besul dari RRI Nusantara II Yogyakarta. Tidak terasa Januari 1998 ini genaplah 25 tahun ia meniti karirnya sebagai wartawan radio.

Ia menulis tentang Indonesia, tanah airnya yang kedua. Di tanah ini pulalah ia sempat dilarang menginjaknya, karena tulisannya tentang Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia pernah dijelajahinya. Dari Aceh sampai Maluku, meneliti proyek-proyek kerja sama Jerman Indonesia, berkunjung ke stasiun-stasiun radio. Hasilnya tentu saja sejumlah besar tulisan, siaran radio, artikel, buku, dan ceramah.

Suatu sumbangan yang sangat besar bagi pembentukan hubungan baik dan pengertian antara masyarakat Jerman dan Indonesia. "Suatu tugas yang selalu menawarkan tantangan," begitu tanggapnya pada sebuah pesta antara kerabat kerja. Suatu alasan pula untuk melanjutkan pekerjaan ini. Juga suatu ajakan kepada para pendengar siaran DW untuk meneruskan dialog. Marilah kita tanggapi !!

Dirgantara (D) : Bung Rudi, ketika pertama kali mengudara, SJDW didirikan tentunya lain tujuannya dengan saat ini. Apakah masih ada relevansinya dengan saat ini, mengingat berbagai negara kini telah berubah cara pandangnya ?

Bung Rudi (BR) : Dari mulai siaran bahasa Indonesia sampai sekarang, saya kira tujuannya sama. Indonesia sebagai negara yang paling penting di dunia, mesti juga dalam bahasa Indonesia. Sesudah 35 tahun, tujuannya sama, karena Indonesia berpenduduk lebih 200 juta, meskipun mengalami krisis, saya kira masa depan dapat mengatasinya. Oleh karena itu, hubungan untuk dialog antara Eropa, termasuk Jerman, dan Indonesia. Saya kira jembatan radio penting sekali.

D : Beberapa stasiun radio termasuk Suara Jerman kini menyatukan pengelolaannya dalam satu atap bersama televisi. Dalam manajemen satu atap ini, apakah dirasakan gerak langkah Suara Jerman menjadi berkurang ?

BR : Di Jerman ada beberapa stasiun radio dan televisi, dalam negara, Deutsche Welle satu-satunya stasiun untuk luar negeri, radio dan televisi. TV melalui satelit, misalnya ke Indonesia dengan Asia Sat ke-2. Ini di bawah satu atap, Deutsche Welle. Manajemen satu Direktur Jendral, Dieter Weirich, yang bertanggung jawab. Kantor radio di Koln, saya dari kota Koln, dan redaksi televisi di Berlin. Tapi ada kerja sama antara Koln dan Berlin, meskipun redaksi berbeda. Dari tradisi, redaksi radio bekerja agak sendiri, radio untuk radio, televisi untuk televisi.

Kami kadang-kadang minta agar kerjasama lebih akrab, tapi sulit sekali, radio dan televisi berbeda. Mungkin di masa depan ada kerja sama lebih akrab, di bidang adaptasi bahasa. Sampai sekarang, televisi Deutsche Welle ke seluruh dunia dalam tiga bahasa saja, Inggris, Jerman, dan Spanyol. Tapi saya harap mesti memperbesar bahasa-bahasa, misalnya bahasa Indonesia.

Televisi ke Indonesia dalam tiga bahasa saja tidak cukup, tidak bersaing. Oleh karena itu, di masa depan bisa mengambil dari bidang radio, karena di redaksi, saya ada orang Indonesia yang mempunyai relasi atau hubungan dengan Indonesia. Untuk menerjemahkan, untuk adaptasi di bidang televisi. Acara untuk masa depan, tapi sekarang belum.

D : Seperti halnya TV Australia yang menyiarkan dalam bahasa Indonesia ?

BR : Sama, saya kira ini sebagai contoh, dan bisa. BBC, Saya tahu dia mempunyai siaran dalam bahasa Hindi, tapi ini lebih baik, karena penonton di India atau di Indonesia merasa ini siaran untuk kami. Karena saat ini siaran televisi Deutsche Welle tidak ada satu siaran khas untuk satu region atau daerah. Ini internasional atau global, tapi mungkin kurang menarik untuk orang Indonesia kini. Tapi, kami di Deutsche Welle tahu tentang masalah ini, ada kaitannya dengan masalah keuangan/budget.

D : Dengan runtuhnya Tembok Berlin membawa dampak, termasuk dalam bidang media, yakni meleburnya Radio Berlin ke dalam Suara Jerman. Selain memanfaatkan stasiun relai yang pernah dimiliki Radio Berlin. Apakah juga menampung para penyiar Radio Berlin ?

BR : Ya seperti sesuatu yang lain dari Jerman Timur. Pabrik atau semua, termasuk Radio Berlin Internasional kurang lebih dibongkar. Tidak betul ada kerja sama. Dulu, penyiar Radio Berlin saya kira beberapa ratus. Hanya 25 rata-rata anggota staf dari Radio Berlin yang bisa masuk DW, mungkin 10% saja. Ini mirip situasi Jerman sesudah reunifasi, karena apa yang dulu di Jerman Timur itu masuk ke Jerman Barat.

Ini sedikit sedih juga, oleh karena itu, juga stasiun relai tidak digunakan lagi dari RBI. Tentang pendengar, saya kurang tahu, karena dari RBI tidak ada siaran bahasa Indonesia. Dulu ada, tapi sewaktu reunifikasi, sewaktu Jerman Timur habis, tidak ada lagi dalam bahasa Indonesia. Mungkin dalam bahasa Hindi, ada pendengar RBI kini mendengarkan DW juga.

D : Kebetulan, saya juga menjadi pendengar Radio Berlin Internasional, bahkan dulu ada semacam klub DX di sana. Juga menerbitkan semacam buletin berkala, mirip Hallo Friends ?

BR : Tapi semua hilang, sayang sekali, tapi hanya beberapa orang yang pindah ke DW. Dan merupakan tradisi hubungan dengan RBI hilang, tidak ada lagi. Hallo Friends sudah habis dari DW, dan tidak ada lagi majalah baru seperti dulu. Ada majalah untuk televisi, berwarna, dan luks, tapi untuk siaran-siaran, sebagai gantinya folder. Kami sendiri sedih, karena masalah uang juga. Meskipun kas tidak begitu kosong, namun tidak sekaya dulu.

D : Suara Jerman lebih memanfaatkan kemajuan teknologi, antara lain dengan mempergunakan satelit. Namun demikian, tidak semua pendengar bisa memanfaatkan, mengingat pesawat yang dipergunakannya sangat sederhana. Lantas ditujukan kepada siapa sebenarnya siaran tersebut ?

BR : Ya, ini tergantung digitalisasi (teknologi paling modern) melalui Asia Sat ke-2. Tidak bisa ditangkap dengan parabola biasa, mesti ada decoder dan antena khusus. Sebagai anggota redaksi, sebagai wartawan yang minta siaran didengarkan, saya kurang senang, karena di Indonesia, hanya beberapa orang kaya yang dapat membayar. Dan juga stasiun RRI dan swasta. Ada rencana, tahun ini, untuk kurang lebih 100 stasiun sebagai leasing dari DW untuk membawa decoder dan antena.

Kurang lebih 100 radio swasta atau RRI akan bisa menangkap siaran dari televisi dan radio, kualitas baik sekali, kualitas FM. Ini untuk re-broadcasting, ini salah satu kelebihan teknologi. Saya kira di masa depan alat-alat lebih murah, seperti halnya cassette recorder, transistor. Dulu juga mahal, sekarang agak murah.

D : Sebagai kepala seksi, tentunya Bung Rudi memberi keleluasaan kepada penyiar untuk memproduksi acara yang diasuhnya, semisal Indonesia Plus Minus, atau acara yang lain. Sejauh mana sensor diperlakukan oleh kepala seksi ?

BR : Tidak ada sensor. DW uangnya dari pemerintah, melalui pemerintah dari pajak, dari semua orang di Jerman. Tapi tidak suara pemerintah. Saya kira menarik untuk mengetahui DW ini lain dengan RRI dan juga Suara Amerika. VOA salah satu bagian dari Kementerian Penerangan, tapi DW ini status yang lain. Uang dari orang Jerman melalui pemerintah. Tetapi kontrol atau supervising independen, seperti juga sama dengan stasiun dalam negeri, tidak ada sensor. Kami sebagai wartawan atau jurnalis bekerja independen.

Memang ada siaran yang kritis terhadap Indonesia, tetapi mesti fair atau obyektif, mesti imbang. Ini mungkin kadang-kadang susah, kami sebagai manusia, ada kesalahan juga. Kadang bisa miss informasi yang tidak correct, tapi ini kekecualian, karena kami minta dan mau melakukan secara obyektif, fakta-fakta yang benar, correct. Tetapi ada juga informasi dan kadang opini, misalnya dari pers Jerman ada kritik terhadap Indonesia. Masalah Timor Timur, ini masalah sensitif, ini yang berkritis, ada opini yang berbeda, yang lain.

Saya kira DW sebagai terbuka untuk apa-apa yang lain sebagai over kepada pendengar Indonesia. Silakan mendengarkan, tapi akhirnya punya opini sendiri, tapi punya sumber informasi dan opini juga. Tetapi ini tidak dipaksakan untuk opini Anda, silakan cari dari sumber informasi, untuk mempunyai opini sendiri. Saya kira ini konsep demokrasi, mungkin sedikit sebagai hal yang ideal. Tapi tanpa ideal, tanpa impian, saya kira tak ada kesempatan, dan satu lagi, tak ada sensor. Kami sendiri harus sensor apa yang benar dan tidak benar, ini tanggung jawab wartawan.

D : Dalam hal memberikan informasi, baik pergantian jam siaran, frekuensi, dan sebagainya, Suara Jerman paling cepat dibandingkan dengan stasiun radio lain. Baik untuk para pendengar maupun para monitor teknik, ini tentunya dilatarbelakangi oleh sebuah pandangan, bahwa keberadaan pendengar sangat diperlukan. Apakah harapan Bung Rudi terhadap pendengar di Indonesia ?

BR : Saya kira melalui gelombang pendek sebagai "jembatan", saya minta dialog dengan pendengar di Indonesia, misalnya Kotak Surat, Pilihan Anda, atau Opini Anda. Saya kira ini menarik sekali, karena kesempatan untuk berekspresi, ini saya kira penting sekali. Saya di Koln, wartawan yang jauh dari Indonesia, saya senang sekali kalau ada surat, e-mail, faks dari Indonesia. Karena saya kira ini cukup sulit untuk menyiarkan yang jauh dari DW, 10.000 km lebih. Karena ini perlu dialog, penting sekali.

Tapi siapa tahu DW di sini. Tentang iklan, kami coba dengan iklan di beberapa koran, tapi respon kurang. Yang lain, dengan empat radio swasta tahun yang lalu, tahun ini ada rencana dengan radio swasta yang lain, juga untuk promosi DW. Dan ada juga yang menarik, "kami minta surat". Tapi pendengar di Jakarta tidak mau menulis surat, melainkan menulis secara modern.

Tetapi masih penting bagi kami surat untuk statistik. Ya, karena kami kurang surat dalam hal ini. Ini penting sekali. Tapi kami sudah tahu, ini ada perubahan komunikasi di Indonesia. Di mana-mana ada telepon umum, dan generasi muda biasanya pendengar gelombang pendek, tidak menulis seperti dulu, keadaan seperti zaman sekarang.

D : Jadi lebih senang kalau pendengar menulis dari pada menelepon, begitu ?

BR : Ya, tapi menelepon ke Jerman biayanya cukup mahal, tapi e-mail sudah komunikasi yang baru dan tidak begitu mahal. Tapi radio swasta di Jakarta tentang sayembara dengan DW tidak ada surat. Orang di sini, di Jakarta, menelepon mau jawab, ya, untuk statistik, hanya beberapa orang yang menelepon.

D : Mungkin karena belum tahu hadiahnya ? Apa sebenarnya hadiahnya ?

BR : Mungkin hadiahnya sederhana, hadiah pesawat radio mungkin masih menarik. Modem yang kecil, mungkin agak menarik juga untuk masa depan.

D : Selain sebagai redaksi Dirgantara, kadang-kadang kami juga menjadi stringer. Pembaca Dirgantara ingin mengetahui, kiat apa yang Bung Rudi punyai hingga betah di dunia keradioan, sementara Bung Rudi sering melakukan perjalanan jurnalistik ? Apakah perjalanan jurnalistik ini berkaitan dengan tugas Suara Jerman, maupun akan menerbitkan sebuah buku tentang Indonesia ?

BR : Ya, ini tentunya penting bagi wartawan yang berprofesi jurnalis. Oleh karena itu, stringer tentu pengalaman sebagai wartawan. Saya tahu Radio Nederland banyak mempunyai stringer, tidak hanya di Jakarta, melainkan juga di kota-kota lain. DW biasanya punya stringer, orang yang dulu pernah bekerja di DW, misalnya Radio Mara di Bandung. Saya tahu jumlahnya tidak terlalu banyak seperti RN. Di masa depan, untuk mengatasi problem informasi lebih cepat, kami cari stringer lebih banyak dari Indonesia. Tapi kalau Anda tahu siapa bisa, cukup profesi, silakan beri nama.

D : Bung Rudi pernah mengatakan kesulitan memasuki Indonesia. Ini disebabkan oleh beberapa buku yang pernah Bung Rudi tulis tentang Indonesia. Setelah kesulitan tersebut dicabut, bagaimana perasaan Bung Rudi ?

BR : Selama lima tahun tidak boleh masuk ke Indonesia, ya sedih, tapi ini resiko wartawan, dan mungkin di masa depan, Indonesia lebih terbuka. Silakan, itu opini Anda, tapi opini di sini lain. Ada dua opini, bukan hanya satu yang betul. Keterbukaan sudah lama di Indonesia, saya kira belum direalisasi.

Sekarang di Indonesia, banyak krisis moneter, banyak saya baca di koran. Ada suara dari mahasiswa, dari parpol, dari golongan. Mereka minta lebih terbuka, diskusi, forum, dialog, karena untuk menghadapi problem di Indonesia perlu dialog nasional. Tapi juga opini dari luar negeri, dan yang kritis tidak enemy, tak mengancam. Beberapa orang Indonesia perlu belajar.

D : Banyak sekali klub pendengar radio di Indonesia bermunculan. Bagaimanakah pendapat Bung Rudi mengenai hal ini ? Apakah yang dikehendaki dari klub pendengar tersebut ?

BR : Klub pendengar bagi radio, tidak hanya DW, penting. Mungkin dulu gelombang pendek masih menarik, bersaing dengan TV dan media lain, Internet, video, di kota besar. Tapi gelombang pendek masih media yang menarik sekali, cepat, langsung, dalam bahasa nasional, dan radio kecil, dengan ongkos sederhana. Saya harap di masa depan masih menarik. Oleh karena itu, apabila ada klub pendengar yang menggunakan media ini, kalau bisa kami mau membantu dengan naskah, majalah.

D : Beberapa tahun yang lalu, sebuah klub pendengar yang kini non-aktif memperoleh bantuan dari Suara Jerman berupa sebuah radio Grundig tipe mutakhir. Apakah tahun ini hadiah tersebut juga akan diberikan kepada klub pendengar ?

BR : Ada kesulitan keuangan di Jerman, kami mesti menghemat uang. Dulu kas lebih penuh, ini di seluruh dunia, persoalan yang sama. Ini tahun ke-35 siaran bahasa Indonesia dari DW. Kami akan memperbaiki hadiah sayembara, terutama sayembara istimewa, dan mungkin alat radio Grundig lebih besar. Saya harap ini akan bisa.

D : Untuk hadiah sayembara atau klub pendengar ?

BR : Saya belum pasti, tapi saya akan berdiskusi dengan departemen dan pendengar, dan saya harap ada budget khusus, dan sabar, tunggu dulu.

D : Suara Jerman melakukan kerja sama dengan RRI dalam pertukaran penyiar. Tahun ini, beberapa radio swasta juga. Apakah manfaatnya bagi Suara Jerman ?

BR : Kerja sama akan terjalin terus, misalnya dengan RRI, rencana ada ko-produksi yang baru, tentang makanan masa depan di Indonesia (food security). Ini akan terjadi di Purwokerto dengan stasiun RRI Purwokerto, karena dengan makan nasi lebih baik di daerah daripada di Jakarta. Dan yang lain, Kepala Stasiun RRI Purwokerto, Maryono, kami kenal sudah lebih dulu, karena pernah kerja di DW. Saya harap Februari atau Maret kembali ke Indonesia untuk realisasi ko-produksi.

D : Apakah dalam ko-produksi tersebut juga melibatkan pendengar ? Artinya, apakah pendapat pendapat pendengar juga diminta, begitu ?

BR : Ini ide yang baru, tapi baik sekali. Di Purwokerto, kami cari pendengar untuk membantu ide dengan opini. Saya kira ini ide yang menarik.

D : Begini Bung Rudi, dalam setiap kesempatan, Radio Nederland banyak melibatkan pendengar. Misalnya, tahun ini mengangkat masalah kemiskinan. Bagaimana cara mengatasinya, setelah 50 tahun merdeka, ini juga melibatkan pendengar. Terutama pendengar di daerah terpencil, yang pernah dikunjungi penyiar. Saya pikir ini ide bagus, dan bisa dilakukan Suara Jerman.

BR : Saya perlu, tapi ini perlu organisasi di sini, karena mempersiapkan pertemuan di ruangan besar. Tetapi saya akan berdiskusi dengan teman-teman di sana tentang contoh Radio Hilversum.

D : Kalau perlu, juga bisa mengadakan pemberitahuan terhadap klub-klub pendengar, di mana anggota-anggotanya bisa berpartisipasi di sana !

BR : Betul, ya, perlu partisipasi, karena ini duta besar radio gelombang pendek, kedutaan besar di sini.

D : Dalam hal rekrutmen penyiar selama ini, seakan-akan mengesampingkan pendengar, karena belum ada penyiar yang berasal dari pendengar, mengapa demikian ?

BR : Dari pendengar ? Pendengar biasanya tidak profesi. Dari Indonesia, saya kira hanya beberapa orang saja yang bisa diminta, atau mungkin ?

D : Apakah ini disebabkan karena latar belakang pendidikan, atau ada persyaratan khusus untuk menjadi penyiar ?

BR : Kualitas, pengalaman profesi, atau pernah bekerja di koran, atau radio swasta, atau RRI. Hanya kualitas profesi, tidak dengan piknik atau dari mana.

D : Bung Rudi, selama ini ada satu penyiar yang membantu koran di Jakarta. Karena kekeliruan berita yang dimuatnya, penyiar tersebut diputus hubungan kerjanya. Apakah ini juga mempengaruhi Suara Jerman ?

BR : Tidak, karena dia sebagai koresponden, tidak bertugas dengan DW. Dan sebagai koresponden, dia bekerja sendiri untuk koran di Indonesia, tidak bersaingan atau hubungan dengan DW. Ia sebagai koresponden bekerja sendiri, oleh karena itu, tidak ada masalah bagi Deutsche Welle.

D : Apakah diperbolehkan oleh SJDW, aturan membantu surat kabar atau majalah di Indonesia ?

BR : Bisa, kalau seorang berasal dari Indonesia atau negara lain minta izin dari Dirjen DW, saya mau bekerja sebagai koresponden majalah di Indonesia. Kalau ada lampu hijau dari atas, boleh juga, tapi tanggung jawab sendiri si koresponden, bukan DW. Karena siaran DW, saya dan bos saya tanggung jawab.

D : Saat ini Suara Jerman memiliki semacam Multi Media Training Centre, di mana beberapa penyiar televisi maupun radio dari negara Asia maupun Afrika menimba ilmu di sana. Apakah latar belakang pendiriannya ?

BR : Dengan Departemen Pendidikan DW, 30 tahun lebih, saya kira sukses besar, dan saya tidak tahu tepatnya, sudah berapa orang diundang ke Koln. Ratusan, mungkin ribuan, dari Indonesia banyak, dari RRI maupun radio swasta. Tapi yang mungkin cukup baru ada seminar di dalam negeri Indonesia. Bulan November, ada seminar bersama DW dan RRI, "Manajemen Training Kepala Stasiun", misalnya Yon Maryono hadir di Jakarta ini. Bekerja sama dengan Departemen Pelatihan dari Koln. Tapi tidak diundang ke Koln, saya kira ini co-project yang cukup menarik, dan kurang mahal. Saya kira cukup murah dan cukup sukses.

D : Berapa lama belajar di sana ?

BR : Dulu ada kursus setahun, tiga tahun, tapi sekarang tidak begitu lama, tergantung juga uang. Ada seminar selama tiga bulan, ada pula seminar seperti di Indonesia. Saya kurang tahu, apa acara di masa depan, karena ini departemen di DW. Kalau ada orang dari Indonesia, kami bertemu dan kami undang ke redaksi. Tapi ini diklat independen juga di DW.

D : Di tengah-tengah maraknya persaingan stasiun radio memasuki tahun 2000, apakah Suara Jerman juga telah mempersiapkannya ?

BR : Ya, mempersiapkan dalam DW untuk pindah ke Bonn, ini suatu rencana, karena gedung DW ada asbes, ada kesulitan kesehatan. Ada rencana pindah ke Bonn, ini untuk milenium, tentang rancangan siaran, belum ada.

D : Usia 35 tahun sebuah seksi dari suatu stasiun radio merupakan hal yang sangat langka. Tahun ini seksi Indonesia memasuki lustrum yang ke tujuh, apakah rencana yang akan dilakukan seksi Indonesia ?

BR : Belum ada rencana yang pasti. Penerbitan buku pernah dilakukan pada ultah ke-25 dan 30, dan saya berharap tahun ini juga ada sayembara istimewa. Juga pesta di Jerman, mungkin bersama Kedubes di sana, Malam Indonesia. Mungkin ada rombongan kesenian dari Indonesia. Ini akan cukup besar dan meriah.

D : Mengapa tidak mengundang pendengar ke Jerman, atau menyediakan hadiah yang menarik ?

BR : Ya, ini saya suka sekali, untuk satu minggu diundang ke Jerman, cukup mahal. Tetapi kalau ada sponsor Lutfansa, mungkin ada kesempatan.

D : Ya, sementara ini memang sponsor dilakukan oleh penerbangan setempat. Mengapa kerja sama dengan Lutfansa tidak dihidupkan kembali ?

BR : Karena DW begitu besar. Siaran lebih dari 30 bahasa. Undangan biasanya untuk siaran bahasa Jerman, tetapi untuk bahasa asing dikurangi. Tapi saya setuju, ini ide yang menarik. Persaingan dengan sayembara, hadiah utama undangan ke Jerman. Tapi, Anda misalnya, cukup siap untuk pergi ke Jerman ?

D : Saya kira cukup siap. Salah seorang redaksi Dirgantara pernah memenangkan sayembara dan diundang ke Jerman, meskipun tidak jadi berangkat.

BR : Saya ingat, dulu ada sayembara dengan hadiah utama diundang ke Jerman, Dewi Fortuna. Dan satu dari Jateng tidak berani, saya tidak ingin kasus ini.

D : Asalkan undangan ini diperuntukkan bagi pendengar yang benar-benar siap, saya pikir akan berangkat juga.

BR : Ya.

D : Tidak semua kepala seksi Indonesia ikut melakukan siaran, namun bagi Bung Rudi, yang mengasuh acara Obrolan Bung Rudi, dan sudah berjalan cukup lama. Apakah ini tidak menambah kesibukan di sela tugas sebagai kepala seksi ?

BR : Tidak, saya senang sekali, karena obrolan sebagai ruang untuk ekspresi semua. Saya kira ini sebagai suara pribadi. Begitu Bung Rudi, ini sedikit keluarga. Bersama Mariana Kwa, ini obrolan setiap minggu. Saya senang sekali, karena ada kesempatan untuk berdiskusi, berbicara apa saja. Saya kira sudah ada siaran 700 kali lebih. Ini sebagai tradisi obrolan sejenak bersama Bung Rudi.

D : Apakah tidak ada niatan untuk menerbitkan menjadi sebuah buku ?

BR : Belum ada, saya kira obrolan ini tentang aktualitas, sebagai cerpen, seperti cerita pendek, belum ada buku sebagai koleksi.

D : Maksud saya, apakah ada semacam niatan untuk menerbitkan ?

BR : Buku tentang Obrolan Bung Rudi ? Belum ada. Tapi itu ide yang baik.

D : Naskah yang pernah diudarakan tersebut disimpan secara rapi ?

BR : Ya, ada 700 lebih.

Wawancara diakhiri dengan foto bersama. Sekali lagi, redaksi Dirgantara mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Bung Rudi. Pengurus Indonesian DX Club, segenap anggota, beserta redaksi Dirgantara mengucapkan "Selamat Bertugas 25 Tahun di Suara Jerman". Sukses selalu menyertai Bung Rudi. Mereka yang memimpin Siaran Bahasa Indonesia, yang pertama, Dr. Gert Heufelder, diapit oleh mereka yang menggantikannya : Elisabeth Soeprapto-Hastrich, Rudiger Siebert.

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 2 Mar-Apr 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space