Sosok
Wawancara dengan Rudiger Siebert
Pengantar : Seorang kepala seksi ketika berkunjung ke
Indonesia senantiasa padat dengan jadwal, baik untuk urusan keluarga maupun
yang ada kaitannya dengan perjalanan jurnalistiknya. Setelah sebulan lebih
menunggu, redaksi memperoleh kesempatan untuk bersilaturahmi. Kali ini yang
ditampilkan adalah Bung Rudi. Wawancara dilakukan beberapa jam sebelum
meninggalkan Indonesia. (HSB/DBR)
Sejenak Bersama Bung Rudi
Dia hadir dari minggu ke minggu, Rudiger Siebert dengan
sapaan akrab Bung Rudi. Obrolannya santai, ringan, tapi toh berbobot, karena
memang sarat dengan informasi, juga segala masalah dengan sentuhan kemanusiaan.
Mulai dari soal merokok sampai pertumbuhan penduduk, soal telepon yang mulai
menjamah pedesaan Indonesia sehingga komunikasi melalui surat tergeser.
Mengingatkan kita pada almarhum Pak Besul dari RRI Nusantara II Yogyakarta.
Tidak terasa Januari 1998 ini genaplah 25 tahun ia meniti karirnya sebagai
wartawan radio.
Ia menulis tentang Indonesia, tanah airnya yang kedua.
Di tanah ini pulalah ia sempat dilarang menginjaknya, karena tulisannya
tentang Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia pernah dijelajahinya.
Dari Aceh sampai Maluku, meneliti proyek-proyek kerja sama Jerman Indonesia,
berkunjung ke stasiun-stasiun radio. Hasilnya tentu saja sejumlah besar
tulisan, siaran radio, artikel, buku, dan ceramah.
Suatu sumbangan yang sangat besar bagi pembentukan hubungan
baik dan pengertian antara masyarakat Jerman dan Indonesia. "Suatu tugas
yang selalu menawarkan tantangan," begitu tanggapnya pada sebuah pesta
antara kerabat kerja. Suatu alasan pula untuk melanjutkan pekerjaan ini.
Juga suatu ajakan kepada para pendengar siaran DW untuk meneruskan dialog.
Marilah kita tanggapi !!
Dirgantara (D) : Bung Rudi, ketika pertama kali mengudara,
SJDW didirikan tentunya lain tujuannya dengan saat ini. Apakah masih ada
relevansinya dengan saat ini, mengingat berbagai negara kini telah berubah
cara pandangnya ?
Bung Rudi (BR) : Dari mulai siaran bahasa Indonesia sampai
sekarang, saya kira tujuannya sama. Indonesia sebagai negara yang paling
penting di dunia, mesti juga dalam bahasa Indonesia. Sesudah 35 tahun,
tujuannya sama, karena Indonesia berpenduduk lebih 200 juta, meskipun
mengalami krisis, saya kira masa depan dapat mengatasinya. Oleh karena itu,
hubungan untuk dialog antara Eropa, termasuk Jerman, dan Indonesia. Saya
kira jembatan radio penting sekali.
D : Beberapa stasiun radio termasuk Suara Jerman kini
menyatukan pengelolaannya dalam satu atap bersama televisi. Dalam manajemen
satu atap ini, apakah dirasakan gerak langkah Suara Jerman menjadi berkurang ?
BR : Di Jerman ada beberapa stasiun radio dan televisi,
dalam negara, Deutsche Welle satu-satunya stasiun untuk luar negeri, radio
dan televisi. TV melalui satelit, misalnya ke Indonesia dengan Asia Sat ke-2.
Ini di bawah satu atap, Deutsche Welle. Manajemen satu Direktur Jendral,
Dieter Weirich, yang bertanggung jawab. Kantor radio di Koln, saya dari
kota Koln, dan redaksi televisi di Berlin. Tapi ada kerja sama antara Koln
dan Berlin, meskipun redaksi berbeda. Dari tradisi, redaksi radio bekerja
agak sendiri, radio untuk radio, televisi untuk televisi.
Kami kadang-kadang minta agar kerjasama lebih akrab, tapi
sulit sekali, radio dan televisi berbeda. Mungkin di masa depan ada kerja
sama lebih akrab, di bidang adaptasi bahasa. Sampai sekarang, televisi
Deutsche Welle ke seluruh dunia dalam tiga bahasa saja, Inggris, Jerman,
dan Spanyol. Tapi saya harap mesti memperbesar bahasa-bahasa, misalnya
bahasa Indonesia.
Televisi ke Indonesia dalam tiga bahasa saja tidak cukup,
tidak bersaing. Oleh karena itu, di masa depan bisa mengambil dari bidang
radio, karena di redaksi, saya ada orang Indonesia yang mempunyai relasi
atau hubungan dengan Indonesia. Untuk menerjemahkan, untuk adaptasi di
bidang televisi. Acara untuk masa depan, tapi sekarang belum.
D : Seperti halnya TV Australia yang menyiarkan dalam
bahasa Indonesia ?
BR : Sama, saya kira ini sebagai contoh, dan bisa. BBC,
Saya tahu dia mempunyai siaran dalam bahasa Hindi, tapi ini lebih baik,
karena penonton di India atau di Indonesia merasa ini siaran untuk kami.
Karena saat ini siaran televisi Deutsche Welle tidak ada satu siaran khas
untuk satu region atau daerah. Ini internasional atau global, tapi mungkin
kurang menarik untuk orang Indonesia kini. Tapi, kami di Deutsche Welle
tahu tentang masalah ini, ada kaitannya dengan masalah keuangan/budget.
D : Dengan runtuhnya Tembok Berlin membawa dampak,
termasuk dalam bidang media, yakni meleburnya Radio Berlin ke dalam Suara
Jerman. Selain memanfaatkan stasiun relai yang pernah dimiliki Radio Berlin.
Apakah juga menampung para penyiar Radio Berlin ?
BR : Ya seperti sesuatu yang lain dari Jerman Timur.
Pabrik atau semua, termasuk Radio Berlin Internasional kurang lebih
dibongkar. Tidak betul ada kerja sama. Dulu, penyiar Radio Berlin saya kira
beberapa ratus. Hanya 25 rata-rata anggota staf dari Radio Berlin yang bisa
masuk DW, mungkin 10% saja. Ini mirip situasi Jerman sesudah reunifasi,
karena apa yang dulu di Jerman Timur itu masuk ke Jerman Barat.
Ini sedikit sedih juga, oleh karena itu, juga stasiun
relai tidak digunakan lagi dari RBI. Tentang pendengar, saya kurang tahu,
karena dari RBI tidak ada siaran bahasa Indonesia. Dulu ada, tapi sewaktu
reunifikasi, sewaktu Jerman Timur habis, tidak ada lagi dalam bahasa Indonesia.
Mungkin dalam bahasa Hindi, ada pendengar RBI kini mendengarkan DW juga.
D : Kebetulan, saya juga menjadi pendengar Radio Berlin
Internasional, bahkan dulu ada semacam klub DX di sana. Juga menerbitkan
semacam buletin berkala, mirip Hallo Friends ?
BR : Tapi semua hilang, sayang sekali, tapi hanya beberapa
orang yang pindah ke DW. Dan merupakan tradisi hubungan dengan RBI hilang,
tidak ada lagi. Hallo Friends sudah habis dari DW, dan tidak ada lagi majalah
baru seperti dulu. Ada majalah untuk televisi, berwarna, dan luks, tapi untuk
siaran-siaran, sebagai gantinya folder. Kami sendiri sedih, karena masalah
uang juga. Meskipun kas tidak begitu kosong, namun tidak sekaya dulu.
D : Suara Jerman lebih memanfaatkan kemajuan teknologi,
antara lain dengan mempergunakan satelit. Namun demikian, tidak semua
pendengar bisa memanfaatkan, mengingat pesawat yang dipergunakannya sangat
sederhana. Lantas ditujukan kepada siapa sebenarnya siaran tersebut ?
BR : Ya, ini tergantung digitalisasi (teknologi paling
modern) melalui Asia Sat ke-2. Tidak bisa ditangkap dengan parabola biasa,
mesti ada decoder dan antena khusus. Sebagai anggota redaksi, sebagai
wartawan yang minta siaran didengarkan, saya kurang senang, karena di
Indonesia, hanya beberapa orang kaya yang dapat membayar. Dan juga stasiun
RRI dan swasta. Ada rencana, tahun ini, untuk kurang lebih 100 stasiun
sebagai leasing dari DW untuk membawa decoder dan antena.
Kurang lebih 100 radio swasta atau RRI akan bisa menangkap
siaran dari televisi dan radio, kualitas baik sekali, kualitas FM. Ini untuk
re-broadcasting, ini salah satu kelebihan teknologi. Saya kira di masa depan
alat-alat lebih murah, seperti halnya cassette recorder, transistor. Dulu
juga mahal, sekarang agak murah.
D : Sebagai kepala seksi, tentunya Bung Rudi memberi
keleluasaan kepada penyiar untuk memproduksi acara yang diasuhnya, semisal
Indonesia Plus Minus, atau acara yang lain. Sejauh mana sensor diperlakukan
oleh kepala seksi ?
BR : Tidak ada sensor. DW uangnya dari pemerintah, melalui
pemerintah dari pajak, dari semua orang di Jerman. Tapi tidak suara pemerintah.
Saya kira menarik untuk mengetahui DW ini lain dengan RRI dan juga Suara
Amerika. VOA salah satu bagian dari Kementerian Penerangan, tapi DW ini
status yang lain. Uang dari orang Jerman melalui pemerintah. Tetapi kontrol
atau supervising independen, seperti juga sama dengan stasiun dalam negeri,
tidak ada sensor. Kami sebagai wartawan atau jurnalis bekerja independen.
Memang ada siaran yang kritis terhadap Indonesia, tetapi
mesti fair atau obyektif, mesti imbang. Ini mungkin kadang-kadang susah,
kami sebagai manusia, ada kesalahan juga. Kadang bisa miss informasi yang
tidak correct, tapi ini kekecualian, karena kami minta dan mau melakukan
secara obyektif, fakta-fakta yang benar, correct. Tetapi ada juga informasi
dan kadang opini, misalnya dari pers Jerman ada kritik terhadap Indonesia.
Masalah Timor Timur, ini masalah sensitif, ini yang berkritis, ada opini
yang berbeda, yang lain.
Saya kira DW sebagai terbuka untuk apa-apa yang lain sebagai
over kepada pendengar Indonesia. Silakan mendengarkan, tapi akhirnya punya
opini sendiri, tapi punya sumber informasi dan opini juga. Tetapi ini tidak
dipaksakan untuk opini Anda, silakan cari dari sumber informasi, untuk
mempunyai opini sendiri. Saya kira ini konsep demokrasi, mungkin sedikit
sebagai hal yang ideal. Tapi tanpa ideal, tanpa impian, saya kira tak ada
kesempatan, dan satu lagi, tak ada sensor. Kami sendiri harus sensor apa
yang benar dan tidak benar, ini tanggung jawab wartawan.
D : Dalam hal memberikan informasi, baik pergantian jam
siaran, frekuensi, dan sebagainya, Suara Jerman paling cepat dibandingkan
dengan stasiun radio lain. Baik untuk para pendengar maupun para monitor
teknik, ini tentunya dilatarbelakangi oleh sebuah pandangan, bahwa keberadaan
pendengar sangat diperlukan. Apakah harapan Bung Rudi terhadap pendengar di
Indonesia ?
BR : Saya kira melalui gelombang pendek sebagai "jembatan",
saya minta dialog dengan pendengar di Indonesia, misalnya Kotak Surat,
Pilihan Anda, atau Opini Anda. Saya kira ini menarik sekali, karena kesempatan
untuk berekspresi, ini saya kira penting sekali. Saya di Koln, wartawan yang
jauh dari Indonesia, saya senang sekali kalau ada surat, e-mail, faks dari
Indonesia. Karena saya kira ini cukup sulit untuk menyiarkan yang jauh dari
DW, 10.000 km lebih. Karena ini perlu dialog, penting sekali.
Tapi siapa tahu DW di sini. Tentang iklan, kami coba dengan
iklan di beberapa koran, tapi respon kurang. Yang lain, dengan empat radio
swasta tahun yang lalu, tahun ini ada rencana dengan radio swasta yang lain,
juga untuk promosi DW. Dan ada juga yang menarik, "kami minta surat". Tapi
pendengar di Jakarta tidak mau menulis surat, melainkan menulis secara modern.
Tetapi masih penting bagi kami surat untuk statistik. Ya,
karena kami kurang surat dalam hal ini. Ini penting sekali. Tapi kami sudah
tahu, ini ada perubahan komunikasi di Indonesia. Di mana-mana ada telepon
umum, dan generasi muda biasanya pendengar gelombang pendek, tidak menulis
seperti dulu, keadaan seperti zaman sekarang.
D : Jadi lebih senang kalau pendengar menulis dari pada
menelepon, begitu ?
BR : Ya, tapi menelepon ke Jerman biayanya cukup mahal,
tapi e-mail sudah komunikasi yang baru dan tidak begitu mahal. Tapi radio
swasta di Jakarta tentang sayembara dengan DW tidak ada surat. Orang di sini,
di Jakarta, menelepon mau jawab, ya, untuk statistik, hanya beberapa orang
yang menelepon.
D : Mungkin karena belum tahu hadiahnya ? Apa sebenarnya
hadiahnya ?
BR : Mungkin hadiahnya sederhana, hadiah pesawat radio
mungkin masih menarik. Modem yang kecil, mungkin agak menarik juga untuk
masa depan.
D : Selain sebagai redaksi Dirgantara, kadang-kadang
kami juga menjadi stringer. Pembaca Dirgantara ingin mengetahui, kiat apa
yang Bung Rudi punyai hingga betah di dunia keradioan, sementara Bung Rudi
sering melakukan perjalanan jurnalistik ? Apakah perjalanan jurnalistik ini
berkaitan dengan tugas Suara Jerman, maupun akan menerbitkan sebuah buku
tentang Indonesia ?
BR : Ya, ini tentunya penting bagi wartawan yang berprofesi
jurnalis. Oleh karena itu, stringer tentu pengalaman sebagai wartawan. Saya
tahu Radio Nederland banyak mempunyai stringer, tidak hanya di Jakarta,
melainkan juga di kota-kota lain. DW biasanya punya stringer, orang yang dulu
pernah bekerja di DW, misalnya Radio Mara di Bandung. Saya tahu jumlahnya
tidak terlalu banyak seperti RN. Di masa depan, untuk mengatasi problem
informasi lebih cepat, kami cari stringer lebih banyak dari Indonesia. Tapi
kalau Anda tahu siapa bisa, cukup profesi, silakan beri nama.
D : Bung Rudi pernah mengatakan kesulitan memasuki
Indonesia. Ini disebabkan oleh beberapa buku yang pernah Bung Rudi tulis
tentang Indonesia. Setelah kesulitan tersebut dicabut, bagaimana perasaan
Bung Rudi ?
BR : Selama lima tahun tidak boleh masuk ke Indonesia, ya
sedih, tapi ini resiko wartawan, dan mungkin di masa depan, Indonesia lebih
terbuka. Silakan, itu opini Anda, tapi opini di sini lain. Ada dua opini,
bukan hanya satu yang betul. Keterbukaan sudah lama di Indonesia, saya kira
belum direalisasi.
Sekarang di Indonesia, banyak krisis moneter, banyak saya
baca di koran. Ada suara dari mahasiswa, dari parpol, dari golongan. Mereka
minta lebih terbuka, diskusi, forum, dialog, karena untuk menghadapi problem
di Indonesia perlu dialog nasional. Tapi juga opini dari luar negeri, dan
yang kritis tidak enemy, tak mengancam. Beberapa orang Indonesia perlu belajar.
D : Banyak sekali klub pendengar radio di Indonesia
bermunculan. Bagaimanakah pendapat Bung Rudi mengenai hal ini ? Apakah yang
dikehendaki dari klub pendengar tersebut ?
BR : Klub pendengar bagi radio, tidak hanya DW, penting.
Mungkin dulu gelombang pendek masih menarik, bersaing dengan TV dan media
lain, Internet, video, di kota besar. Tapi gelombang pendek masih media yang
menarik sekali, cepat, langsung, dalam bahasa nasional, dan radio kecil,
dengan ongkos sederhana. Saya harap di masa depan masih menarik. Oleh karena
itu, apabila ada klub pendengar yang menggunakan media ini, kalau bisa kami
mau membantu dengan naskah, majalah.
D : Beberapa tahun yang lalu, sebuah klub pendengar yang
kini non-aktif memperoleh bantuan dari Suara Jerman berupa sebuah radio
Grundig tipe mutakhir. Apakah tahun ini hadiah tersebut juga akan diberikan
kepada klub pendengar ?
BR : Ada kesulitan keuangan di Jerman, kami mesti menghemat
uang. Dulu kas lebih penuh, ini di seluruh dunia, persoalan yang sama. Ini
tahun ke-35 siaran bahasa Indonesia dari DW. Kami akan memperbaiki hadiah
sayembara, terutama sayembara istimewa, dan mungkin alat radio Grundig lebih
besar. Saya harap ini akan bisa.
D : Untuk hadiah sayembara atau klub pendengar ?
BR : Saya belum pasti, tapi saya akan berdiskusi dengan
departemen dan pendengar, dan saya harap ada budget khusus, dan sabar,
tunggu dulu.
D : Suara Jerman melakukan kerja sama dengan RRI dalam
pertukaran penyiar. Tahun ini, beberapa radio swasta juga. Apakah manfaatnya
bagi Suara Jerman ?
BR : Kerja sama akan terjalin terus, misalnya dengan RRI,
rencana ada ko-produksi yang baru, tentang makanan masa depan di Indonesia
(food security). Ini akan terjadi di Purwokerto dengan stasiun RRI Purwokerto,
karena dengan makan nasi lebih baik di daerah daripada di Jakarta. Dan yang
lain, Kepala Stasiun RRI Purwokerto, Maryono, kami kenal sudah lebih dulu,
karena pernah kerja di DW. Saya harap Februari atau Maret kembali ke Indonesia
untuk realisasi ko-produksi.
D : Apakah dalam ko-produksi tersebut juga melibatkan
pendengar ? Artinya, apakah pendapat pendapat pendengar juga diminta, begitu ?
BR : Ini ide yang baru, tapi baik sekali. Di Purwokerto,
kami cari pendengar untuk membantu ide dengan opini. Saya kira ini ide yang menarik.
D : Begini Bung Rudi, dalam setiap kesempatan, Radio
Nederland banyak melibatkan pendengar. Misalnya, tahun ini mengangkat masalah
kemiskinan. Bagaimana cara mengatasinya, setelah 50 tahun merdeka, ini juga
melibatkan pendengar. Terutama pendengar di daerah terpencil, yang pernah
dikunjungi penyiar. Saya pikir ini ide bagus, dan bisa dilakukan Suara Jerman.
BR : Saya perlu, tapi ini perlu organisasi di sini, karena
mempersiapkan pertemuan di ruangan besar. Tetapi saya akan berdiskusi dengan
teman-teman di sana tentang contoh Radio Hilversum.
D : Kalau perlu, juga bisa mengadakan pemberitahuan
terhadap klub-klub pendengar, di mana anggota-anggotanya bisa berpartisipasi
di sana !
BR : Betul, ya, perlu partisipasi, karena ini duta besar
radio gelombang pendek, kedutaan besar di sini.
D : Dalam hal rekrutmen penyiar selama ini, seakan-akan
mengesampingkan pendengar, karena belum ada penyiar yang berasal dari
pendengar, mengapa demikian ?
BR : Dari pendengar ? Pendengar biasanya tidak profesi. Dari
Indonesia, saya kira hanya beberapa orang saja yang bisa diminta, atau mungkin ?
D : Apakah ini disebabkan karena latar belakang
pendidikan, atau ada persyaratan khusus untuk menjadi penyiar ?
BR : Kualitas, pengalaman profesi, atau pernah bekerja di
koran, atau radio swasta, atau RRI. Hanya kualitas profesi, tidak dengan
piknik atau dari mana.
D : Bung Rudi, selama ini ada satu penyiar yang membantu
koran di Jakarta. Karena kekeliruan berita yang dimuatnya, penyiar tersebut
diputus hubungan kerjanya. Apakah ini juga mempengaruhi Suara Jerman ?
BR : Tidak, karena dia sebagai koresponden, tidak bertugas
dengan DW. Dan sebagai koresponden, dia bekerja sendiri untuk koran di
Indonesia, tidak bersaingan atau hubungan dengan DW. Ia sebagai koresponden
bekerja sendiri, oleh karena itu, tidak ada masalah bagi Deutsche Welle.
D : Apakah diperbolehkan oleh SJDW, aturan membantu
surat kabar atau majalah di Indonesia ?
BR : Bisa, kalau seorang berasal dari Indonesia atau negara
lain minta izin dari Dirjen DW, saya mau bekerja sebagai koresponden majalah
di Indonesia. Kalau ada lampu hijau dari atas, boleh juga, tapi tanggung
jawab sendiri si koresponden, bukan DW. Karena siaran DW, saya dan bos saya
tanggung jawab.
D : Saat ini Suara Jerman memiliki semacam Multi Media
Training Centre, di mana beberapa penyiar televisi maupun radio dari negara
Asia maupun Afrika menimba ilmu di sana. Apakah latar belakang pendiriannya ?
BR : Dengan Departemen Pendidikan DW, 30 tahun lebih, saya
kira sukses besar, dan saya tidak tahu tepatnya, sudah berapa orang diundang
ke Koln. Ratusan, mungkin ribuan, dari Indonesia banyak, dari RRI maupun
radio swasta. Tapi yang mungkin cukup baru ada seminar di dalam negeri Indonesia.
Bulan November, ada seminar bersama DW dan RRI, "Manajemen
Training Kepala Stasiun", misalnya Yon Maryono hadir di Jakarta ini. Bekerja
sama dengan Departemen Pelatihan dari Koln. Tapi tidak diundang ke Koln,
saya kira ini co-project yang cukup menarik, dan kurang mahal. Saya kira
cukup murah dan cukup sukses.
D : Berapa lama belajar di sana ?
BR : Dulu ada kursus setahun, tiga tahun, tapi sekarang
tidak begitu lama, tergantung juga uang. Ada seminar selama tiga bulan, ada
pula seminar seperti di Indonesia. Saya kurang tahu, apa acara di masa depan,
karena ini departemen di DW. Kalau ada orang dari Indonesia, kami bertemu
dan kami undang ke redaksi. Tapi ini diklat independen juga di DW.
D : Di tengah-tengah maraknya persaingan stasiun radio
memasuki tahun 2000, apakah Suara Jerman juga telah mempersiapkannya ?
BR : Ya, mempersiapkan dalam DW untuk pindah ke Bonn, ini
suatu rencana, karena gedung DW ada asbes, ada kesulitan kesehatan. Ada rencana
pindah ke Bonn, ini untuk milenium, tentang rancangan siaran, belum ada.
D : Usia 35 tahun sebuah seksi dari suatu stasiun radio
merupakan hal yang sangat langka. Tahun ini seksi Indonesia memasuki lustrum
yang ke tujuh, apakah rencana yang akan dilakukan seksi Indonesia ?
BR : Belum ada rencana yang pasti. Penerbitan buku pernah
dilakukan pada ultah ke-25 dan 30, dan saya berharap tahun ini juga ada
sayembara istimewa. Juga pesta di Jerman, mungkin bersama Kedubes di sana,
Malam Indonesia. Mungkin ada rombongan kesenian dari Indonesia. Ini akan
cukup besar dan meriah.
D : Mengapa tidak mengundang pendengar ke Jerman, atau
menyediakan hadiah yang menarik ?
BR : Ya, ini saya suka sekali, untuk satu minggu diundang
ke Jerman, cukup mahal. Tetapi kalau ada sponsor Lutfansa, mungkin ada
kesempatan.
D : Ya, sementara ini memang sponsor dilakukan oleh
penerbangan setempat. Mengapa kerja sama dengan Lutfansa tidak dihidupkan
kembali ?
BR : Karena DW begitu besar. Siaran lebih dari 30 bahasa.
Undangan biasanya untuk siaran bahasa Jerman, tetapi untuk bahasa asing
dikurangi. Tapi saya setuju, ini ide yang menarik. Persaingan dengan
sayembara, hadiah utama undangan ke Jerman. Tapi, Anda misalnya, cukup siap
untuk pergi ke Jerman ?
D : Saya kira cukup siap. Salah seorang redaksi Dirgantara
pernah memenangkan sayembara dan diundang ke Jerman, meskipun tidak jadi
berangkat.
BR : Saya ingat, dulu ada sayembara dengan hadiah utama
diundang ke Jerman, Dewi Fortuna. Dan satu dari Jateng tidak berani, saya
tidak ingin kasus ini.
D : Asalkan undangan ini diperuntukkan bagi pendengar
yang benar-benar siap, saya pikir akan berangkat juga.
BR : Ya.
D : Tidak semua kepala seksi Indonesia ikut melakukan
siaran, namun bagi Bung Rudi, yang mengasuh acara Obrolan Bung Rudi, dan
sudah berjalan cukup lama. Apakah ini tidak menambah kesibukan di sela tugas
sebagai kepala seksi ?
BR : Tidak, saya senang sekali, karena obrolan sebagai
ruang untuk ekspresi semua. Saya kira ini sebagai suara pribadi. Begitu Bung
Rudi, ini sedikit keluarga. Bersama Mariana Kwa, ini obrolan setiap minggu.
Saya senang sekali, karena ada kesempatan untuk berdiskusi, berbicara apa
saja. Saya kira sudah ada siaran 700 kali lebih. Ini sebagai tradisi obrolan
sejenak bersama Bung Rudi.
D : Apakah tidak ada niatan untuk menerbitkan menjadi
sebuah buku ?
BR : Belum ada, saya kira obrolan ini tentang aktualitas,
sebagai cerpen, seperti cerita pendek, belum ada buku sebagai koleksi.
D : Maksud saya, apakah ada semacam niatan untuk
menerbitkan ?
BR : Buku tentang Obrolan Bung Rudi ? Belum ada. Tapi itu
ide yang baik.
D : Naskah yang pernah diudarakan tersebut disimpan
secara rapi ?
BR : Ya, ada 700 lebih.
Wawancara diakhiri dengan foto bersama. Sekali lagi,
redaksi Dirgantara mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan
oleh Bung Rudi. Pengurus Indonesian DX Club, segenap anggota, beserta
redaksi Dirgantara mengucapkan "Selamat Bertugas 25 Tahun di Suara Jerman".
Sukses selalu menyertai Bung Rudi. Mereka yang memimpin Siaran Bahasa
Indonesia, yang pertama, Dr. Gert Heufelder, diapit oleh mereka yang
menggantikannya : Elisabeth Soeprapto-Hastrich, Rudiger Siebert.