Profil Stasiun
Asal Mula Siaran Radio Swasta di Jakarta
Melalui acara DX Komunikasi asuhan Mas Asbari Nurpatria
Krisna, kita pendengar Radio Nederland telah banyak mengenal stasiun radio
swasta di Indonesia. Saya sendiri yang menetap di Jakarta, bahkan mengenal
stasiun radio swasta di Jakarta melalui acara DX Komunikasi. Sampai sampai,
Radio Draba yang berlokasi di seberang rumah, saya ketahui lebih banyak juga
melalui acara DX Komunikasi.
Khusus mengenai Radio Draba, saya hanya mengetahui bahwa
radio itu "lahir" di Jalan Matraman, di mana para penyiar awalnya adalah
tetangga saya, yang merupakan teman bermain sehari-hari. Sebelum menetap di
Jalan Matraman nomor 39, Radio Draba sempat beberapa kali pindah alamat.
Kembali ke tahun 1965, siaran radio yang ada pada waktu itu hanyalah Radio
Republik Indonesia (RRI). Jam siarannya pun terbatas hanya sampai jam 08.00
UTC, dan baru kembali mengudara pada jam 10.00 UTC.
Sedangkan siaran radio non-RRI adalah Radio Angkatan Udara,
sekarang bernama Radio Angkatan Bersenjata, di Jakarta, dan Radio ITB di
Bandung. Menyusul aksi makar G30S/PKI, pada tanggal 30 September 1965,
mahasiswa turun ke jalan, di bawah bendera Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia
(KAMI) menuntut pembubaran PKI, pengendalian harga, dan perombakan kabinet.
Di tengah-tengah aksi mahasiswa itu, muncullah stasiun radio non-RRI dengan
nama Radio Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sinyal radio ini cukup kuat dan agak menonjol, karena
siarannya mengudara pada jam-jam tidak ada siaran RRI. Ciri khas radio ini
adalah pemutaran lagu-lagu mars Indonesia dalam irama angklung, diselingi
dengan pembacaan berita dari surat kabar. Karena siaran radio ini berlangsung
hanya setengah jam, dan dilakukan berulang-ulang pada saat yang tidak
menentu, maka untuk bisa mengikutinya, saya harus memonitornya setiap satu jam.
Selama siaran, mereka tidak pernah memperkenalkan
identitasnya, sehingga sampai sekarang pun saya belum tahu siapa penyelenggara
Radio Ampera. Saya hanya bisa menduga bahwa siaran ini diselenggarakan oleh
para mahasiswa ITB yang "turun" ke Jakarta, karena mereka sudah berpengalaman
dengan Radio ITB-nya. Adanya Radio Ampera, yang merupakan siaran radio
non-RRI yang pertama, menimbulkan minat para mahasiswa lainnya, terutama
dari Fakultas Teknik, untuk membuat stasiun radio.
Muncullah kemudian siaran radio dari mahasiswa Fakultas
Teknik Universitas Indonesia, yang berlokasi di Jalan Salemba nomor 4,
Jakarta. Mungkin karena lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal
saya, maka siaran radio itulah yang pertama saya temukan, dan sempat saya
ikuti sejak awal siaran. Lengkapnya, radio ini bernama Radio Eksperimental
Fakultas Teknik Universitas Indonesia (REFTUI), atau ada juga yang
menyebutnya Radex FT-UI.
Satu hal yang menonjol dari REFTUI adalah bahwa mereka
memiliki call sign internasional dari ITU, yaitu 8EH20. Sejak itulah, radio
itu bernama Radio 8EH20 FT-UI. Dari salah seorang penyiarnya, saya memperoleh
penjelasan bahwa kode 8EH itu adalah kode untuk wilayah Indonesia, dan angka
20 adalah nomor urut. Sebelum Radio 8EH20 FT-UI, siaran radio yang sudah
memiliki call sign 8EH adalah Radio Angkatan Udara dan Radio ITB.
Radio 8EH20 FT-UI selalu meliput semua kegiatan KAMI,
termasuk peristiwa tertembaknya Arief Rahman Hakim, sampai dibawanya ke
rumah sakit, dan pemakamannya. Dengan suksesnya Radio 8EH20 FT-UI ini, di
kompleks Universitas Indonesia kemudian muncul lagi dua stasiun radio
non-RRI, masing-masing dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran.
Sangat disayangkan, bahwa setelah siaran radio non-RRI
semakin menjamur dan tidak terbatas pada para mahasiswa saja, Radio 8EH20
FT-UI justru harus menghentikan siarannya. Demikian juga dengan siaran
dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran. Ada satu hal yang masih
tersisa sehubungan dengan Radio 8EH20 FT-UI, yaitu bahwa saya mengenal
salah seorang mantan personilnya. Dia adalah Linda Roemsari, yang
sekarang bertugas di Radio Jepang Seksi Indonesia. (DX Komunikasi,
Ranesi tanggal 14 Januari 1998 / Eddy Setiawan)