Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 2 Mar-Apr 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sosok
Amateur Radio
Bengkel DXer
Uji Coba Radio
Tinjauan Buku
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  Profil Stasiun
Asal Mula Siaran Radio Swasta di Jakarta

Melalui acara DX Komunikasi asuhan Mas Asbari Nurpatria Krisna, kita pendengar Radio Nederland telah banyak mengenal stasiun radio swasta di Indonesia. Saya sendiri yang menetap di Jakarta, bahkan mengenal stasiun radio swasta di Jakarta melalui acara DX Komunikasi. Sampai sampai, Radio Draba yang berlokasi di seberang rumah, saya ketahui lebih banyak juga melalui acara DX Komunikasi.

Khusus mengenai Radio Draba, saya hanya mengetahui bahwa radio itu "lahir" di Jalan Matraman, di mana para penyiar awalnya adalah tetangga saya, yang merupakan teman bermain sehari-hari. Sebelum menetap di Jalan Matraman nomor 39, Radio Draba sempat beberapa kali pindah alamat. Kembali ke tahun 1965, siaran radio yang ada pada waktu itu hanyalah Radio Republik Indonesia (RRI). Jam siarannya pun terbatas hanya sampai jam 08.00 UTC, dan baru kembali mengudara pada jam 10.00 UTC.

Sedangkan siaran radio non-RRI adalah Radio Angkatan Udara, sekarang bernama Radio Angkatan Bersenjata, di Jakarta, dan Radio ITB di Bandung. Menyusul aksi makar G30S/PKI, pada tanggal 30 September 1965, mahasiswa turun ke jalan, di bawah bendera Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menuntut pembubaran PKI, pengendalian harga, dan perombakan kabinet. Di tengah-tengah aksi mahasiswa itu, muncullah stasiun radio non-RRI dengan nama Radio Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Sinyal radio ini cukup kuat dan agak menonjol, karena siarannya mengudara pada jam-jam tidak ada siaran RRI. Ciri khas radio ini adalah pemutaran lagu-lagu mars Indonesia dalam irama angklung, diselingi dengan pembacaan berita dari surat kabar. Karena siaran radio ini berlangsung hanya setengah jam, dan dilakukan berulang-ulang pada saat yang tidak menentu, maka untuk bisa mengikutinya, saya harus memonitornya setiap satu jam.

Selama siaran, mereka tidak pernah memperkenalkan identitasnya, sehingga sampai sekarang pun saya belum tahu siapa penyelenggara Radio Ampera. Saya hanya bisa menduga bahwa siaran ini diselenggarakan oleh para mahasiswa ITB yang "turun" ke Jakarta, karena mereka sudah berpengalaman dengan Radio ITB-nya. Adanya Radio Ampera, yang merupakan siaran radio non-RRI yang pertama, menimbulkan minat para mahasiswa lainnya, terutama dari Fakultas Teknik, untuk membuat stasiun radio.

Muncullah kemudian siaran radio dari mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yang berlokasi di Jalan Salemba nomor 4, Jakarta. Mungkin karena lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, maka siaran radio itulah yang pertama saya temukan, dan sempat saya ikuti sejak awal siaran. Lengkapnya, radio ini bernama Radio Eksperimental Fakultas Teknik Universitas Indonesia (REFTUI), atau ada juga yang menyebutnya Radex FT-UI.

Satu hal yang menonjol dari REFTUI adalah bahwa mereka memiliki call sign internasional dari ITU, yaitu 8EH20. Sejak itulah, radio itu bernama Radio 8EH20 FT-UI. Dari salah seorang penyiarnya, saya memperoleh penjelasan bahwa kode 8EH itu adalah kode untuk wilayah Indonesia, dan angka 20 adalah nomor urut. Sebelum Radio 8EH20 FT-UI, siaran radio yang sudah memiliki call sign 8EH adalah Radio Angkatan Udara dan Radio ITB.

Radio 8EH20 FT-UI selalu meliput semua kegiatan KAMI, termasuk peristiwa tertembaknya Arief Rahman Hakim, sampai dibawanya ke rumah sakit, dan pemakamannya. Dengan suksesnya Radio 8EH20 FT-UI ini, di kompleks Universitas Indonesia kemudian muncul lagi dua stasiun radio non-RRI, masing-masing dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran.

Sangat disayangkan, bahwa setelah siaran radio non-RRI semakin menjamur dan tidak terbatas pada para mahasiswa saja, Radio 8EH20 FT-UI justru harus menghentikan siarannya. Demikian juga dengan siaran dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran. Ada satu hal yang masih tersisa sehubungan dengan Radio 8EH20 FT-UI, yaitu bahwa saya mengenal salah seorang mantan personilnya. Dia adalah Linda Roemsari, yang sekarang bertugas di Radio Jepang Seksi Indonesia. (DX Komunikasi, Ranesi tanggal 14 Januari 1998 / Eddy Setiawan)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 2 Mar-Apr 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space