Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 1 Jan-Feb 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Amateur Radio
DX Mania
Bengkel DXer
Komunikasi
Uji Coba Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  Teknologi Komunikasi
Urgensi Radio Satelit

Menarik untuk dikaji "kesiapan" dunia penyiaran, khususnya radio saat melangkahi zamannya satelit atau era Direct Broadcasting Satellite (DBS). Sederhananya, dengan menggunakan DBS, stasiun radio bakal mampu melakukan sistem teknologi penyiaran paling mutakhir, yaitu memancarkan siaran dari "pusat" melalui satelit (up link), untuk kemudian didistribusikan ke stasiun-stasiun penerima di daerah. Katakanlah, DBS ini sanggup mentransformasikan siaran radio ke seluruh penjuru nusantara, sekaligus menjangkau luas ruang publik pendengar sebanyak banyaknya.

Inilah yang menjadi kekuatan siaran radio dengan teknologi DBS. Dengan begitu, kekuatan daya jangkau penyiaran ini juga mungkin merupakan kekuatan media periklanan. Ada adagium yang mesti diingat, bahwa radio sebagai media pemasaran adalah menjual ruang publik atau pendengar kepada para pengiklan. Semakin luas cakupan pendengar yang dituju, berarti semakin potensial radio memegang peranan penting sebagai media periklanan.

Meskipun luasnya cakupan pendengar itu sendiri belum tentu sesuai dengan segmen pendengar (calon konsumen) yang ditargetkan pihak pengiklan. Teknologi siaran menggunakan DBS diakui berdampak pada berubahnya misi siaran radio, dari media lokal ke nasional, bahkan regional. Seperti ditegaskan Pimpinan Radio Prambors, H. Malik Sjafei Saleh, hingga kini masih terlalu repot membangun teknologi DBS bagi stasiun radio siaran. Salah satu alasannya, karena sejak awal radio sudah digariskan sebagai media penyiaran lokal.

Dicontohkan, program siaran unggulan "Ida dan Krisna Show" di salah satu radio swasta FM di ibukota, apabila diperdengarkan juga di lembah Baliem, Irian Jaya, atau di Ujungpandang, tentunya tidak akan cepat menyambung komunikasinya. Atau, dengan kata lain, sulit tercipta terminologi percakapan lisan yang akrab (Cakram, September 1997). Memang, apa yang menjadi alasan di atas benar adanya.

Radio sebagai media audio, yang disebut juga the theatre of mind, apapun yang diucapkan dalam siaran-siaran kata-nya (talk show, berita, dan informasi), haruslah dalam kerangka bahasa tutur, gaya pengucapan formal sehari-hari. Sehingga, terminologi percakapan lisan yang dimaksud bertujuan mendukung prinsip radio yang bersifat personal. Radio itu bisa menjadi teman, sahabat, atau siapapun secara personal.

Tapi, apakah pantas meragukan era satelit dengan segala dampak perkembangan teknologi komunikasinya, dihadapkan pada terminologi percakapan ? Rasanya kurang bijak apabila orang yang berpengalaman di bidang radio seperti pimpinan Radio Prambors itu mempunyai pandangan demikian. Sebab, di dunia ini, tak ada lagi yang mampu menghadang lajunya perkembangan, baik penyiaran maupun penerimaan informasi, dalam bentuk apapun.

Apalagi, kalau dikembalikan pada tata aturan hak publik di mana masyarakat memiliki hak untuk tahu (right to know), dan hak untuk memperoleh informasi (right to get information). Hadirnya era DBS di dunia radio, tentu saja akan mampu mengejawantahkan hak-hak publik itu. Sehingga tak pantas kiranya bila idealisme tersebut diragukan hanya dengan argumentasi keakraban komunikasi antara stasiun-stasiun pemancar dengan para pendengarnya.

Akan Tetap Menarik

Yakin saja, bahwa apapun yang namanya suguhan informasi radio, meskipun dipancarkan dari pusat tetap akan menarik sampai ke ruang publik di daerah, tergantung pada apa dan bagaimana informasi itu diproduksi. Tak patut pula diberi jarak berupa jurang penerimaan suatu informasi antara publik di "pusat" dengan publik di "daerah". Ini terbukti bagaimana pendengar Talk show Jakarta Pagi Ini 105.1 RRI Pro2 FM Jakarta besar sekali rasa keingintahuannya dengan bencana kelaparan di pelosok pedalaman Irian Jaya.

Bahkan, sesuai topik talk show itu, dibahas sejumlah masyarakat Jabotabek sigap menanyakan ulang alamat dan nomor rekening bank yang membuka sumbangan bagi masyarakat Irian Jaya. Tanggapan pro aktif publik Jabotabek dengan nasib saudara-saudaranya di Irian Jaya itu tentu amat positif. Harap dicatat, pembahasan talk show oleh radio ini belum menggunakan teknologi DBS, tapi baru menggunakan sarana telepon (phone in) untuk mewawancarai pihak-pihak terkait yang terjun langsung ke pedalaman Irian Jaya dalam memberikan bantuan sosial kemanusiaan.

Dengan begitu, bisa dibayangkan bagaimana lagi kesuksesannya, bila teknologi satelit mendukung talk show tersebut. Teknologi siaran yang di-up link menggunakan satelit ini juga telah diujicobakan pada Radio Tri Jaya FM Jakarta. Sebut saja, mungkin ini benar, yaitu acara talk show bisnis dan manajemen yang didistribusikan siarannya antara lain sampai ke Medan dan Surabaya. Jadi, sekali lagi, alasan sulitnya terminologi percakapan lisan yang menciptakan keakraban antara stasiun pemancar dengan pendengar untuk melangkah memasuki era DBS perlu dikoreksi.

Khusus bagi dunia periklanan, era DBS bagi teknologi siaran radio tentu saja menciptakan nuansa baru. Radio, yang semula bersifat lokal, bakal menembas area nasional, sehingga berpeluang menarik ruang publik yang luas. Dengan demikian, pihak pengiklan dan biro iklan pasti senang mendapatkan kemudahan dan kemurahan menjangkau, misalnya 15 juta pendengar di 15 kota. Tidak perlu lagi para media buyer repot membuat jadwal presentasi dengan katakanlah 50 stasiun radio siaran guna menjangkau 15 juta pendengar tadi. Sebuah catatan efisiensi tersendiri bagi dunia periklanan.

Terlebih lagi, di masa kini, persaingan dunia radio dalam memperebutkan jatah kue iklan semakin ketat. Selain sudah beredarnya rating (pemeringkatan) acara-acara radio unggulan "yang justru bakal mematikan radio ber-rating lemah", ada lagi gembar-gembor mengenai radio net working, yang sebenarnya tidak jauh beda dengan konglomerasi stasiun radio siaran. Radio net working itu menyebut dirinya mampu meraup 10% belanja iklan radio (Buletin Radionet, edisi 3 September 1997).

Apakah ini berarti radio-radio yang "tidak tergabung" dalam net working juga harus senasib dengan dampak pemeringkatan acara radio unggulan ? Dengan kehadiran era satelit (DBS), misi radio semakin tertantang untuk ikut mengamankan tujuan negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, semua itu kembali kepada pengelola radionya sendiri. Apakah misi bisnis lebih dikedepankan ketimbang misi nasionalisme kebangsaan ? Atau bisakah keduanya berjalan seiring sejalan ? Semoga. (R. Fadli/Media Indonesia/HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 1 Jan-Feb 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space