Teknologi Komunikasi
Urgensi Radio Satelit
Menarik untuk dikaji "kesiapan" dunia penyiaran, khususnya
radio saat melangkahi zamannya satelit atau era Direct Broadcasting
Satellite (DBS). Sederhananya, dengan menggunakan DBS, stasiun radio
bakal mampu melakukan sistem teknologi penyiaran paling mutakhir, yaitu
memancarkan siaran dari "pusat" melalui satelit (up link), untuk kemudian
didistribusikan ke stasiun-stasiun penerima di daerah. Katakanlah, DBS ini
sanggup mentransformasikan siaran radio ke seluruh penjuru nusantara,
sekaligus menjangkau luas ruang publik pendengar sebanyak banyaknya.
Inilah yang menjadi kekuatan siaran radio dengan teknologi
DBS. Dengan begitu, kekuatan daya jangkau penyiaran ini juga mungkin
merupakan kekuatan media periklanan. Ada adagium yang mesti diingat, bahwa
radio sebagai media pemasaran adalah menjual ruang publik atau pendengar
kepada para pengiklan. Semakin luas cakupan pendengar yang dituju, berarti
semakin potensial radio memegang peranan penting sebagai media periklanan.
Meskipun luasnya cakupan pendengar itu sendiri belum tentu
sesuai dengan segmen pendengar (calon konsumen) yang ditargetkan pihak
pengiklan. Teknologi siaran menggunakan DBS diakui berdampak pada berubahnya
misi siaran radio, dari media lokal ke nasional, bahkan regional. Seperti
ditegaskan Pimpinan Radio Prambors, H. Malik Sjafei Saleh, hingga kini
masih terlalu repot membangun teknologi DBS bagi stasiun radio siaran.
Salah satu alasannya, karena sejak awal radio sudah digariskan sebagai
media penyiaran lokal.
Dicontohkan, program siaran unggulan "Ida dan Krisna
Show" di salah satu radio swasta FM di ibukota, apabila diperdengarkan
juga di lembah Baliem, Irian Jaya, atau di Ujungpandang, tentunya tidak
akan cepat menyambung komunikasinya. Atau, dengan kata lain, sulit tercipta
terminologi percakapan lisan yang akrab (Cakram, September 1997). Memang,
apa yang menjadi alasan di atas benar adanya.
Radio sebagai media audio, yang disebut juga the theatre
of mind, apapun yang diucapkan dalam siaran-siaran kata-nya (talk show,
berita, dan informasi), haruslah dalam kerangka bahasa tutur, gaya
pengucapan formal sehari-hari. Sehingga, terminologi percakapan lisan yang
dimaksud bertujuan mendukung prinsip radio yang bersifat personal. Radio
itu bisa menjadi teman, sahabat, atau siapapun secara personal.
Tapi, apakah pantas meragukan era satelit dengan segala
dampak perkembangan teknologi komunikasinya, dihadapkan pada terminologi
percakapan ? Rasanya kurang bijak apabila orang yang berpengalaman di
bidang radio seperti pimpinan Radio Prambors itu mempunyai pandangan demikian.
Sebab, di dunia ini, tak ada lagi yang mampu menghadang lajunya perkembangan,
baik penyiaran maupun penerimaan informasi, dalam bentuk apapun.
Apalagi, kalau dikembalikan pada tata aturan hak publik di
mana masyarakat memiliki hak untuk tahu (right to know), dan hak untuk
memperoleh informasi (right to get information). Hadirnya era DBS di dunia
radio, tentu saja akan mampu mengejawantahkan hak-hak publik itu. Sehingga
tak pantas kiranya bila idealisme tersebut diragukan hanya dengan argumentasi
keakraban komunikasi antara stasiun-stasiun pemancar dengan para pendengarnya.
Akan Tetap Menarik
Yakin saja, bahwa apapun yang namanya suguhan informasi
radio, meskipun dipancarkan dari pusat tetap akan menarik sampai ke ruang
publik di daerah, tergantung pada apa dan bagaimana informasi itu diproduksi.
Tak patut pula diberi jarak berupa jurang penerimaan suatu informasi antara
publik di "pusat" dengan publik di "daerah". Ini terbukti bagaimana
pendengar Talk show Jakarta Pagi Ini 105.1 RRI Pro2 FM Jakarta besar
sekali rasa keingintahuannya dengan bencana kelaparan di pelosok pedalaman
Irian Jaya.
Bahkan, sesuai topik talk show itu, dibahas sejumlah masyarakat Jabotabek
sigap menanyakan ulang alamat dan nomor rekening bank yang membuka sumbangan
bagi masyarakat Irian Jaya. Tanggapan pro aktif publik Jabotabek dengan
nasib saudara-saudaranya di Irian Jaya itu tentu amat positif. Harap dicatat,
pembahasan talk show oleh radio ini belum menggunakan teknologi DBS, tapi
baru menggunakan sarana telepon (phone in) untuk mewawancarai pihak-pihak
terkait yang terjun langsung ke pedalaman Irian Jaya dalam memberikan
bantuan sosial kemanusiaan.
Dengan begitu, bisa dibayangkan bagaimana lagi
kesuksesannya, bila teknologi satelit mendukung talk show tersebut.
Teknologi siaran yang di-up link menggunakan satelit ini juga telah
diujicobakan pada Radio Tri Jaya FM Jakarta. Sebut saja, mungkin ini benar,
yaitu acara talk show bisnis dan manajemen yang didistribusikan siarannya
antara lain sampai ke Medan dan Surabaya. Jadi, sekali lagi, alasan sulitnya
terminologi percakapan lisan yang menciptakan keakraban antara stasiun
pemancar dengan pendengar untuk melangkah memasuki era DBS perlu dikoreksi.
Khusus bagi dunia periklanan, era DBS bagi teknologi siaran
radio tentu saja menciptakan nuansa baru. Radio, yang semula bersifat lokal,
bakal menembas area nasional, sehingga berpeluang menarik ruang publik yang
luas. Dengan demikian, pihak pengiklan dan biro iklan pasti senang
mendapatkan kemudahan dan kemurahan menjangkau, misalnya 15 juta pendengar
di 15 kota. Tidak perlu lagi para media buyer repot membuat jadwal presentasi
dengan katakanlah 50 stasiun radio siaran guna menjangkau 15 juta pendengar
tadi. Sebuah catatan efisiensi tersendiri bagi dunia periklanan.
Terlebih lagi, di masa kini, persaingan dunia radio dalam
memperebutkan jatah kue iklan semakin ketat. Selain sudah beredarnya rating
(pemeringkatan) acara-acara radio unggulan "yang justru bakal mematikan radio
ber-rating lemah", ada lagi gembar-gembor mengenai radio net working, yang
sebenarnya tidak jauh beda dengan konglomerasi stasiun radio siaran. Radio
net working itu menyebut dirinya mampu meraup 10% belanja iklan radio
(Buletin Radionet, edisi 3 September 1997).
Apakah ini berarti radio-radio yang "tidak tergabung" dalam
net working juga harus senasib dengan dampak pemeringkatan acara radio
unggulan ? Dengan kehadiran era satelit (DBS), misi radio semakin
tertantang untuk ikut mengamankan tujuan negara, yakni mencerdaskan
kehidupan bangsa. Tapi, semua itu kembali kepada pengelola radionya sendiri.
Apakah misi bisnis lebih dikedepankan ketimbang misi nasionalisme
kebangsaan ? Atau bisakah keduanya berjalan seiring sejalan ? Semoga.
(R. Fadli/Media Indonesia/HSB)