DX Mania
Pengalaman Seorang DXer
Bermula dari hobi mendengarkan lagu-lagu barat, jadilah kebiasaan untuk
memutar-mutar tombol radio, mencari frekuensi stasiun-stasiun BBC, Radio
Australia, atau VOA, yang punya acara Tangga Lagu-lagu macam "Top Ten",
"Top Twenty" ataupun "Countdown". Memang, sejak tahun 1966, stasiun-stasiun
radio amatir di Indonesia sudah mulai banyak bermunculan, terutama di kota
kota Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Mereka pun tak ketinggalan menyiarkan
lagu-lagu barat yang lagi ngetop.
Namun, rasanya lebih pas mendengarkan lagu-lagu itu dari stasiun radio
luar negeri, karena komentar-komentarnya menyangkut artis penyanyi maupun
lagu-lagunya sendiri lebih beragam. Melihat naik-turunnya lagu lagu itu
dari minggu ke minggu sudah merupakan kesenangan tersendiri, saya mencatatnya
dengan cukup rapi. Dari kebiasaan mendengar acara-acara tersebut, ada hal
yang positif yang saya peroleh, yaitu kebiasaan mendengar atau mengucapkan
bahasa Inggris dengan benar.
Dalam perjalanan hidup saya kemudian, kebiasaan berbahasa Inggris itu
- walaupun sampai sekarang masih juga merasa belum mahir - sangat membantu saya
dalam menyelesaikan pekerjaan. Selanjutnya, pada bulan Mei 1980, saya mulai mencoba menulis surat ke alamat stasiun stasiun radio, dimulai dari BBC London. Senang
sekali rasanya sewaktu menerima balasan sebagai konfirmasi laporan penerimaan saya (QSL).
Bulan-bulan berikutnya, saya mengirimkan laporan penerimaan siaran ke
Radio Nederland Siaran Bahasa Indonesia, mulai dari siaran yang dipancarkan
dari Madagaskar, kemudian di bulan Maret tahun 1981, siaran dari transmitter
di Lopik. Dengan semakin bertambahnya koleksi kartu-kartu QSL, semakin
bertambah pula keinginan saya untuk mencoba mengirim laporan penerimaan
siaran ke stasiun stasiun radio lain : Radio Jepang NHK, Suara Malaysia
- Kuala Lumpur, Deutsche Welle, di pertengahan tahun 1981 saya diminta
oleh Deutsche Welle untuk menjadi monitor tetap.
"Tugas" itu saya laksanakan sampai sekarang, walaupun sudah dua kali
berpindah tempat tinggal, dari saat pertama kali mengirimkan laporan ke
stasiun tersebut. Dan bahkan sempat beberapa bulan absen, karena ketiadaan
pesawat radio (receiver). Kelihatannya mereka "mencintai" (laporan) saya,
terbukti dengan permintaan mereka untuk kembali mengirim laporan penerimaan
secara teratur. Kalau begitu, stasiun radio sebesar apapun memang tetap
memerlukan jasa pendengarnya, untuk perbaikan mutu siaran-siarannya, pikir saya.
Walaupun sudah menjadi monitor tetap Deutsche Welle, tidak berarti saya
berhenti berburu QSL dari stasiun-stasiun radio lain. Saya berhasil memantau Radio
Sweden Internasional, ORF Wiena, BRT Brussels. Dari stasiun radio terakhir
itu, saya mengenal dan menjadi anggota klub pendengar radio BRT - SW Listeners
Club, walaupun tidak aktif. Tahun berikutnya, laporan saya meluas
ke Swiss Radio International, Radio Korea KBS.
Lebih senang lagi sewaktu saya menerima QSL card dari Afrika Selatan
(SABC - Johannesburg) dan dari Norwegia (NRK - Oslo) di ujung utara Eropa.
Saya pikir hebat juga dengan radio yang sederhana ini, saya bisa mengenal
budaya lain di dunia ini. Saya katakan sederhana, karena merk radio saya
bukan merk yang "beken", apalagi modelnya pun sebenarnya tidak pantas buat
pemburu QSL stasiun radio luar negeri. Jadi, di luar kebiasaan mendengarkan
bahasa Inggris itu, modal saya memang hanya ketekunan.
Kebetulan, saya mencari nafkah sebagai salah seorang pegawai perusahaan
multi nasional, jadi hobi dan pekerjaan kelihatannya bisa sejalan. Karena
pekerjaan itulah, saya harus bisa membagi waktu, apalagi saya sudah berkeluarga,
dengan dua anak laki-laki dan satu perempuan. Wajar saja kalau perolehan
QSL saya belum seberapa, mengingat saya pun harus bisa membagi waktu, antara
pekerjaan, keluarga, dan hobi, di samping kewajiban sosial lainnya. Dibandingkan
dengan rekan-rekan lain yang satu klub - Indonesian DX Club, yang baru
saya masuki sekitar awal tahun 1993 - perolehan QSL saya masih kalah jauh.
Tetapi, kenikmatan menekuni suatu hobi, memang tidak ada batasannya.
Dalam hal stasiun radio misalnya, QSL yang akan kita terima akan lebih
bervariasi, manakala kita bisa memantau sebanyak transmitter yang mereka
pakai di hampir semua wilayah tujuan siaran mereka. "Perjalanan keliling
dunia" saya berikutnya (tahun 1990-1994) sampai ke Amerika Selatan (HCJB - Equador).
"Ketemu" Mas Asbari Nurpatria Krisna di Negeri Belanda (Radio Nederland
- Flevo), Perancis (Radio France International - Allouis / Issoudun), Pasifik
(KHBI - Kepulauan Mariana Utara), Asia Tengah (Radio Tashent - Uzbekistan),
Portugal (Radio Canada International - Sines), Singapura (Radio Singapore
International), Alaska (KNLS - The New Life Station, Inggris (Radio Canada
International - Skelton), Beijing (China Radio International), dan Rumania
(Radio Romania International).
Karena itu, rasanya tak berlebihan kalau saya katakan bahwa radio
merupakan satu satunya sarana penyebar informasi yang murah-meriah, paling
sesuai dengan kondisi negara-negara berkembang. Tidak ada listrik, masih
ada batu baterai atau accu. Saya menghimbau kepada semua pihak, agar perbedaan pandangan di bidang politik janganlah menjadi alasan "dijauhinya" siaran siaran radio luar
negeri.
Melalui klub-klub pendengar radio hendaknya dapat dijalin kerja
sama dengan stasiun stasiun radio di manapun, dengan tujuan mulia,
mencerdaskan kehidupan bangsa. Salam dan terima kasih kepada Mas Asbari
Nurpatria Krisna, atas diudarakannya naskah ini. (DX Komunikasi, Ranesi tanggal 14 Desember 1997/SAS)