Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 8 No 1 Jan-Feb 1998
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Amateur Radio
DX Mania
Bengkel DXer
Komunikasi
Uji Coba Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 8
  DX Mania
Pengalaman Seorang DXer

Bermula dari hobi mendengarkan lagu-lagu barat, jadilah kebiasaan untuk memutar-mutar tombol radio, mencari frekuensi stasiun-stasiun BBC, Radio Australia, atau VOA, yang punya acara Tangga Lagu-lagu macam "Top Ten", "Top Twenty" ataupun "Countdown". Memang, sejak tahun 1966, stasiun-stasiun radio amatir di Indonesia sudah mulai banyak bermunculan, terutama di kota kota Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Mereka pun tak ketinggalan menyiarkan lagu-lagu barat yang lagi ngetop.

Namun, rasanya lebih pas mendengarkan lagu-lagu itu dari stasiun radio luar negeri, karena komentar-komentarnya menyangkut artis penyanyi maupun lagu-lagunya sendiri lebih beragam. Melihat naik-turunnya lagu lagu itu dari minggu ke minggu sudah merupakan kesenangan tersendiri, saya mencatatnya dengan cukup rapi. Dari kebiasaan mendengar acara-acara tersebut, ada hal yang positif yang saya peroleh, yaitu kebiasaan mendengar atau mengucapkan bahasa Inggris dengan benar.

Dalam perjalanan hidup saya kemudian, kebiasaan berbahasa Inggris itu - walaupun sampai sekarang masih juga merasa belum mahir - sangat membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan. Selanjutnya, pada bulan Mei 1980, saya mulai mencoba menulis surat ke alamat stasiun stasiun radio, dimulai dari BBC London. Senang sekali rasanya sewaktu menerima balasan sebagai konfirmasi laporan penerimaan saya (QSL).

Bulan-bulan berikutnya, saya mengirimkan laporan penerimaan siaran ke Radio Nederland Siaran Bahasa Indonesia, mulai dari siaran yang dipancarkan dari Madagaskar, kemudian di bulan Maret tahun 1981, siaran dari transmitter di Lopik. Dengan semakin bertambahnya koleksi kartu-kartu QSL, semakin bertambah pula keinginan saya untuk mencoba mengirim laporan penerimaan siaran ke stasiun stasiun radio lain : Radio Jepang NHK, Suara Malaysia - Kuala Lumpur, Deutsche Welle, di pertengahan tahun 1981 saya diminta oleh Deutsche Welle untuk menjadi monitor tetap.

"Tugas" itu saya laksanakan sampai sekarang, walaupun sudah dua kali berpindah tempat tinggal, dari saat pertama kali mengirimkan laporan ke stasiun tersebut. Dan bahkan sempat beberapa bulan absen, karena ketiadaan pesawat radio (receiver). Kelihatannya mereka "mencintai" (laporan) saya, terbukti dengan permintaan mereka untuk kembali mengirim laporan penerimaan secara teratur. Kalau begitu, stasiun radio sebesar apapun memang tetap memerlukan jasa pendengarnya, untuk perbaikan mutu siaran-siarannya, pikir saya.

Walaupun sudah menjadi monitor tetap Deutsche Welle, tidak berarti saya berhenti berburu QSL dari stasiun-stasiun radio lain. Saya berhasil memantau Radio Sweden Internasional, ORF Wiena, BRT Brussels. Dari stasiun radio terakhir itu, saya mengenal dan menjadi anggota klub pendengar radio BRT - SW Listeners Club, walaupun tidak aktif. Tahun berikutnya, laporan saya meluas ke Swiss Radio International, Radio Korea KBS.

Lebih senang lagi sewaktu saya menerima QSL card dari Afrika Selatan (SABC - Johannesburg) dan dari Norwegia (NRK - Oslo) di ujung utara Eropa. Saya pikir hebat juga dengan radio yang sederhana ini, saya bisa mengenal budaya lain di dunia ini. Saya katakan sederhana, karena merk radio saya bukan merk yang "beken", apalagi modelnya pun sebenarnya tidak pantas buat pemburu QSL stasiun radio luar negeri. Jadi, di luar kebiasaan mendengarkan bahasa Inggris itu, modal saya memang hanya ketekunan.

Kebetulan, saya mencari nafkah sebagai salah seorang pegawai perusahaan multi nasional, jadi hobi dan pekerjaan kelihatannya bisa sejalan. Karena pekerjaan itulah, saya harus bisa membagi waktu, apalagi saya sudah berkeluarga, dengan dua anak laki-laki dan satu perempuan. Wajar saja kalau perolehan QSL saya belum seberapa, mengingat saya pun harus bisa membagi waktu, antara pekerjaan, keluarga, dan hobi, di samping kewajiban sosial lainnya. Dibandingkan dengan rekan-rekan lain yang satu klub - Indonesian DX Club, yang baru saya masuki sekitar awal tahun 1993 - perolehan QSL saya masih kalah jauh.

Tetapi, kenikmatan menekuni suatu hobi, memang tidak ada batasannya. Dalam hal stasiun radio misalnya, QSL yang akan kita terima akan lebih bervariasi, manakala kita bisa memantau sebanyak transmitter yang mereka pakai di hampir semua wilayah tujuan siaran mereka. "Perjalanan keliling dunia" saya berikutnya (tahun 1990-1994) sampai ke Amerika Selatan (HCJB - Equador).

"Ketemu" Mas Asbari Nurpatria Krisna di Negeri Belanda (Radio Nederland - Flevo), Perancis (Radio France International - Allouis / Issoudun), Pasifik (KHBI - Kepulauan Mariana Utara), Asia Tengah (Radio Tashent - Uzbekistan), Portugal (Radio Canada International - Sines), Singapura (Radio Singapore International), Alaska (KNLS - The New Life Station, Inggris (Radio Canada International - Skelton), Beijing (China Radio International), dan Rumania (Radio Romania International).

Karena itu, rasanya tak berlebihan kalau saya katakan bahwa radio merupakan satu satunya sarana penyebar informasi yang murah-meriah, paling sesuai dengan kondisi negara-negara berkembang. Tidak ada listrik, masih ada batu baterai atau accu. Saya menghimbau kepada semua pihak, agar perbedaan pandangan di bidang politik janganlah menjadi alasan "dijauhinya" siaran siaran radio luar negeri.

Melalui klub-klub pendengar radio hendaknya dapat dijalin kerja sama dengan stasiun stasiun radio di manapun, dengan tujuan mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa. Salam dan terima kasih kepada Mas Asbari Nurpatria Krisna, atas diudarakannya naskah ini. (DX Komunikasi, Ranesi tanggal 14 Desember 1997/SAS)

 
Dirgantara Online - Vol 8 No 1 Jan-Feb 1998
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space