Profil Stasiun
Radio Handayani Muktitama
"Jumpa lagi kita di udara pada kesempatan hari ini. Kepada bapak tani, selamat bekerja. Semoga bertambah semangat bersama acara yang kami hadirkan". Demikian celoteh salah seorang penyiar Radio Handayani Muktitama, di desa Gedung Rawajitu, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, ketika membuka acara. Stasiun radio tersebut adalah satu satunya yang ada di desa tersebut. Meskipun hanya mengudara di gelombang SW (Short Wave), dengan tempat studio dan peralatan yang sederhana, tetapi stasiun radio tersebut mampu menarik banyak pendengar, terutama para petani di sekitar desa.
Radio yang mengudara melalui frekuensi 2.297 kHz memakai peralatan sederhana ini, dalam siarannya hanya mengandalkan sebuah pemancar, sebuah amplifier, dan tape recorder, dan didorong oleh tiga buah accu berkekuatan 120 volt, sedangkan jaringan listrik belum menjangkau desa tersebut. Mulai mengudara sejak tahun 1995. Dalam operasi siarannya, Radio Handayani Muktitama ini berbekal surat izin dari kelurahan, kecamatan, kantor Departmen Penerangan. Studionya pun berdampingan dengan tempat tinggal pemiliknya, Bapak Sadirun.
"Saya telah mendapat surat izin, meski hanya sebatas pihak kecamatan, dan saya juga sudah minta saran kepada Bapak Menteri Parpostel, saat berkunjung ke daerah ini. Kata beliau, boleh boleh saja siaran sambil mengembangkan diri dan mengurus izin resmi dari pihak yang kompeten," kata Bapak Sadirun, pemilik radio tersebut. Radio ini sudah mempunyai badan hukum. Sadirun adalah sosok manusia pelopor yang mendapat predikat petani teladan tingkat nasional, dengan penghargaan Makarti Muktitama dari Presiden Soeharto pada tahun 1994.
Pada mulanya, tertarik mendirikan stasiun radio tersebut disebabkan di desanya belum ada sarana komunikasi dan hiburan untuk membantu kegiatan desa. Oleh karena itulah, sejak beberapa tahun lalu, Sadirun mulai merintis, dengan membeli berbagai peralatan sederhana, dan dirakit sendiri, dengan dibantu sejumlah rekan lainnya. Dana yang dikeluarkan sebesar Rp 1.500.000 berasal dari hasil bertani.
"Nama radio tersebut saya ambil dari nama anak saya, Handayani, dan penghargaan Makarti Muktitama. Daya pancar radio itu boleh dikatakan masih sangat rendah, tetapi fungsi dan manfaatnya sangat positif bagi masyarakat desa," kata Sadirun lebih lanjut. Banyak orang bilang, radio ini adalah radio lingkungan, sebab pendengar dan jangkauannya hanya meliputi desa tersebut. Namun, ada laporan bahwa siarannya tertangkap pula sampai ke Palembang. Selama mengudara, radio ini memiliki banyak pendengar, terbukti dengan datangnya respon masyarakat setiap hari.
Selain sebagai media hiburan, radio ini juga berperan sebagai media komunikasi bagi kegiatan desa, seperti pemberitahuan gotong royong, dan sebagainya. Radio ini mengudara setiap hari, dari jam 05.00 hingga 22.00 WIB (22.00-15.00 UTC). Tenaga penyiar sebanyak tiga orang, menyuguhkan berbagai ragam acara.
Acara-acara populer di Radio Handayani Muktitama, antara lain : Aneka Budaya yaitu siaran aneka kesenian daerah, Radio Kecil untuk konsumsi anak-anak, Mustika Dangdut dan lain-lain, yang mampu menghimpun pendengar, terutama dari kalangan petani. Tidak lupa kewajiban merelai warta berita dari RRI juga dilakukan. (Lampung Post / Isnanto Hapsara)