Sapa Redaksi
Mari Kita Tanggung Bersama
Selamat berjumpa lagi dalam edisi akhir penghujung tahun 1997. Dan yang jelas, seluruh redaksi Dirgantara sudah siap menyajikan yang terbaik untuk para pencintanya. Namun, sebelum membaca seluruh artikel dalam edisi ini, sebaiknya menyimak dulu sapaan redaksi sehubungan dengan adanya perubahan harga langganan, yang dimulai awal tahun 1998, seperti telah disinggung dalam Dirgantara edisi sebelumnya.
Harga langganan Dirgantara mulai Januari 1998 disesuaikan sebesar 25% sehingga iuran per tahun menjadi Rp 12.500 memakai mata uang rupiah. Bila membayar dengan mata uang US$ tidak mengalami perubahan. Adapun rincian yang telah disepakati adalah sebagai berikut. Jika pada awal mula penerbitan di Jakarta, dengan segala kekurangan biaya, ditanggung oleh redaksi, maka mulai edisi Januari-Februari 1998 dan seterusnya seluruh subsidi kepada sebagian pelanggan dan stasiun radio luar negeri dihapus.
Jadi seluruh ongkos produksi akan ditanggung bersama oleh semua pelanggan. Dikandung maksud, bahwa pelanggan Dirgantara akan merasa handarbeni (memiliki), karena dirasakan bahwa selama ini masalah pembiayaan penerbitan Dirgantara ditanggung oleh redaksi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa berdasarkan kalkulasi, kenaikan ongkos cetak dan ongkos kirim semuanya termasuk dalam komponen pembentuk harga.
Langganan baru sampai akhir tahun 1998 tidak akan berubah, serta diusahakan kalau bisa, sampai tahun 1999 tidak akan diubah, walaupun ada beberapa komponen produksi maupun biaya pengiriman naik tak terduga. Redaksi berusaha menjaganya dengan harga yang dipatok saat ini. Sebenarnya, jikalau anggota membayar Rp 12.500 untuk 6 edisi, maka anggota telah turut membantu redaksi sebesar Rp 83,33 per edisi untuk menutup ongkos produksi dan ongkos kirim Dirgantara ke stasiun radio mitra kerja IDXC.
Dirgantara sebagai sarana komunikasi klub menjalin hubungan dengan mitra kerja tersebut untuk kepentingan bersama, dan tentu saja kemajuan media tercinta kita ini, jadi tidak ada maksud-maksud lain. Yang jelas, dari dan untuk bersama. Pertimbangan redaksi ini sudah dipikirkan masak-masak berdasarkan usulan rekan-rekan anggota lain. Namun demikian, anggota perlu tahu bahwa ada beberapa subsidi yang ternyata setelah diadakan perhitungan kembali belum memungkinkan untuk dihapus. Oleh masing-masing redaksi, selama ini dianggap sumbangan saja, tak perlu dicatat sebagai komponen ongkos produksi Dirgantara.
Yang kami maksud adalah biaya operasional organisasi, seperti sewa kotak pos, biaya promosi, hubungan surat-menyurat, dan faksimili. Jadi anggota dapat mengetahui dan mengerti keadaan dewasa ini. Redaksi sudah siap-siap dengan perubahan ini. Kami harap anggota pun turut membantu dengan sumbangan atau yang lain, sesuai dengan misi klub dan media yang non-profit. Harapan dari kami semua adanya perubahan akan memberi dampak pada kesinambungan maupun bobot isi Dirgantara, sehingga media ini mampu mengikuti maupun mengimbangi perubahan yang begitu cepat di bidang telekomunikasi dan informasi dewasa ini.
Walaupun ada beberapa pribadi mungkin merasa berat, tetapi perlu diingat bahwa nilai tambah yang diperoleh dari adanya perubahan jauh lebih besar. Redaksi pun siap menerima kritik maupun saran dari pembaca lewat surat, telepon, maupun faksimili. Maka jangan sungkan-sungkan memberi tahu kami, bila ada ketidakcocokan antara catatan keuangan Anda dengan pihak redaksi, maupun masalah lainnya. Di penghujung tahun ini, situasi memang tidak mengenakkan. Kita sebagai manusia senantiasa optimis dan yakin dapat melaluinya dengan pasti, sebab tantangan di tahun 1998 lebih kompleks.
Kemauan kita semua, tahun 1998 harus lebih maju dibandingkan tahun 1997. Bersama ini pula, segenap pengurus IDXC dan redaksi Dirgantara mengucapkan selamat hari Natal bagi anggota yang merayakannya, semoga damai Natal dapat dirasakan dan benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang merayakan Tahun Baru, semoga kesuksesan dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua pada semua aktivitas. (DBR)
Surat dari Ibukota
Jumpa Lagi
Perjumpaan dengan teman maupun kerabat yang sudah lama tidak bertemu merupakan saat yang indah dan berkesan. Sudah setahun tidak bertemu muka, pada bulan November 1997 ini, tepatnya tanggal 2, Selasa malam, kami dari redaksi bersama dengan teman-teman yang lain di Jakarta berkesempatan berjumpa dengan penyiar Ranesi yang sangat peduli dengan keberadaan pendengar dan sangat antusias dengan kemajuan klub pendengar dimana saja berada.
Jelas, Anda pasti mengenalnya, yaitu Mas Asbari Nurpatria Krisna, yang kali ini ditemani oleh istri tercinta, yaitu Mbak Yuyu, yang juga wartawati senior Suara Pembaruan untuk liputan Eropa. Perjumpaan dengan Mas Asbari adalah saat yang menyenangkan, karena dari perjalanan selama di Indonesia, dia menceritakan pengalamannya, baik memburu pendengar, maupun dalam rangka membuat mata acara yang akan disiarkan pada tahun 1998 yang akan datang. Kami semua yang hadir juga kebagian wawancara yang dipandu oleh rekan Herbert Sunu Budihardjo dan rekanita Laurensia, dengan topik "Kemiskinan Setelah 50 Tahun Indonesia Merdeka".
Sebelum berpisah, Mas Asbari sempatkan membagi oleh-olehnya kepada yang hadir pada saat itu. Namun demikian, bagi yang tidak sempat hadir, jangan berkecil hati, sebab Mas Asbari menitipkan kepada redaksi untuk dibagikan kepada anggota, untuk souvenir yang jumlahnya terbatas. Kami mohon maaf, tidak bisa membagikan. Tetapi kami sudah mengaturnya, agar anggota bisa ikut menikmatinya, oleh karena itu, terus berpartisipasi dalam setiap kegiatan, maupun edisi yang Dirgantara selenggarakan, karena siapa tahu, Anda beruntung mendapatnya.
Kesan yang sangat mendalam berjumpa dengan Mas Asbari adalah selalu memberi motivasi kepada kami agar tampil lebih baik dan selalu memberi masukan yang sangat berharga bagi kemajuan Dirgantara. Kita perlu menoleh ke belakang setahun yang lalu, setelah berjumpa dengan Mas Asbari dengan sejumlah tekad dan harapan, pengurus melakukan konsolidasi untuk tetap menghidupkan Dirgantara yang sudah lama tertidur. Kini, setelah setahun terbit di ibukota, kami telah memberi warna tersendiri dalam media yang sangat kita cintai ini.
Itu semua tidak terlepas dari motivasi, saran, serta dukungan Mas Asbari yang sangat peduli dengan pendengarnya. Kami, di redaksi, hanya bisa mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang begitu besar kepada Dirgantara, maupun kepada pendengarnya. Itulah kabar yang menyejukkan hati kita semua, seperti sejuknya suasana ibukota yang telah dibasahi air hujan. Sekian dulu kabar dari ibukota. (DBR)