Sejarah Radio
34 Tahun Seksi Indonesia SJDW (30 Sep 1963 - 30 Sep 1997)
Pengantar : Bagi stasiun radio gelombang pendek, mempertahankan usia siaran lebih dari tiga puluh tahun bukan hal yang gampang. Mengapa Suara Jerman tetap mempertahankan siaran dalam bahasa Indonesia ? Ikutilah laporan berikut, ditulis oleh rekan Herbert Sunu Budihardjo.
Imbasan Silam
Sembilan belas tahun silam, tepatnya tanggal 30 September 1963, Kepala Redaksi Asia ketika itu Dr. Fritz van Briessen, menulis kilas balik sebagai berikut : Yang terutama dihadapi untuk mengadakan siaran ke negara Asia Timur adalah masalah bahasa. Hal ini merupakan kesulitan utama, karena kawasan yang sangat luas itu dihuni oleh banyak bangsa, dengan bahasa dan kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Dan siaran kita hanya dapat didengar dan dipahami bila kita berbicara dalam bahasa mereka. Bahasa Inggris bukan jalan keluar yang memuaskan, karena hanya dapat dipahami oleh minoritas kecil, selain di Australia dan Selandia Baru.
Ternyata relevansinya sampai saat ini masih ada. Buktinya, apabila kita sering mendengarkan radio gelombang pendek, kalimat "Inilah Suara Jerman Deutsche Welle" masih bisa kita dengar, sementara Radio Moskwa (Suara Rusia) dan Radio Tirana dalam bahasa yang sama, lebih dahulu menghilang dari udara. Radio Australia pun yang dulu banyak memikat pendengar dengan beragam mata acara, dan memiliki jumlah pendengar terbanyak, kini juga susah untuk didengar, setelah mengalami penciutan jam siaran serta mengurangi jumlah penyiar.
Bahasa Indonesia adalah bahasa Asia pertama yang disiarkan Deutsche Welle, dan kini merupakan satu-satunya di antara bahasa-bahasa Asia yang dipancarkan 3 kali sehari. Sasarannya adalah para pendengar di wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, bagian selatan Thailand, Brunei Darussalam, serta kawasan selatan Filipina.
Pertanyaan yang Harus Dijawab Setiap Hari
Meski lebih dari tiga dasawarsa merentang jembatan, namun bagi Bung Rudi (sapaan akrab untuk Kepala Seksi Bahasa Indonesia) dalam memimpin kerabat kerja, senantiasa mengingatkan bahwa setiap hari harus dijawab pertanyaan : Apa yang membuat siaran menarik, sehingga didengarkan di Indonesia dan di negara-negara tetangganya yang memahami bahasa siaran ? Apa yang harus dilakukan redaksi DW agar dapat bersaing dengan pemancar gelombang pendek internasional lain yang memancarkan pula siaran dalam bahasa Indonesia, dan juga persaingan dengan media massa setempat ?
Pada mulanya redaksi Siaran Bahasa Indonesia hanya beranggotakan empat orang. Sementara ini, karyawannya berjumlah 11 orang, 8 orang diantaranya berasal dari Indonesia. Mereka adalah : Rudiger Siebert, Marina Pakpahan, Dewi Gunawan-Ladener, Agus Setiawan, Elfriede Sutter, Anneliese Engelskamp, Mariana Kwa, Asril Ridwan, Nursyawal, Gerard Bibang, dan Edith Koesoemawiria.
Sedangkan Kepala Bagian Penelitian Media, Surat Pendengar/Pemirsa, yang semula dijabat oleh Ibu Ursula Fleck-Jerwin, digantikan oleh Dr. Oliver Zollner, pakar komunikasi massa, yang sebelumnya bekerja di Sudwestfunk, sebuah stasiun radio di Jerman Selatan. Kepada Ibu Ursula Fleck-Jerwin, yang memasuki purna tugas mulai awal Mei, setelah 30 tahun memenuhi tugasnya di SJDW, Pengurus IDXC dan Redaksi Dirgantara mengucapkan Selamat Jalan dan terima kasih atas hubungan yang baik selama ini, sedangkan kepada penggantinya, Dr. Zollner, kami berharap dapat meningkatkan hubungan baik yang telah terjalin antara IDXC dan SJDW.
Informasi Opini dan Dialog
Perubahan terus dilakukan oleh Suara Jerman, salah satunya adalah jam siaran. Jika pada awal mulanya mengudara selama 40 menit, selanjutnya siaran ditambah menjadi 70 menit. Sejak tahun 1986 memancarkan setiap pagi dan malam hari, masing-masing selama 50 menit. Mulai akhir bulan Oktober 1996 mengudara sebanyak tiga kali, keseluruhannya mencakup 100 menit siaran, dengan menyajikan Warta Berita, Laporan dan Komentar, latar belakang peristiwa, wawancara, diskusi, obrolan, puisi, sayembara, dan musik. Informasi, Opini, dan Dialog merupakan tugas utama kewartawanan yang diemban.
Hanya mereka yang mencari informasi dari berbagai sumber dan menyadari adanya berbagai pendapat yang saling berbeda akan dapat membentuk pandangannya sendiri. Hanya mereka yang mengemukakan opininya dapat memulai suatu dialog. Melalui tiga kali siaran yang dipancarkan setiap hari lewat gelombang pendek dan satelit, SJDW hendak memberikan sumbangannya ke arah itu. Aktual, kritis, obyektif, berimbang, internasional. Keterangan foto : Upacara peresmian Siaran Bahasa Indonesia dihadiri oleh, antara lain : Kepala Redaksi Asia, Dr Fritz van Briessen, Direktur Jendral DW, Dr Hans-Otto Wesemann.
Sayembara Bulanan
Acara sayembara adalah salah satu daya tarik yang dimiliki oleh SJDW. Dalam siaran pertama, dengan hadiah radio transistor dan 10 buku, langsung mendapat tanggapan berupa 5.000 surat pendengar. Selain itu, sesekali SJDW mengadakan sayembara tahunan, dengan hadiah pesawat radio. Hanya saja, untuk tahun ini tidak diadakan Sayembara Tahunan Redaksi Asia. Ini diputuskan karena dalam memperingati Kemerdekaan ke-50, Redaksi-redaksi India, Pakistan, dan Bangladesh mengadakan Sayembara Khusus, yang waktunya tidak berselisih jauh dengan Sayembara Tahunan Redaksi Asia.
Sebagai gantinya, Redaksi Indonesia SJDW akan bekerja sama dengan empat stasiun radio di Indonesia, masing-masing di Medan, Bandung dengan Radio Mara, Surabaya dengan Suara Surabaya, Ujung Pandang dengan Radio Bharata, Jakarta dengan FM Tri, untuk mengadakan suatu sayembara. Keterangan lebih lanjut, dapat dibaca di rubrik Aneka Informasi dan Sayembara.
Acara Khusus dari Redaksi Indonesia
Dalam waktu mendatang, Redaksi Indonesia akan menyiarkan suatu acara yang khusus mengetengahkan filateli. Hal ini untuk menanggapi permintaan untuk mendengar suara pengasuh Surat Pendengar, dan ketertarikan pendengar pada dunia filateli. Dalam siaran itu, akan diceritakan bagaimana perangko dan amplopnya surat-surat pendengar selama ini membantu orang-orang cacat di sebuah kota di Jerman.
Untuk itu, Redaksi Indonesia juga menyediakan 300 perangko terbitan khusus. Perangko tersebut akan dibagikan kepada kepada pendengar yang mengirimkan kartu pos atau surat selama persediaan masih ada. Untuk mendapatkan informasi mengenai kata-kata apa yang harus ditulis pada kartu pos, silakan mendengarkan acara filateli.
Melihat tingginya minat akan acara Opini Anda, sebelum akhir tahun ini, Redaksi Indonesia akan sekali lagi menawarkan tema untuk acara tersebut. Dengan harapan, hal ini akan disambut baik oleh pendengar. Dalam kesempatan ini pula, pengurus beserta anggota Indonesian DX Club, dan Redaksi Dirgantara mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-34 Suara Jerman Siaran Bahasa Indonesia. Semoga panjang umur, setia memberikan informasi, mau mengudarakan opini, serta bersedia mengadakan dialog. (Berbagai sumber/HSB)