Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 7 No 5 Sep-Okt 1997
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Salam Kutoarjo
Uji Coba Radio
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sejarah Radio
Bengkel DXer
Komunikasi
Amateur Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 7
  Sapa Redaksi

Sejak manusia dilahirkan, masalah ekonomi sudah mulai dihadapinya, walaupun secara sederhana. Apalagi saat beranjak dewasa, masalah ekonomi semakin bertambah. Ekonomi dalam konteks yang paling sederhana adalah masalah pemenuhan kebutuhan hidup. Semakin majunya peradaban manusia, kebutuhan hidup mempunyai arti yang sangat luas, meliputi makan, minum, sandang, pangan, papan, hiburan, bahkan spekulasi. Di tengah gemuruhnya laju ekonomi yang makin pesat, sekonyong-konyong datang badai menghempas perekonomian negara kita, yang merupakan imbasan resesi ekonomi negara tetangga ASEAN.

Bagi pemerintah maupun dunia usaha, hal ini merupakan pukulan yang sangat telak, dan untuk mengembalikan pada kondisi semula. Menurut pakar ekonomi diperlukan waktu dua sampai tiga tahun. Gejolak mata uang Rupiah terhadap US Dollar sangat mencengangkan di luar perhitungan para analis keuangan, karena dalam tempo dua minggu, nilai Rupiah sudah terdevaluasi sebesar 30%, yang boleh dikatakan bahwa daya beli masyarakat menurun sekitar 30%, atau setiap orang yang berpenghasilan tetap akan mengalami kerugian sebesar 30% dari penerimaan yang selama ini diterimanya.

Bagi redaksi sendiri, dampaknya jelas ada, karena biaya produksinya jelas bertambah, walaupun sampai di penghujung tahun 1997 ini masih tetap tidak berubah, dengan harga iuran yang lama. Sebenarnya, penyesuaian harga oleh redaksi sudah dipikirkan jauh-jauh hari, dan sudah ditetapkan waktunya yaitu awal tahun 1998, cuma berapa nilainya masih terus dikalkulasi, sebab perhitungan adalah bila jumlah anggota tertentu tercapai, biaya produksi telah tertutupi seluruhnya atau impas.

Berhubung depresiasi datangnya lebih duluan dibandingkan dengan kalkulasi di atas kertas, maka redaksi memberi angka kira-kiranya sekitar 20% dari harga iuran sekarang per bulan. Memang, jelas tidak enak, tapi redaksi mohon pengertian semua anggota, bahwa pilihan ini adalah pilihan terbaik diantara alternatif terjelek yang ada. Dan yang pasti ada pembaharuan, jumlah halaman akan ditambah, dan rubriknya juga ditambah, serta waktunya perubahan harga iuran masih ada waktu yang cukup lama. Jadi masih ada waktu untuk mengkaji ulang rencana tersebut.

Redaksi menunggu gagasan, saran, maupun kritik dari semua pembaca sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan nilai rupiah sebenarnya. Dan perlu diketahui oleh anggota yang berada di pulan Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi, yang masih tertutup oleh kabut asap, jangan heran bila Dirgantara datangnya sangat terlambat, karena redaksi mendapat informasi bahwa surat kilat khusus ke daerah tersebut bisa mencapai dua minggu. Padahal dalam keadaan normal, hanya perlu dua hari saja. Jadi bisa Anda perhitungkan sendiri kalau Dirgantara dikirim via pos bisa perlu berapa hari ?

Walaupun telah disuguhi oleh menu yang tidak mengenakkan dari redaksi, kami semua tetap punya komitmen, bahwa pengelolaan Dirgantara akan terus ditingkatkan, dan peran serta anggota masih dinantikan, jangan segan-segan kirim surat ke redaksi, dengan alamat baru, yaitu P.O. Box 2380 JKP, Jakarta 10023, karena perlu dicatat oleh seluruh anggota, bahwa Dirgantara ada karena kehendak dari anggota saja. Dan anggota menjatuhkan pilihan kepada Dirgantara tidak akan sia-sia, sebab hanya Dirgantara yang memberi nilai lebih dan sebanding dengan uang yang dikeluarkan dari koceknya masing-masing.

Dan yang jelas, setiap partisipasi anggota akan redaksi file dengan rapi, serta surat-surat yang masuk akan kami undi untuk mendapatkan souvenir koleksi redaksi. Jadi semua jerih payah anggota tidak ada yang tidak berharga, oke ?! Kami semua di redaksi juga tidak lupa mengucapkan Selamat Ulang Tahun buat RRI, semoga tetap jaya, Sekali di Udara Tetap di Udara, dan Suara Jerman DW merupakan jembatan antar bangsa dalam menjalin perdamaian. Dan, pada edisi ini, tidak akan melewatkan peristiwa penting itu, maka simaklah rubrik Laporan dan Berita. (DBR)

Surat dari Ibukota

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat ibukota didatangi oleh para pecandu sepak bola dari berbagai penjuru tanah air untuk menyaksikan kesebelasan kesayangannya berlaga di Stadion Utama Senayan. Tapi ada sisi negatif yang kurang bisa diterima oleh masyarakat ibukota, yaitu dampak yang ditimbulkan oleh sebagian pendukung kesebelasan yang membuat keonaran dan membuat rasa takut masyarakat untuk bepergian. Ini disebabkan oleh bekal yang dibawa sangat minim, sehingga untuk bertahan hidup beberapa hari di ibukota sangat tidak memungkinkan. Akhirnya, jalan kriminalitas yang ditempuh.

Sebenarnya, langkah yang diambil redaksi saat ini tak beda jauh dengan pecandu sepak bola yang cuma modal nekat, tapi modal kepercayaan yang dipikul pada setiap pribadi, dan kami jelas tidak akan membuat rasa wa-was anggota. Hal ini dibuktikan dengan terus meluncurnya Dirgantara edisi demi edisi, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan. Yang jelas pasti adalah titik-titik harapan kelangsungan Dirgantara sudah mulai menampakkan hasilnya.

Yaitu semakin banyaknya surat tanda simpati yang masuk, kembalinya anggota lama, serta tambahan anggota baru. Ini membuktikan dan sekaligus membanggakan bagi semua yang terlibat, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, marilah kita galang persatuan dan saling mengingatkan bila ada masalah, sebab iklim keterbukaan yang kita ikrarkan bersama benar-benar terwujud, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kita semua.

Yang jelas, fenomena bonek tidak selamanya negatif, justru akan memacu kita semua untuk tampil dan berperan lebih aktif lagi. Itulah kabar berita dari ibukota, yang setiap hari makin bertambah panas dan sibuk, menyongsong pesta olah raga Sea Games yang sarat dengan harapan dan menjunjung tinggi sportivitas demi mengharumkan nama bangsa tercinta. (DBR)

 
Dirgantara Online - Vol 7 No 5 Sep-Okt 1997
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space