Sejarah Radio
Sejarah Radio di Amerika Serikat
Beberapa tahun setelah Dane, James Maxwell, Heinrich Hertz, Guglimo Marconi menemukan prinsip prinsip sederhana mengenai gelombang elektromagnetik, ahli-ahli di berbagai negara terus mengembangkannya. Tahun 1906, di Amerika Serikat, Dr. Lee de Forest memperkenalkan lampu vakumnya (vacuum tube), yang memungkinkan suara dapat disiarkan (Edwin Emery, et al, Introduction to Mass Communication, halaman 225).
Sedangkan menurut William Albig, David Sarnoff-lah yang mula-mula memperkenalkan radio siaran (broadcasting) pada tahun 1915. Melalui stasiun radio milik Dr. Lee de Forest pula, buletin mengenai Kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat, antara Woddrow Wilson dan Hughes telah disiarkan ke masyarakat, meskipun belum memperoleh sambutan. Atas usahanya ini, Dr. Lee de Forest dijuluki "the father of radio" karena kepeloporannya di bidang radio. Perkembangan dunia radio menjadi terhambat karena pecah Perang Dunia I.
Akibatnya, hampir semua peralatan radio diperlukan untuk kepentingan perang. Bahkan sampai tahun 1919, terdapat larangan bagi siapapun juga untuk mengusahakan radio siaran. Dr. Lee de Forest jugalah yang mula-mula menyiarkan berita radio. Eksperimen serupa dilakukan oleh Dr. Frank Conrad, seorang ahli yang bekerja pada Westing House Company di Pittsburg, Amerika Serikat, tetapi dalam bidang musik.
Perusahaan-perusahaan lain pun mengikuti jejaknya, terutama General Electric dan American Telephone and Telegraph, yang selanjutnya mendirikan Persatuan Radio Corporation of America, dipimpin David Scarnoff. Masyarakat Amerika Serikat telah dapat menikmati radio siaran secara teratur dengan berbagai programnya sejak tahun 1920.
Pemilihan Umum untuk memilih presiden antara Warren G. Harding dan Cox (Harding Cox Presidential Election) disiarkan oleh Stasiun Radio KDKA, yang kemudian dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara meluas dan teratur kepada masyarakat. Sejak saat itu, radio mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tahun 1922, hanya ada 30 stasiun radio, bulan Maret 1923 menjadi 566 buah. Pada tahun 1926, National Broadcasting Company berdiri sebagai radio siaran yang besar dan luas.
Disusul Columbia Broadcasting System (CBS), Mutual Broadcasting System (MBS), yang merupakan jaringan radio siaran (network), gabungan dari badan-badan radio siaran yang kecil. Usaha ini diikuti pula dalam peningkatan teknologinya, yakni dengan diperkenalkannya sistem Frequency Modulation (FM), sebagai penyempurnaan sistem sebelumnya, yakni AM (Amplitude Modulation) oleh Profesor E.H. Amstrong dari Columbia University pada tahun 1933.
Penemuan ini sangat menguntungkan, karena :
a. Dapat menghilangkan interferensi atau gangguan yang disebabkan cuaca, bintik-bintik matahari, atau alat-alat listrik
b. Dapat menghilangkan interferensi yang disebabkan dua stasiun yang bekerja pada gelombang yang sama
c. Dapat memperoleh suara sebaik-baiknya bagi telinga manusia yang sensitif
Sebagai negara yang menang perang dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat tidak mengalami gangguan yang berarti di bidang pengembangan radio siaran. Bahkan kini mempunyai badan-badan yang berada di luar negaranya sendiri.
Propaganda Radio di Amerika Serikat
Sehabis Perang Dunia I, Jerman mengadakan kegiatan propaganda melalui radio di Eropa, demikian juga Jepang di kawasan Asia. Hal ini mendorong Amerika untuk mengadakan kegiatan serupa, dengan mendirikan "Office of War Information" (OWI) pada tahun 1942, yang merupakan usaha pertama dalam propaganda internasional. Di bawah OWI pulalah, Voice of America (VOA) lahir dan diudarakan melalui sebelas stasiun gelombang pendek.
Diikuti pendirian kantor-kantor penerangan sebanyak mungkin di semua negara yang dikenal dengan nama United States Information Service (USIS). Di samping itu, didirikan pula United States Information Agency (USIA), melakukan kegiatan dengan mengkoordinasikan penerangan melalui berbagai media. Dalam melakukan kegiatan ini, Amerika tidak memakai istilah propaganda, melainkan "informasi", tetapi hakikatnya adalah propaganda juga.
Seperti dikemukakan oleh L. John Martin dalam bukunya "International Propaganda" : The United States is also involved in the international propaganda. Suara Amerika terus melakukan kegiatannya, meskipun perang telah usai, dan bahkan semakin memperluas kegiatannya. Tahun 1969 misalnya, VOA mempergunakan 38 buah lebih pemancarnya di Amerika dan 54 pemancar di luar Amerika, dengan output seluruhnya 15 juta watt, dengan jam siarnya setiap minggu 850 jam, dan disiarkan dalam 37 bahasa.
Sampai tahun 1990, pemancar yang digunakan VOA tercatat 26 buah Domestic Broadcasting Transmitters beroperasi di Delano, California; Greenville, North Carolina; dan Bethany, Ohio. Serta 79 pemancar di luar Amerika (Overseas Broadcasting Transmitters), yang berlokasi di Antigua, Belize, Botswana, England, Germany, Greece, Liberia dan Morocco, Philippines, Quesada, Sri Lanka, dan Thailand.
Siaran langsung setiap minggunya adalah 1200 jam, bandingkan dengan Uni Soviet 1787 jam sebelum menjadi CIS, Cina 1444 jam, VOFC 1149 jam, Jerman 843 jam, serta Inggris Raya 757 jam. Ditambah dengan VOA Radio Marti, yang khusus ditujukan ke Kuba dalam bahasa Spanyol, dengan siaran langsung 168 jam setiap minggunya, dengan studionya di Washington, D.C. sebanyak dua buah, dan sebuah domestic transmitter yang berlokasi di Marathon, Florida.
Sekarang, VOA menyiarkan lebih dari 1200 jam seminggu melalui 109 pemancar berkekuatan 26 juta watt, dan menjangkau kira-kira 130 juta pendengar di lima benua. Selain itu, VOA mengirim berbagai mata acara dalam 39 bahasa sebanyak 1400 jam setiap minggu melalui satelit, langsung ke stasiun-stasiun radio di seluruh dunia, untuk disiarkan pada waktu bersamaan atau kemudian.
VOA juga mengirimkan bahan-bahan siaran melalui telepon, dan dalam kaset ke stasiun-stasiun radio di berbagai negara, termasuk Indonesia untuk disiarkan kembali. Selain itu, VOA sebelum usai perang dingin, juga melakukan propagandanya melalui Radio Free Europe - Radio Liberty, dan Radio in the America sectors, dengan siaran khususnya yang ditujukan pada para pendengarnya di kawasan negara-negara yang menganut sistem komunis.
Radio Free Europe / Radio Liberty, Inc., yang bekedudukan di Munich, Jerman Barat (sekarang Jerman) dan melalui pemancarnya di Spanyol dan Portugal menujukan propagandanya ke negara Afganistan, Bulgaria, Cekoslowakia, Hungaria, Polandia, Rumania, dan USSR menggunakan bahasa Rusia dan bahasa-bahasa kelompok etnis yang ada di kawasan tersebut, antara lain bahasa Ukraina, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Georgia, Tatar Bashkir, Kazak, dan sebagainya.
Setelah Radio Liberty tak lagi mengudara, kini mengalihkan perhatiannya ke kawasan Asia, mengudarakan misinya dengan nama Radio Free Asia (baca Dirgantara 7 (3) Mei-Juni 1997, halaman 31).
Lebih Jauh dengan Suara Amerika
Kepentingan jangka panjang Amerika Serikat dipenuhi dengan jalan berkomunikasi secara langsung melalui radio dengan penduduk dunia. Untuk melaksanakan tugasnya dengan efektif, Suara Amerika selaku Dinas Siaran Radio, Badan Penerangan Amerika Serikat harus dapat memikat dan dihormati oleh para pendengarnya. Untuk keperluan ini, azas Suara Amerika pada tanggal 12 Juli 1976 ditandatangani menjadi Undang-undang oleh Presiden Gerald Ford.
Azas-azas tersebut adalah :
1. Suara Amerika merupakan sumber berita yang dapat diandalkan dan terpercaya, berita-beritanya akurat, obyektif, dan lengkap
2. Suara Amerika mewakili Amerika Serikat, bukan satu golongan masyarakat, dan lembaga-lembaga penting Amerika secara berimbang dan lengkap
3. Suara Amerika akan mengemukakan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat secara efektif dan lengkap, serta menyajikan suatu diskusi dan pandangan secara berbobot mengenai kebijakan tersebut
Selaku radio pemerintah, Suara Amerika dipercaya memperkenalkan sejarah kehidupan bangsa Amerika ke seluruh dunia. Suara Amerika untuk pertama kali berada di udara selama berkecamuk Perang Dunia II, tepatnya 24 Februari 1942, dan berfungsi sebagai sarana penerangan bagi dunia. Siaran pertama yang diudarakan adalah dalam bahasa Jerman.
Pada waktu itu, Suara Amerika berjanji kepada para pendengarnya di seluruh dunia, dengan mengatakan, "Berita yang akan kami siarkan mungkin lebih baik, dan mungkin pula kurang menyenangkan, tetapi Suara Amerika akan selalu memberitakan kebenaran."
Tetapi setelah itu, radio tersebut melalui berbagai bahasa mendatangi para pendengarnya di seluruh dunia untuk memperkenalkan bangsa Amerika pada dunia, tentang cara hidup dan kerja, tata pemerintahan, peranan Amerika Serikat di dunia dalam memelihara perdamaian, dan memajukan tingkat hidup bangsa-bangsa di planet ini.
Sejarah Suara Amerika Siaran Bahasa Indonesia
Siaran bahasa Indonesia Suara Amerika, waktu itu masih disebut seksi bahasa Melayu. Pertama kali berkumandang di udara pada bulan Mei 1943, dikepalai oleh Dr Vernon Hendershot, kini almarhum. Dengan 6 orang penyiar, diantaranya adalah Pamudjo, seorang warga Amerika Serikat yang menjadi Konsul Kehormatan untuk Indonesia, sesaat setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Penyiar yang lainnya adalah Mansaruddin Bogok, Eddy Koestoer, Machmud Raksa Permana, Eddy Tirajoh, William W. Siwy almarhum. Siaran-siaran ke Indonesia pada waktu itu dalam bahasa Jawa dan Melayu, sebagian besar berupa warta berita dan penjelasan mengenai penyerbuan pasukan Jepang di kawasan Asia Pasifik, juga ulasan-ulasan yang dimaksudkan untuk mendorong semangat juang rakyat Indonesia, dalam masa pendudukan Jepang.
Pada permulaan, siaran dalam Jawa dan Melayu itu berlangsung hanya setengah jam, akan tetapi ketika pasukan Amerika bertambah kuat di kawasan Asia Pasifik, staf penyiar dan jam siaran ditambah. Kemudian, seksi bahasa Melayu diganti menjadi seksi bahasa Indonesia, inau gurasi ditetapkan tanggal 12 Agustus 1943.
Dalam bulan Agustus 1946, Suara Amerika, termasuk Seksi Bahasa Indonesia, yang dipancarkan dari San Francisco, California, bagian barat Amerika Serikat, pindah ke New York, dan Suara Amerika menjadi bagian dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Ketika itu, James Mysburg diangkat menjadi Kepala Seksi Indonesia, yang kemudian digantikan oleh John A. Nalley.
Hingga kini menetap di Washington sejak tahun 1954. Kepala Seksi Indonesia waktu itu adalah Dr. Verrnon Hendershot, yang kemudian digantikan oleh Yoshio Sakaue, kemudian digantikan oleh J. Brooks Spector. Kini, Kepala Seksi Indonesia dijabat oleh George F. Grow, dengan Kepala Urusan Luar Odjahan Siahaan dan Produser Patricia Davis. (Bersambung)