Tinjauan Pustaka
Transmitter Documentation Project (TDP) SW-97
Edisi : ke-4
Penyusun : Ludo Maes
Penerbit : Ludo Maes
Tebal : 80 halaman
Di kala ber-DX, kadang kita dibuat kesal oleh sinyal yang timbul tenggelam, atau gangguan dari stasiun lainnya. Mungkin Anda pun dibuat bertanya, berapa sih daya pancar stasiun tersebut ? Saya yakin, pertanyaan semacam itu selalu muncul pada DXer atau pemburu kartu QSL. Kini Anda tak perlu repot-repot untuk tahu soal itu.
Ludo Maes, seorang DXer dari Belgia, kini meluncurkan buku pedoman yang diberi judul TDP SW-97, Transmitter Documentation Project, buku pedoman yang pantas untuk Anda punyai. Dengan TDP SW, Anda akan dengan mudah mengetahui daya pancar stasiun yang Anda inginkan. Juga lokasi yang ditunjukkan dalam koordinat geografi. Ini akan memudahkan kita dalam menentukan azimuth.
Anda juga diajak mengenal pabrikan pemancar dunia, baik yang sudah berganti nama ataupun yang belum. Edisi ke-4 tahun 1997, TDP SW yang makin tebal dari tahun ke tahun menyajikan daftar pemancar dari 192 negara. Tahukah Anda, ada berapa pemancar berkekuatan 500 kW di dunia ini ? Ada berapa kiloWatt jumlah pemancar, bila digabung, di dunia ini ? Dengan TDP SW 97, Anda bisa mengetahuinya.
Bila Anda berminat, silakan menghubungi Ludo Maes, P.O. Box 2310 Rijkevorsel, Belgium, atau bisa pesan ke Indonesian DX Club, P.O. Box 50 Kutoarjo 54201. Harga per eksemplar USD 10 atau 10 IRC, belum termasuk ongkos kirim ke Belgia. Tambahkan ongkos kirim Rp 5000 atau 4 IRC. (ASB)
Sosok
Kembalinya Sahabat yang Hilang
Perjalanan sang waktu kadang membuat orang lupa akan tali silaturahmi yang pernah terjalin, ini pun saya alami. Sekitar tahun 1982, sebagai seorang pendengar radio gelombang pendek, tentunya ingin menjalin persahabatan dengan pendengar lain dari negeri jiran. Dikandung maksud agar bisa saling tukar pengalaman mengenai seluk-beluk dunia keradioan, suka duka dan bagaimana kiat menjadi seorang pendengar yang baik. Silaturahmi ini terputus lebih dari 10 tahun karena kesibukan masing-masing.
Adalah Wan Mokhtar Ramlee, salah seorang sahabat saya. Saya temukan kembali melalui Radio Singapura Internasional, yakni setelah beliau menjadi pendiri Klub Dengar RSI, dan menerbitkan Arena GP sebagai media komunikasi. Sementara, saya sendiri mengasuh IDXC dengan Dirgantara-nya. Setahun setelah itu, kami saling menyurat, kemudian menjelang Pemilu yang lalu, saya dikejutkan, setelah menerima telepon. Saya pikir, dia masih berada di Alor Setar, ternyata dia berada di Indonesia, kemudian janji untuk bertemu.
Dalam perbincangannya, ia banyak bercerita tentang kegemarannya mendengarkan radio. "Ini berarti saya telah berjaya dengar dengan sah (yang boleh dibuktikan dengan nyata) 62 stasiun radio gelombang pendek di 50 negara di dunia. Ini bukan suatu pencapaian besar, karena bila mana mengingati lebih 125 pertubuhan pertubuhan penyiaran di sekitar 100 buah negara memancarkan siarannya." Satu hal yang pasti, ia sangat bangga selama berada di Jakarta, ia berhasil memantau beberapa stasiun radio, baik di jalur AM maupun FM. Perbincangan selanjutnya dalam edisi yang akan datang. (HSB)