Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 7 No 3 Mei-Jun 1997
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Amateur Radio
Opini
Profil Stasiun
Asal Tau Aja...
Salam Kutoarjo
Redaksi

Volume 7
  Profil Stasiun
Flevo, Penyalur Komunikasi Gelombang Pendek

Pada tahun 1927, Belanda merupakan salah satu negara pertama di dunia yang menyadari betapa besar kemampuan yang dimiliki media siaran gelombang pendek. Percobaan-percobaan yang dilakukan Pemancar PCJ di Eindhoven cukup meyakinkan, sehingga wajar diadakan suatu investasi besar di kemudian hari. Akan tetapi, wajah gelombang pendek sudah tentu telah banyak berubah selama 70 tahun terakhir ini.

Untuk mempertahankan dan menyempurnakan arus informasi dari penyiar kepada pendengar, maka teknologi harus pula menyesuaikan diri. Dewasa ini merupakan sesuatu yang biasa apabila kita membaca di dalam majalah siaran radio, atau majalah pendengar gelombang pendek, bahwa suatu pemancar gelombang pendek yang baru muncul meramaikan angkasa. Namun demikian, langkah Radio Nederland memiliki aspek yang agak luar biasa.

Perkembangan Siaran Gelombang Pendek Belanda

Sebuah pemancar gelombang pendek tidak dapat didirikan di sembarang tempat. Soalnya bukan hanya terletak pada ketinggian antena, yang paling sedikit harus 120 meter, tetapi antena tersebut harus dapat memancarkan gumpalan energi ke udara. Untuk menemukan suatu tempat yang baik dan terpisah dari dunia luar, di negara kecil seperti Belanda, dengan penduduk lebih dari 15 juta orang, bukan suatu tugas yang mudah.

Pada tahun 1937, bangsa Belanda membuat sejarah siaran radio, ketika mereka membangun suatu antena gelombang pendek terarah, yang dapat berputar dari kayu. Antena tersebut berada di suatu tempat yang disebut Huizen, beberapa km sebelah timur laut dari studio-studio yang ada di Hilversum. Konstruksi bangunan ini dapat berputar, sehingga mampu mengarahkan antena ke berbagai jurusan. Dewasa ini, suatu inskripsi di sebuah bangunan apartemen bernama "Flat PHPOHI" menandakan tempat di mana antena itu pernah berdiri.

Pada tahun 1950, siaran gelombang pendek Belanda pindah ke pedalaman negeri itu, ke desa Lopik, di Propinsi Utrech. Tempat tersebut dipandang mampu menampung perluasan di kemudian hari. Tetapi, ternyata tidak demikian halnya. Fasilitas Lopik makin lama makin menjadi usang dan meningkat usianya. Usaha mencari tempat baru dilakukan untuk mendirikan pemancar-pemancar gelombang pendek. Sebenarnya, keputusannya adalah membangun dalam jarak beberapa km saja dari tempat berdirinya antena lama di Huizen.

Empat buah pemancar, masing-masing berkekuatan 500 kW dipesan, ditambah sebuah pemancar cadangan berkekuatan 100 kW. Dengan demikian, muncullah sebuah pusat pemancar yang baru. Tetapi juga tanah tempat pemancar-pemancar itu berdiri adalah baru. Tanggal 23 Mei 1932 merupakan hari lahirnya sebuah danau baru di Belanda. Luas danau tersebut 1.200 kilometer persegi. Dengan selesainya bendungan "Afsluidijk", sebuah bendungan yang 30 kilometer panjangnya, berarti sebagian Zuiderzee tertutup untuk Laut Utara yang buas itu.

Danau itu diberi nama Danau Ijssel. Rencana tidak berhenti di situ saja. Rencana pengeringan sebagian Danau Ijssel secara besar-besaran dimulai untuk mendapatkan tanah baru dari lautan. Tanah terluas dinamakan Flevoland. Tanah ini mengalami pemompaan sampai kering dalam dua tahap, antara tahun 1950 dan 1968. Dewasa ini, sudah merupakan daerah pertanian yang subur dan di atasnya berdiri pusat penyiaran radio gelombang pendek. Pusat penyiaran Flevo yang baru milik Radio Nederland Wereldoemroep boleh dikatakan merupakan proyek besar.

Untuk mencapai ketepatgunaan, maka siaran gelombang pendek memerlukan antena terarah yang tepat guna. Ini berarti bahwa untuk band gelombang pendek yang lebih rendah, seperti misalnya 49 meter, diperlukan bangunan yang lebih besar. Karena Flevo terletak empat meter di bawah permukaan air, maka permukaan air sangat tinggi, dan tanahnya pun lembek. Teknik-teknik baru harus ditemukan untuk memancang antena secara kokoh, karena polder yang datar mudah digerogoti keganasan cuaca musim dingin.

Di Udara

Flevo dilengkapi dengan beberapa buah antena, yang disebut "Omni directional", mampu mengarah ke segala jurusan. Antena ini melayani beberapa daerah sasaran tertentu, yang dekat di Eropa. Antena-antena ini memancarkan energi ke segala jurusan. Tetapi, masa pelayanan pendengar ke seluruh dunia dengan frekuensi tunggal sudah lewat. Sekarang, antena-antena terarah lebih penting, khususnya bila harus melayani daerah-daerah sasaran yang jauh letaknya.

Dengan demikian, antena-antena ini mengkonsentrasikan energi dalam suatu gumpalan atau ikatan yang secara relatif kecil dan ramping. Dengan cara ini, sinyal yang dipancarkan ke daerah sasaran tertentu menjadi lebih kuat. Bukan itu saja, tetapi interferensi (gangguan) pemancar pemancar lain dapat dibatasi sampai sekecil kecilnya. Ini berarti pula, kepadatan pada spektrum gelombang pendek berhasil dikurangi. Arah yang tepat sebuah antena, juga terutama bergantung pada orientasi fisiknya di darat.

Bentuk "bintang" dari kawasan antena di Flevo mempunyai arti bahwa segala jurusan mata angin, antara 50 dan 290 derajat, dapat dijangkau. Begitu pula, arah gelombang beberapa antena dapat diubah secara listrik. Bila sebuah antena secara normal mengarahkan gelombangnya ke arah timur, sama dengan 90 derajat, hal itu dapat disesuaikan pula, agar bekerja dengan 60, 75, 105, dan 120 derajat. Perubahan yang melebihi ini akan berakibat hilangnya energi ke jurusan yang tak dikehendaki.

Tidak ada sebuah antena yang 100% tepat guna. Misalnya, energi gelombang yang diarahkan ke suatu jurusan tertentu, beberapa sinyal juga akan mengarah ke jurusan yang sebaliknya. Ini disebut radiasi balik. Misalnya, kira-kira 500 kiloWatt dipancarkan ke suatu jurusan, namun kira-kira 50 kiloWatt terpancar kembali ke jurusan sebaliknya. Radiasi balik ini dapat dikurangi seminimal mungkin oleh peralatan di Flevo.

Sehingga hanya kira-kira 5 kiloWatt terpancar ke jurusan yang tidak dikehendaki. Dengan demikian, segala sesuatu telah dilakukan agar menjamin bahwa energi tidak terbuang percuma. Flevo mungkin merupakan pemancar gelombang pendek pertama di dunia yang telah melakukan pengukuran diagram antena yang intensif dari udara, sebelum kawasan pemancar itu beroperasi.

Di Darat

Desain pemancar juga mencakup beberapa konsep baru. Semenjak lahirnya gelombang pendek, sebuah sistem yang dikenal dengan Amplitude Modulation (AM) telah dipakai untuk mengirim sinyal dari pemancar ke penerima. Sinyal AM ini mencakup dua komponen :

1. Carrier = pembawa, yang menempatkan sinyal pada suatu bagian tertentu dari papan jarum gelombang pendek, dan oleh pesawat penerima gelombang pendek, yang diperlukan sebagai semacam "titik referensi".
2. Modulasi, yang sebenarnya merupakan siaran kata dan siaran musik yang disiarkan oleh si penyiar.

Biasanya, 50% energi pemancar tercurah kepada bagian carrier dari pada sinyal, yang tak mengandung informasi program bagi si pendengar. Biasanya pula, si pendengar untuk memuaskan diri kemudian membeli tipe pesawat radio yang baru. Ini tidak praktis. Desain pemancar yang baru memberi kemungkinan dipakainya suatu bentuk yang lebih tepat guna daripada AM. Ini disebut Dynamic Amplitude Modulation (DAM). Dengan teknik DAM, daya carrier disesuaikan dengan daya modulasi.

Pada waktu musik bersuara keras, daya carrier naik, tetapi bila mana musik menjadi pelan, daya carrier turun. Hal ini terjadi secara elektronis, dan ini berarti penghematan energi sekitar 25% atau lebih. Pemancar pemancar didinginkan baik dengan air maupun udara. Tiga ratus liter air setiap menit mengalir di tiap pemancar, dan udara panas yang kelebihan dipakai untuk memanaskan gedung. Teknologi komputer pun dipakai secara maksimal.

Jadwal program dan frekuensi dimasukkan sebuah terminal komputer di Radio Nederland Wereldoemroep, sehingga memungkinkan memonitor apa yang terjadi kira-kira sejauh 16 kilometer. Selain Flevo, Radio Nederland juga mempergunakan beberapa pemancar ulang, antara lain di pulau Madagaskar, yang lain di pulau Bonaire di Antilia Belanda. Pusat pemancar ulang di pulau Bonaire diresmikan tahun 1969, memiliki dua pemancar gelombang pendek, masing-masing berkekuatan 300 kW, 21 antena satu arah, dan sebuah antena multi arah.

Pemancar ulang ini ditujukan bagi kawasan Amerika Utara dan Selatan, Afrika Barat, Australia, dan Selandia Baru. Setelah 20 tahun, sebuah pemancar baru berkapasitas 259 kW melengkapi pusat pemancar ini. Pemancar lama yang berkekuatan 300 kW berfungsi sebagai cadangan. Sedangkan pemancar ulang kedua di Madagaskar diresmikan pada tahun 1972, memiliki dua pemancar berkapasitas 300 kW dan 18 antena. Pemancar ulang ini melayani Afrika, Asia, dan Australia Barat.

Selain Flevoland, yang beroperasi sejak 10 tahun silam dengan teknologi paling canggih, pemancar ulang Madagaskar memancarkan siaran untuk Asia, serta Bonaire untuk melayani pendengar benua Amerika. Kini Radio Nederland juga mempergunakan beberapa pemancar ulang tambahan yang terletak di Rusia bagian Asia, antara lain : Alma Ata, Irkutsk, Petropavlovsk Kamchatskiy, Tashkent, Nauen dan Wertachtal, dua yang terakhir ini juga dipergunakan oleh Suara Jerman. Hal ini disebabkan rencana untuk mendirikan pusat pemancar baru di Thailand bekerja sama dengan BBC oleh pemerintah Belanda tidak disediakan dana. (RNW/HSB)

Radio Free Asia Mengudara

Radio Free Asia (RFA) didirikan pada musim semi 1996 dengan anggaran belanja 10 juta Dolar AS setiap tahun. Kongres AS sebagai mitra Radio Free Europe yang anti komunis. Siarannya yang ditujukan ke wilayah Cina, Tibet, Birma, Vietnam, Korea, Khmer, Laos, dan Myanmar. Memulai siarannya dalam bahasa Mandarin pada tanggal 29 September 1996, menambahkan dalam bahasa Tibet pada awal Desember 1996. Siaran bahasa Vietnam dimulai pada malam Tahun Baru Vietnam (Tet), mengudara ke Myanmar pada 4 Februari 1997, dan Vietnam 6 Februari 1997.

Stasiun radio ini akan memperluas siarannya ke Kamboja, Laos, dan Korea Utara akhir tahun ini. Radio ini oleh rekan Aries Subagyo sempat terpantau, pada frekuensi 6240 kHz, 14.00-16.00 UTC, yakni dalam bahasa Vietnam dan Myanmar, hanya sampai saat ini tak terpantau lagi karena terkena jamming (baca Bursa DX). Asia menganggap bahwa siaran radio itu sebagai propaganda dan sekaligus pelanggaran atas kedaulatan negara lain.

Siaran tersebut juga membuat pihak Beijing marah, yang menyebut RFA sebagai "propaganda perang dingin", dengan menuduh siaran radio itu mengaburkan kebenaran, sedangkan Hanoi juga mengecam, dengan menuduh AS berupaya mengganggu stabilitas negara-negara di Asia. Siaran RFA ke Yangon diperkirakan akan mengganggu penguasa militer negara itu. Washington mengkritik rezim Yangon, dalam hal ini Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara (SLORC), karena menindas keras protes anti pemerintah oleh mahasiswa Myanmar, dan perlakuan terhadap pemimpin oposisi negeri itu, Aung San Suu Kyi.

Siaran dalam bahasa Myanmar dimulai dengan program pati selama setengah jam, dan menyiarkan kembali selama dua kali dalam sore hari. "Berita dan ulasan akan memfokuskan masalah Myanmar dan perkembangan kawasan yang berkaitan dengan masalah itu," kata RFA dalam pernyataan tertulisnya. Selain berita politik, ekonomi, sosial, program tersebut akan disertai dengan karangan khas, ulasan tentang hak asasi manusia, masalah wanita, dan lingkungan hidup.

"RFA akan mengikuti standar obyektivitas dan kejujuran dan mutu paling ketat, dengan menghindari polemik, propaganda, keberpihakan, dan kecaman terhadap seseorang, pemerintah, atau negara," kata pernyataan itu. Alamat : Radio Free Asia, 2025 M. Street N.W., Washington, D.C. 20036, Amerika Serikat. (Pelita, berbagai sumber, Arsan Hasan / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 7 No 3 Mei-Jun 1997
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space