Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 7 No 3 Mei-Jun 1997
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Amateur Radio
Opini
Profil Stasiun
Asal Tau Aja...
Salam Kutoarjo
Redaksi

Volume 7
  Opini
Radio Luar Negeri dan Pemilu

Pemilu telah berlangsung saat tulisan ini diturunkan. Kontestan mana yang menjadi pemenangnya memang belum diketahui, namun tidak jauh dari perkiraan, bahwasannya pemenangnya adalah OPP itu juga. Ini berarti tidak ada perubahan, walaupun pada masa kampanye dibumbui dengan beragam irama, mulai yang saling ejek, sampai dengan yang menjurus ke arah bentrokan fisik. Terlepas dari hal-hal di atas, peran radio dalam memberikan informasi, berkenaan dengan terjadinya suatu peristiwa, tetaplah diperlukan.

Inilah salah satu sebab mengapa di tengah-tengah kesibukan sehari-hari, saya tetap menempatkan radio sebagai sumber informasi yang pertama, menyusul surat kabar, baru kemudian televisi. Dalam rangka pesta akbar lima tahunan, kalau mau dibilang pesta, beberapa stasiun radio menurunkan penyiarnya, untuk meliput peristiwa tersebut. Ada yang secara langsung menerjunkan penyiarnya di berbagai kota, ada pula yang memerlukan bantuan wartawan media cetak ataupun stringer.

Semuanya tidak terlepas dari tingkat persaingan antar stasiun radio yang bersangkutan di tengah-tengah era globalisasi ini. Ada pula yang melakukan wawancara jarak jauh melalui sambungan telepon internasional. Dalam hal yang terakhir ini, biasa dilakukan oleh penyiar dengan nara sumber yang telah mempunyai reputasi. Kemudian, ditunjang pula dengan melakukan liputan wawancara dengan orang orang Indonesia yang menetap di luar negeri.

Baik kepada mereka yang mempunyai kesempatan mempergunakan hak pilihnya, maupun kepada mereka yang oleh karena sesuatu hal kehilangan hak pilihnya. Hak pilih dipergunakan atau tidak tergantung dari tingkat kesadaran, kita semua tidak bisa memaksakan, pun tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama dalam hal ini. Kalaupun diperbincangkan, rasanya tidak akan memperoleh titik temu, karena mereka mempunyai alasan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang harus kita akui.

Demikian juga adanya perbedaan dalam cara meliput haruslah kita akui, karena masing-masing penyiar yang diterjunkan tidak mempunyai tingkat kelincahan yang sama. Namun semuanya mengacu kepada cara kerja yang cepat dan akurat, ditunjang pula dengan pemakaian alat komunikasi yang canggih. Ini semua tergantung kepada stasiun radio yang bersangkutan. Dalam hal memperoleh informasi, toh tidak semuanya langsung diterima, karena mesti diperbandingkan dengan sajian stasiun radio yang lain.

Meskipun peristiwanya sama, namun dalam hal menyampaikan tidak mesti sama. Ini pun harus kita hargai, karena dalam hal perbedaan bisa muncul sesuatu yang baru. Lantas, bagaimana dengan RRI sendiri ? Ternyata, RRI juga melakukan hal yang sama, yakni melakukan wawancara dengan orang-orang Indonesia yang menetap di luar negeri. Hanya saja, titik beratnya tidak dilakukan pada liputan pemberitaan tentang kejadian, melainkan kepada bagaimana persiapan pelaksanaan kerja pada hari H.

Kalahkah RRI dibandingkan dengan stasiun radio luar negeri ? Masalahnya adalah bukan sekedar kalah atau menang, melainkan tergantung dari sistem yang mendasarinya. Sistem yang berlaku di Indonesia jelaslah tidak sama dengan sistem yang dianut oleh stasiun radio yang bersangkutan, karena yang satu menitikberatkan pada kebebasan, yang satu lagi pada kebebasan yang bertanggung jawab.

Kita bolehlah berbangga hati karena hidup di tengah tengah suasana yang masih bisa mendengarkan serta memperoleh informasi yang berbeda. Karena tidak semua negara yang mengaku dirinya ada demokrasi, orang bebas mendengarkan. Untuk itu, setiap kali ada permasalahan yang menyangkut penutupan stasiun radio siaran bahasa Indonesia, selayaknyalah kita tak henti-hentinya mengajukan protes keras, jangan sampai ditutup.

Karena selain merupakan media hiburan, kami juga ingin memperoleh informasi yang sangat mudah, murah, dan meriah kami dapat, karena tak bisa kami peroleh dari dalam negeri sendiri. Mana kala pesta telah berakhir, kini tinggallah kelanjutannya. Harapan yang ada dalam benak pendengar adalah dalam Sidang Umum MPR nanti, kami akan memperoleh sajian yang makin menarik lagi, bukan sekedar pandangan pakar, liputan bentrok antar massa kontestan. Lebih dari itu. (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 7 No 3 Mei-Jun 1997
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space