Profil Stasiun
Sisi Lain Seputar 50 Tahun Radio Nederland
Usia sebuah stasiun radio bila memasuki tahun ke-50 merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan. Terlebih lagi bila dalam pelayanan senantiasa bagus dan tanpa cacat. Bagi Radio Nederland, terutama seksi Indonesia, merupakan sebuah catatan sejarah tersendiri. Bagaimana tidak, Belanda yang semula menjajah negeri ini tidak kurang dari tiga setengah abad masih mempunyai perhatian yang begitu besar terhadap negeri bekas jajahannya.
Sebagai pendengar setia Radio Nederland, segenap warga IDXC selain mengucapkan Selamat Ulang Tahun, tentunya juga tetap berharap radio ini tetap jaya di udara, akrab di darat, serta abadi dalam melayani para pendengarnya. Melayani tidak sebatas memberikan informasi, hiburan, tanda mata, melainkan juga bagaimana menggalang para pendengarnya. Perjalanan Radio Nederland, terutama seksi Indonesia, ternyata tidak semulus yang diduga, karena pernah terancam akan ditutup.
Alhamdulillah, kini memasuki tahun ke-50, kehadirannya semakin menarik saja. Tahun 1997 ini bahkan menyajikan acara yang cukup menarik "Satu Paket Tiga Porsi". Ini membuktikan bahwa dalam hal memberikan nilai informasi, Ranesi tak kalah dengan stasiun radio luar negeri lainnya, dengan ciri khasnya, Gema Warta, Humaniora, dan DX Komunikasi. Tapi apakah hanya itu saja cukup ? Ini nampaknya perlu disadari oleh Ranesi, bahwa perlulah dalam memperingati ulang tahun emas ini lebih mendekatkan diri dengan pendengarnya.
Caranya adalah dengan melakukan safari keliling Indonesia, dengan mengadakan acara jumpa pendengar. Memang hal ini telah dilakukan oleh pengasuh acara DX Komunikasi, Mas Asbari Nurpatria Krisna, ketika mengunjungi Indonesia paruh kedua tahun 1996 yang lalu. Bahkan telah menyusun acara untuk meramaikan peringatan ulang tahun emas tersebut. Berbahagialah mereka yang menetap atau berkunjung ke Negeri Kincir Angin, karena dalam rangka HUT ke-50. Radio Nederland menyelenggarakan "Open Day" di Witte Kruislaan 55, di Hilversum, hari Sabtu, 7 Juni 1997.
Karyawan Radio Nederland Wereldoemroep siap menyambut Anda antara pukul 10.00 dan 16.00, sedangkan bagi pendengar Radio Nederland, kita berharap akan muncul kejutan kejutan apa saja yang akan dilakukan oleh Ranesi. Akankah ada undangan khusus bagi pendengar untuk ikut meramaikan pesta tersebut ? Ataukah kita memang hanya pendengar saja, mendengarkan terus. Mestinya ada sayembara khusus berkenaan dengan pesta emas ini.
Dalam hal pelayanan, memang ada perbedaan jika dibandingkan tahun-tahun 70-an. Jika pada tahun-tahun itu pendengar masih diperkenankan memperoleh salinan naskah, serta memperoleh informasi kapan lagu permintaan akan diputar, kini jangan berharap. Hal ini disebabkan mungkin jumlah pendengar saat ini sudah sedemikian banyak. Sehingga tidak mungkin dipenuhi semua permintaannya satu-persatu, mengingat keterbatasan dana dan tenaga.
Hubungan baik antara penyiar dan pendengar tetaplah diperlukan, karena ini salah satu kunci agar radio tetap eksis dan dicintai. Salah satu contoh adalah ketika dua buah stasiun radio siaran bahasa Indonesia dengan tiba-tiba ditutup, yakni Radio Tirana dan Suara Rusia, nyaris tak ada respon dari pendengar, ketika dua stasiun radio tersebut ditutup.
Mengapa ? Karena mereka hanya sekedar siaran, tanpa memberi respon pada pendengar yang berkirim surat. Bahkan, ada penyiar seniornya yang malahan terkena stroke ketika Suara Rusia ditutup. Saya harap, Ranesi tak demikian, melainkan menganggap pendengar adalah mitra yang perlu disapa. Bisakah demikian ? Kita tunggu. (HSB)
Keluarga Siaran Indonesia Radio Nederland Wereldoemroep tahun 70-an. Dari kiri ke kanan : Depan : Nico Lilipaly, Erny Kololay. Tengah : Paul Harmusial, Flora Ihalauw, Gijs Jochem, Indra Leihitu-Titus, Endang van Houwelingen Soerjosoemarno, Freek Feenstra. Atas : Sam Pasariboe, S. Sosrosuwarno, Sri Ardanari Soedji, Sytze van der Werf (Kepala Bagian), Wenny Tanos.
Keluarga Siaran Indonesia Radio Nederland Wereldoemroep tahun 80-an. Dari kiri ke kanan : Atas : Sri Ardanari Soedji, Jo Gunadi, Hilman Yatim, Sytze van der Werf (Kepala Bagian), dan Yanti Mualim, S. Sosrosuwarno. Tengah : Tjandra Mualim, Endang van Houwelingen Soerjosoemarno, Jasli Josan, Gijs Jochem, Indra Leihitu-Titus. Bawah : Erny Koloay.