Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 7 No 2 Mar-Apr 1997
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Sosok
Profil Stasiun
Surat Anda
Redaksi

Volume 7
  Sosok
Kiat Menjadi Penyiar Menurut Mbak Marie

Dalam edisi sebelumnya diketengahkan perbincangan santai dengan Mbak MARIANA KWA (MK). Laporan ini merupakan kelanjutannya. Salah satu hasil perbincangan lalu adalah dihidupkan kembali acara Opini Anda mulai bulan April ini. Mbak Marie mengetengahkan bagaimana kiat seorang penyiar, tentang suka dukanya, tentang keberadaan klub-klub pendengar.

Sebagaimana klub pendengar yang lain, Indonesian DX Club termasuk salah satu klub yang banyak memberikan sumbangan bagi kemajuan Suara Jerman. Meskipun belum memperoleh hadiah radio digital, namun tahun ini memperoleh hadiah kalkulator, dan dicatat dengan Nomor Registrasi RI/171/97. Sebagian wawancara telah disiarkan dalam acara DX Komunikasi Radio Nederland.

HSB : Mungkin karena letaknya di Jakarta dan sudah ada beberapa monitor teknik ? Dulu memang saya tinggal di Gunung Kidul. (pertanyaan terakhir edisi yang lalu)
MK : Saya juga tidak begitu jelas. Saya akan menanyakannya ke bagian teknik, apakah masih diperlukan monitor-monitor tetap di Indonesia, di bagian mana saja. Saya akan menanyakan dan nanti akan dihubungi lagi.

HSB : Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Suara Jerman dari pendengarnya ? Laporan penerimaan, saran, usulan, atau kritik ?
MK : Ya, sebetulnya semuanya itu yang diinginkan, tentang penerimaan, saran. Apakah acara siaran seperti sekarang ini sudah cukup atau banyak kekurangannya, dan apa yang kira-kira bisa menarik pendengar lebih banyak lagi.

HSB : Apakah selama ini masih ada hubungan dengan para mantan penyiar Suara Jerman kini kembali ke Indonesia, seperti Sri Mahaswani, Willy Sitompul, GM Bagus Sugiarto, Otje Sudarga, dan lain-lain ?
MK : Ya, banyak mantan penyiar, mantan redaktur yang sekarang sudah pulang ke Indonesia. Mungkin jumlahnya sudah cukup banyak, tetapi masih ada hubungan dengan mereka. Sedapat mungkin kalau ada yang ke Indonesia, misalnya Bung Rudi, selalu diusahakan untuk bertemu dengan mereka. Tapi karena kebanyakan mereka terpusat di RRI, baik di pusat maupun di daerah, pertemuannya tergantung. Kalau sedang ke Purwokerto misalnya, Kepala Stasiun di sana dulu teman lama kita juga, yang selalu kita hubungi terus.

HSB : Apakah pencekalan yang pernah diberlakukan pada Bung Rudi pada waktu itu mempengaruhi iklim kerja seksi Indonesia, untuk lebih hati-hati dan takut ?
MK : Ya, sebenarnya tidak, karena pencekalan bukan berdasarkan siarannya di radio, tapi berdasarkan tulisan Bung Rudi. Jadi bukan berdasarkan apa yang disiarkan, tapi apa yang ditulis dalam bukunya. Jadi itu dua hal yang berbeda, yang dicekal itu berdasarkan tulisan tulisannya dalam buku, jadi dia sebagai pengarangnya.

HSB : Dalam setiap pertemuan yang diadakan oleh pendengar, Suara Jerman senantiasa aktif untuk berpartisipasi, kadang-kadang mengirimkan wakilnya, kadang-kadang mengirimkan barang barang kenangan untuk dibagikan. Apakah ini termasuk salah satu kiat Suara Jerman agar tidak ditinggalkan oleh pendengarnya ?
MK : Ya tentu, ini salah satu cara untuk menjalin kontak dan persahabatan dengan para pendengar. Dengan souvenir atau kenang kenangan dari Deutsche Welle mungkin bisa untuk mempererat persahabatan, sebagai tanda bahwa DW tidak melupakan pendengarnya. Mudah-mudahan acara seperti ini bisa lebih ditingkatkan lagi.

HSB : Dalam memperingati peristiwa tertentu, pada hari ulang tahun, Suara Jerman beberapa tahun lalu menerbitkan sumbangan pemikiran dari pendengar setianya, berupa antologi puisi, Opini Anda. Untuk tahun-tahun yang akan datang, kebijaksanaan apakah yang akan dilakukan untuk melibatkan pendengar ?
MK : Ini akan diteruskan dalam acara ultah atau jubelium angka-angka tertentu yang dianggap penting atau keramat, pasti ada acara partisipasi pendengar juga. Tapi dalam bentuk apa, kita lihat saja. Apa mungkin dalam bentuk kuis istimewa, sayembara khusus, seperti tahun-tahun lalu juga menerbitkan suatu buku untuk pendengar di mana pendengar diminta pendapatnya, atau entah apa ya.

Kiat Sebagai Penyiar

HSB : Mulai tahun berapa Mbak Mariana Kwa bekerja di seksi bahasa Indonesia ? Adakah kesulitan pada waktu itu ?
MK : Saya mulai bergabung dengan DW mulai tahun 1975. Kesulitannya waktu itu seperti orang yang baru pertama kali bekerja dan di luar negeri, menghadapi berbagai macam kesulitan. Tapi kesulitannya lebih banyak bukan di bidang kerja, melainkan di bidang pribadi, dari kehidupan adaptasi. Itulah yang perlu penyesuaian dulu, pertama iklim, kebiasaan orang di sana, dan gaya hidupnya berbeda total dari di sini.

Adaptasi dulu, setelah sekian lama dijalani, tidak ada lagi kesulitan di sana. Sudah tahu kalau di sana harus begini, kalau di sini lebih santai, tidak banyak terikat waktu atau peraturan-peraturan. Maksudnya dalam kehidupan sehari-hari, tapi dalam soal kerja mungkin tidak ada bedanya. Bekerja di suatu radio atau surat kabar yang berhubungan dengan jurnalistik di mana-mana adalah sama, besar kecil selalu ada.

HSB : Tujuan utama Mbak Marie Kwa ke Indonesia saat ini sedang cuti ? Pertemuan dengan pendengar atas inisiatif Mbak Mariana Kwa sendiri ataukah ada tujuan khusus, misalnya berkaitan dengan tugas ?
MK : Kedatangan saya kali ini juga secara khusus cuti untuk menengok keluarga, tapi kadang-kadang saya juga ingin bertemu dengan pendengar. Saya pikir pertemuan terakhir saya sudah satu atau dua tahun lalu. Mungkin ada perubahan dan wajah baru. Kalau yang lama, apakah masih tetap pada profesinya atau sudah jadi apa.

Juga didorong oleh rasa ingin tahu saya, karena sebagai penyiar yang setiap hari menyiarkan warta berita atau yang lain, saya ingin tahu siapa pendengar saya, dari kalangan mana mereka. Cuma sayangnya sekitar Jakarta saja, mungkin kalau di luar daerah lebih banyak menarik lagi, dan bisa juga lain pendapatnya dengan yang tinggal di kota besar, serta keinginan yang lain.

HSB : Bagaimana kesan Mbak Mariana Kwa setelah bertemu dengan pendengar pendengar seksi bahasa Indonesia ? Terlampau rewel ataukah banyak menuntut ?
MK : Yang jelas saya puas, rewel tidak, yang jelas banyak memberi saya masukan, seperti banyak saran dan usul. Akan saya bawa dan bicarakan dengan teman-teman. Ada yang mengusulkan agar lebih banyak berita olah raga, supaya ada angin baru, dan saya pikir sangat menyenangkan sekali. Mudah-mudahan di masa depan acara seperti itu dapat dilakukan lagi dengan penyiar lain.

HSB : Pendapat Mbak Mariana Kwa mengenai keberadaan klub pendengar seperti Indonesian DX Club, Buletin Anda, Suara Jerman Fans Club, Radio Listeners Club, yang tersebar tidak hanya di Jakarta, melainkan daerah lain, menguntungkan atau merugikan Suara Jerman ?
MK : Saya rasa sangat membantu Suara Jerman keberadaannya. Kalau ada apa-apa, mudah dihubungi, saya pikir lebih efisien dan perlu sekali, karena dapat mengirim berita atau faks kepada administrasi, langsung disebarluaskan. Untuk penduduk yang lebih dari 200 juta, sangat kurang sekali. Malahan di India, ada banyak klub pendengar, kalau bisa lebih ditingkatkan. Mudah-mudahan keberadaannya bisa lebih langgeng, kalau terjadi apa-apa tidak seperti Sahabat.

HSB : Bisa diceritakan mengapa sampai bekerja di Suara Jerman ? Apakah yang menarik dari Suara Jerman, sehingga betah bekerja di sini ?
MK : Mengapa bekerja sebenarnya hanya kebetulan saja, saya diminta untuk membantu, seperti pegawai kontrakan itu. Kemudian diperpanjang, karena masih merasa tertantang, ya masih diteruskan, lama-lama menjadi pegawai tetap. Dan setelah sekian lama, seperti orang yang, bagaimana ya. Sudah menjadi kebiasaan bekerja di sana, dan lambat laun juga memikirkan masa depan.

Kalau berhenti di tengah jalan pasti tidak baik. Akhirnya lama-lama terbiasa dengan keadaan seperti itu, betah sendiri. Manusia hidup adalah karena biasa, cita-cita saya supaya sampai selesai, masa pensiun di sana. Supaya setelah itu, bebas juga dan bisa mengerjakan sesuatu yang lain. Tujuan untuk menjalani masa depan di sana.

HSB : Suka duka sebagai penyiar Suara Jerman ?
MK : Selama ini, bagi saya lebih banyak sukanya dari pada dukanya. Yang menyenangkan adalah, meskipun kita mengerjakan yang sama setiap hari, tapi temanya selalu berlainan. Itu yang tidak terlalu menjemukan, jadi setiap hari kita menghadapi tema yang baru, dan bagaimana mengemas, menyajikan, menjadikannya informasi yang bisa dibagi-bagikan kepada para pendengar. Itu juga sesuatu yang menarik, menyusun suatu acara yang mudah-mudahan bisa diterima dan menarik bagi para pendengar.

Itu juga suatu tantangan yang tidak membosankan. Dan kalau mengenai dukanya, tidak terlampau banyak yang perlu dirisaukan, karena dengan teman-teman dan rekan-rekan hubungannya baik. Kami bisa bekerja sama baik sekali, juga dengan pimpinan dan lainnya. Saya rasa tidak banyak masalah. Tapi semuanya tergantung masing-masing, apakah mau mempermasalahkan segala hal, atau menganggap semuanya take it easy. Kalau ada apa-apa, ya kita anggap saja biasa.

HSB : Pendengar tentunya juga ingin mengikuti jejak Mbak Mariana Kwa bisa sukses sebagai penyiar. Apakah kiat sukses sebagai penyiar secara umum, dan khususnya syarat-syarat untuk menjadi penyiar Suara Jerman ?
MK : Yang terakhir dulu, syarat-syarat untuk menjadi penyiar Suara Jerman, khususnya di mana saja, syaratnya sama kalau menjadi penyiar radio. Kalau di Suara Jerman, penyiar bukan hanya penyiar, tapi juga harus bisa menulis, menerjemahkan naskah. Dia sekaligus juga wartawan radio. Jadi merangkap. Kalau di sini, di RRI, yang saya lihat penyiar khusus menyiarkan, ada yang menyiapkan naskahnya untuk dia. Biasanya orang itu tidak pernah menyiarkan. Kalau di Deutsche Welle dirangkap, selalu dicari pertama-tama seorang wartawan radio.

Kalau suaranya nggak jelek amat jadi penyiar cukuplah, kecuali kalau suaranya sudah begitu brengsek. Sampai sekarang, belum kita jumpai seorang yang sanggup membuat naskah, ternyata suaranya nggak bisa dipakai sama sekali, sampai sekarang belum pernah ada. Rupanya seorang biasa yang normal mempunyai suara yang bisa dipakai. Tentang bagus jeleknya semua terserah pendengar saja. Latar belakang jurnalistik, sanggup membuat naskah berita, dan suaranya lumayan, nggak terlampau aneh untuk dapat diterima.

Apa kita bisa bekerja dengan sukses, tergantung pribadi masing-masing, ini masalah pergaulan, gampang bergaul atau susah bergaul. Juga diperlukan toleransi di mana pun kita bekerja, kita harus bisa menerima rekan sesama seperti adanya. Jangan menuntut yang aneh-aneh dari mereka. Mengenai kiat sukses, sulit juga, apa yang harus saya katakan. Tapi saya rasa untuk bekerja tidak hanya harus bekerja baik hasilnya, tapi juga hubungan dengan manusia. Sebagus-bagusnya pekerjaan kita, kalau tidak bisa menghadapi manusia, saya kira akan sulit untuk maju.

Saya kira, bersikap wajar, toleran, terbuka, dan salah satunya adalah terbuka terhadap kritik. Kalau kita tidak mau membuka diri terhadap kritik, bagaimana kita mengembangkan diri. Sampai sekarang pun saya masih harus belajar dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Saya masih terus berusaha untuk memajukan diri sendiri, atau mengembangkan diri sendiri. Jadi mata dan telinga harus selalu terbuka, untuk melihat yang lain-lainnya, dan mendengarkan pendapat orang lain juga. Saya rasa salah satu yang bisa dijadikan sebagai kiat untuk maju.

HSB : Terima kasih Mbak Mariana Kwa atas kesempatan yang sangat berharga ini, mudah-mudahan senantiasa betah di Suara Jerman, sukses selalu dan selamat bekerja !!

 
Dirgantara Online - Vol 7 No 2 Mar-Apr 1997
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space