Laporan dan Berita
Lanjutan Perbincangan dengan Takatori San
SHIGERU TAKATORI (ST) lahir di Nigata. Kini ia menjabat sebagai Kepala Seksi dan Senior Program Director, News and Program Production Division (Group 2), Overseas Broadcasting Department NHK. Dalam perbincangan lanjutan ini, diajukan berbagai pertanyaan yang menyangkut kemungkinan keikutsertaan pendengar sebagai kontributor, bagaimana kerja sama dengan RRI, tanggapan terhadap keberadaan klub pendengar, serta harapan terhadap pendengar.
HSB : Apakah ada kemungkinan pendengar dari Indonesia ini mengirimkan semacam majalah udara untuk NHK ?
ST : Maksudnya ?
HSB : Semacam kita mengirimkan artikel untuk surat kabar begitu, tapi untuk radio apa dimungkinkan ?
ST : Oh ya itu sangat kami inginkan, misalnya dalam acara Halo dari Tokyo, ada Surat Pekan Ini, Pojok SPI. Itu sebenarnya mau mengajak pendengar menyumbang, misalnya kejadian di sekitar dia. Kejadian apa saja, kejadian sosial, kejadian dengan teman-teman untuk dibagikan kepada pendengar di daerah lain, juga boleh.
HSB : Maksud saya bukan melalui surat, melainkan semacam rekaman kaset begitu ?
ST : Ya, boleh, bisa saya kira, asal mutu rekamannya baik.
HSB : Apa yang diinginkan oleh NHK, terutama untuk hal-hal yang ingin dikirimkan, atau topiknya tentang hal-hal apa saja ?
ST : Ya, kami ingin topik-topik atau peristiwa yang terjadi di sekitar pendengar, dari pada ... apa namanya, tentang apa ya ... Atau komentar tentang acara, dan komentarnya sebaiknya lebih teliti. Misalnya, apa namanya, sudut sorotan tentang satu topik itu kurang tepat, misalnya komentar semacam itu saya inginkan.
HSB : Kalau di surat kabar hal semacam itu memperoleh uang lelah, di NHK juga ada ?
ST : Apa itu uang lelah ?
HSB : Semacam fee begitu ?
ST : Oh ya, kalau, apa namanya, masukan seperti itu datang secara berkala, kami akan memberi imbalan, mungkin bisa.
HSB : Misalnya pendengar-pendengar berkumpul, kemudian pendengar-pendengar itu diwawancarai satu-persatu mengenai kesan-kesannya tentang acara NHK begitu ?
ST : Ya, semacam itu juga boleh.
HSB : Siaran langsung hanya dilakukan pada saat warta berita selebihnya adalah rekaman. Berapa lama waktu yang dipergunakan untuk menggabungkan semua mata acara lainnya yang kurang lebih memakan waktu empat puluh lima menit jam siar ?
ST : Ini tentang bagian rekaman. Ah, biasanya kita punya studio dari jam 02.00 sampai 03.30. Diantara itu, kami merekam acara itu, sedang setelah itu, mengedit salah ucap dan seterusnya, dan mencocokkan waktu. Itu dibutuhkan kira-kira dua kali lipat dari acara itu. Satu setengah jam itu untuk rekaman, dan sebelumnya pembawa acara itu menerjemahkan naskah itu dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Kalau terhitung waktu itu juga, ya lima atau enam jam untuk satu acara.
HSB : Sekarang kita beralih ke salah satu mata acara yang menarik, Arena Pendapat atau 'Cross Current' yang disiarkan di berbagai bahasa. Acara ini sudah berjalan belasan tahun, bagaimana proses kelahiran acara ini pada awal mulanya ?
ST : Wah awal mulanya, waktu itu kami menginginkan semacam acara surat pembaca. Tapi kalau surat pembaca tanpa tema itu mungkin terlampau luas. Jadi kami kasih tema, lalu mengundang pendapat. Sudah berapa tahun, ya ?
HSB : Tahun 1982
ST : Jadi 13 tahun lalu.
HSB : Apa salah satu resepnya sehingga mata acara ini dipertahankan ? Apakah karena jumlah surat-surat yang masuk dari seluruh seksi ?
ST : Ya, reaksinya cukup banyak, dan sebagian dari acara itu disiarkan ke dalam Jepang lewat NHK dalam negeri. Jadi ada tanggapan dari masyarakat Jepang, ya, bagi masyarakat Jepang juga menarik perhatian.
HSB : Selain bunyi-bunyi pilihan, mungkin ?
ST : Ya ! (sambil tertawa)
HSB : Apa tidak dimungkinkan, kalau bunyi-bunyi pilihan itu diberlakukan juga secara internasional berdasarkan usulan dari pendengar-pendengar di seluruh dunia ?
ST : Ya, asalkan bunyi-bunyi itu diikutsertakan, dikirim dari pendengar.
HSB : Oh begitu, nanti akan saya kirim kaset, merekam bunyi-bunyian binatang malam, kalau perlu.
ST : Bagus !!
HSB : Sekitar tahun 1970-an, Bapak Takatori mengasuh acara Kusuma dari Tokyo, Pilihan Pendengar, dan masih banyak lagi. Apakah acara tersebut tidak dimungkinkan untuk dihidupkan kembali untuk mempersegar mata acara lain yang sudah lama itu ?
ST : Ya mungkin juga ya, acara yang paling saya senangi itu Studio Malam Minggu, itu beberapa tahun lalu, dan Derap Olah Raga, karena saya sendiri gemar olah raga. Ya, jadi semacam Studio Malam Minggu yang terdiri dari topik-topik ringan, obrolan ringan. Saya sebetulnya suka acara semacam itu, tapi bikinnya susah.
HSB : Beberapa tahun yang lalu, NHK menyelenggarakan semacam sayembara, dengan hadiah bagi para pemenangnya diundang mengunjungi negara Jepang selama satu minggu. Mengapa beberapa tahun terakhir ini, acara tersebut tidak diselenggarakan lagi. Apakah sudah tidak ada kerja sama dengan biro pariwisata dan Japan Airlines ?
ST : Kalau tidak salah, itu dalam rangka 40 tahun Radio Jepang, ya kenapa tidak ada lagi, itu tidak jelas. Mungkin karena ongkosnya tidak ada lagi. Budget Radio Jepang itu tidak begitu besar, karena semata-mata dari iuran, bukan penghasilan dari iklan. Padahal biaya untuk personel, personalia itu tinggi sekali. Jadi sebagian budget, sebagian untuk gaji, untuk honorarium, untuk siaran sendiri terbatas sekali.
HSB : Apakah biaya budget setiap seksi sama ?
ST : Tidak sama, itu menurut jam siaran.
HSB : Dari keseluruhan seksi internasional, yang paling banyak siarannya seksi apa ?
ST : Selain seksi bahasa Inggris, bahasa Cina, bahasa Korea, dan setelah itu bahasa Rusia, baru bahasa Indonesia.
HSB : Apakah ini bukan disebabkan karena Jepang pernah menjajah di beberapa negara tersebut di atas ?
ST : Saya kira tidak ada kaitannya dengan pendudukan itu, tapi memang Jepang semenjak dulu menganggap Korea, Cina, dan Indonesia adalah negara Asia yang paling penting untuk Jepang. Jadi melalui radio, Jepang ingin menegakkan hubungan baik dengan masyarakat.
HSB : Adakah kerja sama dengan RRI dan radio swasta Indonesia ?
ST : Dengan RRI, kami ada, kami apa namanya, setiap 2 atau 4 tahun, ada penyiar undangan ke RRI, tapi dengan radio swasta tidak ada.
HSB : Mengenai pengiriman produser ke Indonesia, biasanya ke RRI. Apakah itu juga merupakan bentuk kerja sama ?
ST : Ya, itu pelatihan pegawai baru untuk mengenal lebih jauh tentang masyarakat Indonesia, dan media massa Indonesia, untuk itu mereka dikirim.
HSB : Mulai kapan kerja sama itu diadakan ?
ST : Itu sudah lama, untuk senior saya juga.
HSB : Bapak Wakamatsu itu ?
ST : Wakamatsu, ya, dan sebelumnya Yamanaka, ya, ditugaskan ke RRI, jadi sudah tiga puluh tahun ada, ya.
HSB : Di tengah memperebutkan "waktu prima" (=jam siar yang baik) dan pendengar, kebijaksanaan apakah yang akan dilakukan oleh NHK ?
ST : Waktu prima ?
HSB : Waktu prima, yaitu waktu yang diperebutkan oleh radio-radio luar negeri untuk siaran, antara pukul 18.00-20.00 malam. Apakah kebijaksanaan yang akan dilakukan oleh NHK ?
ST : Ya, mungkin usahanya ada, ya. Melihat kenyataan sekarang, ada namanya siaran ke Asia Tenggara itu langsung dari Jepang dan fasilitas pemancar sudah penuh sekali. Jadi untuk mengubah jam siaran ke waktu yang lain itu sangat sulit. Sekarang, apa namanya mesin-mesin itu perlu waktu untuk istirahat. Kalau ada apa-apa, ada kecelakaan, besar juga.
HSB : Sekarang pemakaian frekuensi. Selama saya mendengarkan siaran Radio Jepang, mulai tahun 1970-an, bahkan sebelumnya, ada salah satu frekuensi, yaitu 11875 kHz. Itu tetap dipertahankan, apakah hal tersebut sudah merupakan hak khusus seksi Indonesia ?
ST : Bagaimana ya (sambil tertawa), 11875 kHz sudah lama sekali. Pemilihan frekuensi itu berdasarkan hasil perundingan dengan Kementerian Pos dan Telekomunikasi.
HSB : Dengan ITU ya ?
ST : Ya, walaupun NHK minta frekuensi lain, mungkin diberikan jatahnya oleh sana, mungkin.
HSB : Mengapa warta berita pada pagi hari tidak diadakan lagi ?
ST : Ya, itu semata-mata melihat, apa namanya ya, kondisi, apa namanya ya, jam kerja pegawai. Kalau pagi warta berita, dulu warta berita malam diulang siaran pagi harinya. Kami sadar akan agak, masa warta berita diulang. Itu salah satu alasan, kalau dari pagi bekerja dan sampai malam, jam kerja terlampau lama. Untuk membuat shift-nya juga, untuk membuat shift, kekurangan tenaga. Terpaksa kita batalkan pagi untuk warta berita.
HSB : Dalam Ruang Tanya Jawab, pertanyaan apakah yang biasanya ditanyakan oleh pendengar di Indonesia ?
ST : Ya macam-macam (tertawa), ada tentang ninja, tentang sumo, ya, macam-macam.
HSB : Balasan surat akhir-akhir ini terlampau lama. Sebagai contoh saja, laporan penerimaan saya bulan April baru dibalas bulan September. Kendala apakah sebenarnya yang dihadapi, serta upaya apa jalan keluarnya ?
ST : Kalau memang akhir-akhir ini balasan surat itu terlambat, itu harus diperbaiki. Mungkin tidak harus menambah orang yang menangani surat, ya ? Karena selama ini diserahkan satu orang saja, dan dia pun bisa datang dua kali seminggu. Mungkin tenaga itu harus ditambah, ya ?
HSB : Salah satu bentuk komunikasi dengan pendengar adalah melalui Berita Radio Jepang. Mengapa akhir-akhir ini cenderung menurun, baik isi maupun jumlah halamannya ?
ST : Berita Radio Jepang kami anggap sangat penting, tapi menurut pimpinan, karena ketatnya budget, maka dari itu, sebenarnya Berita Radio Jepang itu dibatalkan. Tapi itu kami anggap sangat penting, maka kami buat sendiri, dicari akal mencari dana kesana-kemari, jadi tersendat-sendat.
HSB : Apakah di seksi lain tidak ada, kecuali...
ST : Tidak ada, saya kira tak ada, seksi Indonesia saja.
HSB : Sekarang mengenai hadiah kenang-kenangan bagi penyumbang Arena Pendapat, apakah itu seluruh seksi sama ?
ST : Tidak sama, kami memilih yang tidak begitu berat, karena ongkos kirimnya mahal, tapi praktis dipakai pendengar. Jadi apa ya, barangnya itu-itu saja.
HSB : Apa tak bisa diwujudkan dalam rupa lain, misalnya barang barang elektronika, atau apa ?
ST : Kami juga setiap tahun membuat peninjauan kembali. Barang kenang-kenangan, dan kami membuat usulan, apa namanya, t-shirt atau topi. Ya, tapi bagaimana ya, apa barang kenang-kenangan itu berlaku untuk sama-sama dipakai oleh semua seksi, dan televisi, dan radio dalam negeri juga. Jadi, tuntutan kami dari siaran luar negeri itu tidak menjadi mayoritas, jadi tuntutan kami sering diabaikan saja (tertawa).
HSB : Jepang terkenal dengan produk elektronikanya teknologi tinggi. Apakah tidak dimungkinkan mengadakan kerja sama dengan Sony, Aiwa, dan produk Jepang lainnya, untuk diberikan kepada pendengar yang mempunyai partisipasi paling banyak ?
ST : Ya, itu mungkin salah satu ide yang bagus juga, tapi NHK itu seperti saya katakan tadi, badan usaha, tidak boleh mencari keuntungan. Jadi, jarang NHK bekerja sama, misalkan dengan Sony itu ditonjolkan, itu disamakan dengan iklan.
HSB : Tapi di dalam Time itu ada Sony di sana ?
ST : Time Schedule ?
HSB : Ya, yang biasa dikirimkan kepada para pendengar, kan ada gambar Sony-nya. Apakah bukan semacam iklan ?
ST : Tapi itu radio yang punya gelombang pendek, itu hanya diproduksi oleh Sony dan Panasonic, dua perusahaan saja, jadi terpaksa.
HSB : Semacam monopoli, ya ?
ST : Bukan monopoli, di Jepang tidak ada siaran gelombang pendek dalam negeri. Permintaan radio-radio seperti itu sangat rendah di dalam negeri Jepang.
HSB : Jadi sangat tidak laku, begitu ?
ST : Tidak laku.
HSB : Di luar negeri banyak yang membutuhkan.
ST : Ya, untuk itu Sony dan Panasonic membuat radio gelombang pendek juga.
HSB : Beberapa stasiun radio di tahun 1995, berkaitan dengan perayaan 50 tahun kemerdekaan Indonesia mengadakan sayembara besar besaran. Suara Jerman tahun 1995 dalam Sayembara Tahunan membagikan 50 buah radio. Kemudian Radio Korea dan Suara Amerika mengundang pendengar ke Amerika. Kemudian BBC juga memberikan hadiah hadiah radio, dalam rangka 50 tahun ini. Mengapa momen tersebut tidak dilakukan oleh NHK ?
ST : Ya, itu mungkin kesalahan kami produser, dan, dan, apa ya, ya di Jepang tahun 1995 lebih dikenal sebagai tahun berakhirnya Perang Dunia II. Jadi acara-acara khusus tentang itu banyak sekali, tapi 50 tahun kemerdekaan itu cuma satu di Indonesia. Itu mencerminkan betapa, apa namanya, ya mungkin kesalahan produser, saya akui.
HSB : Soalnya begini, dalam rangka 50 tahun tersebut, pemerintah Indonesia membuka kebijaksanaan selebar lebarnya, dan ini dimanfaatkan oleh BBC untuk bekerja sama dengan RRI, pada tanggal 17 Agustus 1995, mengadakan siaran langsung dari Jakarta memakai sistem "triple handed communication". Jadi wawancara segi tiga antara Indonesia (Istana Negara), kemudian RRI, dan London, saling berbicara untuk segi tiga. Sayangnya ini tidak dimanfaatkan oleh NHK. Apakah mungkin celah-celah yang demikian ini akan dimanfaatkan oleh NHK di masa datang ?
ST : Ya, kalau ada kesempatan seperti itu, ya.
HSB : Mungkin dalam kaitannya dengan Sidang Umum ?
ST : Sidang Umum apa ?
HSB : Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1998 dalam rangka pemilihan presiden, tidak dicoba memakai fasilitas tersebut ?
ST : Apa dikasih kesempatan seperti itu ?
HSB : Biasanya memang ada ketentuan-ketentuan tertentu, dan itu dilakukan dengan pengiriman sejumlah wartawan ke Indonesia secara besar-besaran oleh stasiun luar negeri, tidak ingin dicobakah ini oleh NHK ?
ST : Ingin sekali (tertawa), kalau dikasih kesempatan.
HSB : Ini mungkin agak spesifik sekali, mulai tahun berapa Bapak Shigeru Takatori bekerja di seksi Indonesia ?
ST : Mulai tahun 1974.
HSB : Adakah kesulitan yang dihadapi waktu itu ?
ST : Ya, bahasa Indonesia. Walaupun saya tamat dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia.
HSB : Universitas ?
ST : Universitas Bahasa-bahasa Asing Tokyo, tapi percakapan saya waktu itu belum apa-apa, dan waktu itu belum pernah ke Indonesia, dan orang Indonesia dengan siapa saya bisa mempraktekkan jumlahnya masih sedikit sekali. Persoalan yang besar waktu itu bahasa Indonesia.
HSB : Apa para produser bahasa Indonesia semuanya mempunyai latar belakang studi yang berkaitan dengan Indonesia ?
ST : Ya umumnya begitu, karena harus tahu bahasa, jadi terpaksa yang dipilih orang yang bisa bahasa, dan orang yang bisa bahasa itu dari jurusan bahasa Indonesia yang ada di Tokyo atau yang ada di Osaka.
HSB : Mengenai produser, selama ini Bapak Takatori merupakan produser yang cukup lama di seksi Indonesia ?
ST : Yang lain-lain juga ada yang lama, misalnya Wakamatsu.
HSB : Maksudnya semacam Bapak Takadono tak begitu lama ?
ST : Dia bukan produser.
HSB : Oh, bukan produser ?
ST : Produser itu yang sekarang saya sendiri, Murai, dan Yoshimura.
HSB : Itu merupakan pegawai tetap yang nantinya dapat pensiun begitu ?
ST : Ya, betul.
HSB : Apakah selama ini ada produser seksi Indonesia yang dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi di siaran internasional Radio Jepang ?
ST : Ada, namanya Bapak Yamanaka, dan ini dinaikkan sampai pangkat Kepala Bagian Asia, jadi dia mengepalai beberapa seksi bahasa. Dia itu, berapa ya (berpikir sambil menghitung), sepuluh, ada ya.
HSB : Termasuk Indonesia ?
ST : Termasuk Indonesia.
HSB : Jadi di seksi Indonesia tidak ada kepala seksi begitu ?
ST : Setiap seksi punya kepala seksi, tapi Kepala Bagian Asia itu lebih tinggi dari itu.
HSB : Selama ini kepala seksi dipegang oleh Bapak Shigeru Takatori ?
ST : Ya, tiga sampai empat tahun ini, ya, saya sendiri.
HSB : Bagaimana struktur organisasi mulai dari kepala seksi hingga dirjen ?
ST : Kepala Seksi, di atasnya Kepala Bagian, di atas itu Kepala Bagian Internasional. Di atas itu, bagian, bukan, ya, Direktorat apa ya. Kalau di atas Bagian Internasional, Dirjen NHK, di atas ya Ketua NHK.
HSB : Ketua NHK sama dengan Presiden NHK di waktu lalu ?
ST : Ya, maksudnya ?
HSB : Kalau dulu, setiap tahun baru ada sambutan dari Presiden NHK, apakah jabatan tersebut sekarang masih disebut dengan presiden atau direktur eksekutif, atau apa ?
ST : Itu dalam bahasa Jepang disebut "Kaicho", NHK punya kaicho, sulit diterjemahkan.
HSB : Sama dengan dirjen di Indonesia, atau menteri muda begitu ?
ST : Dirjen, yaitu seperti RRI dan TVRI.
HSB : Jadi dari Dirjen NHK itu dibagi menjadi Direktorat TV dan Direktorat Radio, dan mungkin juga ada direktorat lainnya ?
ST : Direktorat ? Siaran internasional itu juga suatu direktorat.
HSB : Kalau kedudukan siaran dalam negeri di mana ?
ST : Siaran dalam negeri, jadi di bawah Direktorat Dalam Negeri juga ada, di bawah Direktorat Televisi juga ada.
HSB : Bersifat lokal ?
ST : Ya, lokal, lokal ke nasional, seluruh Jepang.
HSB : Beberapa produser seperti Shinobu Murai, Tomoko Yoshimura, pernah tinggal di Indonesia. Apakah ini wajib bagi produser muda ?
ST : Ya, wajib dan hak, untuk memperdalam pengetahuan tentang Indonesia pada umumnya dan pengetahuan tentang media massa di Indonesia pada khususnya.
HSB : Ini merupakan suatu yang aneh, sementara ini Bapak Takatori bekerja di Radio Jepang, mengapa justru tertarik media cetak di Indonesia, bukan mengunjungi radio swasta yang maju ?
ST : Ya, karena media cetak itu lebih berani mengungkapkan kenyataan penyalahgunaan jabatan di Indonesia dari pada radio dan televisi. Tapi berita-berita tentang Indonesia kurang sekali, media cetak itu berani memberitahukan kesenjangan masyarakat, monopoli pengusaha besar. Ya, jadi saya tertarik media cetak.
HSB : Selama di Jakarta ini, berapa media cetak yang Bapak kunjungi ?
ST : Kompas dan bekas wartawan Tempo.
HSB : Bekas wartawan Tempo siapa, Pak ?
ST : Namanya ... wanita, Diah ... wati.
HSB : Yang pernah ke Bosnia itu ?
ST : Oh ya, saya tidak tahu.
HSB : Selain dalam rangka liburan, Bapak juga ke beberapa daerah Kalimantan. Apakah Bapak juga menjumpai pendengar pendengar di Kalimantan ?
ST : Ya, apa namanya. Khusus menjumpai pendengar tidak ada, karena kunjungan itu semata-mata untuk cuti pribadi. Tapi kebetulan, kami pergi ke Palangkaraya, dan dulu ada pendengar yang sangat aktif mengirim surat ke Radio Jepang. Jadi, kami beritahukan kepadanya sebelum berangkat dari Tokyo. Dan ia menjemput kami di hotel, berbincang bincang untuk sebentar.
HSB : Apa tidak ada niatan untuk bertemu dengan pendengar pendengar di Indonesia ?
ST : Itu seharusnya diadakan juga, ya, tapi selama ini Murai atau Yoshimura di Indonesia selama setengah tahun. Mereka ikut ... rapat umum kelompok RRI, ya, semacam itu, ya.
HSB : Bagaimana tanggapan Bapak mengenai keberadaan klub klub pendengar, seperti IDXC, Langkara, dan sebagainya ?
ST : Kami sangat menghargai dan sangat gembira adanya kelompok kelompok pendengar, dan kami ingin menjalin hubungan yang lebih baik dengan kelompok-kelompok itu.
HSB : Dalam wujud apa, Pak ?
ST : Ya, misalnya kalau bisa, ya, mengirimkan orang ke pertemuan mereka, tapi selama ini, belum bisa, ya.
HSB : Memang pernah, pada tahun 1987, Shinobu Murai berada di Yogyakarta, waktu itu, saya sendiri sebagai panitianya, dan sempat bertemu dengan produser tersebut. Rasanya ini suatu hal yang sangat bagus, sekaligus untuk lebih mempererat silaturahmi antara pendengar dan penyiar. Misalnya ada penyiar NHK yang akan datang ke Indonesia, para pendengar dapat dihubungi. Dengan demikian, bisa berkumpul untuk mengadakan tanya jawab, sehingga akan terasa makin lebih akrab.
ST : Ya, kami juga berusaha untuk mengadakan hubungan yang lebih erat dengan pendengar pendengar, dengan mengadakan pertemuan langsung dengan pendengar.
HSB : Kami ini di Jakarta biasanya kalau jauh hari ada penyiar memberitahu akan datang ke Indonesia, kami melakukan konsolidasi untuk berkumpul di suatu tempat, di rumah seorang kawan. Di situ, kami mengundang penyiar yang akan datang untuk melakukan tanya jawab secara dua arah dan akrab. Sehingga nampak adanya komunikasi yang baik antara penyiar dan pendengar. Mohon kiranya kalau ada penyiar dan produser NHK yang akan datang ke Indonesia, kami tentunya akan menyambut dengan gembira.
ST : Ya, terima kasih sekali.
HSB : Kesan Bapak terhadap pendengar-pendengar di Indonesia, terlampau rewel atau banyak menuntut ?
ST : Ya, ada yang rewel juga, ya, terus terang. Tapi itu surat satu-satunya cara dengan mana kami bisa mengetahui tentang keinginan mereka, tapi surat yang bagaimana pun, kami menilai tinggi. Tapi Radio Jepang itu punya, seperti apa yang saya katakan tadi, keuangan itu terbatas sekali. Misalnya, minta radio, minta ini, itu, tapi surat itu tetap kami terima dengan senang hati.
HSB : Pesan Bapak untuk para pendengar di Indonesia ?
ST : Wah, mohon perhatian para pendengar, Radio Jepang tetap ... tetap ada, begitu saja.
HSB : Terima kasih Bapak Shigeru Takatori atas bincang bincang yang telah kita lakukan beberapa jam ini. Mudah-mudahan kunjungan ke Indonesia kali ini memberikan kesan yang indah. (HSB)