Sapa Redaksi
Awal Tahun yang Kontras
Itulah situasi yang sedang dihadapi beberapa stasiun radio luar negeri dalam menapaki perjalanan tahun baru menurut kalender Imlek, dinamakan Tahun Kerbau. Awal tahun, tepatnya tanggal 15 Januari dirayakan secara sederhana tetapi tidak mengurangi hikmat dan maknanya. Acara tersebut mengetengahkan perjalanan stasiun radio tersebut. Mulai dari awal berdirinya, sampai dengan saat dilangsungkan acara memperingati ulang tahun tersebut. Tentunya, diramaikan juga dengan pertanyaan sayembara.
Stasiun yang dimaksud adalah Suara Tiongkok Merdeka, yang memperingati berdirinya seksi Indonesia ke-38, di tahun 1997 ini. Sedangkan, tanggal 1 Februari dalam tahun yang sama, merupakan peringatan berdirinya Radio Singapura Internasional yang ke-3. RSI mempersiapkan acara menyambut ulang tahunnya dengan penuh perhatian dan semangat serta mewawancarai beberapa klub pendengar di Indonesia melalui Saluran Langsung Internasional, tidak terkecuali Indonesian DX Club, yang diwakili oleh rekan Herbert Sunu Budihardjo.
Ditunjang lagi dengan persiapan yang matang, serta promosi yang dilakukan jauh hari dengan gencarnya. Ucapan Selamat Ulang Tahun bagi kedua stasiun radio tersebut, Semoga Panjang Umur dan lebih meningkatkan kerja sama dengan semua klub pendengar yang ada. Sebaliknya, bagi seluruh staf penyiar Radio Australia, kini dirundung ketidakpastian, karena pemerintah Australia berencana menghentikan seluruh siaran Radio Australia yang ditujukan ke luar negeri, termasuk siaran dalam bahasa Indonesia.
Adakah benar-benar menyusul Radio Tirana dan Radio Moskwa ? Kita semua sedang menunggu kelanjutannya. Sebagai pendengar, kita tetap berharap bahwa hal tersebut jangan menjadi kenyataan. Namun, semua tergantung pada pemerintah Australia juga yang membiayai semua aktivitas stasiun radio tersebut. Apakah kedua kejadian yang berbeda itu pertanda di tahun kerbau ini ada dua macam kutub yang tidak mungkin dipertemukan ? Antara gelap dan terang atau justru kedua unsur tersebut merupakan penyeimbang. Sehingga tercipta keadaan yang ideal, yang dapat diterima semua golongan.
Peristiwa tersebut mengingatkan kami agar tidak berlebihan, berkurang dalam bersenang-senang, tanpa menghiraukan yang lain, atau berduka terus-menerus, tanpa mencari jalan keluarnya. Prinsipnya, hidup ini perlu keseimbangan dan mengharuskan kita senantiasa berkomunikasi kepada Sang Khalik, Yang mengatur sendi kehidupan kita. Sembari merenung kejadian tersebut, pernah dialami klub kita tercinta ini. Pada awal berdirinya menggebu-gebu, penuh semangat, dipenuhi beragam kegiatan. Bahkan dikatakan cukup spektakuler.
Ibarat kata bersenang-senang terus sampai melupakan masa pendinginan, yang akhirnya sampai pada titik nadir. Kami semua kemudian mengaca diri, dan mengevaluasi semua sepak terjang yang pernah dilakukan, tidak pernah mencari kambing hitam. Melainkan mencari jalan keluar yang terbaik guna menyelesaikan masalah yang dihadapi, maupun yang akan dihadapi. Kami merasakan perlunya komunikasi dan musyawarah, agar tercapai sasaran yang dituju, jangka pendek maupun jangka panjang.
Sementara ini, kami dalam masa konsolidasi ke dalam, serta akan berusaha selalu hadir sesuai dengan yang dijanjikan. Itulah sasaran jangka pendeknya. Sasaran akan tercapai bilamana ada peran serta semua anggota dalam segala hal. Sekecil apapun juga, kami nantikan demi kemajuan klub, semua pasti setuju. Semoga tahun baru ini merupakan tonggak untuk melangkah lebih maju, berlaku seimbang, senada, dan seirama. (DBR)
Surat dari Ibukota
Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Itulah kalimat pertama yang harus kami ucapkan kepada seluruh anggota IDXC dan pembaca Dirgantara di mana saja berada. Memang, berkata maaf kadang sulit keluar dari bibir kita, karena masih ada persoalan yang mengganjal dalam hati masing-masing. Tetapi alangkah indahnya, bila semua umat manusia mau bermaaf-maafan, tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Terlebih lagi bila kata maaf keluar dari lubuk hati yang paling dalam disertai dengan tindakan nyata, maka segalanya akan berjalan damai dan tenteram.
Selama ini kami, pengurus, belum maksimal memberikan pelayanan kepada seluruh anggota. Hal tersebut bukan karena disengaja, melainkan banyak kendala yang harus dihadapi pengurus, antara lain domisili yang terpencar di berbagai kota, kendala keuangan, yang merupakan 85% tulang punggung untuk biaya produksi buletin, juga meningkatnya jumlah anggota dari waktu ke waktu, kurangnya tenaga bagian administrasi maupun distribusi.
Tetapi permasalahan tersebut sedikit demi sedikit mulai teratasi. Hal ini dapat Anda lihat dengan ditanganinya buletin yang ketiga hasil olahan tim redaksi di Ibukota. Pengurus sadar masih banyak kelemahan, oleh karena itu kami menghimbau agar Anda memberikan kritik maupun saran, agar buletin bisa tetap eksis, rutin mengunjungi Anda, dan dapat memberikan nilai tambah bagi semua pembaca maupun pihak-pihak yang terkait dengan isi buletin. Dalam kesempatan ini, selain suplemen disertakan juga secarik kertas yang berisikan kesanggupan dari Anda semua untuk tetap berlangganan Buletin Dirgantara.
Dikandung maksud untuk mengetahui kepedulian Anda, apakah klub kita ini masih dicintai atau tidak. Apabila Anda tidak mengembalikannya, berarti Anda tak bersedia lagi memajukan klub kita tercinta, Indonesian DX Club, dan dengan amat sangat terpaksa, kami menghentikan Anda sebagai pelanggan Dirgantara. Bagi Anda yang mengembalikan, kami menyediakan sekedar cendera mata bagi Anda. Kami tunggu balasan surat kesanggupan Anda di redaksi. (DBR)