Profil Stasiun
Perbincangan Santai dengan Mbak Marie
MARIANA KWA (MK) lahir di Jakarta, termasuk orang lama yang awet muda dan serba bisa. Masuk di Seksi Indonesia Suara Jerman tahun 1975, kini menjabat sebagai Wakil Kepala Seksi Indonesia Suara Jerman Deutsche Welle. Dalam kesempatan cuti ke Indonesia mengunjungi keluarganya, beliau sempat bertemu dengan pendengar Suara Jerman di Jakarta. Sebelum kembali ke Jerman, bersedia bertemu dengan Dirgantara (Herbert Sunu Budihardjo dan Dwi Budhi Rahardjo). Berikut petikan wawancaranya yang dilakukan beberapa waktu lalu di Kelapa Gading.
Suara Jerman Secara Umum
HSB : Kapan Suara Jerman Deutsche Welle didirikan, dan apakah tujuannya waktu itu ?
MK : Kalau Suara Jerman - Deutsche Welle secara umum sudah sejak tahun 1952, jadi sekarang sudah 40 tahun lebih. Tujuannya semula, sebagaimana radio gelombang pendek, juga ingin hadir di udara dan luar negeri. Itulah SJDW, semacam BBC dari Jerman.
HSB : Masih ada relevansinya dengan saat ini, tujuan tersebut ?
MK : Sampai sekarang, relevansinya masih ada, cuma harus diingat juga negara tujuan siarannya. Kalau negara sudah bebas sekali persnya, saya rasa sudah tidak ada relevansinya lagi, tetapi untuk negara-negara di mana kebebasan pers masih terbatas, saya rasa siaran langsung dari luar negeri itu masih banyak manfaatnya.
HSB : Bagaimana pembiayaan Suara Jerman, budget Suara Jerman berasal dari pemerintah ataukah masyarakat ? Sejauh mana pemerintah Jerman ikut campur dalam kebijaksanaan intern ?
MK : Budget Deutsche Welle dari pemerintah, tidak dari iuran masyarakat. Pemerintah Jerman secara langsung memang tak begitu ikut mempengaruhi Deutsche Welle meskipun membiayainya. Sebagaimana biasanya, seperti Deutsche Welle mempunyai suatu dewan disebut Rundfunk Raad. Inilah terdiri dari berbagai tokoh, dari semua partai, dari semua kalangan, dan dari semua lapisan, dan mereka ini turut menentukan kebijaksanaan radio. Jadi, secara langsung pemerintah tidak ada, tapi kalau semua partai diwakili, semua aliran politik, agama, pendidikan, kebudayaan, semua diwakili dalam badan ini. Maka, kurang lebih ada yang ikut menentukan kebijaksanaannya.
HSB : Apakah kalau mengkritik Pemerintah Jerman bisa dibredel atau diperingatkan ?
MK : Ya, itu tidak bisa, karena saya rasa di sana ada undang-undang kebebasan pers, masalah pembredelan radio atau surat kabar di sana tidak ada. Paling kalau mengkritik, ya, ada kritik balasan, atau menjawabnya, atau meluruskannya, atau memberi pendapat yang kontra lagi. Sekarang terserah pendengar, mana yang mau dipercayai.
HSB : Sampai saat ini, berapa jam sehari melayani pendengarnya di seluruh dunia untuk keseluruhan seksi, dan dalam berapa bahasa ?
MK : Kalau secara keseluruhan 24 jam, karena disiarkan ke seluruh dunia, dalam 34 bahasa. Siarannya setiap jam ada.
HSB : Apakah di setiap seksi diberlakukan kebijaksanaan khusus, bisa mengatur rumah tangganya sendiri ?
MK : Ya, setiap seksi ada redaksinya sendiri. Ada pemimpinnya, dan para redaktur, penyiar. Mereka bisa menentukan sendiri programnya. Tapi, kadang-kadang ada juga semacam garis pedoman tertentu, yang harus diperhatikan, misalnya apa tujuan DW itu. Tujuannya adalah memperkenalkan kepada umum, masyarakat baik itu politik, budaya, masalah sosial ekonomi. Jadi, tugas ini harus diperhatikan. Jadi semua siaran ada tujuan, memperkenalkan Jerman, atau memperkenalkan pendapat, opini Jerman ke luar negeri.
HSB : Sebelum ini, radio dan televisi Jerman terpisah. Apa latar belakang kebijaksanaan penyatuan radio dan TV dalam satu atap ?
MK : Saya rasa, mungkin, dalam era globalisasi dan informasi yang semakin gencar, Deutsche Welle menganggap kurang cukuplah kalau hanya mempunyai radio tanpa televisi. Maka sejak awal 1990-an, mulai gencar televisi dibangun dan diperluas. Dengan sendirinya, jadi satu atap dan satu pimpinan.
HSB : Di tengah-tengah maraknya stasiun radio memasuki Internet, apakah Suara Jerman juga telah mengakses ke sana ?
MK : Ya, sudah ada rencana untuk memasukkan SJ ke Internet, tapi sampai sekarang belum ditentukan bahasa mana yang masuk ke Internet. Tapi, untuk sementara, siaran bahasa Inggris dan bahasa Jerman bisa diakses.
HSB : Sajian apa saja yang biasa terdapat di Internet ? Misalnya pendengar di Indonesia ingin mengetahui ?
MK : Saya rasa, itu tentu ada acara-acara yang paling menarik, yang akan dimasukkan dalam Internet itu. Tapi, karena belum dipraktekkan, hanya baru rencana, mungkin sementara ini (tahun ini sudah akan masuk), acara apa yang bisa didengarkan.
HSB : Kalau pemakaian satelit, apa ada rencana ditujukan ke negara-negara Asia ?
MK : Ya ada rencana juga, DW katanya, mulai Oktober ini akan meluncurkan Asia Sat II. Nah, khusus untuk melayani benua Asia. Peluncurannya bulan Oktober ini, kalau semuanya berjalan lancar. Banyak sekali masalah teknik yang harus ditanggulangi dulu. Nah, kalau menurut rencana, bulan Oktober ini, dan kalau satelitnya sudah ada, sudah di orbit, maka mungkin tak lama lagi, orang-orang di Indonesia bisa mendengarkan / menangkap TV dan radio secara langsung. Cuma, ya itu, alat penangkapannya harus yang bagaimana.
HSB : Beberapa stasiun radio mempunyai stasiun relai. Seperti juga SJ ada yang di Julich, Wertachtal, dan Trincomalee. Untuk kawasan Asia, yang paling bagus adalah dari Trincomalee. Apakah stasiun pemancar tersebut tidak direncanakan dibangun di daerah yang mendekati Indonesia mengingat akhir-akhir ini penerimaan SJ kurang begitu bagus ?
MK : Ya, sejauh saya tahu, DW tidak akan membangun stasiun relai, selain yang sudah ada di Trincomalee tersebut, mengingat akan adanya satelit. Jadi karena akan diluncurkannya Asia Sat II, atau dioperasikan Asia Sat II pada akhir tahun ini juga, maka tak ada rencana memperluas atau membangun stasiun relai yang baru, entah di manapun di Asia.
Khusus Seksi Bahasa Indonesia
HSB : Pendengar-pendengar Radio Nederland ingin mengetahui, mengapa seksi bahasa Indonesia Suara Jerman didirikan ? Kapan dimulai, serta apakah tujuannya ?
MK : Seksi bahasa Indonesia didirikan tahun 1963, tanggal 30 September. Kalau tidak salah, tahun 1963, masih zamannya Soekarno. Untuk mengantisipasi sebenarnya kegiatan Jerman Timur yang mau meningkatkan (kalau tidak salah dulu) konsulatnya menjadi kedutaan besar di Indonesia.
Nah, untuk mengimbangi itu, maka didirikanlah Suara Jerman Bahasa Indonesia, karena pada saat tahun-tahun itu, ada desas-desus pemerintah Indonesia akan mengakui pemerintah Jerman Timur, dan membuka kedutaan besar. Dulu, memang masih ada peraturan / undang-undang, kalau pemerintah suatu negara mengakui Jerman Timur, Jerman Barat harus mundur harus membubarkan kedutaannya begitu. Nah, karena takut atau untuk menghadapi situasi seperti itu, maka dibukalah Seksi Indonesia ini, supaya suara dari Jerman Barat harus juga hadir di udara, di antara radio-radio gelombang pendek di sini.
HSB : Setelah puluhan tahun mengudara, berapa perbandingan antara berita, informasi, hiburan, serta musiknya ?
MK : Kalau musiknya mungkin hanya 20 % dari keseluruhan acara, sebagian besar (50 %) berita informasi/politik, 30 % berupa feature, jadi berupa air magazine (majalah udara), temanya macam-macam, sosial, kebudayaan, olah raga, atau apapun.
HSB : Bagaimanakah profil pendengar Suara Jerman seksi bahasa Indonesia, serta berapa banyak jumlah pendengar yang tercatat ?
MK : Belum pernah kami mencatatnya tapi kalau pendengar pelajaran bahasa Jerman yang tercatat karena kami mengirimkan bukunya, itu lebih dari 6000-an, tapi yang tidak tercatat lebih dari itu tentu. Mengenai pendengar, dari segala lapisan dan kalangan, muda-tua, ataupun tua sekali, pria wanita itu seimbang. Baik yang bekerja sampai petani di desa-desa Nusa Tenggara Timur, bahkan Irian Jaya, dari pedalaman sampai kota-kota besar.
HSB : Rata-rata sebulan menerima surat berapa jumlahnya, serta pada umumnya, apakah keinginan pendengar yang dituangkan dalam surat tersebut ?
MK : Ya surat sekarang rata-rata 500 sangat dramatis menurun dibandingkan dengan sebelumnya bahkan sampai 2000an dalam sebulan. Tapi, bisa juga agak meningkat, katakanlah antara lima sampai enam ratus, malahan 1000 sebulan. Surat-surat itu biasanya tentang penerimaan yang kurang jelas atau bagus sekali di berbagai daerah. Yang kedua, saran yang bermacam-macam, juga permintaan tentang brosur, pedoman acara, dan sebagainya.
HSB : Apakah di Suara Jerman penyiar merangkap prosedur atau ada pembedaannya ? Antara penyiar / presenter dengan produser ?
MK : Maksudnya ? Kalau begitu penyiar sekaligus produser. Masing masing redaktur memegang rubrik tertentu. Mencari bahan, menulis naskah dan mengeditnya. Sedangkan, yang membaca belum tentu dia sendiri, bisa rekan-rekan lain. Produser adalah mereka yang mencari bahan, mengedit, menerjemahkan dan segalanya.
HSB : Berapakah jumlah penyiar dan kerabat kerja Seksi Bahasa Indonesia ? Adakah perbedaan antara pegawai tetap dengan pegawai tidak tetap ?
MK : Seksi Indonesia ada Kepala seksinya yaitu Bung Rudi (Rudiger Siebert). Kemudian, ada sekretarisnya, orang Jerman, dan ada yang disebut of name lighter yaitu orang Jerman (Pengawas studio rekaman, Anneliesse engeskamp, penulis). Kemudian, ada tujuh redaktur dari Indonesia. Saya wakil Kepala Seksi, di bawah langsung Bung Rudi. Kalau Bung Rudi tidak ada, maka segala aktifitas redaksinya menjadi tanggung jawab/ditangani kami, selain itu di atas kepala seksi masih ada kepala redaksi Asia / region Asia. Kalau dilihat secara keseluruhannya, maka yang bertanggung jawab untuk semua yang keluar dari semua Kepala Redaksi yaitu Attendant yaitu Direktur (kalau disini yaitu Direktur Jenderal).
HSB : Jumlah pegawai ?
MK : Sebentar dulu ya, tenaga dari Indonesia ada 7 orang ditambah satu yang mengerjakan surat-surat pendengar (Aan Meutia Lubis, penulis). Diantara 7 yang tetap adalah Marliana Kwa, Dewi Gunawan Ladener, Asril Ridwan, dan Agus Setiawan, yang lainnya tak tetap. Empat tetap, tiga kontrakan.
HSB : Apakah ada perbedaan antara pegawai tetap dan pegawai tidak tetap ?
MK : Di dalam pekerjaannya tidak ada perbedaan, yang tetap tak ada batasnya, sedangkan yang kontrakan dua atau tiga tahun tidak ada penempatan, ya harus pulang, tapi dalam hak dan kewajiban tidak ada bedanya.
HSB : Berapa jam biasanya bekerja dalam sehari ? Dan apakah dikenakan lembur, misalnya berkenaan dengan adanya kunjungan kenegaraan ?
MK : Jam kerjanya di sana delapan atau delapan setengah jam, tapi setengah jam pause. Tapi karena radio tak mengenal hari libur dan hari raya, harus ada siaran terus, maka kami pun terus bekerja. Kami pun lembur, karena hari raya atau hari Minggu akan diganti dengan hari lain prei, untuk menggantikan, karena hari libur kita bekerja.
HSB : Dari manakah Suara Jerman memperoleh sumber berita ? Berlangganan kantor berita ataukah dari kantor berita khusus Jerman ?
MK : Ya, sumber berita / nara sumber banyak sekali, karena Deutsche Welle berlangganan paling sedikit 12 kantor berita. Belum lagi, 20-an surat kabar, belum lagi majalah, belum lagi para reporter / koresponden di manca negara. Meskipun di Indonesia tidak ada, tapi hampir semua kawasan ada korespondennya.
HSB : Mengapa tidak menempatkan wartawannya di Indonesia ? Sementara, siaran bahasa Indonesia ditujukan ke kawasan ini ?
MK : Ya. Itu yang sampai sekarang, saya belum berhasil untuk mengetahuinya, tapi yang sejauh saya tahu di Singapura ada koresponden Deutsche Welle. Mungkin pernah dengar Jurgen Daud, dan juga kalau tidak salah di Thailand ada seorang wartawan. Tapi, di Jakarta sendiri sampai sekarang tidak ada, ya.
HSB : Apakah semua siaran dilakukan secara live ? Dan berapa waktu yang dipergunakan untuk menggabungkan semua mata acara lainnya yang kurang lebih selama 50 menit siaran ?
MK : Live-nya nggak semua, mungkin dalam satu siaran boleh dikata 50% dibaca live, sedangkan sisanya rekaman. Untuk menyelesaikan 50 menit siaran, yaitu untuk menyusun, memang diperlukan lebih banyak waktu. Katakanlah, untuk satu siaran yang sepuluh menit, mungkin diperlukan naskah yang panjangnya 5 halaman. Untuk menulis naskah 5 halaman itu tergantung masing masing orang, bisa cepat, bisa lambat.
HSB : Pada awal mulanya siaran Suara Jerman mengudara dalam jangka waktu 40 menit, beberapa tahun kemudian menjadi 70 menit. Mulai Maret 1986 mengudara dua kali sehari, pagi dan malam, masing-masing selama 50 menit. Apakah dalam waktu dekat ini akan ada perubahan jam siar ?
MK : Dalam bulan Oktober mendatang akan ada perubahan total, jadi jam siaran seluruhnya tak berubah, yakni 100 menit. Cuma, kalau sebelumnya siarannya terdiri dari dua blok, 50 menit malam dan 50 menit pagi. Maka sekarang dibagi dalam tiga blok, jadi sore 25 menit, malam 25 menit, yang pagi tetap lima puluh menit. Untuk pagi, merupakan penggabungan, ada juga acara yang diulang.
HSB : Apakah perubahan jam siar tersebut berdasarkan survei, ataukah hanya kebijaksanaan intern di redaksi Indonesia ?
MK : Keputusan itu diambil berdasarkan kebijaksanaan intern dan juga melihat waktu siaran dari radio gelombang pendek lainnya, dan berdasarkan survei itulah diambil keputusan seperti itu.
HSB : Beberapa mata acara tetap dipertahankan antara lain Asia Selayang Pandang, Eropa Sekilas, dan sudah berjalan belasan tahun. Bagaimana proses kelahiran acara-acara ini pada awal mulanya ?
MK : Dari acara-acara itu dapat dilihat bahwa SJDW, khususnya seksi Indonesia, ingin memberikan informasi seluas-luasnya. Kalau ada acara Eropa Sekilas, tentu khusus berita-berita dari Eropa, Asia Selayang Pandang tentu benua Asia yang penting sekali. Tentu acara-acara lainnya kurang lebih sudah memfokuskan suatu tema / kawasan. Tentu zaman terus berubah, waktu terus berubah, tentu ada perkembangan, terus diikuti oleh Suara Jerman. Seperti diketahui bahwa sekarang banyak acara baru antara lain wawancara telpon dengan tokoh-tokoh Indonesia.
Dalam acara Siaran Khusus 50 Tahun Indonesia Merdeka, di mana kita menyiarkan secara serial dengan lima puluh tokoh, dan itu yang akan ditingkatkan, karena acara itu yang hidup, yang banyak memberi informasi. Juga kepada para pendengar, semula memang berpikir berita atau tokoh dari Indonesia tidak menarik untuk didengar lagi. Tetapi kenyataannya tidak, karena tokoh yang diwawancarai juga berbeda dalam memberikan pendapatnya, kalau dia diwawancarai wartawan dari luar negeri atau dalam negeri akan lain, di situ menariknya.
HSB : Apakah ini merupakan pergeseran atau pergantian Opini Anda yang dulu pernah diudarakan, terus selama ini tak ada lagi ?
MK : Ya, Opini Anda, bukannya sudah dibubarkan, tapi masih ada, sementara ini belum digalakkan lagi dan ini juga salah satu kompensasi acara-acara baru. Mungkin suatu saat akan dihidupkan kembali Opini Anda.
HSB : Beberapa tahun yang lalu Suara Jerman menyelenggarakan semacam sayembara, dengan hadiah bagi para pemenangnya diundang untuk mengunjungi Jerman. Mengapa undangan ini tidak diberlakukan lagi, sementara radio lain masih menyelenggarakan ?
MK : Ya, semula khusus untuk Indonesia, karena waktu itu ada kesulitan dengan pemenangnya yang tidak dapat menghadiri atau menggunakan kesempatan ini. Karena itu mungkin dipikirkan lagi, karena hadiah seperti itu sulit dilaksanakan. Karena ada orang karena sesuatu hal tidak dapat pergi ke luar negeri, karena masih terikat sekolah / pekerjaan, maka untuk sementara ini dihapuskan. Tapi yang saya tahu hadiah-hadiah untuk negara lain seperti Jepang, Bangladesh masih ada yang diundang ke Jerman. Tapi khusus untuk seksi Indonesia kalau ada saran dan masukan dari pendengar di Indonesia bisa saja diusulkan lagi.
HSB : Salah satu daya tarik Suara Jerman, selain warta berita, komentar, ilmu pengetahuan dan teknik adalah sayembara bulanan dan sayembara tahunan. Dengan hadiah cindera mata yang khas serta pesawat radio. Apakah Suara Jerman mengadakan kerjsama dengan produsen elektronika Siemen dalam menyediakan hadiah ?
MK : Kerjasama mungkin tidak ada. Tapi bagi perusahaan elektronika Jerman Siemens atau Grundig itu juga suatu promosi. Kalau kita membagikan radio dan alat-alat elektronika dari mereka, jadi semacam sumbanganlah. Kalaupun DW membelinya tentu dengan harga yang relatif murah.
HSB : Adakah kerjasama dengan RRI / radio swasta ? Dalam wujud apakah bentuk kerjasamanya ?
MK : Dengan RRI dan radio swasta kerjasamanya adalah dalam bentuk paket siaran. Dan dengan RRI juga dalam bentuk pelatihan yang teratur setiap tahun. Dari RRI dikirim orang ke Jerman untuk mengikuti berbagai pelatihan baik itu teknik atau redaksionalnya.
HSB : Itu di luar penyiar yang tetap tadi ?
MK : Ya, di luar. Dan mereka tidak tergabung dalam redaksi Indonesia. Kalau dalam pelatihan itu para operator/ahli teknik itu bidangnya khusus. Kalau redaktur seusai pelatihannya dilanjutkan bergabung dengan redaksi untuk beberapa minggu. Dengan radio swasta hanya pada paket siaran.
HSB : Di tengah persaingan memperebutkan waktu siar yang bagus, Suara Jerman memilih waktu siar yang relatif aman, yakni setelah jam delapan malam ? Apakah Suara Jerman takut persaingan ?
MK : Ya, ini adalah pertanyaan juga. Jam-jam yang menarik bagi pendengar itu biasanya sudah diisi dengan siaran-siaran dari negara lain. Memang kalau diikuti dalam jam itu, bisa saja, itu benar-benar menyaingi. Mungkin kebijaksanaan ini untuk tidak pada jam sama, justru memberi pada para pendengar untuk dapat mengikutinya. Sehingga mereka tidak dalam dilema. Kepengin dengar ini dan ini juga. Nah dengan melihat sedikit waktu siaran radio-radio lain dan agak menyesuaikannya, mungkin pendengarnya semakin banyak dibandingkan apabila bersaing terbuka, membabi buta. Malah saya rasa lebih sulit.
HSB : Mengapa justru Suara Jerman memajukan jam siaran menjadi jam 05.00 pagi ? Menginat pada jam tersebut BBC London juga telah memulai siarannya.
MK : Ini mengingat ke Indonesia bagian Timur. Justru pendengar pendengar Deutsche Welle paling banyak berada di Indonesia Timur. Jadi kalau sesudah jam 05.00 itu terlalu siang. Kalau terlalu pagi, juga terlalu pagi bagi pendengar di Indonesia bagian Barat.
HSB : Dalam acara Kotak Pos. Pertanyaan apa yang biasanya ditanyakan oleh pendengar ?
MK : Kita punya acara khusus Kotak Surat, Menjawab Pertanyaan Pendengar. Pertanyaannya bermacam ragam, dari yang ilmiah, sampai pertanyaan yang sepele. Tapi semuanya dijawab. Dan kadang-kadang pertanyaan apa tergantung tema yang sedang populer, mungkin karena sekarang sedang ada Piala Eropa. Pertanyaannya banyak seputar itu.
HSB : Di tengah persaingan stasiun radio siaran luar negeri dalam bahasa Indonesia, yang kini berjumlah 25 stasiun dari lima benua. Khususnya dalam meningkatkan pelayanan pada pendengarnya stasiun radio yang bersangkutan menerbitkan buletin berkala, baik bulanan, triwulanan maupun tahunan. Mengapa Suara Jerman justru menghentikan penerbitan Sahabat padahal ini merupakan salah satu daya tarik ?
MK : Penghapusan majalah Sahabat, bukan atas kemauan seksi Indonesia, melainkan karena penciutan dana atau penghematan dari pemerintah Jerman. Sehingga beberapa pos ditiadakan, salah satunya adalah penerbitan buletin Sahabat itu. Berdasarkan apa yang dianggap tidak penting, saya tidak tahu. Tapi katanya akan ada penggantinya, tapi belum ada tanda-tandanya, apa penggantinya itu. Apakah dalam bentuk buletin atau majalah, bulanan atau tahunan. Tapi sampai sekarang belum jelas. Kita harap saja semacam majalah itu bisa terbit lagi.
HSB : Beberapa tahun yang lalu saya pernah menjadi Monitor Teknik Suara Jerman, secara tiba-tiba dihentikan. Apakah ada kesempatan lagi bagi saya untuk menjadi Monitor Teknik di tahun yang akan datang ?
MK : Saya rasa itu di bagian teknik yang mengangkat. Kenapa tidak lagi jadi monitor, saya tidak tahu.
HSB : Mungkin karena letaknya di Jakarta dan sudah ada beberapa monitor teknik ? Dulu, memang saya tinggal di Gunungkidul. (Bersambung)