Amateur Radio
Jepang Masih Nomor Satu, Indonesia Lima
Di Indonesia, kegiatan ini lebih dikenal dengan istilah "ngebreak". Bila Anda menemukan sebuah rumah penuh dengan antena, ada kemungkinan itu rumah seorang operator radio amatir, biasanya antena tersebut mempunyai bentuk khusus, berbeda dengan antena TV, radio FM atau SW. Bahkan beberapa eksperimental memasang antena secara sembunyi takut terkena razia. Misalnya di pohon yang rimbun, dalam sangkar burung yang digantung tinggi-tinggi.
Kini teknologi radio amatir sudah banyak mengalami kemajuan. Tetapi, tahukah Anda apa arti sebenarnya radio amatir itu ? Dalam kegiatan radio amatir, orang saling berkomunikasi dengan menggunakan pesawat radio mereka masing-masing. Mereka kebanyakan memancarkan dari kantor sendiri, jadi setiap operator adalah stasiun pemancar radio mereka sendiri. Dewasa ini terdapat lebih dari 2,50 juta stasiun pemancar radio amatir di seluruh dunia dan lebih dari separuh atau 1,30 juta adalah di Jepang. Jepang adalah suatu negara dimana radio amatir sangat digemari.
Sejumlah besar orang Jepang menikmati hobi radio amatir itu siang dan malam. Menempati urutan kedua, Amerika Serikat, dengan sekitar 60 ribu stasiun pemancar. Radio amatir dahulu merupakan satu hobi bagi orang-orang yang menyukai ilmu pengetahuan. Mereka membeli suku cadang elektronik dan membuat radio sendiri. Dan menggunakan radio itu untuk mengirimkan pesan-pesan dan mempelajari gelombang udara.
Memang sekarang pun masih ada orang-orang yang membuat radio mereka sendiri. Tetapi sebagian besar membeli sebuah unit siap pakai dari pabrik dan menggunakannya untuk mengadakan komunikasi. Lalu apa daya tarik sesungguhnya dari radio amatir itu ? Menurut Shokohara, Ketua JARL (Japan Amateur Radio League), Liga Amatir Radio Jepang, dia memulai kegiatan itu ketika masih di kelas 5 SD. Satu kesenangan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.
"Gelombang-gelombang udara tak selalu sama dari hari ke hari. Transmisi yang gagal kemarin mungkin akan berhasil hari ini. Setiap hari keadaan berbeda. Tidak ada ulangan dari hal yang sama. Itu daya tariknya," kata Shokohara. Telepon menghubungkan kita dengan orang yang akan kita hubungi, sedangkan dalam hal pesan radio, kita tidak tahu siapa yang akan mendengarkannya.
Atau percakapan yang bagaimana yang akan terjadi. Itu yang sangat menarik. Senada dengan ketua JARL, Saka Shegawa, guru yang mengajar sebuah klub radio amatir di sebuah SLTA menjelaskan, "Karena kedua pihak adalah operator radio amatir, maka kita dapat mengobrol dengan orang yang tidak kita kenal tanpa perasaan janggal. Orang-orang ikut dengan radio amatir karena ingin berbicara dengan seseorang. Maka kita akan selalu menemukan lawan untuk diajak ngobrol". Itu hal yang menggembirakan, tambahnya.
Tidak berarti bahwa siapa saja dapat ikut. Dan tidak cukup asal orang membeli pesawat radio saja. Orang baru boleh menggunakannya setelah lulus ujian negeri untuk memperoleh ijin operator radio. Pada ujian tersebut kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang elektronik dan hukum yang mengatur penyiaran dan penggunaan radio. Tetapi ada juga yang telah berhasil melewati rintangan itu pada usia yang sangat muda. Dan kemudian mendirikan stasiun pemancar radio amatir mereka. Takayama adalah salah satunya.
"Saya mulai ketika kelas 4 SD", ujar amatir radio yang kini kelas 6 SD. Ia dapat berbicara dengan berbagai orang dan juga saling mengirim surat. Ia belum pernah bertemu dengan mereka, tetapi ia telah mempunyai banyak teman. Kenapa radio amatir begitu penting di Jepang ? Setelah Perang Dunia II berakhir, hanya terdapat 331 operator radio amatir. Angka ini lambat laun meningkat setelah perang usai. Pada waktu itu orang bersemangat untuk mengajar soal listrik dan ilmu pengetahuan.
Murid-murid SD diajarkan caranya membuat radio dengan memakai detektor kristal. Dalam proses tersebut, jumlah operator radio amatir melonjak sampai ke angka tinggi seperti dewasa ini. Jepang mengalami perkembangan dramatis di bidang elektronik. Dan menghasilkan kemungkinan untuk membuat pesawat radio dengan daya guna yang tinggi. Dewasa ini pesawat radio buatan Jepang dipakai seluruh dunia. Radio buatan Jepang disukai karena mempunyai fungsi ganda dan daya guna tinggi. Juga karena mudah dipakai.
Ketika gempa bumi Han Sin melanda Jepang tahun 1995 lalu, radio amatir memainkan peranan penting. Di gedung-gedung pemerintah di mana terdapat fasilitas radio darurat yang katanya tahan gempa, ternyata hubungan putus juga. Tetapi, para operator radio amatir dapat berkomunikasi dengan lancar. Itu karena alat-alat radio amatir sangat kontak dan memakai baterai. Masyarakat bergerak menuju ke arah sistem komunikasi komputer yang lebih canggih.
Namun dengan pengalaman pada gempa bumi itu orang-orang mulai memikirkan kembali nilai dari radio amatir. Untuk berkomunikasi di samping ngobrol secara langsung, bisa juga menggunakan sandi. Dalam hal ini sandi morse atau kode morse. Kode morse ini bersifat universal, sehingga kita tidak akan kesulitan berkomunikasi dengan operator radio amatir di negara yang bahasanya tidak kita ketahui.
Salah satu keunggulan penggunaan kode morse adalah kita dapat mencapai jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan transmisi siaran. Apa yang dapat kita lakukan dengan kode morse itu ? Ada yang disebut dengan kode Q. Contoh yang terkenal adalah SOS. QRA berarti siapa namamu ?, QTH adalah untuk alamat kita. Banyak sekali singkatan singkatan seperti itu, misalnya QSL, QRX, QRM.
Dan kita bisa berkomunikasi meskipun kita tidak memahami bahasa asing. Pada zaman dahulu, para operator radio amatir hanya dapat berkomunikasi dengan tempat-tempat yang dapat dicapai langsung oleh sinyal-sinyal mereka, meskipun dengan menggunakan sandi morse itu. Tetapi dewasa ini dengan bantuan satelit, memungkinkan untuk memancar sampai ke bagian dunia yang jauh sekali. Di bulan Agustus 1996 lalu, Jepang telah meluncurkan satelit ke-3 untuk para operator radio amatir.
Satelit yang tinggi, lebar dan panjangnya 50 cm itu berbobot kira-kira 50 kg. "Satelit itu dapat menyimpan pesan-pesan", ujar Shokohara, ketua JARL. Satelit itu mengitari bumi 16 kali dalam sehari. Jadi, bisa menerima pesan ketika melewati Jepang dan mengirimkannya pada waktu satelit itu melewati bagian dunia lain. Dan pesan itu pasti akan sampai, tambah Pak Shokohara. Semua orang di seluruh dunia dapat melakukan hal seperti itu dengan radio.
"Para operator radio amatir menggunakan gelombang udara dengan cuma-cuma. Gelombang udara adalah bagian dari warisan besar umat manusia. Kita harus membalas dengan sesuatu yang dapat membantu manusia. Hal itu harus dimanfaatkan dengan layanan radio darurat dan menggalakkan pertukaran internasional", ujar Shokohara tentang perkembangan radio amatir di masa datang. Sudahkan operator radio di Indonesia melaksanakan hal itu? Jika belum, tidak ada salahnya mulai dari sekarang juga. (Radio Jepang NHK World / ASB)