Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 7 No 1 Jan-Feb 1997
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Sosok
Amateur Radio
Profil Stasiun
Laporan Berita
Redaksi

Volume 7
  Sosok
Lebih Jauh Dengan Kepala Seksi Indonesia Radio Jepang

SHIGERU TAKATORI (ST) lahir di Nigata, mempunyai kegemaran berolah raga, dan menyanyi. Masuk di Seksi Indonesia Radio Jepang NHK World tahun 1970-an, kini ia menjabat sebagai Kepala seksi dan senior program director, news and program production division (group 2) Overseas Broadcasting Department NHK. Dalam kesempatan cuti ke Indonesia bersama istrinya, setelah mengunjungi pulau Kalimantan. Sehari sebelum pulang ke Jepang, bersedia ditemui Dirgantara (Herbert Sunu Budihardjo). Berikut petikan wawancara yang dilakukan di kafe hotel di Jakarta.

HSB : Bapak Takatori, kapan Radio Jepang NHK didirikan, dan apa tujuannya waktu itu ?
TS : Radio Jepang didirikan pada tahun 1935, tujuan utamanya, satu untuk memberi hiburan / informasi orang-orang Jepang yang tinggal di luar negeri. Satu lagi, untuk menyebarluaskan tentang Jepang kepada orang-orang asing. Itu tujuan utamanya.

HSB : Apa sampai saat ini hal tersebut masih ada relevansinya ?
TS : Ya, sampai sekarang hampir sama, tetapi itu tujuan utama, tapi makin globalisasi dunia ini berlanjut, maka unsur-unsur ditambah. Untuk memberi hiburan pada orang-orang asing, itu juga termasuk.

HSB : Bagaimana pembiayaan Radio Jepang ? Berasal dari pemerintah atau masyarakat ?
TS : Pembiayaan Radio Jepang itu semata-mata dari iuran, berapa persennya, saya tidak ingat. Tapi hampir semuanya dari iuran pemirsa televisi NHK.

HSB : Bukan dari pendengar radio ?
TS : Bukan, tidak ada iuran untuk pendengar radio, sebagian kecil itu disubsidi oleh pemerintah. Karena siaran luar negeri itu siaran yang diperintah oleh pemerintah, jadi untuk itu NHK dapat subsidi, tapi sebagian kecil saja.

HSB : Kalau siaran dalam negerinya ?
TS : Siaran dalam negeri tak ada sama sekali subsidi dari pemerintah.

HSB : Jadi murni dari swasta ?
TS : Ya, murni swasta, tapi di Jepang, ada siaran swasta juga. Di Jepang, NHK disebut sebagai korporasi umum, jadi pengelolaannya dari iuran. Sedangkan stasiun-stasiun swasta, televisi swasta lain dari pendapatan iklan.

HSB : Sejauh mana pemerintah ikut campur dalam kebijaksanaan intern di NHK ?
TS : Saya percaya tidak ada campur tangan sama sekali, baik dalam pemberitaan NHK maupun, apa namanya, eh dalam personalia, mengangkat seseorang dari luar, seperti itu tidak ada.

HSB : Jadi, misalnya NHK memberitahukan sesuatu yang negatif tentang pemerintah / pejabat tidak perlu telepon dari pemerintah begitu ?
TS : Ya, tidak ada telepon dari pemerintah. Kalau ada telepon seperti itu, malah dikritik keras, dan pejabat itu akan menghadapi kesulitan besar.

HSB : Sampai saat ini, berapa jam sehari NHK Internasional melayani pendengar di seluruh dunia dan dalam berapa bahasa ?
TS : Untuk seluruh dunia 65 jam, dan bahasa yang dipakai oleh Radio Jepang ada 22 bahasa, termasuk Jepang dan Inggris.

HSB : Apakah ada kebijaksanaan tertentu yang diberlakukan pada setiap seksi, misalnya tentang materi siaran, kecuali warta berita dan acara-acara khusus ?
TS : Hm, kebijaksanaan tertentu ya, saya kira setiap seksi mempunyai kebijaksanaan yang serupa. Eh, cuma, eh apa namanya, pendengar pendengar itu, kebijaksanaan itu disusun berdasarkan keinginan pendengar. Jadi misalnya, pendengar di Eropa mereka lebih condong ingin tahu tentang kebudayaan Jepang. Tapi pendengar-pendengar di Asia itu, seperti misalnya Indonesia, mereka ingin tahu tentang, apa namanya, perkembangan di Indonesia sendiri, atau perkembangan di Asia. Jadi, ada penekanan itu, mungkin berlainan sedikit, tapi pada dasarnya sama.

HSB : Apakah acara khusus yang biasanya dibuat dua atau tiga kali setahun itu juga dilakukan oleh seksi-seksi lain, selain Seksi Indonesia ?
TS : Maksudnya ?

HSB : Misalnya, acara khusus bulan Januari dan bulan-bulan tertentu, apa juga dilakukan oleh seksi-seksi yang lain ?
TS : Ya, ya ... itu secara serempak. Jadi, kalau NHK itu, biasanya pada musim panas menyelenggarakan apa namanya, penyiaran khusus musim panas dan musim dingin, juga ada acara khusus.

HSB : Siaran Radio Jepang dibagi dalam dua bagian, Layanan Umum dan Layanan Regional, bisa diterangkan ?
TS : Jadi, Layanan Umum itu terdiri dari bahasa Inggris dan bahasa Jepang, yang disiarkan ke seluruh dunia, sedangkan Layanan Regional itu terdiri dari bahasa-bahasa. Jadi, Indonesia itu termasuk dalam Layanan Regional.

Percakapan Kemudian Beralih Sekitar Seksi Bahasa Indonesia

HSB : Bapak Takatori, mengapa seksi Indonesia didirikan ?
TS : Ya, asal-usul yang jelas saya kurang tahu, tapi Indonesia itu dianggap suatu negara yang penting untuk Jepang, dan jam siarannya juga urutan... pertama Inggris itu untuk ke seluruh dunia. Setelah itu bahasa Cina, bahasa Korea, bahasa Rusia, setelah itu Indonesia.

HSB : Ini dalam jumlah jam siaran ?
TS : Dalam jumlah jam siar ini menunjukkan bahwa Indonesia itu dianggap penting bagi masyarakat Jepang. Ya, tapi "mengapanya" saya tidak tahu.

HSB : Dan semenjak kapan didirikan ?
TS : Kalau tidak salah 45 atau 46 tahun yang lalu, Seksi Bahasa Melayu.

HSB : Waktu itu masih bahasa Melayu, ya, apa tujuan sebenarnya ?
TS : Tujuannya, apa ya, karena Indonesia dianggap penting, dan agar orang Indonesia tahu tentang Jepang, itu tujuan utama.

HSB : Apakah bukan disebabkan karena hubungan masa lalu, dimana Jepang pernah menjajah Indonesia ?
TS : Ya, karena Seksi Melayu itu sebelum Jepang menduduki Indonesia, ya ? Ya, tapi, bagaimana ya, kurang tahu saya (tertawa).

HSB : Berapa perbandingan antara berita, informasi, hiburan, serta musiknya ?
TS : Angka jelas saya kurang tahu, tapi berita kira-kira 20 persen, informasi 40 persen, hiburan barang 10 sampai 20 persen, dan lain-lain saya kira begitu.

HSB : Bagaimanakah profil pendengar Radio Jepang Seksi Bahasa Indonesia ?
TS : Kami anggap pendengar Seksi Bahasa Indonesia itu murid-murid SMP/SMA, dan ada juga mahasiswa, jadi orang-orang muda.

HSB : Jumlah riil ada berapa pendengarnya ?
TS : Kami belum pernah menghitung jumlah pendengar.

HSB : Tapi, berdasarkan jumlah surat yang masuk, berapa rata-rata frekuensi surat yang masuk setiap bulannya ?
TS : Satu tahun kami menerima enam sampai tujuh ribu pucuk surat.

HSB : Melalui Jakarta atau langsung ?
TS : Dua-duanya.

HSB : Kalau melalui perwakilan di Jakarta, berapa kali setiap bulannya diambil melalui kotak pos ?
TS : Dua kali sebulan, dan langsung dikirimkan ke Tokyo.

HSB : Pada umumnya, dapatkah diketahui, apa keinginan pendengar dari Indonesia yang sebenarnya ?
TS : Tentang berita, mereka ingin tahu perkembangan di dalam negeri Indonesia, dan mereka ingin hiburan juga dari radio, seperti olah raga atau musik dan semacam itu.

HSB : Sekarang, apakah perbedaan antara produser dan penyiar di NHK ?
TS : Kalau produser itu biasanya orang Jepang, pegawai penuh NHK. Mereka membuat acara, artinya meliput suatu peristiwa, pergi ke tempatnya, dan melakukan wawancara beberapa orang, dan menyusun atau membuat naskah, sampai membuat paket acara. Itu pekerjaan produser, dan penyiar itu membacakannya, itu tugas penyiar.

HSB : Hanya membacakan saja, jadi tidak ada bagian khusus dari penyiar untuk meliput secara khusus begitu ?
TS : Ya, betul, itu makan waktu. Kami mencatat nama-nama yang sering berkirim surat.

HSB : Memakai komputer ?
TS : Ah, baru mau mulai, selama ini tangan, di seksi Indonesia baru akan dimasukkan dua komputer.

HSB : Jadi selama ini di seksi Indonesia belum ada komputer, ya ? Berapa jam biasanya mereka bekerja, untuk produser dan penyiar, semacam penyiar tetap (Mas Bambang) dari RRI itu ?
TS : Kalau Mas Bambang, dia delapan jam. Kalau produser itu tergantung, minimal delapan setengah jam, tapi rata-rata sepuluh jam bekerja.

HSB : Mulai jam berapa ?
TS : Itu juga tergantung menurut tugasnya, biasanya dari jam 11.00 sampai jam 09.00 atau kadang kadang sampai jam 10.00.

HSB : Dari manakah NHK memperoleh sumber berita ? Dari kantor berita ataukah dari para wartawannya yang ada di luar negeri ?
TS : NHK mengumpulkan berita sendiri dengan wartawan-wartawan sendiri, selain itu dari kantor berita juga.

HSB : Bagaimanakah proses beritanya, mulai dari pusat pemberitaan sampai dengan siap untuk diudarakan ?
TS : Berita-berita yang dikumpulkan NHK, itu pemberitaan NHK dalam negeri untuk radio dan televisi. Berita-berita yang sama itu disalurkan langsung dengan komputer ke pemberitaan Radio Jepang juga, jadi waktunya serempak pada saat itu.

HSB : Apakah selama ini ada penyiar khusus yang bertugas untuk mengontrol pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar ?
TS : Kontrol itu tidak ada, tapi kami setiap bulan, eh sekali sebulan, penyiar-penyiar dan produser berkumpul dan membahas pemakaian istilah-istilah. Sebaiknya untuk istilah ini, apa yang dipakai. Kami adakan itu setiap bulan.

HSB : Mengapa khusus seksi Indonesia tidak mempunyai / menempatkan wartawannya di Jakarta, ataukah ada semacam stringer ?
TS : Ya, belum ada, sebenarnya kami juga ingin sekali. Tetapi, kadang kadang kami minta bantuan pada orang Indonesia yang ada di perwakilan NHK untuk membuat laporan untuk Radio Jepang.

HSB : Beberapa bulan yang lalu, ada feature yang dibuat oleh seksi bahasa Malaysia tapi mengapa disiarkan di seksi bahasa Indonesia. Kalau tidak keliru, feature tersebut tentang Pramudya Ananta Tur ?
TS : Ya, ya, karena kebetulan seorang penyiar seksi Malaysia tertarik. Dia membuat usulan, dan usulan tersebut diterima, dan dia bikin acara tentang Pramudya Ananta Tur. Terus seksi Indonesia juga melihat itu mungkin menarik bagi pendengar orang Indonesia, jadi kami pinjam atau pakai acara itu untuk seksi Indonesia. (Bersambung)

 
Dirgantara Online - Vol 7 No 1 Jan-Feb 1997
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space