Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 6 No 1 Nov-Des 1996
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Temu Penyiar
Antena
Sosok
Dunia DX
Profil Stasiun
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Sosok

Bagi Anda penggemar Suara Amerika Siaran Bahasa Indonesia, pasti tak asing lagi dengan namanya. Meski masih banyak juga yang kadang keliru, karena hanya mengenal dari suaranya saja. Ya, memang ada beberapa penyiar wanita di Suara Amerika yang mempunyai suara mirip satu sama lain, salah satu diantaranya adalah TARI ISKANDAR. Namanya makin meroket mulai 2-3 tahun yang lalu, saat terjadi beberapa perubahan di Suara Amerika. Tentu Anda yang sering memantau akan tahu bagaimana dan di mana perbedaannya.

Gaya penyiar !! Memang itulah yang terjadi pada beberapa penyiar Suara Amerika, termasuk Tari Iskandar. Dengan rekan duetnya, Joko Santoso, Mbak Tari, begitu sapaan akrabnya, hampir setiap petang hadir dengan tawa candanya. Begitu pula halnya tanggal 24 Oktober 1995 yang lalu, saat duet Tarjo (Tari dan Joko) ini menyinggung rencana mbak Tari ke Indonesia. Kesempatan emas bagi pendengar tentunya tak mau menguap begitu saja. Maka beruntunglah pendengar di Yogyakarta yang sempat menemuinya.

Sayang memang karena liburan kali ini ada urusan keluarga, menjadikan mbak Tari tidak sempat menemui sebanyak mungkin pendengar. Begitu pula halnya karena waktu yang mepet karena mendadak hanya beberapa pendengar yang sempat berjumpa dengan penyiar yang banyak idolanya ini. Bertempat di kawasan Jalan Kaliurang, Yogyakarta, sesuai kesepakatan, mbak Tari menerima Dirgantara (Aries Subagyo, Aji Soekardy, Aloysius HM, dan Jemmy Liwang). Selepas senja, diiringi gerimis hujan, pukul 18.05 WIB, Dirgantara untuk pertama kalinya berjabat tangan. Meleset lima menit.

Tak jauh beda dengan yang sering kita dengar di pesawat radio. Dari gaya bicaranya, tawanya yang kadang lepas menyertai pertemuan malam itu. Banyak yang bisa kami tahu dari mbak Tari, dari hobby sampai karirnya, dari Yogya hingga Washington, dari Rosa Perrot, hingga O.J. Simpson. Tidak ada tedeng aling-aling, semua diungkapkan sembari menjawab pertanyaan kami. Hanya saja, karena bersifat privasi, ada beberapa hal yang bersifat off the record, hanya kamilah yang tahu. Berikut, petikan wawancara kami berempat secara keroyokan.

Dalam rangka apa mbak Tari pulang ke tanah air kali ini ?
+ Saya pulang cuti karena ada urusan keluarga, orang tua saya meninggal beberapa waktu yang lalu. Jadi saya ke sini tidak atas nama Suara Amerika, tapi sebagai diri saya sendiri.

Berapa kali setahun pulang kampung ?
+ Sering. Hampir setiap tahun, tapi menemui para pendengar hanya beberapa kali. Beberapa tahun yang lalu, saya ke Surabaya, juga bertemu pendengar Suara Amerika (VOA) di sana.

Penyiar tak beda halnya dengan artis, banyak yang mengidolakan dan mengejar-ngejar untuk bertemu di setiap kesempatan. Tapi tidak semua penyiar mau menemui pendengarnya, bagaimana dengan mbak Tari ?
+ Bagi saya, itu ndak masalah, kalau toh ada penyiar yang tidak mau ditemui pendengarnya, itu hak mereka. Hanya saja, saya lebih suka incignito, lebih bebas. Ndak ada ikatan dengan siapa-siapa, itu saja.

Sejak kapan mbak Tari gabung dengan Suara Amerika ?
+ Saya masuk tahun 1974, tepatnya bulan Desember.

Kalau begitu, masih ada Toeti Adhitama ?
+ Benar, setahun setelah saya masuk, Toeti Adhitama pulang ke tanah air.

Apa profesi penyiar ini merupakan cita-cita mbak Tari sejak kecil dulu ?
+ Bukan, tidak ada bayangan. Sama sekali saya tidak ada bayangan untuk jadi penyiar. Ayah saya pun juga tak suka saya jadi penyiar.

Bisa diceritakan, bagaimana bisa mbak Tari gabung dengan Suara Amerika ?
+ Ketika itu, saya masih aktif di kampus, IKIP Yogyakarta, saya juga mengasuh acara Universitaria di RRI Yogyakarta. Kebetulan, saat itu, ada penyiar Suara Amerika yang ke RRI dan mencari penyiar baru, dan saya ditawari. Eh... Tari, kamu mau ndak jadi penyiar ? Setelah melewati tes, berangkatlah saya ke Amerika. Pengalaman yang sama sekali tidak saya bayangkan sebelumnya.

Semudah itu ?
+ Tidak, sebelum saya berangkat ke Amerika, kurang lebih 3 bulan saya kerja di TVRI jadi penyiar. Hanya 3 bulan, karena setelah itu saya ke Amerika, bahkan saya tidak sempat pamit pada mereka tahu-tahu sudah di Amerika.

Apa mbak Tari suka mendengarkan radio siaran luar negeri ?
+ Sewaktu kecil dulu saya memang suka mendengar siaran ABC Radio Australia, VOA, BBC, tapi sama sekali tak ada bayangan untuk jadi penyiar.

Pengalaman apa yang paling berkesan bagi mbak Tari ?
+ Apa yah... ?

Barangkali waktu pertama menginjakkan kaki di Amerika ?
+ Iya, begini. Pertama kali datang ke Amerika, saya heran. Kok banyak sekali mobil di jalan yang dibiarkan begitu saja ? Kita kan, di Indonesia saat itu, belum banyak mobil, masih sepeda yang dominan di jalan-jalan.

Pengalaman pertama sebagai penyiar ?
+ Pertama kali memang ada perasaan lain. Saya merasa kemayu, setelah mendengar suara sendiri.

Apa kegiatan sehari-hari mbak Tari, selain sebagai penyiar ?
+ Apa yah... ? Tak jauh beda dengan orang-orang seperti saya.

Kalau hobi ?
+ Sejak kecil, saya suka menyanyi. Dan saya tergabung dalam Paduan Suara Tri Ubaya Sakti, Yogyakarta.

Mbak Tari kan berada di Amerika, bagaimana cara mbak Tari mengikuti perkembangan Indonesia ?
+ Suara Amerika berlangganan beberapa media terbitan Indonesia, seperti Kompas, Jawa Pos, Suara Karya, Angkatan Bersenjata. Dari situlah, kami bisa tahu bagaimana perkembangan Indonesia.

Banyak pendengar Suara Amerika yang mengeluh akan balasan Suara Amerika yang lama atau lambat. Bagaimana ini ?
+ Memang, itu banyak kami terima. Selain tenaga yang menangani tidak ada, masalah dana juga menjadi ganjalan, kenapa balasan itu seperti yang dikeluhkan pendengar, tapi kami selalu berusaha untuk membalas. Dari surat-surat yang masuk, kami ketik satu-persatu. Bila ada barang cetakan, kami kirimkan. Saya sarankan agar kalau kirim surat hendaknya ditujukan pada penyiar itu secara langsung. Jangan hanya menyebutkan seksi Indonesia, karena dengan menyebutkan nama penyiar itu, nanti akan mendapat prioritas oleh penyiar itu sendiri.

Pasti dibalas ?
+ Meski lama, akan kami balas.

Semoga, dan selalu kami tunggu ! (Aries Subagyo)

 
Dirgantara Online - Vol 6 No 1 Nov-Des 1996
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space