Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 6 No 1 Nov-Des 1996
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Temu Penyiar
Antena
Sosok
Dunia DX
Profil Stasiun
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Laporan dan Berita
Sejenak bersama Mantan Kepala Seksi Indonesia Bung Park, Hyung-sook

Meskipun sama-sama bekerja dalam satu atap, di bawah Korean Broadcasting System, mereka jarang sekali memperoleh kesempatan untuk berkumpul. Lantaran, mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Ketika itu, saya diantar oleh produser muda seksi siaran bahasa Indonesia yang cantik dan dinamis, nona Won Ja-young menyusuri lorong antar-ruangan.

Di sela lalu-lalang langkah puluhan karyawan KBS, kami meninjau ruangan studio siaran, studio rekaman, dan peralatan teknik, serta bagian perbekalan milik KBS. Secara tidak sengaja, kami bertemu dengan mantan kepala seksi bahasa Indonesia Radio Korea, waktu itu belum ada tambahan Internasional, yang pertama. Beliau adalah Bung PARK, HYUNG-SOOK yang menjabat sebagai kepala seksi, 1975-1990.

Sehari sebelum meninggalkan Seoul, di tengah-tengah jamuan makan malam, yang diselenggarakan Seksi Bahasa Indonesia RKI KBS, Dirgantara sempat mengadakan wawancara. Hadir dalam jamuan makan malam tersebut adalah Bung Kim, Young-soo (kepala seksi), Nyonya Park, Youn kyung, Nona Won Ja-young, Nona Shim, Kyong-sook, dan Bung Chamdan, serta mantan penyiar Seksi Indonesia Yoo, Seung-hoon. Berikut hasil wawancara tersebut.

Bung Park, Hyung-sook, selama 15 tahun sebagai kepala seksi, apakah kesan yang paling mendalam ?
+ Sebelum menjawab pertanyaan Saudara Herbert ini, terlebih dahulu, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pendengar Radio Korea Internasional yang ada di Indonesia, Malaysia maupun di mana saja berada. Terima kasih ini saya ucapkan, kalau tidak ada kerja sama dengan pendengar, RKI tidak ada perkembangan. Dengan kata lain, development-nya tidak ada. Mulai dari permulaan, bantuan, dan kerja sama dari pendengar itu, merupakan daya dorong perkembangan seksi bahasa Indonesia RKI.

Adapun pertanyaan Saudara Herbert, saya sudah lama tidak menyiar, namun selama hampir 15 tahun saya bekerja, banyak yang mengesankan, karena saya memulai dari nol, kesan saya lebih mendalam dan lebih besar dari pada orang lain. Ya, hampir seluruh youth = young age, masa muda saya di masyarakat, saya curahkan seluruh tenaga untuk perkembangan seksi bahasa Indonesia. Saya tidak bisa lupa pendengar, terutama Saudara Herbert, yang sekarang di Korea. Selamat. Senang sekali, dulu saya tak membayangkan itu.

Sembari menyantap makanan khas Korea yang beraneka ragam, kami melanjutkan perbincangan ringan. Sementara wawancara saya alihkan ke Nyonya Park, Youn-kyung mengenai manfaatnya di RRI, kemudian Bung Yoo, Seung-hoon tentang perbedaan kerja di siaran dalam negeri dan RKI. Nampak rona wajah Bung Park, Hyung-soo memerah karena minuman, sesekali, tawanya yang khas terdengar.

Kemudian Bung Park, kita kembali ke wawancara. Apa sebenarnya tujuan RKI didirikan, khususnya seksi bahasa Indonesia, yang 20 tahun lalu didirikan. Apa sekedar untuk memperkenalkan keberadaan negeri Korea ? Apakah mempunyai tujuan khusus dalam kaitannya dengan hubungan dua bangsa, antara bangsa Korea dan Indonesia ?
+ Mengenai hal itu, saya masih ingat, bahwa pemerintah Korea, khususnya KBS, menilai tinggi pentingnya Republik Indonesia di masyarakat internasional. Waktu itu, Korea lebih dekat hubungannya dengan negara negara Arab, karena banyak kontraktor bekerja di sana, dan banyak uang Dollar dari Timur Tengah itu. Tapi, sebelum mulainya seksi bahasa Arab Radio Korea, ada seorang direktur, namanya Sook Han (?), ia memilih bahasa Indonesia sebagai salah satu seksi bahasa asing di Radio Korea.

Dan kebetulan, dia mempunyai banyak perhatian, dan ia mempunyai sesuatu yang intim dengan Indonesia. Jadi, ia memulai seksi bahasa Indonesia di Radio Korea, dan waktu saya mulai bekerja di Radio Korea, ia sangat sayang kepada saya. Saya banyak dapat bantuan dari dia, dan tahun 1977, saya sudah pernah ke Indonesia dengan bantuan dia, karena Anda sudah bekerja untuk seksi Indonesia Anda lihat dulu Indonesia, negara Indonesia, waktu itu, salah satu negara yang memimpin dunia ketiga.

Apakah pad waktu itu juga sudah merupakan komitmen antara 2 pemerintah, maksudnya, RRI dan Radio Korea ?
+ Tidak, secara resmi, kami tidak mempunyai kontrak. Tidak ! Radio Korea dengan seseorang (penyiar itu) kami mengadakan kontrak, tapi kami minta kepada Direktur RRI dan Dirjen RTF, pemerintah Indonesia.

Bapak Soema...
+ Soemadi waktu itu, supaya... apa... apa, ng... (berpikir sembari berbincang-bincang sebentar dengan Bung Kim, Young-soo, mencari istilah kata yang tepat). Ya, sekarang mulai lagi. Waktu itu, kita, KBS dan RRI, atau Korea dan Indonesia, tidak mempunyai sesuatu dokumen resmi. Tetapi waktu itu, Presiden KBS minta pada Direktur Jenderal RTF, pemerintah Indonesia, supaya mengirimkan sesuatu tenaga penyiar yang baik untuk membantu seksi bahasa Indonesia Radio Korea. Dengan itu, ya, walaupun tidak ada dokumen resmi, tapi secara resmi, kami minta mereka mengutus tenaga penyiar yang baik.

Jadi penyiar pertama yang bertugas di Radio Korea dari Indonesia adalah Pak Willy Rondonuwu, kemudian Pak Ananto Pratikno, sekarang (maksudnya kemudian, HSB) Bung Olan Sitompul dan sekarang Bung Chamdan. Sekarang, yang penting ialah waktu itu seksi bahasa Indonesia yang pertama kali mempekerjakan tenaga asing secara resmi, kemudian disusul oleh seksi-seksi lain. Saya sangat membangga mengenai itu, seksi bahasa Indonesia yang pertama kali mempekerjakan tenaga asing.

Memang waktu itu banyak kesulitan, hambatan banyak. Dengan bantuan dari kepala saya, dan pendengar-pendengar, terutama mereka mengirimkan komentar / kritik mengenai siaran kami, sangat membantu perkembangan siaran bahasa Indonesia. Dan kami mengirimkan jawaban kepada setiap pendengar yang mengirimkan surat kepada kami waktu itu secara langsung.

Secara langsung ?
+ Mungkin sekarang terlampau banyak ya suratnya, ha... ha... ha...

Pendengar di Indonesia kebanyakan adalah pendengar pendengar lama. Seperti Eddy Setiawan, Ernst Meiki Rorong, dan masih banyak lagi. Untuk itu, mungkin ada pesan khusus dari Bung Park untuk para pendengar ?
+ Saya sudah pernah mengadakan meeting, ya dengan mereka, di Indonesia, mungkin tahun 80 atau 81-an. Saya masih ingat Eddy Setiawan, dan pada waktu itu, saya langsung ke rumahnya. Saya sudah banyak lupa nama-nama pendengar, terutama yang berada di Bandung.

Noldy ?
+ Ya, Noldy Karl Tangka. Walaupun saya tidak kerja lagi di RKI, tapi di Pusat Latihan selama 6 bulan, nanti, saya pikir karena saya terlampau banyak sayang Indonesia, tentunya ada kesempatan kita bertemu lagi. Kepada mereka, saya mengucapkan banyak terima kasih. Dan mudah-mudahan selalu gembira dan sehat wal afiat. Terima kasih. (HSB)

Nyonya Park, Youn-kyung : Idealnya Satu Tahun

Siaran Bahasa Indonesia Radio Korea, yang mulai mengudara pada tanggal 2 Juni 1975, pada tahap permulaan, selama enam bulan, menyajikan acara-acara siarannya hanya 15 menit tiap hari, yang terdiri dari warta berita dan musik. Sejak awal tahun 1976, jam siaran bahasa Indonesia Radio Korea diperpanjang menjadi 30 menit tiap hari, dengan acara-acara yang lebih bervariasi. Tahun ini, siaran bahasa Indonesia RKI-KBS memperoleh penambahan jam siaran menjadi satu jam.

Kali ini, kita jumpai Nyonya PARK, YOUN-KYUNG, produser seksi bahasa Indonesia RKI-KBS yang tahun 1992 lalu pernah bekerja di Radio Republik Indonesia Jakarta selama 3 bulan. Ketika ditanya manfaatnya, beginilah jawabannya. Saya pernah melakukan kunjungan ke Indonesia selama tiga bulan tahun 1992 yang lalu. Selama tiga bulan itu, setiap hari melakukan kunjungan singkat ke RRI, bertemu dengan banyak karyawan RRI, khususnya penyiar dan produser.

Saya mengikuti acara dengan wawancara juga melatih menulis berita, ulasan atau acara lain, waktu itu, saya banyak menyadari kesulitan, terutama penulisan dan intonasi. Waktu itu, banyak penyiar memberikan koreksi penulisan dan intonasi. Kalau begini-begini lebih baik, waktu 3 bulan saya rasakan terlampau pendek. Saya ingin paling sedikit satu tahun. Atas bantuan teman-teman di RRI, saya mengucapkan banyak terima kasih. (HSB)

Sejenak Bersama Bung Chamdan

Bung CHAMDAN adalah alumnus Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Arab, Universitas Gadjah Mada. Oleh RRI, ia diperbantukan di Radio Korea Internasional KBS, Seksi Bahasa Indonesia. Di sela-sela rekaman untuk acara "Inilah Seoul" yang dipandu oleh Nona Shim, dan acara "Titian Muhibah" yang diasuhnya, ia diwawancarai Herbert Sunu Budihardjo.

Memorandum protokol antara Direktorat Jenderal Radio, Televisi, dan Film, pemerintah Republik Indonesia, dengan Presiden Korean Broadcasting System tahun 1978, merupakan cikal bakal pengiriman penyiar RRI ke Radio Korea Internasional. Seksi Bahasa Indonesia pulalah yang menjadi pelopor dipekerjakannya karyawan asing di lingkungan KBS. Mulai bekerja di Radio Korea Internasional KBS, Seksi Bahasa Indonesia, mulai 21 Januari 1994, menggantikan Ahmad Jarot Albar.

Di tempatnya yang baru, ia tidak merasa canggung, karena sebelumnya ia juga seorang penyiar. Dalam operasionalnya, hampir sama antara RRI dengan RKI Seksi Bahasa Indonesia dalam memperoleh berita. Dari bagian pemberitaan, kemudian diterjemahkan oleh staf lain, baru kemudian olehnya dikoreksi sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Rekan-rekan sekerjanya, yang kesemuanya merupakan lulusan Universitas Hanguk, Jurusan Bahasa Indonesia, menjadikannya iklim kerja, terutama komunikasi.

Dan juga mempermudah urusan penerjemahan ini. Apa yang diperoleh selama bekerja di RKI bagi kemajuan tempat ia bekerja terdahulu ? Ia menjawab, bahwa cara kerja dan semangat kerja yang dinilainya sangat luar biasa. Dengan tenaga kerja yang sedikit dengan volume yang banyak tapi mampu diselesaikan tepat pada waktunya.

Sehingga memberikan suatu pelajaran bagi kita sekalian yang ada di Indonesia untuk bekerja dengan cepat. Dalam Bahasa Korea, ada istilah "pali-pali", yaitu segala sesuatu diselesaikan dengan cepat, dengan segera. Baik dalam bekerja, dalam berjalan, dan masih banyak lagi. Ia tetap optimis, bahwa dengan rasa kedisiplinan, hal tersebut akan bisa diwujudkan dalam masyarakat Indonesia. (HSB)

Yoo Seung-hoon : Indonesia Kampung Kelahiran Saya yang Kedua

Bagi pendengar Radio Korea sebelum tahun 1990-an, nama YOO SEUNG-HOON, tidak asing lagi. Seperti halnya penyiar RKI lainnya, ia pernah ke Indonesia. Berikut kesannya, ketika dijumpai di Seoul.

Apakah perbedaan selama bekerja di RKI sebagai produser dan sekarang bekerja di Siaran Dalam Negeri ?
+ Tentu sangat berbeda, ada yang menarik dan ada yang kurang menarik. Itu terjadi di mana-mana. Tapi yang paling mengesankan adalah ketika saya bekerja di Seksi Bahasa Indonesia Radio Korea, karena setelah selesai belajar di Jurusan Bahasa Indonesia dan Kesusastraan Universitas Hanguk, langsung bekerja dan menyiarkan. Semakin bekerja semakin lancar. Saya bekerja sekaligus belajar di Radio Korea. Melalui siaran dan hubungan dengan para pendengar.

Pernah ke Indonesia ?
+ Ya, tiga bulan di RRI, pertama kali ke Indonesia hanya dalam mimpi saja. Pertama kali bekerja di Radio Korea lalu ke Indonesia, bekerja di RRI dan bertemu dengan pendengar pendengar tercinta. Sekarang ini, pekerjaan saya sangat berbeda dibandingkan dengan bekerja di Seksi Bahasa Indonesia.

Mungkin ini karena bentuk programnya di RKI dan siaran dalam negeri sangat berbeda. Di RKI sangat sederhana sedangkan di siaran dalam negeri sangat bervariasi, tapi Seksi Indonesia mempunyai ciri sangat khas yang tidak terdapat di Siaran Dalam Negeri. Di RKI, salurannya satu saja mewakili Korea menuju Indonesia, Malaysia, dan Asia Tenggara.

Tapi di dalam negeri Korea, saluran / channel banyak dan bermacam-macam, juga isi siarannya bermacam macam. Sangat bervariasi. Sebab itu, setelah empat tahun meninggalkan Seksi Bahasa Indonesia, mempunyai pengalaman yang bermacam-macam. Walaupun selama bekerja di Siaran Dalam Negeri tak bisa melupakan RKI, karena saya memulai dari RKI.

Oleh karenanya, saya sudah menganggap Indonesia dan Malaysia sebagai kampung halaman saya yang kedua. Selalu begitu sebelum meninggal dunia. Terima kasih pada Bung Herbert dan pendengar pendengar di Indonesia. Kalau ada kesempatan, saya akan mengunjungi lagi Indonesia. (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 6 No 1 Nov-Des 1996
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space