Sapa Redaksi
Salah satu kunci keberhasilan dalam organisasi, selain didukung oleh manajemen yang profesional adalah adanya kerjasama yang baik, serta pembagian tugas bagi masing-masing redaksi. Bilamana organisasi tersebut kurang lancar, ini bukan berarti selama ini tidak ada pembagian tugas. Ada, walaupun secara realitas kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Maklum, ibarat pasukan tempur, kita ini terceraiberaikan oleh tempat dan keadaan. Yakni situasi dan kondisi.
Kemudian, di Jakarta dilakukan pertemuan secara informal dari segenap pengasuh. Salah satu kesepakatan yang dilahirkan adanya, akan dimulainya babak baru dalam hal pengelolaan penerbitan buletin. Tentunya ini akan membawa kabar gembira bagi segenap anggota dan para pembaca, serta stasiun luar negeri. Namun demikian, kami tetap mengundang siapa saja yang mempunyai kegemaran yang sama dalam dunia DX, dan mendengarkan radio pada umumnya.
Tentu saja untuk ikut meramaikan Dirgantara. Tanpa partisipasi dari Anda tak akan mungkin kami bisa teratur mengunjungi Anda. Kepada para pelanggan, relasi yang memerlukannya, silakan saja menghubungi kami di Bagian Pengaduan. Jer basuki mawa bea, Jika kita ingin melangkah maju diperlukan pengorbanan. Salah satunya adalah dana.Seberapa pun juga besarnya, tetap kami nantikan.
Selain hal di atas, dalam penerbitan ini dilaporkan beberapa hasil wawancara anggota kita yang terpilih sebagai pendengar teladan Radio Korea Internasional KBS tahun 1995 yang lalu. Wawancara ini dilakukan di sela-sela padatnya waktu yang disusun oleh pemberi undangan. Antara lain kepada mantan Kepala Seksi RKI yang pertama, Bung Park Young Sook, Bung Yoo, Seung Hoon, dan beberapa penyiar lainnya. Kemudian, catatan pertemuan dengan James Lapian.
Buletin Dirgantara memang terlambat terbit, tapi isinya baru, dan belum pernah dimuat oleh buletin klub pendengar lainnya. Ini bukan sekedar pembelaan, namun realitas yang pantas diacungi jempol, sekaligus yang membedakan dengan klub-klub lainnya. Sebenarnya sebagian dari naskah ini sudah siap untuk dicetak, namun seperti dikatakan di muka, bahwa kami mengalami berbagai kendala. Alhamdulillah, semua dapat diatasi dengan adanya pertemuan di Jakarta.
Untuk edisi yang akan datang, kami telah menyiapkan berbagai isi yang tak kalah menariknya, antara lain pertemuan kami dengan Kepala Seksi Radio Jepang, Wakil Kepala Seksi Suara Jerman, Pengasuh DX-Komunikasi. Serta sederet kegiatan lainnya yang tidak kalah menarik. Dan juga catatan perjalanan dari anggota kita menyusuri Asia Tenggara sampai dengan Asia Timur Laut, mulai dari Malaysia, Singapura, Muangthai, Hong Kong, Taipei, Tokyo, dan Beijing, yang menyempatkan diri mampir ke berbagai studio yang mempunyai siaran dalam Bahasa Indonesia.
Siapa dia ? Tunggu saja di edisi berikutnya. Jika Anda ingin mengunjungi negeri Cina secara gratis, silakan saja Anda mengikuti acara di Cina Radio Internasional dalam acara Sayembara Budaya dan Pariwisata. Berikut oleh redaksi disajikan materi pertanyaan dalam bahasa Melayu. Demikian juga dapat diikuti kupasan, bahwa IDXC bukan lagi klub kacangan, mulai tahun 1996 yang lalu, status kita di World Radio Television Handbook, bukan sekedar klub DX, melainkan telah menjadi Kolabolator dan Monitor. Ini berkat kegigihan Ketua IDXC, Aries Subagyo.
Suatu hal yang tentu sangat menggembirakan. Demikian juga kita tetap mengadakan kerjasama dengan berbagai klub DX di manca negara. Apalah artinya semua hal yang kami paparkan di atas tanpa adanya dukungan moril dan materil Anda secara nyata. Kita semua sangat mencintai klub ini, sebagai satu-satunya klub DX di Indonesia. Hidup mati dan kelangsungan hidupnya sepenuhnya tergantung pada Anda semua.
Sekali lagi, semua tegur sapa yang sangat membangun demi kelangsungan hidup klub kita, tetap kami nantikan. Silakan Anda menyurati, kami akan berusaha untuk membalasnya. Dalam kesempatan yang baik ini kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah bersepakat untuk memulai hidup baru. Mudah-mudahan jalan panjang yang akan kita tempuh ini dapat terus lestari. (HSB)
Surat dari Ibukota
Siapakah Kita Kini ?
Hai pembaca. Mungkin Anda terkejut, mengapa cover depan kali ini lain dari biasanya. Bukan lagi berupa wajah seseorang, namun berupa wajah buku yang bernama World Radio Television Handbook tahun 1996. Ini ada alasannya. Salah satunya selain buku pintar bagi kaum DX tersebut tahun 1996 ini genap berusia lima puluh tahun (50th Anniversary). Alasan lainnya adalah tahun ini juga merupakan suatu tahun yang bersejarah bagi klub kita, Indonesian DX Club.
Memasuki usianya yang keenam, tanggung jawab kita untuk lebih memperkenalkan Indonesia melalui aktivitas DX semakin bertambah. Tentunya semuanya berkat perjuangan dan lobbying yang tidak kenal menyerah dari salah satu founding father IDXC, rekan ARIES SUBAGYO. Kini status kita berubah. Bukan lagi sekedar klub DX, melainkan sebagai Collabolator dan Monitor WRTH.
Di dunia pendengaran radio seluruh dunia, hanya ada seratus orang (organisasi) yang ditunjuk sebagai Collabolators dan Monitors. Salah satunya adalah Indonesian DX Club, Aries Subagyo, bahkan kita adalah satu-satunya dari Asia Tenggara. Sudah sepantasnyalah jika kita melantunkan pujian. Rupanya kita tak boleh hanya sekedar berbangga, karena status tersebut memiliki tanggung jawab yang besar bagi kita semua. IDXC bukan milik pribadi melainkan organisasi, sehingga semakin besar atau semakin kecil tergantung dari kita semua. Mari kita besarkan organisasi ini bersama sama. (HSB, DBR, SAS)