Sosok
CHE AMI MOHD. NOOR. Anda mengenal dia bukan ? Janganlah mengaku pendengar setia Radio Singapura Internasional bila tak mengenal nama penyiar yang satu ini. Namanya sudah begitu akrab di telinga pendengar Radio Singapura Internasional, tapi mengenal lewat suaranya saja belum cukup. Mungkin secara sepintas Anda akan keliru dengan suara penyiar lainnya, Roslinda Rachmad atau yang akrab dikenal Kak Linda. Keduanya sama-sama punya suara yang manja.
Che Ami, begitu dia dipanggil memang akrab di telinga penggemar acara Selekta SW, Club RSI, atau acara khususnya, Trend 2000. Suaranya yang manja memanjakan pendengarnya untuk tetap stay tune di 9635 kHz, Radio Singapura Internasional. Tak heranlah kalau Che Ami banyak memiliki fans atau penggemar. Begitulah adanya, ketika dalam acara Club RSI, acara yang menampilkan profil pendengar radio domestik, Che Ami mengatakan akan rencana kunjungan ke Solo, langsung saja mendapat reaksi dari pendengar Radio Singapura Internasional.
Khususnya yang berada di kota Solo dan Yogyakarta, kota tujuan penerbangan Silk Air. Karena sifatnya media audio, kadang kita hanya mengenal akrab melalui siaran. Tapi bagaimana bila bertatap muka langsung ? Anda mungkin tidak percaya bila pendengar sempat bingung. Meski berbekal foto di pedoman acara, nyatanya tidaklah cukup. "Lho, tadi Ami lewat sini kok kalian tidak tegur Ami ?". Itulah yang akan terjadi. Namun itu tidak mengurangi keakraban Che Ami dengan pendengarnya.
Meskipun ada rasa capek karena harus mengikuti jadwal kunjungan Tim Singapore Government Media Group yang ketat, Che Ami masih bisa bercanda. Kadang diselingi tawa dan senyumnya yang baru kali itulah mereka lihat. Anda ingin mendengar suaranya yang manja itu ? Jumpailah Che Ami di Radio Singapura Internasional (RSI) pada 9635 kHz, pukul 11.00-14.00 UTC. (Aries Subagyo)
Info Terbaru
Indonesian DX Club Ikut Pameran
Dunia DX masih asing bagi masyarakat, hingga perlu adanya semacam pengenalan, tepatnya promosi tentang dunia radio luar negeri khususnya. Hal ini yang mendorong niat anggota Indonesian DX Club di Lampung, Isnanto Hapsara, untuk memanfaatkan setiap kesempatan. Dalam rangka memeriahkan 50 Tahun Indonesia Merdeka, Perkumpulan Penggemar Filateli dan Pendengar Radio Gelombang Pendek Lampung Selatan ikut serta dalam Pameran Pembangunan.
Yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Lampung Selatan, di Pringsewu, 18-22 Agustus 1995. Dilanjutkan di Talang Padang, 22-24 Agustus 1995. Isnanto Hapsara, selaku "komandan"-nya memamerkan berbagai benda pos, vandel, sticker, bulletin Dirgantara, serta beberapa cinderamata dari stasiun radio luar negeri di stand-nya. Tak disangka, ternyata mendapat perhatian pengunjung. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang ingin mengetahui dunia radio.
Tak ketinggalan pula diselenggarakan kuis, dengan berbagai hadiah dan cinderamata dari stasiun radio luar negeri, yang memang telah disiapkan. Sayang memang. Karena Indonesian DX Club tidak bisa membantu banyak, seperti pernah dilakukan pendengar di Sidrap beberapa waktu lalu, itu karena sifatnya mendadak, kurang terencana matang. (po)
Pengaduan Dirgantara
Untuk memberikan pelayanan yang lebih memuaskan, karena banyaknya pelayanan kami yang belum maupun tidak tertangani, bagi yang ingin mengadukan masalah kiriman Dirgantara dan permintaan Prospektus Indonesian DX Club, silakan kirim ke : Indonesian DX Club Jakarta, d.a. Herbert Sunu Budihardjo, Jalan Sejahtera No.1, RT.30/02, Kompleks Agraria Gandul, Gandul Utara, Pondok Labu, Jakarta Selatan 16512, Telepon (021) 7501313. Bagi yang menginginkan balasan surat, harap sertakan perangko balasan. Harap maklum adanya. (HSB)
Problema Redaksi
Terlambatnya buletin Dirgantara memang sangat tidak menyenangkan kita semua. Tetapi apa boleh buat, kami sangat kekurangan tenaga untuk mengelolanya. Untuk itu, kami di redaksi mohon bantuan saran, usulan, ataupun kritik, yang memberikan jalan keluar bagi masalah yang kami hadapi. Meski kami diperkuat banyak awak, tapi kini hanya sebagian yang bisa aktif menjalankan tugas sebagai redaktur. Itupun tidak bisa full time sebagaimana dulu.
Kami telah mencoba dengan merentalkan di pengetikan, tapi biaya atau ongkos produksinya membengkak. Apalagi ditambah dengan kenaikan ongkos cetak. Untuk itu, sekiranya ada di antara Anda yang bersedia menjadi pengasuh salah satu rubrik dan mengolahnya, tentu kami akan lebih ringan tugasnya. Kami mengharapkan tulisan-tulisan yang sudah jadi (lay out) dan tinggal menggandakan. Sekiranya masalah tersebut tidak kita atasi, kami akan coba mengurangi jumlah halaman, dengan maksud untuk mempercepat waktu. Anda punya saran ? Silakan. (Redaksi)