DX Mania
Kami yakin Anda punya cita-cita suatu saat bila memungkinkan berkunjung ke stasiun radio, meski itu di luar negeri sekalipun. Hubungan yang selama ini terjalin hanya melalui udara, baik lewat siaran radio maupun surat, rasanya kurang lengkap kalau belum bertatap muka langsung. Begitu pula halnya dengan DAVID W.G. FOSTER, IDXC 0179/AUS, yang sempat berkeliling Indonesia di bulan Juli-September 1995 bersama istri (Anne) dan kedua anaknya (Michael dan Ellen).
Editor buku World Radio TV Handbook ini mencoba membedah isi negeri ini dari obyek wisatanya yang memang menarik, hingga stasiun radionya yang tidak kalah menariknya. Dirgantara sempat pula menjadi guide-nya selama beberapa hari di Yogyakarta. Kami bisa bertukar pengalaman tentang dunia radio, dan tentu saja, ber-DX bersama sampai larut malam. Ditemui di Kompleks Prawirotaman, Yogyakarta, David WG Foster sempat bercerita banyak ketika kami wawancarai. Berikut petikan wawancaranya, yang kami ramu dengan wawancara lainnya di lapangan.
Apa kesan Anda tentang Indonesia ?
+ Saya suka sekali berkunjung ke Indonesia, karena orangnya selalu ramah-tamah. Di samping itu, banyak obyek wisata yang menarik.
Ini kunjungan Anda yang pertama kalinya ?
+ Saya sudah tiga kali ke Indonesia, kunjungan pertama pada tahun 1976. Dan berbulan madu di Indonesia tahun 1983, serta terakhir tahun 1986.
Anda termasuk salah satu editor buku World Radio Television Handbook, apa tugas Anda sebenarnya ?
+ Saya mengumpulkan keterangan mengenai siaran radio di Indonesia. Dan secara teratur, saya kirimkan ke World Radio TV Handbook di Amsterdam.
Hanya untuk wilayah Indonesia saja ?
+ Ya, Indonesia saja.
Dari mana saja Anda mendapatkan informasi tersebut ?
+ Saya membaca beberapa buletin DX termasuk OZDX di Australia, Shortwave News di Denmark, Dirgantara buletin Indonesian DX Club.
Anda juga termasuk anggota Indonesian DX Club, manfaat apa yang bisa Anda peroleh dari Indonesian DX Club ?
+ Di Indonesian DX Club, banyak tergabung pendengar yang bisa mendengar stasiun-stasiun yang tidak bisa didengar di Australia. Informasi seperti ini sangat berharga bagi saya, khususnya MW dan FM.
Khusus mengenai buletin Dirgantara, bagaimana komentar Anda ?
+ Oh, saya suka sekali, ada beberapa rubrik yang menarik, terutama yang berhubungan dengan DX, seperti Bursa DX, Laporan DX, QSL News.
Seberapa besar manfaatnya bagi Anda ?
+ Banyak sekali, saya harus mengumpulkan data radio di Indonesia. Bila mendengarkan saja, serta berkirim surat, belum cukup. Ini karena banyaknya stasiun radio di Indonesia. Dengan membaca Dirgantara, saya bisa mengetahui ada pergantian frekuensi radio di kota A. Saya bisa tahu ada radio baru di kota B, dan sebagainya.
Untuk mendapatkan informasi lengkap, apakah Anda juga melakukan kontak langsung dengan stasiun di Indonesia ?
+ Ada beberapa stasiun yang saya kirimi surat untuk mendapatkan data, terutama radio-radio pemerintah daerah.
Bagaimana hasilnya ?
+ Sayang sekali, masih banyak radio di Indonesia yang susah dimintai data, terutama radio pemerintah daerah. Di Australia, saya mudah sekali mendapatkan informasi seperti itu.
Kalau dibandingkan dengan stasiun ABC di Australia, bagaimana ?
+ Stasiun RRI kurang profesional dari pada ABC di Australia, sedangkan stasiun swasta di tiap-tiap negara hampir sama.
Di samping dari Dirgantara dan buletin DX lainnya, kebetulan Anda sedang berkunjung ke Indonesia, apa Anda sempatkan ber-DX ?
+ Benar, saya coba ber-DX di setiap kota yang kami kunjungi. Meskipun ada banyak gangguan di hotel dari lampu TL dan televisi. Ada banyak stasiun yang saya dengar, saya tertarik pada SW, MW, dan FM. Saya sudah mencoba, antara lain di Bromo. Penerimaan FM baik sekali dari Gunung Bromo.
Anda juga sempat berkunjung ke studio ?
+ Di Denpasar, saya sempat berkunjung ke RRI Denpasar, saya sempat diwawancarai untuk siaran turis dalam bahasa Inggris. Di Solo, bersama rekan Hendrik Rotinsulu, saya berjumpa dengan Kepala Stasiun RRI Surakarta, Pak Tomo.
Bagaimana dengan stasiun radio swasta ?
+ Saya tidak melakukan itu.
Di Yogyakarta bertemu dengan siapa ?
+ Saya sempat bertemu dengan karyawan RRI Nusantara II Yogyakarta, Pak Suparjo. Karena saat itu hari libur, kebanyakan stafnya juga liburan.
Sempat wawancara juga ?
+ Oh, saya diminta oleh penyiar untuk ikut serta dalam siaran Programa Kota. Namanya Mbak Estu, tapi saya tidak mau, karena dalam bahasa Indonesia, saya kurang lancar.
Dari mana Anda belajar bahasa Indonesia ?
+ Sudah empat kali ini saya ke Indonesia, saya belajar beberapa kata. Juga saya menulis surat dalam bahasa Indonesia ke stasiun radio di Indonesia. Di Australia, dua tahun yang lalu, saya kursus pendek di Universitas New England, tapi hanya kursus melalui surat dan sudah lupa banyak kata.
Profesi Anda sendiri apa ?
+ Saya seorang guru di SMP / SMA di mana saya mengajar bahasa Inggris.
Bagaimana dengan keluarga Anda ?
+ Saya mempunyai satu putra dan satu putri.
Apakah mereka juga tertarik hobi mendengarkan siaran radio ?
+ Mereka tidak tertarik pada hobi ini, meskipun Michael yang berumur 11 tahun suka mendengarkan musik rock di stasiun lokal, Ellen yang berumur 9 tahun kadang kadang bermain dengan alat-alat penerima.
Bagaimana dengan istri Anda, Anne ?
+ Oh, Anne tidak suka dengan radio, apalagi siaran gelombang pendek, terlalu berisik di telinga. Dia tidak mau saya ajak mengunjungi studio radio. Boring, ha... ha... ha...
Ketika Dirgantara mengajak David mengunjungi Stasiun RRI Nusantara II Yogyakarta dan Redaksi Tabloid Radio Siaran Eksponen, Anne memilih jalan-jalan bersama Ellen ke Malioboro untuk shopping, red.
Anda tadi menyebut nama klub di Australia, OZDX, Anda juga termasuk anggotanya ?
+ Saya termasuk redaktur buletin OZDX bersama David Martin.
Ada pesan dan saran, serta harapan buat Indonesian DX Club ?
+ Kami ingin memperoleh informasi radio di Indonesia melalui Dirgantara.
Bagaimana kalau kerja sama dengan pertukaran buletin ?
+ Wow, itu ide bagus, saya akan bicarakan dengan David Martin setelah saya pulang ke Australia.
Bagaimana dengan kontribusi Indonesian DX Club untuk World Radio TV Handbook, apa kontraprestasinya ?
+ Saya sudah menyurat ke World Radio TV Handbook soal itu. Andy Sennit menjanjikan untuk mencantumkan nama Indonesian DX Club pada seksi Monitor Kontributor. Untuk itu, saya mengharapkan Indonesian DX Club terus mengirimkan informasi radio kepada saya.
Sejak kapan Anda mempunyai hobi mendengarkan siaran radio, khususnya radio gelombang pendek ?
+ Sejak umur 15 tahun, itu 26 tahun yang lalu.
Ada berapa banyak koleksi kartu verifikasi yang Anda peroleh ?
+ Sudah lebih dari 2000 kartu QSL untuk SW dan hampir 500 untuk MW. Pada SW, saya terima verifikasi kira-kira 1500 stasiun dari 232 negara.
Berapa banyak yang dari stasiun di Indonesia ?
+ Sekitar 145.
Perangkat apa yang Anda gunakan ?
+ Pesawat penerima pakai Grundig Yacht Boy 400, antena long wire 100 meter, yang bawa untuk DXing di Indonesia, long wire 30 meter.
Bagaimana Anda merakitnya ?
+ Dari pohon ke pohon, kebetulan saya punya tanah yang luas.
Mungkin ada pembaca Dirgantara yang ingin berkenalan dengan Anda, bisa Anda sebutkan alamatnya ?
+ Saya tinggal di Jalan Licola Road, Jamieson, Victoria, Australia, namun alamat pos ada di Mansfield, yaitu P.O. Box 204 Mansfield, Victoria 3722, Australia. (ASB)