Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 5 No 2 September 1995
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Bengkel DXer
DX Mania
Sosok
Info Terbaru
Antena
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Profil Stasiun
Kilas Balik 50 Tahun RRI

Adalah Perkumpulan Radio Ketimuran seperti MAVRO merupakan embrio stasiun RRI, khususnya Yogyakarta. Radio yang berdiri atas prakarsa para bangsawan ini resmi mengudara tahun 1934 memancarkan siarannya melalui dua studio di Kepatihan dan Pendopo Hangabehi. Di dalam perkembangan berikutnya, MAVRO, yang merupakan kependekan dari Mataram Vereneiging Radio Oemroep, tidak pernah lagi dekat di hati rakyat. Ia mati bersamaan datangnya Jepang tahun 1942.

Sesingkat itu MAVRO mempunyai arti, sesudah itu pergi membawa janji yang belum tertepati. Sebagai gantinya, Jepang membentuk Hoso Kyoku yang menempati Gedung MILNI, yang lebih dikenal dengan Gedung BNI 1946, Jalan KH Ahmad Dahlan. Jelas, radio tersebut untuk kepentingan politik Jepang, sementara siaran hiburan diserahkan pada para mantan angkasawan Radio Ketimuran. Namun, ibaratnya hanya seumur jagung Jepang berkuasa, disusul kekalahannya dari tentara sekutu, maka Hoso Kyoku pun tak berkutik.

Akhirnya, melalui siaran radio yang sekarang bernama RRI, di Jakarta, Soekarno mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945. Selaras dengan jiwa proklamasi, para angkasawan radio seluruh Indonesia, pada tanggal 9 September mengadakan pertemuan di Jakarta. Dua hari kemudian, tepatnya 11 September 1945, terbentuklah badan siaran diberi nama Radio Republik Indonesia.

Bersamaan itu, tercetuslah sebuah tekad bersama, yang disebut Tri Prasetya, tiga janji yang harus ditepati. Namun belum genap empat bulan, RRI Yogyakarta yang bermarkas di Gedung MILNI dibombardir oleh tentara Belanda, yang membonceng pasukan sekutu, tanggal 25-27 November 1945, yang memaksa RRI pindah ke Jalan Senopati. Tahun berikutnya, RRI Yogyakarta menjadi pusat perhatian dunia.

Karena secara otomatis menjadi RRI Pusat atau Nasional sehubungan dengan berpindahnya ibukota republik ini dari Jakarta ke Yogyakarta. Memasuki tahun 1948, nasib tragis dialami bangsa kita, sebab di tengah upaya bangsa kita membungkam masuknya kembali Belanda ke kota Yogyakarta dalam clash I tahun sebelumnya, bagai musuh dalam selimut, pengkhianatan terhadap negara bergolak di Madiun dilakukan oleh PKI, yang menusuk dari belakang.

Peristiwa memalukan ini membuat berang Bung Karno, sehingga melalui corong RRI beliau berseru : "Pilih Soekarno atau Moeso PKI !!", dan angkasawan RRI melalui siarannya yang terus mengudara ikut berjuang memberikan penerangan pada masyarakat. Keadaan tak menentu akibat pengkhianatan ini dimanfaatkan kembali Belanda, dengan aksi militernya yang kedua ke Yogyakarta. Para angkasawan RRI bersama para patriot pejuang lainnya menyingkir ke luar kota ikut berjuang di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Di pusat kegiatan para gerilyawan di Bantul, RRI terus melakukan siaran siarannya ikut membakar semangat para pejuang. Mengawali tahun 1949 kembali RRI berpindah lokasi bersama Sang Patriot Sejati ke daerah Wonosari. Kemudian ke Panggang, serta menyingkir ke Srumbung. Di sini pemancar RRI berada tepat di mulut Goa Cermin. Semua terpaksa dilakukan dalam keadaan darurat, akibat gempuran terus-menerus yang dilakukan oleh Belanda.

24 Mei tahun yang sama, Komandan Werkreise III Garuda Mataram Letkol Soeharto meminta agar pemancar RRI di Panggang dipindahkan ke Yogya Selatan untuk memperkuat komunikasi Radio Werkreise III. Ketika Yogya kembali ke tangan bangsa Indonesia, 29 Juni 1949, para angkasawan RRI bersama para gerilyawan bersama-sama masuk kota. Mereka laksana pahlawan pembebasan, dipuja, dan disanjung.

Dengan ketekunan bekerja dan membangun, akhirnya RRI Yogyakarta menempati studio dan kantor yang baru di Jalan Amat Jajuli, pertengahan Februari 1958. Pada bulan Desember 1961, kembali RRI Yogyakarta mengukir sejarah. Seluruh telinga dunia tertuju ke kota ini. Melalui corong RRI, Presiden Soekarno mengomandokan pembebasan Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda, mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dari bumi Andalas hingga bumi Cendrawasih.

Suatu kenangan sangat mencekam terjadi pada 1 Oktober 1965. Untuk kesekian kalinya, PKI, dengan G30S-nya mengacau kehidupan sosial politik bangsa. PKI berhasil menguasai RRI Yogyakarta. Namun berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, PKI berhasil diselamatkan dari tangan tangan jahanam, yang tak pantas hidup di negara Pancasila. Musibah dan bencana muncul dan tenggelam, silih berganti, mewarnai eksistensi RRI. Kehidupan seperti aliran sungai, antara hidup dan mati.

Semuanya dilalui dengan penuh semangat perjuangan serta ketabahan, kenangan demi kenangan muncul dan lenyap ditelan waktu. Semua tak mungkin terlupa, bahkan tergores dengan tinta emas sebagai pandangan dan pedoman di hari dan masa depan. Pahit dan getirnya perjuangan, hitam maupun putihnya kehidupan tidak lepas dari catatan. Sebab dari berbagai pengalaman, RRI kian tumbuh dan berkembang dimulai sejak kelahirannya, kemudian merangkak jatuh bangun.

Hingga akhirnya tumbuh tegar dalam pijakan, bagai camar jantan dewasa mencengkeram karang khatulistiwa, menyambar mega, serta membuka cakrawala. Kelangsungan hidup RRI tidak lepas dari kegigihan para pengelolanya. Mereka, para pendahulu yang tidak pernah terbayang pamrih, tidak pantas jika dilupakan. Mereka pun telah memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negaranya dalam lentera Nusantara. Beberapa tokoh penting pelaku sejarah mengungkap pengalamannya.

Salah satunya adalah Bapak Thomas Soegito, angkasawan RRI yang ikut memanggul pemancar RRI saat bergerilya di Bantul dan Gunung Kidul. Angkasawan RRI punya kewajiban yang mulia dan mengasyikkan, sebab melalui siaran RRI, generasi penerus RRI dapat melanjutkan dharma bhaktinya. Antara lain turut berusaha mencerdaskan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia, seperti tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945.

Alangkah baiknya, kalau tugas melaksanakan siaran radio melalui RRI ini dibekali pula dengan kesetiaan adanya rasa memupuk satuan korps, serta semangat kekeluargaan dalam kebersamaan. Sebab yang terakhir itulah adalah ciri khas integralistik Indonesia, yang patut dibina di kalangan generasi penerus, termasuk generasi penerus RRI. Banyak pihak menaruh harapan terhadap RRI. Di antaranya pakar bahasa Indonesia, Eddy Soegito, terutama ditujukan pada para penyiar RRI.

"Saya menyarankan agar para penyiar RRI tak terpengaruh oleh penyiar radio-radio non RRI, misalnya gaya bahasanya, lagunya, kocaknya, dan pilihan kata-katanya. Hendaknya penyiar RRI punya stempel / label ciri khas yang dapat menggambarkan penyiar RRI dalam menggunakan bahasa sadar, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi pemerintah Republik Indonesia.

Bukankah bahasa itu ada standarnya, ada normanya, ada ukuran baik dan tidaknya. Istilah sekarang, ada pembakuannya. RRI adalah milik pemerintah, jadi bahasanya juga harus resmi. Tetapi juga jangan kaku, sesuaikan dengan ragam pemakaiannya." Pendengar RRI tidak hanya terbatas dari warga Indonesia sendiri, ternyata warga negara asing pun berkepentingan juga menyimaknya.

Hal ini dibuktikan dengan begitu minatnya David W.G. Foster, IDXC 0179/AUS, saat berkunjung ke Indonesia. Seorang guru SMA yang juga editor buku World Radio TV Handbook (WRTH) ini menyempatkan diri berkunjung ke RRI Nusantara II Yogyakarta. Dari dulu hingga kini, RRI tetap tegar menggelorakan semangat perjuangan, memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan, mempertebal rasa tanggung jawab dan disiplin, serta menggairahkan masyarakat dalam pembangunan.

Semangat Tri Prasetya tak pernah lekang oleh panasnya matahari atau lapuk oleh hujan, dan juga takkan hilang oleh badai kehidupan. Selamat Ulang Tahun RRI !! Sekali di Udara Tetap di Udara !! (Dari berbagai sumber)

 
Dirgantara Online - Vol 5 No 2 September 1995
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space