Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 5 No 2 September 1995
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Bengkel DXer
DX Mania
Sosok
Info Terbaru
Antena
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Laporan dan Berita
Seminggu di Radio Korea Internasional

Berkunjung ke sebuah stasiun radio, apalagi di luar negeri, adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Jarak yang selama ini hanya dijembatani oleh gelombang elektromagnetik akhirnya menjadi kenyataan di depan mata. Bertatap muka langsung dengan penyiar, melihat langsung bagaimana mereka memproduksi acara-acara yang selama ini hanya bisa didengar di radio, bukan menjadi suatu angan-angan lagi.

Herbert Sunu Budihardjo, Wakil Ketua Indonesian DX Club kali ini memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Negeri Pagi Hari yang Tenang, Korea. Setelah melewati persaingan yang ketat, Sunu, berhasil terpilih menjadi Pendengar Teladan Radio Korea Internasional KBS. Bagaimana dengan pengalaman yang telah dia peroleh, bapak dari satu puteri ini menuturkan untuk Anda. (Redaksi)

Sepekan rasanya kurang. Kunjungan sepekan di Korea ini memang dalam kenyataannya efektif hanya 5 hari, belum termasuk dengan waktu yang dipenuhi dengan acara semi resmi dan protokoler, audiensi, makan, dan tentu saja melancong ke tempat wisata. Apa boleh buat, maunya sich selain ada acara resmi, ada juga santainya. Hingga waktu yang singkat tersebut terasa lebih singkat lagi. Tapi tak apalah, dengan segenap indra, saya mampu menangkap, menyerap berbagai permasalahan yang ada.

Permintaan saya untuk memperpanjang waktu tinggal tidak diizinkan, meskipun saya telah siap. Artinya, bisa tinggal di mana saja, kalau perlu di hotel sekalipun. Mungkin Anda membayangkan bahwa melancong ke luar negeri ini enak. Kalau orang Jawa bilang "kepenak". Gratis lagi. Padahal dalam kenyataannya, saya harus melalui banyak tahap, dengan segala macam lika-likunya. Nah, ini yang mau saya bagikan untuk Anda.

Untuk mempersiapkan paspor, saya harus menyiapkan foto kopi KTP, kartu keluarga, beserta surat keterangan dari perusahaan atau instansi tempat kita bekerja, yang ditujukan kepada kepala imigrasi setempat. Isinya bahwa kepergian tersebut atas biaya dinas atau pemerintah, atau atas biaya perusahaan, sesuai dengan tingkat keperluan. Bagi saya yang bekerja di swasta, tentu saja kepergian saya atas biaya perusahaan.

Dus, untuk mempermudah pengurusan paspor tidak perlu menyebutkan kepergian ke suatu negara atas undangan instansi yang bersangkutan. Hal ini karena nanti akan ditanyakan undangannya, serta justru menambah mata rantai pengurusan surat. Kecuali kalau memang kita akan mencari visa. Menyongsong era globalisasi tahun 2003, ada beberapa negara yang tidak mengharuskan seseorang untuk memakai visa. Hingga cukup paspor saja, ini diberlakukan beberapa negara yang tergabung dalam ASEAN, serta negara Asia Timur lainnya, termasuk Korea Selatan.

Visa diperlukan untuk kunjungan ke negara tersebut kurang lebih 15 hari. Karena saya berniat tinggal lebih lama lagi, saya melengkapinya dengan visa juga. Tentu saja, ini akan menambah jumlah pengeluaran. Setelah surat-surat oke, saya datangi Kantor Imigrasi setempat untuk mengambil formulir. Di sinilah mata rantai itu dimulai. Setelah lengkap kita isi, kita kembalikan ke instansi setempat untuk diperiksa dan sebagainya.

Tarif resminya hanya sekitar Rp 95.000, tapi dalam kenyataannya bisa mencapai lebih dari tiga kalinya. Ini bukan rahasia umum lagi, karena memang demikianlah lazimnya. Bisa sich, kita ikuti aturan biasa, tetapi jangan kaget kalau nanti akan diping pong kesana kemari, yang tentu saja akan memakan waktu lebih dari ketentuan yang berlaku. Di sinilah uniknya, mereka pikir orang yang akan bepergian ke luar negeri dianggap cukup mampu dan kaya uang.

Pura-pura saya tidak tahu prosedurnya, saya tumpuk begitu saja surat surat yang telah saya isi dan saya tanda tangani komplet. Lebih dari dua jam saya menunggu, tidak ada panggilan. Ini disebabkan karena saya tidak menyisipkan amplop berisi uang dalam map tersebut. Sementara, beberapa orang yang mengurus belakangan dan ketahuan ada amplopnya langsung saja dilayani. Nonsen deh, kalau pejabat imigrasi mengatakan tidak ada pungli di kantornya.

Masih ada beberapa meja yang harus saya lalui. Mulai pengagendaan surat, wawancara, minta tanda tangan, pas foto, sampai pengambilan sidik jari, lengkap untuk kesemua jari. Masing-masing meja pun tidak luput dari amplop. Bahkan ada yang berterus terang minta sekian belas ribu. Ada yang hanya dengan melihat, kalau ada amplopnya sudah cukup. Itulah sebabnya, kalau ada biro jasa yang mampu menguruskan paspor secara cepat, biayanya sekian ratus ribu.

Namun alangkah baiknya kalau dilakukan sendiri, selain pengalaman akan bertambah, juga akan memperoleh kiat menghadapi orang. Saya tak akan menilai kalau hal tersebut sangat jelak, akan tetapi demikianlah adanya. Belum lagi, kalau kena calo dan terlibat kasus paspor palsu. Tentunya diri kita sendiri yang akan rugi. Aturannya, setelah selesai pengambilan sidik jari, tiga empat hari kemudian paspor bisa kelar. Tapi, dalam prakteknya, bisa lebih dari itu. Biasanya dalam pengambilan kita juga masih dimintai uang lagi.

Lima puluh tahun negara kita sudah merdeka, namun kemerdekaan belum juga kita peroleh. Apabila ingin menambah dengan visa, kita harus mendatangi Kedutaan Besar negara yang hendak kita tuju. Di situ ada formulir khusus lagi. Hanya saja, biasanya di situ biayanya resmi, nggak pakai calo-caloan segala. Paspor dan visa sudah di tangan, kita tinggal menunggu kapan berangkat ke bandara. Ada baiknya kita berangkat lebih awal. Pasalnya, kita masih harus membereskan beberapa persoalan yang berkaitan dengan kewajiban kita ke luar negeri.

Sebagaimana lazimnya kalau kita hendak menaiki pesawat, baik tujuan domestik ataupun manca negara. Kita antri dulu untuk melapor, guna memperoleh boarding pass, yaitu nomor bukti tempat duduk kita. Kalau tujuannya ke luar negeri, kita akan dikenai airport tax yang besarnya untuk masing-masing negara tidak sama. Airport tax ini juga kita bayar apabila kita hendak meninggalkan negara yang bersangkutan. Barang bawaan kita pun juga harus ditimbang.

Kalau melebihi ketentuan, kita akan dikenakan tambahan biaya. Masih ada Rp 250.000 biaya fiskal yang harus kita bayar. Sepengetahuan saya, ini hanya ada di Indonesia, mungkin dasar pemikiran pemerintah, bahwa siapa pun juga yang hendak bepergian ke luar negeri sudah dianggap mampu, hingga dikenakan biaya fiskal sebesar itu. Setelah boarding pass, sesuai jadwal pesawat, take off, mumbul ke antariksa, menembus awan putih, menuju Korea.

Seperti lazimnya di beberapa penerbangan internasional, saya dilayani oleh stewardesses (pramugari) yang ayu-ayu. Ada juga yang montok, dengan benges di bibirnya yang menantang. Pokoknya... ach... !! Tidak ada salahnya kan, kalau saya memandang sepuasnya. Mumpung gratis. Mungkin sudah menjadi ketentuan penerbangan internasional, awak pesawat dan pramugari campuran antara negara tujuan dengan negara asal. Begitu pula yang saya temui, ada urang awak di sana.

Melalui rute yang lumayan jauh, layaknya terbang ke Irian Jaya saja, delapan jam. Hanya saja, ketika saya ke Irian Jaya, mesti ganti pesawat yang lebih kecil di Ujung Pandang, dan mampir dulu ke Ambon, sedang penerbangan Jakarta-Seoul non stop. Lumayan capek, bukan lantaran pesawatnya yang saat itu kapasitas penuh oleh penumpang masa-masa liburan. Hiburan berupa musik tersedia, film ada. Tetapi yah, dari pada melihat film mendingan ngelirik pramugari yang selalu mondar-mandir menawarkan minuman.

Tiba di Seoul sudah jam setengah enam sore waktu setempat. Setelah membereskan surat-surat dan dokumen perjalanan, saya pun keluar. Di sana sudah menunggu Bung Kim Young-soo. Tubuhnya gempal, jalannya nyaris seperti robot, rambutnya agak kemerahan. Yang membuat saya kaget, Bandara Internasional Kimpo suasananya mirip sebuah pasar. Bukan karena ramainya oleh penumpang domestik dan internasional yang tumplek-blek di sana.

Masih jauh lebih baik Bandara Soekarno Hatta, yang punya ruang tunggu nyaman, sementara Bandara Kimpo mirip sebuah toko penuh dengan barang-barang duty free, yang bisa kita beli dengan bebas. Ternyata saya tiba tidak belakangan, masih ada satu lagi pendengar dari Perancis. Bersama pendengar dari Perancis itulah, saya menuju hotel yang telah ditentukan. Di lobi hotel sudah menunggu pendengar dari Jepang dan Jerman. Dan mulailah malam itu saya di Seoul.

Malam itu, saya mulai dengan makan malam di Hotel Manhattan, hotel berbintang empat dengan tarif resmi sekitar 250 dollar semalam. Di tempat itulah kami menginap selama di Seoul. Sembari makan malam, kami ngobrol serta minum bir. Kami membuka diri dengan bercerita tentang keadaan masing-masing, dengan bahasanya sendiri-sendiri, dan didampingi masing-masing kepala seksi.

Berkomunikasi dengan pendengar dari Jerman, Jepang, saya memakai bahasa Inggris, sementara pendengar dari Prancis tetap memakai bahasa negerinya. Di sinilah perbedaannya, orang Perancis terlalu menganggap rendah bahasa lain, dan bersikukuh tidak mau memakai bahasa Inggris. Untung saja, sepatah dua patah kata saya mengerti. Ada untungnya juga kerap nongkrong di Alliance France. Tak apalah, ternyata masing-masing kepala seksi yang mendampingi juga nggak fasih bahasa Inggris.

Dus, tak perlu mempunyai rasa sungkan kalau salah, yang penting bahwa komunikasi tersebut sampai, dan bisa diterima semua pihak. Esoknya, barulah kami menghadap Pimpinan KBS, mulai dari pejabat setingkat Direktur sampai Dirjen. Kemudian meninjau fasilitas studio milik KBS secara maraton, didampingi Nona Won Ja Young. Setelah itu, dilanjutkan menuju Folk Village, kampung Korea dalam rupa kecil, semacam Taman Mini Indonesia Indah.

Hanya saja, di situ ditempati oleh penduduk yang dibayar konglomerat Korea yang mempunyai perusahaan besar multinasional yaitu Samsung. Mereka diharapkan hidup sesuai dengan tempo dulu. Di situ juga banyak terdapat para perajin yang menghasilkan barang-barang sangat artistik, sesuai dengan keahliannya. Sorenya, sebelum kami pulang, mengunjungi Seoul Tower. Kami mesti naik kereta gantung untuk menuju ke Seoul Tower ini.

Sayang sekali, cuaca di Seoul selama kami berada di kota ini nyaris tak dapat melihat matahari seharian. Kalau cuaca cerah, kami bisa melihat seluruh kota Seoul. Persis sama kalau kita berada di Monas, Jakarta, bisa melihat segala penjuru Jakarta. Pagi harinya, kami menaiki kereta ekspres buatan Korea, Semaul, menuju kota Kyongju, 399 km dari kota Seoul. Kami melihat persawahan, bentuk rumah dan segala percik pernik negeri Korea sepanjang perjalanan.

Sesekali kereta berhenti untuk menurunkan penumpang. Empat setengah jam kemudian, sampailah kami di kota Kyongju. Dilanjutkan mengunjungi beberapa tempat kuno, dimulai dengan mengunjungi museum. Di situ digambarkan bagaimana Kerajaan Shilla terbentuk. Digambarkan dengan ornamen letak Kerajaan Shilla di lembah, kerajaan ini mengalami masa kejayaannya. Sebagian peninggalan tersebut dibumi hanguskan setelah Jepang menjajah negeri ini pada pertengahan abad ke-16.

Barulah pada keesokan harinya kami mengunjungi beberapa peninggalan secara nyata. Ternyata, membandingkan tempat peninggalan kuno sekitar Kyongju dengan gambar memang sangat mengasyikkan sekali. Salah satu hal yang pantas diacungi jempol adalah pemerintah mampu menempatkan Kyongju sebagai daerah tujuan wisata, yang dikelola secara modern. Manajemennya sangat bagus. Hanya sayang, karena pengelolaan secara modern, ciri khas yang lama nyaris hilang. Suatu dilema modernisasi.

Setelah itu, kami mengunjungi studio lokal KBS yang ada di Kyongju. Suatu hal yang sangat unik adalah adanya larangan pemerintah kepada masyarakat untuk memiliki pesawat radio bergelombang pendek, dus di sinilah kita lebih enak, boleh memiliki dan mendengar radio dari seluruh dunia. Ini disebabkan karena kebijakan pemerintah menepis pengaruh Korea Utara. Suatu kelemahan Korea Selatan sebagai negara modern.

Tapi penyensoran ini dimungkinkan, karena memang antara Korea Utara dan Korea Selatan saling jaga jarak, saling intip. Kalau lengah, bukan tidak mungkin akan dilakukan serangan secara mendadak. Dari studio yang hanya seperempat jam dikunjungi, kami melanjutkan perjalanan ke pabrik besi baja yang bereputasi internasional, Pohang. Kawasan industri ini sangat luas dan memproduksi baja baik untuk industri dalam negeri sendiri, maupun konsumsi ekspor.

Pohang mirip dengan Otorita Batam, di mana segalanya merupakan satu paket yang luas, dengan karyawan yang berjumlah ribuan orang. Setelah itu baru kemudian kembali lagi ke Seoul. Akhirnya, tiba keesokan hari, seperti yang saya tunggu-tunggu, tiba juga di studio seksi Indonesia. Saya mengadakan wawancara, tepatnya diwawancarai Nona Shim untuk acara Titian Muhibah dan Ruang Pendengar. Tentunya, ditunggui Nona Manis Park sebagai operator.

Wawancara seputar kesan-kesan tentang kota Seoul dan kunjungan ke berbagai tempat. Tentunya, Anda sudah mendengarkan siaran tersebut. Setelah selesai, kemudian nongkrong di seksi Indonesia. Secara umum, gambaran tentang seksi Indonesia adalah begini. Dalam deretan panjang satu ruangan terdapat hampir semua seksi di lingkungan RKI, kecuali seksi bahasa Jepang yang menempati ruangan khusus, karena memang tempatnya nggak ada.

Sementara, di pojoknya, terdapat Direktur RKI. Menyusul kemudian, seksi bahasa Indonesia. Bung Kim dan Bung Chamdan duduk berjejer dengan masing-masing satu kursi. Di depan Bung Chamdan, menghadap komputer, duduk Nyonya Park dan Nona Won. Di depan Bung Kim, duduk penyiar lepas Nona Shim dan nona-nona lainnya, yang masuk bergiliran, sesuai dengan jadwal. Dalam satu ruangan yang sama terdapat seksi bahasa Rusia dan seksi-seksi bahasa lainnya.

Sedangkan yang paling ujung adalah seksi bahasa Perancis. Pada bagian tengah, di antara seksi bahasa terdapat seksi pemberitaan, tempat untuk mensuplai semua materi yang hendak disiarkan, terutama sekali adalah berita dan komentar. Terutama sekali adalah berita dan komentar. Dari sinilah oleh masing-masing seksi diterjemahkan. Untuk seksi Indonesia, setelah diterjemahkan, kemudian dikoreksi oleh Bung Chamdan. Setelah diketik, diadakan rekaman dan siap kita dengar, tepat pada waktunya.

Siangnya seusai rekaman, kami mengunjungi Itaewon, pusat perbelanjaan di Korea. Kalau di Yogya dan sempat menyusuri Jalan Malioboro, ya begitulah gambaran Itaewon. Cara menawarkan dagangannya pun mirip Malioboro, yakni ramai-ramai mempersilakan orang masuk, dan barang barang yang dijual itu bisa ditawar. Sayangnya, hanya sekitar dua jam di sini. Malamnya bertemu dengan mantan Kepala Seksi Indonesia yang pertama, Bung Park Young-soo.

Sabtu siang harinya cabut ke Jakarta. Sebelum cabut, saya sempat jalan jalan sendirian mengitari Youngdungpo Park. Menyusuri tepi Sungai Han, merenung di tepi sungai sambil menulis puisi. Begitulah cara menghayati suatu keadaan, sembari memandang di kejauhan, mereka-reka tulisan, lahirlah beberapa macam puisi. Itulah kesempatan yang saya pergunakan menikami seputar Seoul secara enjoy. Maklum, tanpa protokoler.

Hanya karena saya nggak ada teman, saya hanya menyempatkan diri ke beberapa tempat, dan tentu saja, mengambil gambar untuk dokumentasi. Saya membayangkan negeri kita, suatu ketika nanti, apakah kita masih hidup atawa sudah wassalam. Tentunya masyarakat kita akan mengalami hal demikian. Satu masyarakat modern dengan tingkat kemakmuran yang memadai. Di mana hal-hal yang lahiriah bukan lagi menjadi kebutuhan yang utama, melainkan sebagai suatu hasil dari kemajuan peradaban.

Kesan yang mendalam bagi saya adalah padatnya acara yang disusun. Sehingga sama sekali tidak bisa mengorek lebih dalam isi perut KBS beserta seluruh seksinya. Hal ini karena nampaknya mereka menganut kebijaksanaan yang semi tertutup. Mungkin karena ini yang pertama kali diadakan, hingga masih terkesan banyak sekali kesemrawutan. Mungkin kelak sewaktu pendengar lain diundang, hal ini telah mengalami banyak sekali perubahan.

Tentu, berdasarkan pengalaman dan masukan-masukan dari pendengar seluruh seksi yang pernah diundang, ada lebih dan ada pula kurangnya. Itulah sepekan perjalanan saya di Seoul, atau lebih tepatnya lagi adalah lima hari di Seoul. Saya harap bisa dipakai untuk menambah wawasan. Satu hal yang patut kita catat, bahwa di negeri orang tidak senantiasa enak. Mungkin karena saya orang Jawa yang serba rikuh pakewuh.

Bukan saja dikarenakan cara pandang, kebudayaan dan sebagainya yang berbeda. Untuk itu, akan lebih baik lagi kalau mempersiapkan diri lebih awal, sehingga tak mengalami kebekuan dan kemandegan di sana. Siapa tahu Anda-lah yang mendapatkan kesempatan berikutnya, atau Anda memperoleh hadiah tiket terbang gratis dari stasiun lain, yang memang tak mau kalah ? Mungkin pengalaman saya bermanfaat bagi Anda. (hsb)

 
Dirgantara Online - Vol 5 No 2 September 1995
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space