Catatan Pinggir
Anda tentu masih ingat lagu "Nona Manis" yang didendangkan oleh Tiga Dara, atau Anda sendiri mungkin sering melantunkan lagu ini. Di saat-saat kebersamaan, seperti saat camping, mendaki gunung, atau perpisahan, biasanya lagu ini akan mengalun, mengiringi perpisahan. Namun, di sini saya tidak mengajak Anda untuk menyanyikan lagu itu karena akan berpisah. Saya hanya mengajak Anda meresapi syair-syair lagu tersebut, yang kita sesuaikan dengan suasana saat ini.
Suasana bagaimana ? Tentunya, Anda sudah paham, sudah merasakan. Ya, cobalah kita terjemahkan si Nona Manis sebagai Maria Soekamto. Namun bukan maksud saya mengubah status Mbak Maria yang sudah berkeluarga. Maaf Mbak Maria, hanya pengandaian. Nah, ketemu kan syairnya. Maria Soekamto siapa yang punya ? Ha... ha... ha... ini akan memperoleh jawaban yang beragam. Bisa suami Mbak Maria, bisa orang tuanya dan sebagainya, pokoknya banyak. Namun bukan itu yang saya maksudkan. Lantas ?
Dalam kapasitasnya sebagai penyiar, tentu saja Mbak Maria kita punya. Bukan si Plenthi, juga bukan si Jalidhu, tapi kita bersama. Ya, kita semua. Bukan milik Indonesian DX Club, bukan Voice of Free China Fans Club, bukan klub-klub yang lain. Tidak memandang bulu, semua berhak akan "kepemilikan" tersebut. Tetapi, bukan berarti lantas Anda mengklaim secara mutlak. Makanya, saya kaget saat Mbak Maria mengudara dalam siaran 1 Januari 1995 yang lalu.
Pasangannya, Maidin Hendrawan, membuka percakapan, "Lho, Mbak, sepulang dari Indonesia, kok lesu ? Ada apa ?" Pertanyaan yang tidak biasanya dilontarkan dalam siaran. Dengan nada yang sedih, dan entah perasaan apa yang ada dalam diri Mbak Maria, karena kita tidak bisa melihat langsung, Mbak Maria mencoba menjelaskan permasalahannya. Ternyata ? Anda sudah tahu, kan ? Ah, andai saja kita bisa menyaksikan siaran itu melalui media audio visual, kita akan bisa melihat langsung.
Dengan nada sedikit emosi, Mbak Maria yang dituduh Nurhendro Putranto melanggar Surat Perintah Dinas, menjelaskan, "Kenapa saya dilarang bertemu dengan pendengar kami ?" Ya, itulah yang membuat kita heran, apakah hanya karena undangan RLCI, Mbak Maria datang ke Indonesia, lantas ia harus menuruti semua aturan RLCI ?
Dan apakah kehadiran Mbak Maria ke Indonesia juga hanya karena undangan RLCI ? Ada pepatah yang mengatakan, "Sambil menyelam minum air". Tentu kita akan lebih beruntung kalau bukan sekedar air tawar yang kita minum. Susu, Kopi, Teh ? Begitu pula halnya dengan Mbak Maria ke Indonesia. Bukan begitu, Mbak Maria ? Mbak Maria manis siapa yang punya ? (ASB)