Telekomunikasi
Televisi Satelit di Indonesia
Tiga tahun yang lalu, pada Oktober 1991, Putri Anne dari Kerajaan Inggris membuka dengan sambutan pendek di depan puluhan wartawan yang menyaksikannya di depan layar televisi di berbagai kota, Hong Kong, Beijing, London, Bangkok, Seoul, Taipei, New Delhi, Dubai, dan juga... Jakarta. Ia menyampaikan ucapan selamat pada seluruh warga Asia. Saat itu, Putri Anne sedang memberikan sambutannya untuk peresmian siaran perdana televisi satelit BBC.
British Broadcasting Corporation (BBC), sebuah stasiun TV milik Inggris untuk wilayah Asia, termasuk, tentu saja, Indonesia. Setelah sambutan itu usai, terdengar suara jelas dan jernih, "This is BBC World Service Television. Part of STAR TV, satellite television for Asia region" Malam peresmian itu seolah-olah merupakan lambang era televisi satelit di Indonesia. BBC dipancarkan ke wilayah Asia melalui AsiaSat, dimiliki CITIC (BUMN Cina), Wireless (Inggris), dan Hutchison Whampoa (Hong Kong).
Sedangkan STAR TV, stasiun televisi yang bermarkas di Hong Kong, didirikan oleh Richard Li, anak dari seorang taipan Singapura. Dan sejak pertengahan 1993 yang lalu, sebagian besar sahamnya (64%) dibeli oleh Rupert Murdoch, Si Raja Pers dari Australia. Lewat STAR TV ini, BBC bertanggung jawab atas materi berita, sedangkan STAR TV bertanggung jawab atas teknis bagaimana siaran tersebut dapat terpancar ke wilayah Asia, termasuk Indonesia.
Sebenarnyalah, era televisi satelit tersebut sudah dimulai tiga bulan sebelumnya di Indonesia. Yakni, ketika Juni tahun itu, CNN (Cable News Network), stasiun TV swasta Amerika Serikat saingan berat BBC, menyewa satu di antara 24 transponder milik Satelit Palapa. Tapi, ada yang membedakan dua peristiwa itu. Dengan CNN, karena pertimbangan "proteksi" budaya, Indonesia masih kelihatan mendua dan ragu-ragu.
Pada saat kerjasama antara CNN dan Palapa ditandatangani, pihak pemerintah belum memutuskan apakah CNN dibolehkan menyiarkan langsung atau tidak ke Indonesia. "Tidak" dalam artian penyiaran program televisi AS tersebut hanya bisa dilakukan dengan sinyal yang diacak. Dengan cara semacam ini, berarti hanya kalangan tertentu yang berhak dan bisa menikmati informasi dari stasiun yang melejit pada saat Perang Teluk berlangsung tersebut.
Satelit-satelit yang Ada di Atas Wilayah Asia
Satelit : INTELSAT (Maret 1984)
Pemilik : Konsorsium Satelit Internasional (berpusat di AS)
Wilayah Penerima : Jepang, Taiwan, Filipina, Hong Kong, Australia, Cina Selatan
Satelit : PALAPA B2P (Maret 1987)
Pemilik : Indonesia
Wilayah Penerima : ASEAN, Indocina, Cina Selatan, Hong Kong, Taiwan, India Timur
Satelit : ASIASAT-1 (April 1990)
Pemilik : BUMN Cina, Cables & Wireless (Inggris), Hutchison Whampoa (Hong Kong)
Wilayah Penerima : Cina, Jepang, Taiwan, Asia Barat, Asia Selatan
Satelit : RIMSAT-1
Pemilik : Tajudin Ramli (Malaysia) dan James Simon (AS)
Wilayah Penerima : ASEAN, Cina Selatan, Taiwan, Korea, Jepang, Hong Kong, Indocina, Asia Selatan
Satelit : THAICOM-1
Pemilik : Shinawatra (Thailand)
Wilayah Penerima : Thailand, Myanmar, Indocina, Cina Selatan, Singapura, Taiwan, Korea, Jepang, Hong Kong, Malaysia Barat
Satelit yang Akan Diluncurkan ke Wilayah Asia Tahun 1994
Satelit : ASIASAT-2
Pemilik : BUMN Cina, Cables & Wireless (Inggris), Hutchison Whampoa (Hong Kong)
Wilayah Sasaran : ASEAN, Cina, Jepang, Korea, Hong Kong, Taiwan, Indocina, Asia Selatan, Asia Barat
Satelit : APSTAR-2
Pemilik : BUMN Cina, Cables & Wireless (Inggris), Hutchison Whampoa (Hong Kong)
Wilayah Sasaran : ASEAN, Cina, Jepang, Korea, Mongolia, Hong Kong, Taiwan, Indocina
Satelit : Belum Diketahui (1995)
Pemilik : Korea Selatan
Wilayah Sasaran : Belum Diketahui
Keragu-raguan yang sama juga terlihat pada saat penyewa transponder Palapa, "Emerald Network" Australia menyatakan niat untuk menyiarkan tayangan secara langsung ke Indonesia. Dengan sistem yang acak, berarti hanya mereka yang memiliki parabola dan dekoder penerimanya yang bisa menerima siaran tersebut. Saat itu memang CNN termasuk channel hiburan Home Box Office (HBO) Asia, serta channel olah raga ESPN hanya bisa diterima di hotel-botel berbintang.
Kalaupun saat itu CNN dapat diterima parabola-parabola di Indonesia, terutama yang berukuran besar, itu lebih merupakan kebetulan. Dalam arti, ia lebih berupa luberan pancaran satelit yang tidak diarahkan ke Indonesia. Terutama peluberan dari Intersat 508, satelit milik Konsorsium Satelit Internasional yang berpusat di AS.
Satelit yang diluncurkan Maret 1984 ini sebenarnya hanya memancarkan sinyalnya ke wilayah Jepang, Taiwan, Filipina, Hong Kong, Cina Selatan, Australia, bukan Indonesia. Sebagai catatan, memang ada kekecualian berlaku buat beberapa penyewa transponder Palapa yang lain, seperti misalnya RTM 1, TV 1, dan TV 3 (semuanya dari Malaysia). Mungkin karena pertimbangan kedekatan budaya, ketiganya bisa "beredar bebas" di Indonesia lewat parabola.
Tapi, ketika hal itu menyangkut keinginan BBC untuk menyiarkan secara langsung ke Indonesia, masalahnya menjadi lain. Maklum, BBC dipancarkan lewat AsiaSat1. Satelit yang diluncurkan sejak April 1990 ini bukan milik Indonesia. Tentu saja, Indonesia tak bisa mengatur agar penyiaran stasiun ini dilakukan secara acak, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia kepada CNN, yang menyewa transponder Palapa. Lewat AsiaSat1, era TV satelit tampaknya mau tak mau dimulai.
Tanpa ampun, siaran BBC dan MTV yang non-stop "menyerbu" wilayah Indonesia, era televisi satelit di sini hanya tinggal soal menunggu waktu. Penyebabnya jelas. Salah satunya, persaingan bisnis penyewaan satelit. Palapa, yang sanggup mengirimkan sinyalnya ke wilayah ASEAN, Indocina, Cina Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan India bagian timur, tentu saja tak ingin kehilangan pelanggan. Maklum, kini dan masa yang akan datang, Palapa tak sendirian di wilayah ini.
November lalu misalnya, Tajudin Ramli, pengusaha Malaysia, dan James Simon, Amerika Serikat, bekerja sama meluncurkan Rimsat1. Satelit ini memiliki wilayah yang sama dengan Palapa B2P. Ini belum rencana tahun 1994 mendatang. Ada tiga satelit yang akan diluncurkan pada masa itu. Dan ketiga-tiganya memiliki wilayah yang bisa dikatakan sama dengan wilayah Palapa. Alhasil, mau tak mau, Palapa pun harus mengakomodasi keinginan para penyewanya, yang memang bermaksud menjual program programnya ke wilayah Indonesia.
Karena keadaan-keadaan inilah, maka situasi lalu seperti berbalik. Tahun 1991, pemerintah, melalui Menpen Harmoko, melakukan pembatasan televisi satelit lewat siaran acak. Awal tahun 1993, pemerintah, juga lewat Menpen Harmoko, menyatakan bahwa Indonesia menganut kebijakan "udara terbuka". Dan pada tahun itu pula, bersamaan dengan era televisi swasta, Indonesia memasuki tahap baru TV satelit.
Dengan kebijakan terbuka, berarti para penyewa transponder Palapa, misalnya CNN, yang sebelumnya dilarang menyiarkan secara langsung, bebas menyiarkan tayangannya ke wilayah Indonesia. Dan sejak itu, lalu menyusul pula stasiun televisi lain. Januari 1993 misalnya, Australian TV International masuk ke Indonesia lewat Satelit Palapa, menyusul CNN sebelumnya. Empat bulan berikutnya, televisi Perancis, Canal France TV (CFI) masuk ke Indonesia lewat satelit yang sama.
Begitulah, di tahun 1994 ini, serbuan televisi satelit tersebut seakan tidak terbendung. Dari transponder Satelit Palapa, parabola di Indonesia dapat menangkap 18 channel, ini termasuk empat televisi swasta dalam negeri dan tiga pay TV yang dipancarkan secara acak, supaya dapat menerima siaran ini, kita harus menggunakan dekoder. Dari AsiaSat1, parabola di Indonesia dapat menerima 14 chanel. Sementara dari RimSat1, parabola di Indonesia dapat menerima Taiwan TV (Taiwan), Sun TV (India).
Total, kini ada sekitar 34 channel TV yang menyerbu wilayah Indonesia. Serbuan ini hampir dipastikan bakal bertambah. Awal 1994, STAR TV merencanakan membuat empat channel lagi yang disiarkan secara acak, untuk menerima siaran ini, selain memiliki parabola, Anda harus memiliki pula dekoder. Empat channel tersebut ialah Children's Channels untuk anak-anak, Asian Business Channels, tampaknya untuk menandingi Asian Business News (ABN), Movie Channels, dan Asian Movies.
Selain itu, secara pasti, peluncuran ketiga satelit dari negara lain pada tahun 1994 akan menambah jumlah "penyerbu" budaya yang baru. Satelit satelit yang dimaksud adalah Apstar-1 dan Apstar-2 milik konsorsium pemerintah Cina, Kwang Hua Development Taiwan, CP Group Thailand, dan Singapura Telecom, serta AsiaSat1 milik Hutchison Whapoa Hong Kong, CITIC, BUMN Cina, Cable and Wireless, Inggris.
Diperkirakan, ada sekitar 11 channel baru yang dibawa oleh ketiga satelit tersebut. Karena itu, pada akhir 1994 mendatang, diperkirakan total ada sekitar 45 channel menyerbu Indonesia lewat antena parabola. Dan era serbuan televisi global, dalam pengertian, tidak lagi hanya sekedar luberan, tetapi benar-benar melanda Indonesia. (Republika / DBR)