Laporan dan Berita
Radio Listeners Club Indonesia Overacting
Memasuki awal tahun 1995 ini, jagad penggemar radio digemparkan oleh berita yang menarik. Radio Listeners Club Indonesia telah secara sepihak memprotes beberapa peristiwa keradioan di dan yang ada hubungannya dengan Indonesia. Sebagaimana diberitakan Suplemen Dirgantara yang melansir pemberitaan Radio Listeners Club Indonesia (RLCI) di berbagai stasiun radio luar negeri berbahasa Indonesia, RLCI menyelenggarakan Pertemuan Umum (Perum) XI di Ungaran, Jawa Tengah.
Diberitakan, bahwa kegiatan tersebut boleh dan bisa diikuti umum, dalam artian tidak terbatas pada anggota RLCI saja. Perum XI berjalan sudah, sukses atau tidak, itu relatif. Tapi yang sangat mencengangkan, ekor pertemuan tersebut sempat menyulut perselisihan antar organisasi pendengar radio di Indonesia. Tak disangka dan tidak diduga-duga, bak petir menyambar di siang bolong, di akhir tahun 1994, dan di awal tahun 1995 ini, RLCI meluncurkan release yang menyerang beberapa pihak.
DX Komunikasi
Tanggal 28 Desember 1994, diulang 1 Januari 1995 pada jam yang sama, acara DX Communication Radio Nederland Wereld Oemroep menayangkan keberatan wawancara RLCI atas wawancara dengan penyiar Radio Singapura Internasional, Saudara Hasan Saleh, serta penyiar Radio Veritas Asia, Saudari Falentia. Kebetulan mereka, Hasan dan Falentia hadir dalam Perum XI RLCI, Ungaran, November 1994.
Wawancara tersebut didapat tanpa izin dan sepengetahuan pengurus dan panitia, tulis Nurhendro Putranto, yang di dalam Perum XI dijadikan sebagai calon tunggal. Menanggapi surat keberatan tersebut, Asbari Nurpatria Krisna mengatakan, "Untuk menghindari kesalahpahaman, kami tidak menyebutkan nama si pewawancara." Dan sulit mengatakan bahwa materi tersebut diperoleh dari Perum, toh pada saat sidang tidak diperbolehkan wawancara.
Dan sulit juga mengatakan bahwa si pewawancara bukan anggota aktif, kalau dalam Perum XI RLCI tersebut, dia menghadirinya, tambah koresponden majalah Gatra untuk Eropa di Hilversum ini (baca juga : Ini Dia ! Aries Menjawab). Atas masalah itu, Asbari Nurpatria Krisna memenuhi permintaan rekan Aries Subagyo, melayangkan fax-nya mengatakan bahwa tanggung jawab bantahan sepenuhnya ada padanya.
Suara Tiongkok Merdeka
Minggunya, 1 Januari 1995, Suara Tiongkok Merdeka, melalui obrolan Maria Soekamto dan Maidin Hendrawan, Nurhendro Putranto, S.H., yang mengatasnamakan Radio Listeners Club Indonesia dari Surabaya, melayangkan fax keberatan atas pertemuan Maria Soekamto dengan pendengarnya di Jakarta. Sebelumnya, Maria Soekamto, yang menjabat Kepala Seksi Indonesia Voice of Free China, juga memperoleh fax yang senada dari Rina Amahorseya.
Pertemuan yang dikoordinir Eddy Setiawan di Rumah Makan Handayani diprotes Nurhendro Putranto (baca juga : Ini Dia ! Aries Menjawab). Dengan nada yang haru dan sedih, Maria Soekamto menyayangkan tindakan Nurhendro Putranto dan Rina Amahorseya yang melayangkan surat keberatan padanya, dan surat teguran pada Eddie Setiawan. "Saya ke Indonesia atas izin dari General Manager VOFC, untuk menemui pendengar di Indonesia," ujar Maria menambahkan bahwa acara di Jakarta, juga termasuk salah satunya.
Eddy Setiawan, nama yang sudah tidak asing bagi kalangan pendengar siaran radio gelombang pendek di Indonesia, adalah salah satu monitor Voice of Free China. Menurut Maria, Eddy Setiawan adalah pendengar setia yang mulai mendengar siaran Voice of Free China sejak 1959, saat Voice of Free China mulai mengudara. Sebelum ke Indonesia, saya juga dititipi pesan untuk menemui pendengar VOFC. Jadi, kalau saya dilarang bertemu, itu sangat saya sayangkan, ujar Maria dengan nada sedih.
Indonesian DX Club
Seminggu sebelumnya, Aries Subagyo, Ketua Indonesian DX Club, menerima dua buah surat senada, yaitu kopi untuk acara DX Komunikasi Radio Nederland Wereld Oemroep, dan satunya lagi, teguran untuknya. "Sungguh saya tak menduga kalau RLCI akan berbuat seperti ini, karena saya tidak bermaksud buruk terhadap RLCI," ujarnya (baca juga : Ini Dia ! Aries Menjawab). Semoga ini bukan pertanda awal dari kekacauan yang menandai Tahun Babi 1995. (ask / hsb / dbr / na)