Catatan Pinggir
Menjamurnya radio swasta dan bertambahnya stasiun televisi swasta mengakibatkan mereka harus berkompetisi satu sama lainnya. Menyajikan acara yang terbaik, dan disukai pendengar atau penonton, sehingga pendengar atau penonton tersebut tidak memindah gelombang pancar stasiun tersebut ke stasiun lain. Televisi, sebagai media pandang dengar, serta radio sebagai media dengar, dalam menyajikan siaran lebih didominasi oleh acara yang sudah jadi.
Materi tersebut banyak dibuat oleh pihak asing, misalnya film-film untuk televisi, musik untuk radio. Tidak jarang, stasiun radio yang mengklaim sebagai stasiun radio dangdut, atau radio-nya pop Indonesia, tapi porsi terbesar masih produk impor. Coba, Anda bandingkan dengan produk dalam negeri kita sendiri, Anda akan menemukan hasil yang timpang.
Seakan-akan, produk seniman atau musisi Indonesia hanyalah sekedar pelengkap. Ironis bukan, hidup di Indonesia, hiburan ala Amerika. Siapa yang dipersalahkan ? Tentu saja, kita semua, kenapa kita mesti menelan begitu saja, sementara kita tahu bahwa itu tidak sesuai. Lebih parah lagi, tak ada itikad untuk memprotesnya. Apakah kebudayaan Indonesia akan terhapus dari menu acara stasiun radio dan televisi di Indonesia ? Ternyata tidak.
Walaupun tersingkir, tapi sebenarnya masih mempunyai tempat di hati pencintanya. Sebut saja, wayang kulit di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, atau wayang golek di daerah Jawa Barat. Masih banyak masyarakat yang hafal akan nama-nama dalang kondang, yang memang akrab di telinga mereka, karena mempunyai ciri khas tersendiri dalam setiap penampilannya.
Dari beberapa tanya jawab dengan para pemirsa TV di berbagai daerah, mereka masih punya ikatan kuat tetap setia mendengar dan menonton wayang kulit. Adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi mereka. Cukup di rumah, tidak perlu keluar rumah, mereka bisa menikmatinya, atau dengan kata lain, tidak terpengaruh cuaca. Wayang golek dan wayang kulit masih mereka nikmati.
Menurut mereka, yang paling utama adalah di dalam cerita wayang itu sendiri, yang mana mengandung nilai-nilai kehidupan, yang sampai saat ini masih relevan. Apalagi, adanya hiburan segar yang bisa mengendorkan syaraf, bila lawakan atau goro-goro sudah muncul. Dari alasan tersebut di atas, banyak stasiun yang menganggap bahwa ini suatu peluang yang patut untuk digarap semaksimal mungkin.
Bagi pengelola radio, siaran semalam suntuk sehingga pemirsa betul-betul terhanyut menyimak alur ceritanya. Sebaliknya, sayang sekali, TV hanya mampu menayangkan dalam waktu yang relatif singkat. Paling hanya 60 menit. Kalau toh lebih dari itu, biasanya hanya sekedar pengisi waktu sebelum siaran langsung di malam hari. Sungguh sayang memang, nasib wayang kulit dan wayang golek di televisi. Tinggal sekarang, kita menunggu reaksi stasiun televisi swasta.
Cukup tergerakkah mereka melestarikan kebudayaan tradisional yang mengandung filsafat kehidupan dan asli Indonesia ? Ah, itu tergantung pada kita-kita ini, karena mereka meramu acara berdasarkan pada apa yang menjadi keinginan kita. Kalau kita tak suka, apa ya mereka berani berspekulasi ? Bagaimana dengan Anda, tak inginkah kebudayaan kita terangkat lebih tinggi, di tengah-tengah arus globalisasi yang siap menenggelamkan kita kapan saja ? (Dwi Budhi Rahardjo)