Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 4 No 2 September 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP 2 Kopeng
Laporan Berita
Sosok
DX Mania
Kontes DX
Bengkel DXer
Antena
Telekomunikasi
Dunia DX
Teknologi
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Teknologi
Studio Radio Masa Depan

Anda bisa membandingkan, memperhatikan, dua gambar di halaman 11. Satu pihak adalah gambar studio siaran RRI Stasiun Nasional Jakarta, sedangkan satunya lagi studio siaran Radio Australia. Tapi harap dicatat, studio Radio Australia ini bukan di Melbourne sana, tapi kami ambil saat Pekan Raya Jakarta, saat mana Radio dan TV Australia berpartisipasi dalam Pekan Raya Jakarta dikaitkan dengan Pameran Dagang "Australia Today".

Sepintas lalu nampak sama, tetapi sebenarnya berbeda. Keduanya ada tersedia layar monitor. RRI menempatkan layar monitor televisi di antara perangkat siar tersebut, sedangkan Radio Australia, monitor komputer. Lantas apa fungsi masing-masing ? Ah, Anda sudah pasti menduganya. Saat operator mengoperasikan perangkatnya, misal saat penyiar mengudara, operator bisa sesekali menikmati siaran televisi.

Tetapi apa yang dihadapi Oska Leon Setyana ? Jangan keburu Anda menduga itu komputer biasa, terlebih-lebih dengan program game. Salah besar kalau Anda menduga seperti itu. Lewat komputer itulah sebenarnya semua operasi peralatan dijalankan. Di situ sudah terprogram apa dan bagaimana yang harus Anda lakukan. Putar "identitas stasiun" ? Gampang sekali. Putar lagu ? Anda tidak perlu memilih-milih dan mencari lagu dari kaset atau compact disc.

Tinggal tekan tombol-tombol, perangkat itu akan melayani Anda dengan mudah. Lantas, bagaimana dengan ruang operator Radio Australia ? Mungkin Anda akan heran begitu melihat studionya, Anda tidak akan menemukan peralatan dengan kabel yang bikin pusing kepala, Anda tak akan melihat tumpukan kaset atau compact disc di studio. Lho ?

Jangan kaget, itulah studio radio masa depan. Bersih, enak dipandang mata. Itulah yang mereka namakan sebagai D-CART, sebuah temuan baru karya orang Australia. Tak banyak makan tempat. Hanya terdiri dari sebuah personal computer, monitor dan keyboard, dan sebuah studio control D-CART, yang ukurannya tak lebih dari papan keyboard personal computer, serta sebuah mixer delapan kanal.

Apakah keistimewaan D-CART ? Michael Guest, Manajer Pemasaran D-CART dari Australian Broadcasting Corporation menguraikan secara rinci, antara lain : Boleh dibilang, D-CART 100 persen hasil karya putra Australia. Sistem D-CART diluncurkan sedini mungkin guna menghadapi kehadiran radio digital. Radio digital menuntut perabot edit, sistem pancar dan proses yang digital penuh. Tak ada artinya jika sistem pancarnya digital, namun sistem editnya masih analog.

Namun dalam era pra-digital seperti sekarang, sistem D-CART masih ampuh untuk memperbaiki kualitas suara dan memudahkan pengeditan. Media rekam yang dipakai oleh D-CART berupa piringan (hard disk) digital yang memiliki permukaan cermin dalam berbagai kapasitas : 1,2 GB Winchester disk, 1,65 GB Winchester disk, 2,2 GB Winchester disk, 590 MB disk, dan 950 MB M.O. disk. Sejumlah disk itu ditaruh dalam modul yang tampak dari luar.

Untuk mengoperasikan disk-disk ini dilakukan melalui D-CART Studio Control. Pada panel kontrol ini ada joy-dial untuk memaju mundurkan pembacaan. Begitu pula, untuk mengedit program dapat dilakukan lewat panel kontrol ini. Praktisnya, operator tidak membutuhkan pisau potong atau pita perekat untuk mengedit sebuah pita magnetik. Seluruh proses edit dilakukan secara elektronik penuh, tidak mekanik fisik lagi.

Menyusun acara jadi kian mudah. Melalui tayangan layar kaca monitor terbaca jelas susunan acara hari ini, atau besok. Tertera di sana, judul acara, durasi tayangan, dan waktu siar. Apabila operator ingin membalik nomor acara ataupun menyisipkan acara baru, seperti Stop Press dan sebagainya, tinggal "load" saja acara baru tersebut diantara nomor acara yang ingin disisipkan.

Alat kontrol ini juga mampu mempersingkat atau memperpanjang durasi tayangan sebuah acara, tanpa mengubah tinggi nada musik, percakapan. Fasilitas lain, misalnya, hubungan modem lewat saluran telepon. Apabila operator berhalangan hadir ke studio, maka dia dapat menjalankan acara yang telah disiapkan sebelumnya melalui saluran telepon dengan bantuan modem pengirim dan penerima.

Hebatnya, studio tak perlu ditunggu operator seharian. Semua serba otomatis, bekerja sendiri, sesuai dengan materi yang telah diprogram. Ketika ABC memulai penggunaan sistem D-CART di Australia, tahun 1990, banyak surat dan telepon masuk yang menyatakan kepuasannya akan mutu suara Radio ABC yang kian jernih. Ini dapat dimaklumi.

Jika perangkat lunaknya, compact disc (CD), sudah digital, dan pengeditannya juga dilakukan secara digital, D-CART, mutu suaranya pasti lebih jernih dibanding sistem konvensional, yang mempergunakan tape reel untuk mengedit atau merekam ulang. Apalagi nanti, apabila sistem transmisinya sudah digital penuh, maka peningkatan mutunya kian terasa.

Sementara ini, sudah beberapa negara menggunakan teknik D-CART untuk pemancar nasionalnya, Kanada, Inggris Raya, Amerika Serikat, Hong Kong, di samping Australia. Bagaimana dengan Indonesia ? Ah, kita lihat saja nanti. (Tjandra G. / BP)

 
Dirgantara Online - Vol 4 No 2 September 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space