Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 4 No 2 September 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP 2 Kopeng
Laporan Berita
Sosok
DX Mania
Kontes DX
Bengkel DXer
Antena
Telekomunikasi
Dunia DX
Teknologi
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Telekomunikasi
ABN TV Masuk Indonesia

Asian Business News, ABN, merupakan program siaran televisi regional pertama yang akan menayangkan pemberitaan bisnis dan keuangan. Kini, perusahaan televisi itu mengudara di Indonesia lewat Satelit Palapa B2P, dengan program siaran bisnis yang ditayangkan 18 jam setiap hari, mulai Senin sampai Jum'at. "Masuknya Asian Business News (ABN) dalam kancah siaran langsung televisi satelit regional ini akan diikuti pula dengan keberhasilan dalam menarik minat pemirsa maupun para pemasang iklan," kata Paul France, General Manager Asian Business News (ABN).

ABN, lanjutnya, telah mendapat respons yang sangat menggembirakan dari para pemirsa di seluruh kawasan. "Melalui Satelit Palapa, program siaran televisi ABN dapat dipantau pula di Sri Lanka dan Papua Nugini, dengan kualitas yang sama baik dengan hasil pemantauan di Indonesia, Hong Kong, Taiwan, dan negara lainnya," ungkapnya. Asian Business News, ABN, merupakan usaha patungan antara Dow Jones & Co. Inc. dengan Telecommunication Inc. dan Television New Zealand Ltd. yang memiliki saham sebanyak 29,5%.

Sedangkan SIM Ventures Pte. Ltd. terdiri atas Singapore Broadcasting Corporation, Temasek Holding masing masing menguasai saham sebesar 10%, sisanya 1,5% dikuasai Business News Network, Hong Kong. Menurut Paul, siaran Asian Business News, ABN, dengan dukungan Satelit Palapa juga dinilai telah berhasil dengan baik. "Keberhasilan ini juga tercermin dari penayangan hari pertama berhasil menghimpun dana iklan dari sejumlah klien terkemuka, seperti Singapore Airlines, Malaysia Air Service, The Economist, dan Asia Wall Street Journal," ungkapnya. (Bernas/bud/gun)

Murdoch Rambah Afrika

Taipan bisnis media Amerika Serikat dari Australia, Rupert Murdoch, mengembangkan sayap bisnisnya ke Afrika Selatan. Pengembangan ini ditandai penandatanganan perjanjian kerjasama perusahaan miliknya Sky Television dan South African Broadcasting Corporation, SABC. Sesuai dengan perjanjian tersebut, SABC akan menyiarkan siaran Sky News dari Sky TV selama 24 jam sehari, mulai Oktober 1994.

Namun Kepala SABC Quentin Green mengatakan perusahaannya hanya akan menyiarkan kembali siaran tersebut sekitar 12 hingga 13 jam sehari, dan sebagian besar di malam hari dan pagi hari, setelah program program yang ada berakhir. Sebelumnya, SABC juga telah menandatangani kerja sama dengan Cable News Network, Amerika Serikat. "Perundingan mengenai kerja sama ini telah berlangsung 3 tahun ini," ujar Green.

Namun, Sky Television, tempat Murdoch memegang 50% saham, baru boleh mengudara dengan siarannya mulai Oktober 1994. Siaran Sky TV ini bisa diperoleh SABC melalui Satelit Intelsat. Menurut Kepala Sky News, Ian Frykberg, perjanjian adalah bagian dari rencana Murdoch untuk menyiarkan beritanya ke seluruh dunia. "Dengan bangga, kami melebarkan sayap, dan SABC dengan bangga menerima siaran-siaran kami. Kami saling kerja sama," ujarnya.

"Kami tertarik untuk meningkatkan cakupan penyiaran kami. Kami lihat Afrika sebagai suatu kekuatan besar dunia. Namun, sayang sekali, Afrika selama ini kurang begitu mendapat perhatian. Ini suatu kemajuan yang wajar bagi kami untuk membawa berita ke pasar-pasar baru yang bisa kami jangkau," lanjutnya. Sejauh ini, belum diketahui berapa besar biaya yang dikeluarkan Sky TV untuk mewujudkan kerja sama ini.

Dengan kerjasama ini, SABC memiliki akses terbatas dengan program program yang disiarkan stasiun CBS dan ABC Amerika Serikat, selain juga TBC/JNN Jepang, RTL Jerman, dan VTM Belgia. Sesuai dengan perjanjian itu, Sky News juga akan melatih para wartawan SABC di markas besarnya di London. (AFP via JP / iw / dbr)

Kebebasan Pers di Hong Kong

Enam wartawan senior jaringan TV Asian Television (ATV), Hong Kong mengundurkan diri. Demikian, Harian Jawa Pos memberitakan dari Hong Kong. Pengunduran diri itu karena kebijakan manajemen jaringan televisi tersebut, yang mengancam akan membatalkan penayangan dokumentasi peristiwa berdarah di Tiananmen, Cina. Mereka tetap menolak kembali pengunduran diri tersebut, meski Mark Lee, Ketua Eksekutif Asian TV memberikan kesempatan.

"Kami akan tetap mengundurkan diri," menurut Poon Fu Yin, kepala pelaksana pemberitaan jaringan televisi tersebut. Jaringan televisi Hong Kong tersebut memang telah menyetujui, untuk menayangkan hasil liputan yang telah didokumentasikan, tentang pembantaian kaum demonstran pro demokrasi di Lapangan Tiananmen, tahun 1989. Persetujuan tersebut dikeluarkan setelah enam wartawan seniornya mengundurkan diri, karena tidak setuju tindakan main sensor sendiri yang diberlakukan.

Ketidaksepakatan di jaringan TV tersebut, bagaimanapun menyebabkan mengalirnya kecaman dari wakil rakyat yang pro demokrasi. Masalah itu juga menimbulkan kekhawatiran kalangan wartawan lokal tentang masa depan kebebasan pers di Hong Kong. Bagaimana mungkin akan adanya kebebasan pers di Hong Kong nanti, saat mana bergabung dengan Cina di tahun 1997 ? Apabila sebelum bergabung saja, sudah memperlihatkan kecenderungan makin menipisnya kebebasan pers. (JP / gun)

Asia Pasifik Ladang Empuk Pertelevisian Dunia

Pengelola stasiun TV, broadcaster, di Asia Pasifik sedang "bertempur" menghadapi pemilik program, broadcaster dunia, yang ingin menguasai pasar di kawasan gemuk ini. Di lain pihak, di Asia Pasifik sendiri mulai terlihat adanya keinginan Australia dan Selandia Baru, untuk ikut serta "bermain". Menurut Adi Rahman Adiwoso, Direktur P.T. Satelindo, pemilik program atau broadcaster yang sedang bertempur di Asia Pasifik berasal dari Amerika atau Eropa.

Namun, yang paling penting adalah adanya keinginan broadcaster di Asia Pasifik untuk menguasai pasarnya sendiri," ujarnya. Fenomena tersebut sudah ditandai oleh kehadiran Apstar-2, yang pangsa pasarnya dibuat oleh The American Broadcasting Entities, seperti Turner, Viacom, dan HBO. "Ada juga gerakan dari Eropa, seperti Pierson Group dan Canal France," katanya.

Di Indonesia, telah dilakukan deregulasi dalam penyiaran TV, sehingga stasiun televisi bukan hanya dimiliki pemerintah. Karena itu, dewasa ini, di Indonesia, terdapat 6 TV swasta nasional. Namun baru 5 diantaranya yang beroperasi, RCTI, SCTV, TPI, AN Teve, sebentar lagi, Indosiar. Di Amerika Serikat dan Eropa, peningkatan revenue broadcaster sudah mencapai tingkat saturasi. Akibatnya, mereka perlu mencari pasar baru guna memperlihatkan kenaikan kinerja usaha, berarti mempertahankan nilai-nilai prospek mereka. (JP / gun)

 
Dirgantara Online - Vol 4 No 2 September 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space