Sosok
Meskipun Anda sudah kenal suaranya, belum tentu Anda kenal siapa dia. Namanya, saya yakin Anda sudah kenal, khususnya mereka yang mengaku pendengar setia Radio Australia. Suaranya memang khas, susah untuk dibedakan. Apalagi, dengan istilah-istilah yang dilemparkan, yang menjadi ciri khasnya. OSKA LEON SETYANA, atau yang akrab dipanggil Kak Oska, sering juga disebut sebagai Tukang Tambal. Kenapa ? "Karena saya sering menggantikan rekan saya bila berhalangan," ujar mantan penyiar radio swasta di Bandung.
Dirgantara sempat menemuinya dalam kesempatan "Jumpa Kak Oska" di Jakarta. Siapa dia sebenarnya ? "Saya mulai bergabung dengan Radio Australia tahun 1983, tepatnya saya sampai di Australia, tanggal 15 Agustus 1983," ujar Kak Oska. Berbincang-bincang dengan Kak Oska tidak akan bosan, seperti halnya Dirgantara yang sempat menyanggongi di stasiun kereta api Gambir, Jakarta. Gelak tawa yang selalu menyertai perbincangan makin menambah rileksnya wawancara. Ngga percaya ? Ikuti kutipannya :
Barangkali, sebelumnya Kak Oska punya pengalaman di dunia radio di Indonesia ?
+ Tahun 1970, saya mulai berkecimpung di bidang siar-menyiar di radio swasta niaga (nasional), di kota Bandung, yaitu di Radio Paramuda, kemudian di Radio Maestro, di kota Bandung juga.
Bagaimana kesannya, saat pertama kali mengudara di Radio Australia ?
+ Aduh ... susah ya. Saya kira, maksudnya sama saja. Artinya, hanya pada waktu itu, belum terlalu tertiblah di Indonesia, waktu tahun 1970-an. Sedangkan, makna dari penyiar radio itu, saya kira sama saja, memberikan informasi, hiburan, kepada pendengarnya. Itu sajalah, jadi ada dua, dan sama beratnya.
Bisa diceritakan pengalaman pertamanya saat itu ?
+ Di Indonesia, peralatannya tidak terlalu canggih, seperti di Radio Australia. Itu saja. Tetapi, pelaksanaannya, gaya penampilannya. Semua tergantung pada kita, dan itu sudah saya kuasai, karena sebelumnya saya juga sempat mengalami atau menjalani pendidikan di RRI Bandung. Jadi sudah tahu, bagaimana meng-cover berita, membuat acara. Tidak ada masalah bagi saya.
Apa sebenarnya, syarat-syarat menjadi penyiar Radio Australia ?
+ Setahu saya di mana saya diseleksi, tentu pengetahuan umumnya harus luas, kemudian pengetahuan keradioan. Dan sudah pasti, bahasa Inggris. Karena kita harus menerjemahkan, harus banyak membaca buku dalam bahasa Inggris. Makin banyak bahasa yang dikuasai, makin bagus. Itu saya kira, dan keberuntungan.
Dulu, Kak Oska melamar sendiri, atau memang direkrut oleh Radio Australia ?
+ Enggak. Saya melamar, kok. Waktu ada iklan di salah satu harian, kalau tidak salah Kompas atau Sinar Harapan, saya lupa. Memang, sebelumnya, tahun 1972, saya ke sana. Saya bisa ketemu dengan kawan saya, Mang Ebet Kadarusman. Saya pikir bisa melamar langsung seperti halnya di Indonesia, ternyata tidak bisa.
Harus kembali dulu ke Indonesia. Kita bisa masuk kerja, kalau memang kita diterima. Jadi, saya harus kembali lagi. Dan menantikan, kapan ada penerimaan karyawan baru. Ngga tahunya, ngga selang lama, saya mencoba melamar, tapi prosesnya baru 10 tahun, saya balik lagi ke Australia, diterima di Radio Australia.
Siaran luar negeri berbahasa Indonesia tak hanya Radio Australia, apa Kak Oska juga sering mendengar siaran bahasa Indonesia dari pemancar lainnya ?
+ Saya suka sekali, itu ! Saya sering sekali. Kalau pas ada waktu, saya iseng-iseng putar radio. Biasanya tiap hari, saya selalu mencari-cari radio, artinya Radio Nederland, Deutsche Welle, Suara Amerika, atau semuanya saja. Ingin mendengar bagaimana mereka membawakannya, begitu. Dan apa yang ditampilkannya. Nah, itu saya coba bandingkan dengan kemampuan dan kesempatan yang ada di Radio Australia. Semoga saya bisa mengetengahkan itu.
Kalau dibandingkan dengan mereka, sebenarnya, apa yang menarik atau khas dari Radio Australia ?
+ Wah, kalau you tanya pada saya, ya saya balik tanya pada you. Susah ya. Apa yang hebat dari Radio Australia ? Sukar, sukar, saya ngga bisa menjawab. Katanya, kata orang, lebih luwes. Apa betul ?
Orang menganggap bahwa radio bukan sekedar sarana hiburan saja, tapi juga informasi. Mengapa Radio Australia memilih format, yang mana, hiburan boleh dikata lebih banyak dari informasi ?
+ Itu karena banyaknya masukan dari pendengar. Rasanya lebih enak memasukkan informasi lewat hiburan, dari pada terus didoktrin, atau bagaimana. Dengan kata lain, janganlah menggurui. Jadi, memasukkan informasi secara lebih halus, artinya melalui hiburan, bukan melalui cara yang kaku. Itu yang kami coba di Radio Australia.
Sebenarnya, apa tujuan siaran Radio Australia ?
+ Yang sudah pasti, memberikan informasi terbaik, kemudian menjelaskan segala sesuatu yang ada di Australia. Jadi memperkenalkan Australia pada pendengarnya. Di samping memberikan berita atau pengetahuan apa saja yang bisa meningkatkan atau menambah pengetahuan para pendengar. Jadi bisa saja dari lagu, tidak usah dari pengetahuan politik. Bisa dari cerita, pokoknya saling isilah, nggak lebih dari itu.
Kenapa Radio Australia sekarang tidak sekeras dulu ? Ada kesan melemah ?
+ Sukar ya, apa benar melemah. Itu karena perubahan keadaan. Kita tidak bisa memberitakan sesuatu yang lain, mungkin sumber beritanya beda, cara pengambilan beritanya, penalaran beritanya berlainan. Tetapi tidak benar kalau kita tidak memberitakan sesuatu yang kejadiannya ada. Soal hangat atau tidak, itu relatif, itu yang susah.
Jadi itu tergantung dari gaya penampilan masing-masing radio. Tetapi kita selalu mencoba memberitakan berita yang aktual, dan yang nyata. Dalam arti, kata tidak mengada-ada, itu yang paling penting, itu yang kami pegang. Jangan sampai menyiarkan berita yang mengada-ada, itu tidak bagus menurut saya.
Apakah ini bukan karena dulu belum memiliki koresponden di Indonesia ?
+ Waduh, susah, sukar ya, apa karena itu ? Susah jawabnya, menurut Anda sendiri ?
Kak Oska sendiri senang mengasuh acara informasi dan berita, atau yang hiburan ?
+ Kedua-duanya, tapi kebetulan di sini lahan saya acaranya lebih banyak ke hiburan, informasinya tidak langsung. Lebih tepat dikatakan siaran kata. Siaran kata itu lebih kurang 80% siaran kata, sisanya hiburan, tapi bukan berarti kalau lagu itu tidak ada informasinya. Dengan memutarkan lagu, orang bisa mengenal apa artinya, musiknya, nyanyiannya, serta bentuknya. Saya sering memasukkan "kata orang", begitulah, jadi semuanya informatif.
Sebenarnya, tugas penyiar Radio Australia sehari-harinya itu apa ?
+ Begitu datang, menyiapkan berita, sudah pasti ya, karena tiap orang harus kerja tujuh jam 12 menit, atau tujuh jam 42 menit dipotong 30 menit istirahat untuk makan. Kami ini dibagi-bagi. Ada lurahnya, artinya pemimpinnya hari itu, ada bagian Laporan Internasional, bagian studio, dan bagian berita. Mereka punya posisi masing-masing. Mereka yang jadi lurah hari itu punya tugas mencari berita di komputer dari ruang berita, menyeleksi, membagikan, menugaskan semua untuk menerjemahkannya.
Bagian Laporan Internasional mencari laporan apa yang bisa dipilih, dikerjakan, kita terjemahkan juga. Itu memakan waktu dua jam sampai mengudara. Bagian studio kurang setengah jam mengudara, sudah harus menyiapkan studio. Lantas masuk studio, dan mengudaralah dengan berita. Sementara itu, kita siapkan lagi berita berikutnya, 3,5 jam pagi dan 3,5 jam sorenya.
Demikian juga tugas sore sampai malam. Itu empat orang lagi, kemudian ada tugas progrep, artinya programme represent, mempersiapkan. Itu bebas, jam 10.00 sampai jam 6.00 mencari berita, bahan acara, seleksi rekaman, PH. Dari seminggu kita kerja, dua hari itu untuk progrep, lima hari kita kerja. Begitu setiap harinya.
Mengapa berita Radio Australia, yang dulu 10 menit, sekarang menjadi Sari Berita, yang hanya sekitar lima menit ?
+ Itu hanya soal formatnya, sebetulnya jumlahnya sama, hanya cara penyajiannya yang berbeda.
Kak Oska, hidup di Australia itu enaknya seperti apa ? Apabila dibandingkan dengan di Indonesia ?
+ Buat saya, hidup itu tergantung dari kita, bukan dari tempat. Kalau kita sendiri tidak menyukai, tidak bisa membina diri kita sendiri, di manapun kita berada, kita akan tetap sama, sama susahnya. Jadi soal enak atau tidak enak itu relatif.
Kak Oska sendiri akan menekuni profesi sebagai penyiar Radio Australia sampai kapan ?
+ Sampai saat ini sih, pekerjaan saya itu. Kecuali you ngasihkan saya pekerjaan lebih bagus, saya pindah dah. Apapun yang terjadi. Tetapi rasanya sampai saat ini itu saja, di samping mengajar.
Bisa diceritakan, Kak Oska mengajar dalam hal apa ?
+ Apa saja yang bisa saya ajarkan.
Di sekolah atau...
+ Dulu saya pernah mengajar komputer. Saya mengajar basic program, introduction to computer, flow charting. Bahkan saya pernah membuat buku kunci menyusun Basic programme, yang diterbitkan oleh penerbit Alumni. Juga sempat mendirikan beberapa kursus komputer, di antaranya Surabaya Computer College.
Bagaimana dengan di Australia sendiri ?
+ Saya sering mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang-orang, tapi secara tak langsung, artinya, kepada kawan-kawan. Biasanya, di kantor ada yang ingin belajar bahasa Indonesia. Ya, silakan duduk dengan saya satu jam, ngobrol. Saya coba juga menyusun program mata pelajarannya. Pokoknya, yang membuat mereka bisa sedikit berbahasa Indonesia. Di lingkungan sosial juga kawan dekat dari istri saya. Kalau secara langsung, tidak karena saya penyiar, dan tidak boleh merangkap.
Boleh kami tahu, Kak Oska sebenarnya asalnya dari mana ?
+ Saya lahir di Bandung, kemudian beberapa tahun di Jakarta. Kembali lagi ke Bandung, jadi saya penduduk kota Bandung.
Bisa diceritakan, bagaimana dengan keluarga Kak Oska ?
+ Saya sudah menikah, punya empat anak. Dua anak lahir di Bandung, yang paling besar Valery, 14 tahun. Yang nomor dua, Mario, 12 tahun. Di Australia, punya dua lagi, Ivan, tujuh tahun, dan Andrew, tiga tahun. Jadi, dua produk dalam negeri, dan dua produk luar negeri.
Bagaimana dengan sekolah mereka ?
+ Saya sekolahkan mereka di Australia. Valery pernah sekolah TK waktu di Indonesia, kemudian mereka sekolah di sana semua. Tetapi, Valery masih lancar bahasa Indonesianya. Yang tiga, sekalipun dua lahir di sana, mereka ngerti bahasa Indonesia, tapi menjawabnya selalu dalam bahasa Inggris. Sukar. Tapi kami berencana ke arah sana, mereka akan belajar bahasa Indonesia. Ada sekolah khusus bahasa Indonesia di Australia. Mereka akan berkembang sendiri. Dan saya yakin, mereka akan bisa berbahasa Indonesia.
Bagaimana caranya Kak Oska menanamkan rasa cinta tanah air kepada mereka ?
+ Biasanya, saya membawa film-film. Atau slide. Atau buku-buku dalam bahasa Indonesia. Dan setiap malam, sebelum tidur, kami menceritakan, buku apa, gambar apa, gedung apa, di mana Jakarta, siapa presidennya. Jadi secara tidak langsung mereka mengenal. Kemudian, keluarganya, siapa kakeknya, neneknya, pokoknya semua.
Respon mereka bagaimana ?
+ Oh, baik, mereka senang, seperti sekarang, mereka berada di Indonesia (Saat Kak Oska wawancara dengan Dirgantara, red.), mereka sangat senang sekali. Meskipun, namanya juga anak-anak, mereka masih tetap rindu dengan kawan-kawannya di Australia sana.
Mereka berbahasa Indonesia di sini ?
+ Bisa, tapi pasif, meskipun tekanannya tekanan Inggris, karena mereka lebih banyak berkecimpung dengan kawan-kawannya yang menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, dengan kawan-kawannya yang seumur, di sini, mereka bisa berkomunikasi bukan dengan bahasa Inggris.
Barangkali, ada pesan-pesan buat pembaca Dirgantara ?
+ Mendengarlah terus Radio Australia, kasih kabar ke kami. Apa yang disukai, dan apa yang tidak disukai. (ASB)