Laporan dan Berita
Ranesi Tetap Mengudara
Ini tentunya yang menggembirakan bagi kita semua, akhirnya Radio Nederland Siaran Indonesia, RANESI, tidak jadi menutup siarannya. Sementara, beberapa seksi lain, sesuai dengan rencana reorganisasi telah mengalami nasib buruknya, ditutup. Dengan demikian, usaha Anda mendukung "Anti Penutupan RANESI" ada buahnya, patutlah kita syukuri. Bagaimana sebenarnya ? Ikuti tulisan berikut yang kami sadur dari Suara Pembaruan lewat Bulletin Pendengar terbitan Jakarta.
Direksi dan Dewan Karyawan Radio Nederland sepakat untuk mencoba menerapkan rencana reorganisasi yang diusulkan Dewan Pengurus pada 26 April 1994 lalu, dengan mengurangi jumlah karyawan yang akan dirumahkan, dan mempertahankan siaran dalam bahasa Indonesia. Meski belum melegakan, tetapi ini hasil maksimal setelah selama tiga bulan, karyawan Radio Nederland dilanda keresahan.
Semula, Radio Nederland akan menutup siaran siarannya dalam empat bahasanya, Indonesia, Perancis, Arab, dan Portugis (baca Dirgantara edisi 4 (1), red). Mengudara dalam sembilan bahasa, disamping keempat bahasa tersebut adalah Belanda, Inggris, Spanyol, Sranan Togo, dan Papiamento. Sejak tiga bulan yang lalu, Sranan Togo dan Papiamento sudah tidak mengudara lagi.
Bahasa Spanyol masih dipertahankan, ini pun dikarenakan telah ditanda tanganinya kontrak kerjasama dengan stasiun stasiun radio lokal untuk menyiarkan ulang acara Radio Nederland. Tahun ini, Pengurus Yayasan Radio Nederland ingin menambah jam siarannya ke Eropa dalam bahasa Inggris dan Belanda. Ini dikarenakan Radio Nederland mendapat kritik dari Dewan Media (Mediaraad), yang menyatakan Radio Nederland ketinggalan zaman, terkotak kotak, dan terlalu banyak manajer, serta kurang fleksibel.
Untuk memperbaikinya, butuh dana, tapi ironisnya, pemerintah tak ada dana. Itulah sebabnya, Dewan Media menyarankan Radio Nederland berperan sebagai humas kementerian kementerian, sehingga mendapat tambahan dana. Namun direksi tetap mempertahankan keindependenan Radio Nederland, dan tidak mau menjadi humas pemerintah.
Sikap direksi menyebabkan dewan pengurus mengambil keputusan untuk memecat dua direktur, serta mengangkat manajer interim atau manajer sementara yang bekerja sejak 1 November 1993, serta menghasilkan "rencana reorganisasi", diumumkan 26 April 1993. Manajer sementara seharusnya sudah berhenti pada akhir April 1994, tetapi karena rencana itu ditentang oleh karyawan dan Dewan Karyawan, ia harus bekerja hingga akhir Juni, sesudah direktur baru bekerja pada 1 Juni 1994.
Sejak April 1994, mulailah karyawan membentuk Komite Aksi untuk mempertanyakan "rencana reorganisasi", yang ternyata dijawab pengurus Yayasan Radio Nederland dengan tidak memuaskan. Maka, mulailah terlibat beberapa persatuan organisasi buruh. Tiap kali, bersama Komite Aksi dan Dewan Karyawan, mereka berusaha mencari pemecahan yang tepat, karena 89 orang terancam akan dirumahkan.
Dari jumlah itu, hanya 19 orang boleh bekerja kembali, itupun dengan syarat harus melamar, dites ulang, dan dengan kemungkinan mendapat gaji lebih kecil. Puncaknya, Komite Aksi melakukan kampanye ke luar Den Haag dan Amsterdam. Sementara itu, reaksi dari para pendengar, organisasi, dan tokoh-tokoh penting mengalir terus menentang rencana penghentian siaran keempat bahasa tersebut.
Reaksi terbesar datang dari pendengar di Indonesia, baik dari berbagai organisasi maupun perorangan, dan juga tokoh-tokoh maupun organisasi swadaya di Belanda, yang mempunyai hubungan dengan Indonesia. Dari keempat bahasa yang wilayahnya menjadi sasaran, hanya Indonesia yang mempunyai hubungan terlama dengan Belanda. Pakar ke-Indonesia-an di Belanda sangat menyayangkan bila siaran bahasa Indonesia ditutup.
Di antara mereka yang mengirimkan surat protes, terdapat Prof. (em) Dr. A. Teeuw, Novib, Indoc, dan lain-lainnya. Dalam situasi tidak menentu, sesudah diumumkannya "rencana re-organisasi" pada 26 April 1994, Kepala Seksi Indonesia Radio Nederland, Joe Comman (dari Australia, dan pernah tinggal beberapa tahun di Indonesia, serta fasih berbahasa Indonesia) meminta agar karyawan tetap melaksanakan tugas, melakukan siaran, dan tidak melakukan pemogokan.
Sikap ini dipuji Manajer Sementara sebagai sikap profesional, sementara itu seksi-seksi lain melakukan rekaman-rekaman untuk masa libur. Di lain pihak, siaran ke Eropa juga sudah dimulai, dengan menambah jam siaran. Namun siaran-siaran ke wilayah Eropa yang dianggap mubazir harus membuktikan bahwa cukup banyak pendengarnya. Siaran berbahasa Spanyol ke Amerika Latin pun diberi waktu setahun untuk membuktikan diri, bahwa terdapat peningkatan pendengar.
Sementara itu, siaran dalam bahasa lain masih dipertanyakan. Apakah akan tetap menggunakan gelombang pendek ? Sesuai dengan rencana, dikembangkan Bahasa Jerman untuk Eropa Timur, yang akan lebih mubazir lagi, karena penduduk Eropa Timur yang berbahasa Jerman tidak sebanyak yang mampu berbahasa Rusia. Proyek-proyek yang akan dikembangkan adalah penyiaran ulang melalui radio-radio lokal atau relai langsung, sesuai dengan perjanjian.
Tapi inipun sangat diragukan untuk Eropa Timur, yang memerlukan dana bagi stasiun radio swasta. Negeri Belanda mungkin merupakan salah satu negara Eropa yang agak tertinggal dalam memanfaatkan siaran melalui satelit untuk siaran radio, walaupun mempunyai siaran radio internasional. Inggris dengan BBC-nya dan Jerman dengan Deutsche Welle-nya, telah mendahului dengan memadukan siaran TV dan radio melalui satelit.
Siaran gelombang pendek dengan segala teknologinya masih akan tetap bisa dimanfaatkan oleh negara manapun, termasuk Belanda, dalam dua puluh lima tahun sampai setengah abad mendatang. Singapura baru saja memanfaatkan siaran gelombang pendek (Thailand baru saja mengudara dalam bahasa Indonesia juga, red). Inggris, walaupun mengurangi, juga menambah siaran dalam bahasa lain melalui gelombang pendek.
Siaran gelombang pendek tetap menarik, walaupun perang dingin sudah berlalu. Radio Free Europe dan Radio Liberty milik Amerika Serikat tetap dipertahankan, meskipun kantor pusatnya dipindah dari Munchen ke Praha. Kembalinya dan diperbesarnya siaran Radio Nederland ke Eropa dinilai sebagai kebijaksanaan "menarik diri" seperti siput, yang tak lain kembali ke dasar, awal siaran pada 1947.
Bedanya, dulu siaran dalam bahasa Belanda dan Indonesia, kini dalam bahasa Belanda dan Inggris. Tetapi, ketika pada 1960, Radio Juliana meresmikan gedung Radio Nederland yang bentuknya seperti pesawat terbang, ia berkata, "Gedung ini seperti pesawat terbang, saya harapkan bisa ke mana-mana".
Hal ini bisa disaksikan di Oemroepmuseum di Hilversum. Pada waktu itu, siaran sudah dalam sembilan bahasa. Mungkin Putri Juliana, sekarang, bersama Pangeran Bernhard kecewa, karena Radio Nederland makin diperkecil. (Yuyu A.N. Krisna)