Catatan Pinggir
Anda tentunya sudah mendengar melalui siarannya, juga mungkin melalui berbagai media cetak maupun elektronik di Indonesia, yang tak kalah gencar memberitakan. Atau, kalau Anda tidak sempat mengikuti dari kesemua media yang kami sebutkan tersebut, pasti Dirgantara menjadi satu-satunya media itu. Isu yang dilemparkan kurang lebih satu tahun yang lalu, ternyata bukan gosip murahan, bak artis masa kini yang selalu akrab dengan itu.
Radio Nederland Wereldoemroep, yang dulu dikenal sebagai Radio Hilversum, akan menutup RANESI (Radio Nederland Seksi Indonesia). Perampingan manajemen, istilah halusnya, bukan lagi hal baru. Di tengah lesunya perekonomian dunia, perampingan manajemen memang diharapkan bisa mengatasi masalah itu. Maka, tidak heranlah kalau banyak stasiun melakukan hal itu. Tapi ada sisi menarik kali ini, apa itu ?
Beberapa waktu yang lalu, Radio Tirana, yang mengudara dari daerah Semenanjung Balkan, juga menutup siaran bahasa Indonesia. Tetapi gemanya tidak seperti sekarang ini, dan kalau Anda seorang DXer, yang selalu "Around the world by radio", pasti kenal pula stasiun yang punya call sign "Siaran Bentara". Kedua stasiun tersebut sudah tidak mengudara lagi. Bagaimana reaksi pendengar saat itu ? Mereka tidak interest, mungkin dianggap sebagai layaknya kejadian rutin, biasa terjadi.
Bahkan, saya yakin ada di antara Anda yang tidak kenal mereka, khususnya lagi Siaran Bentara, yang memang hanya sekedar "numpang lewat". Jangan heran, kalau ada klub pendengar radio, radio listeners club, di Indonesia yang yakin bahwa Radio Tirana Siaran Bahasa Indonesia masih mengudara. Hal ini berbeda dengan berita penutupan siaran bahasa Indonesia Radio Nederland. Begitu diluncurkan, berbagai media di Indonesia gencar memberitakannya.
Pernahkah Anda mendengar berita demonstrasi menentang penutupan sebuah stasiun radio ? Barangkali, dan saya yakin, belum. Mungkin baru sekali inilah terjadi, seperti yang dilakukan oleh pendengar di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Sedemikian menarikkah keberadaan Radio Nederland bagi kita ? Barangkali memang demikian. Berita yang dilansir DX Komunikasi asuhan Asbari Nurpatria Krisna mendapatkan reaksi pendengar di Indonesia.
Dari wawancara saya dengan mereka, semua yang tahu dengan Radio Nederland sangat menyayangkan hal itu. Mau tahu, apa alasan utama mereka ? Radio Nederland mampu menjadi "cermin" bagi kita. Gema Warta, yang terkadang cukup bombastis, memang banyak mendapat sorotan. Keberanian itulah yang menarik dari Ranesi. Dari sinilah, bisa kita menyimpulkan, bahwa pendengar bukan sekedar mencari hiburan.
Akan tetapi, berita atau informasi yang aktual juga memperoleh tempat. Kedekatan dengan para pendengar lewat berita atau informasi sekitar terbukti mampu mengikat pendengar. Lantas, bagaimana dengan stasiun lain ? Ah, masing-masing punya misi dan kiat sendiri. Tapi yang pasti, informasi yang aktual yang dibutuhkan. (ASB)
Redaksi
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab
Aries Subagyo
Wakil Pemimpin Redaksi
Drs. Herbert Sunu Budihardjo
Redaktur
- Aji Soekardy
- Florentina Ina Rimawati
- Gunarto
- Soekirno
- Akbar Indra Gunawan
- Ahmad Kadafi
- Kustiyono
- Soehartono Ashar