Telekomunikasi
Singapura Segera Luncurkan Satelit
Sejalan dengan globalisasi informasi, teknologi satelit kini juga makin berkembang. Kebutuhan akan komunikasi memaksa satu negara kecil, Singapura, memiliki satelit sendiri. Mungkin dalam kurun waktu dua, tiga tahun, Singapura akan memilikinya, yang akan disewakan kepada negara lain, di samping dipakai sendiri. Ini akan menjadi saingan bagi Indonesia. Demikian, Harian Pagi Jawa Pos memberitakan.
"Selagi Singapura belum memiliki orbit, Indonesia harus memasarkan diri sekarang," ujar Ir. Arifin Nugroho, Ketua Adhoc Tim Strategic Planning P.T. Telkom Pusat. Namun demikian Indonesia tak perlu terlalu khawatir, karena kemungkinan permintaan orbit Singapura untuk satelitnya tidak mudah. Menurut dia, pemanfaatan Satelit Palapa kini telah berkembang dengan pesat.
Kalau dahulu, yang memanfaatkan, user, hanya sebatas Telkom untuk mengganti sistem komunikasi terestrial yaitu telekomunikasi jarak jauh, televisi, maupun telepon, kini telah berkembang luas pada layanan yang diberikan kepada user lain. Menurut Arifin, pemilikan satelit oleh Indonesia sangat menguntungkan. Tidak seperti banyak kritik selama ini, bahwa pemilikan satelit mubazir, karena biaya, pembelian, dan perawatan lebih besar daripada pemasukan.
Hal itu disebabkan perluasan penggunaan satelit, di antaranya berupa penyewaan transponder dan satelit monitoring. Selain itu, dapat pula untuk fungsi teleport, yang digunakan untuk siaran dari Ujung Pandang, yang ingin disiarkan secara nasional, sehingga siaran dapat dilakukan langsung dari sana, atau dari mana saja. "Itu merupakan television distribution network yang telah dilakukan oleh televisi swasta di Indonesia, di antaranya AN teve, RCTI, SCTV," katanya.
Selain itu, penggunaan satelit dapat untuk satelit gathering news. Hal ini sangat diperlukan untuk para wartawan yang ingin mengirimkan beritanya melalui satelit. "Alatnya dapat dibawa kemana saja, karena terminalnya dapat diringkas. Misalnya siaran sepak bola atau acara kenegaraan. Alat ini baru dipakai oleh negara-negara maju," katanya. Pemanfaatan satelit diperluas untuk distribusi data oleh bank, antar bank, dan radio.
"Seperti RRI yang akan menyiarkan melalui gelombang FM ke seluruh pelosok. Tetapi ini belum dimanfaatkan. Meski demikian, P.T. Telkom telah memasarkannya," jelasnya. Satelit Palapa yang kini ada tiga buah, kata dia. Juga untuk bisnis VSAT, yang berguna untuk distribusi data dan laporan itu, kini telah banyak digunakan di Indonesia. Paling tidak, ada 1.000 buah instansi yang memanfaatkannya. "Yang juga penting, Palapa dimanfaatkan untuk mengembangkan tele conference," katanya.
Satelit dapat membantu mengembangkan engineering, karena dengan begitu, dapat menyewakan engineer untuk konsultasi komunikasi satelit, baik masyarakat dalam negeri maupun luar negeri yang memanfaatkan satelit. Perluasan pemanfaatan satelit dititik beratkan pada pemasaran transponder. "Indonesia harus menambah jumlah transponder. Sekarang, jumlah transponder baru 72, masih banyak tempat yang bisa digunakan. Juga luas jangkauannya yang bisa lebih jauh," katanya.
Untuk itu, pasar yang diincar oleh Indonesia untuk memasarkan bisnis satelit adalah Indocina, yaitu Myanmar, India, Pakistan, Afganistan, Cina, Korea, Jepang, Selandia Baru, Papua Nugini, Guam, dan sebagian dari Australia. Bisnis satelit di Indonesia sekarang memenuhi target, bahkan lebih. Indonesia dalam hal ini sudah untung. Bayangkan, kalau penyewaan satelit 1,5 juta US Dolar dikalikan 36 transponder selama setahun.
Sekarang sudah tahun, berarti melebihi nilai pembelian dan peluncuran yang besarnya 150 US Dolar, katanya. Menurut dia, itu sudah dihitung dengan biaya perawatannya yang sebesar 30 persen biaya operasional. "Dalam waktu mendatang, pemasaran satelit bersaing ketat. Bahkan bisa jatuh jatuhan harga. Indonesia harus bisa bersaing dengan negara lain yang memiliki dan menyewakan satelit," jelasnya.
Keunggulan Indonesia ? "Letaknya strategis, satelit berkekuatan penuh, reabilitas 100%. Statistik mengatakan reabilitasnya 99.55%. Buktinya, sampai sekarang kan, belum pernah rusak. Karena itu, harga penyewaan satelit Indonesia bersaing dengan negara lainnya". Di waktu mendatang, kecenderungannya, harga penyewaan satelit akan semakin murah dan kekuatan jangkauannya makin tinggi. "Jadi pertahun penyewaan semakin murah," tegasnya.
Arah pemasaran satelit akan lebih dikembangkan ke luar negeri. "Kalau Indonesia berani meluaskan pasarannya ke luar negeri, berarti harus berani dengan tantangan, berarti Indonesia hidup," katanya. Pasar yang paling potensial adalah ASEAN, meski Thailand sudah memiliki Thaicom, Malaysia. Tetapi Indonesia masih melihat Asia Selatan, India, Pakistan, dan RRC yang menjadi pasar paling potensial.
"Namun Indonesia mengantisipasi kebutuhan pasar satelit Asia Pasifik, sebab di daerah ini akan butuh komunikasi data, seperti Jepang, Korea, Taiwan dan Singapura," katanya. "Kebetulan Indonesia letaknya sebagai "pusat gravitasi" daerah Asia Pasifik. Oleh karena itu, perekonomian Asia Pasifik juga bergantung pada Indonesia, nantinya akan membutuhkan jasa satelit," katanya. (end / 01)
Kirim Data Melalui Radio
Komunikasi suara, data, maupun faksimil, saat ini, bisa dilakukan melalui modem, baik yang memanfaatkan jalur telepon, jalur maupun gelombang radio. Untuk daerah yang sulit terjangkau, seperti pegunungan, daerah pertambangan di hutan maupun tengah laut, dan daerah terpencil lain, biasanya modem gelombang radiolah yang digunakan, demikian ungkap Budi Susanto, M.B.A., Presiden P.T. Hollycomindo Hi-Tech, agen tunggal modem radio HF / VHF / UHF Tasco.
Modem Tasco yang mengantarkan data dengan kecepatan 1.200 bps (bytes per second) dari kecepatan maksimal 2.400 bps, memang tidak secepat modem jalur telepon. Namun demikian, sudah ada pula prototipe untuk 9.600 bps. Menurut Budi, itu lebih handal, karena tidak tergantung pada saluran telepon, yang saat ini, masih belum seluruhnya menjangkau ke seluruh pelosok daerah. Pengiriman data 1,3 MB dari Benakat di Palembang ke Jakarta misalnya, hanya 45 menit.
Memang diakui, bahwa investasi modem radio masih mahal untuk saat ini. Investasi awalnya memang relatif mahal, satu stasiun lengkap RP 19 juta, akan tetapi biaya operasionalnya murah. Ini berbeda dengan modem telepon yang investasi dan operasionalnya makin mahal, karena pulsanya yang mahal itu. Belum lagi, ada kemungkinan gagal, bila stasiun lawan sedang on line, faktor kesalahan manusianya tidak terkontrol.
Satu stasiun terdiri dari antena, pesawat transceiver, modem radio, PC (Personal Computer) dan printer, faksimil dan card fax internal, serta modifikasi sistem, ketiganya pilihan. Biaya ini bisa ditekan menjadi Rp 8 juta, apabila Anda cuma membutuhkan modem, radio, dan antena. Saat ini, modem gelombang radio telah digunakan, antara lain Aneka Tambang, Total Indonesia, Yamaha Motor Kencana Indonesia, Grup Barito Pasicif, dan Mandala Airlines. (Info Komputer/M Guntur Dahlan)