Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 4 No 1 Agustus 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP 2 Kopeng
Laporan Berita
Profil Stasiun
Bengkel DXer
Sosok
DX Mania
Antena
Telekomunikasi
Dunia DX
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Profil Stasiun

Ada pepatah kuno yang mengatakan "Tuntutlah Ilmu ke Negeri Cina". Sudah tidak berlakukah itu ? Terlebih-lebih bagi Tomoko Yoshimura, produser Radio Jepang NHK, yang menjadi tulang punggung RADIO JEPANG NHK. Momo-san, begitu dia akrab dipanggil, bukan pergi ke Cina, tetapi malah ke negeri kita, Indonesia. Mengapa dia memilih ke Indonesia, bukannya ke negeri jiran yang relatif lebih dekat ? Tentunya banyak pertimbangan dan 1001 alasan.

Yang utama adalah karena pekerjaannya sebagai produser Radio Jepang NHK, dan yang lebih khusus lagi, produser untuk siaran dalam bahasa Indonesia. "Untuk mengetahui secara lebih jelas, saya harus pergi ke Indonesia. Selain belajar bahasa Indonesia, juga mengenal adat istiadatnya, sehingga kami bisa mengenali siapa pendengar kami, berikut latar belakang kehidupannya," ujarnya kepada Dirgantara.

Untuk itu, Momo ditugaskan belajar ke Indonesia, dalam hal ini di Radio Republik Indonesia, tepatnya di bagian pemberitaan. Ditemui di Radio Panorama FM 102.3 MHz, Momo-san mengungkapkan secara panjang lebar kepada Dirgantara. Momo-san menghadiri Temu Daerah Indonesian DX Club di Tretes awal tahun 1994 ini. Pengalaman yang pertama bagi Momo-san bertemu dengan pendengarnya.

Bagaimana kesan Momo setelah menghadiri Temu Daerah Indonesian DX Club ?
+ Senang sekali, karena selama ini komunikasi dengan pendengar hanya melalui surat, jadi boleh dikatakan sangat terbatas. Dengan adanya Temu Daerah Indonesian DX Club, saya bisa langsung bicara dengan pendengar, bagaimana saran-saran mereka, kami bisa tahu langsung.

Sebenarnya Momo ke Indonesia untuk apa ?
+ Itu tugas dari kantor saya, NHK, untuk belajar menulis naskah dan cara wawancara dalam bahasa Indonesia, maupun untuk menambah pengetahuan tentang Indonesia.

Spesialisasinya ?
+ Saya bertugas di bagian pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, bidangnya... nggak ada, tapi kebanyakan masalah politik dan ekonomi.

Sebagai wartawan Radio Jepang ?
+ Bukan. Untuk perwakilan wartawan itu ada seorang di Jakarta, mewakili Radio dan TV NHK, saya cuma studi banding, tapi kalau ada hal-hal yang menarik dan perlu untuk diberitakan, saya langsung janji atau appointment wawancara untuk saya sendiri.

Rencana di Indonesia berapa lama ?
+ Saya datang ke sini tanggal 1 Desember 1993 sampai akhir bulan Mei 1994, dan dalam waktu enam bulan rencana saya ke Ternate, Ambon, Irian Jaya.

Apa saja kegiatan Momo-san selama di Indonesia ?
+ Begini, selama saya berada di Radio Jepang, saya kan punya acara dalam bahasa Indonesia. Di situ, kami banyak melakukan wawancara dengan orang Indonesia, misalnya saya buat acara mengenai kebun pisang di Indonesia. Ternyata di kota Carella, pulau Halmahera, mereka itu pendatang baru. Mereka berasal dari lahan kebun di Filipina, dan ingin mengekspor komoditi itu ke Jepang. Saya ingin melihat bagaimana hasilnya di sini, dan saya ingin bertemu dengan orang-orang yang pernah saya wawancarai dulu.

Dari sekian banyak tempat yang sudah Momo kunjungi, bisakah Momo mengambil perbandingan antara Jepang dan Indonesia ?
+ Wah, itu pertanyaan yang susah, tapi yang saya ketahui, pembuatan acara radio itu jauh berbeda. Mungkin bedanya di administrasi, kalau di Jepang, seusai kita siaran, selalu ada evaluasi dari atasan maupun dari pendengar. Kalau di sini, walaupun pendengar menulis surat, tetapi bagian surat-menyurat yang menerima surat itu hanya menampung.

Tidak diteruskan ke produser. Jadi pembuat acara ataupun wartawan tidak tahu bagaimana reaksi dari pendengar. Itu sayang sekali, sehingga putuslah aspirasi untuk membuat suatu acara, atau susah untuk mengenali apa yang diinginkan atau ingin disampaikan. Dan, yaah, buat acara itu sebenarnya untuk siapa ?

Melihat kekurangan tersebut, barangkali Momo punya saran atau sumbangan pikiran, adakah itu ?
+ Iya, saya ingin mengkritik RRI. Saya sarankan, salah satunya sistem membuat berita atau acara itu masih sangat sederhana. Masih menggunakan mesin ketik biasa. Kalau di kantor penerbitan koran atau surat kabar, atau majalah mingguan, mereka sudah menggunakan komputer, tapi di RRI masih pakai mesin ketik biasa, bukan mesin ketik elektronik atau komputer. Ini makan waktu untuk mengedit naskah.

Segi positifnya, yang bisa Momo ambil dari RRI, adakah itu ?
+ Di Jepang, seperti yang Anda ketahui, jam kerjanya sangat panjang, sehingga tidak ada kesempatan untuk belajar sendiri, atau menambah pengetahuan di bidang lainnya. Kalau di sini, khususnya untuk pegawai negeri, jam kerjanya tidak begitu panjang, jadi seusai kerja masih bisa menambah pengetahuan. Atau kalau ada kegiatan sosial bisa ikut, di Jepang, saya kerja terlalu padat, tidak bisa ikut kegiatan sosial, meski saya ingin. Memang, Sabtu dan Minggu libur tapi tetap tak ada waktu.

Momo-san, selama ini masih ada sebagian pendengar yang belum tahu apa itu Radio Jepang dan NHK, bisa diceritakan ?
+ NHK (Nippon Hoso Kyokai atau Korporasi Penyiaran Jepang, red.) mempunyai dua kantor, TV dan radio. Statusnya bukan swasta, tapi juga bukan milik pemerintah, namanya Public Affair, jadi untuk semua masyarakat Jepang. Radio Jepang merupakan bagian dari NHK yang menyiar melalui gelombang pendek ke luar negeri. Siaran Radio Jepang meliputi 22 bahasa, termasuk bahasa Jepang dan bahasa Inggris, salah satu diantaranya adalah bahasa Indonesia.

Tujuannya adalah untuk memperkenalkan, menginformasikan tentang Jepang yang selama ini dianggap misterius dalam hal adat-istiadat, atau kebiasaan di Jepang itu sangat aneh, kan ? Menurut saya, ya biasa saja. Lantas anehnya di mana ? Atau kekacauan politik Jepang, itu bagaimana latar belakangnya, kok bisa begitu.

Di Indonesia, Departemen Penerangan menangani TVRI dan RRI, dari mana NHK membiayai dirinya ?
+ Kami punya Bagian Keuangan yang bertugas mengumpulkan dana dari satu keluarga ke keluarga lainnya di seluruh Jepang. Itu bisa Anda bayangkan, penduduk Jepang kan cukup banyak, mereka membayar tergantung jenis pesawat TV-nya, apakah berwarna atau hitam putih.

Memang ada juga yang menolak, alasannya tak suka siaran NHK, belum pernah mendengar, atau menonton. Tetapi, walaupun begitu, tetap kami minta, karena bagaimana pun juga, kami tetap menjadi sarana informasi yang utama bagi masyarakat Jepang. Misalnya, saat ada kecelakaan atau gempa bumi, kami selalu menyiarkan bagaimana situasi saat itu.

Adakah suatu keharusan bagi masing-masing rumah tangga untuk membayar pajak tersebut ?
+ Maksudnya ?

Di Indonesia, bagi mereka yang memiliki pesawat TV diharuskan membayar iuran untuk TVRI, bagaimana di Jepang ?
+ Memang begitu, meski tidak bayar, dendanya tidak ada. Tapi selama ini boleh dikatakan sebagian besar masyarakat setuju untuk bayar iuran, dan karena kami mengumpulkan dana dari masyarakat luas, maka prinsip utama siaran kami juga harus adil. Tidak memihak pemerintah atau pihak tertentu. Harus adil, harus fair.

Bisa diberikan contohnya ?
+ Bentuknya ada banyak, misalnya waktu pemilu, kalau gambar partainya itu berlainan, itu ada yang marah. Oh itu partai sesuatu, gambarnya lebih dari partai saya. Bagaimana ? Jadi kami harus menentukan ukuran yang sama, walaupun wajah orang itu berlainan sekali. Itu susah ya, maka kami perhatikan betul bagaimana cara kita menyiarkannya secara fair.

Di Indonesia, pihak TVRI sendiri masih kesulitan dalam menggali dana dari masyarakat, apakah karena kesadaran rakyat Jepang lebih tinggi dari Indonesia ?
+ Begini, kalau di Jepang, NHK itu sudah mempunyai sejarah yang cukup panjang, sedangkan di sini, masih baru kan ? Itu saja yang membedakan, bukan karena kesadaran orang Jepang itu lebih tinggi.

Berapa persen yang masuk dari target yang ditentukan ?
+ Selama ini targetnya hampir selalu terpenuhi. NHK sendiri sudah menambah channel TV, bahkan untuk siaran satelit juga. Untuk itu, ada juga yang menolak. Jadi masih juga ada kesulitan yang kami alami. Tapi yaah, lumayan, tak terlalu menjadi masalah.

Di Jepang sendiri, apakah tidak ada TV dan radio swasta yang menyiarkan iklan, seperti di Indonesia misalnya ?
+ Wow, ada banyak. Di Tokyo, NHK punya dua channel, dan TV swastanya ada enam channel lagi. Apalagi kalau siaran TV kabel, wah saya tidak tahu berapa banyak. Juga radionya, wah lebih banyak lagi.

TVRI dan stasiun TV swasta terus bersaing, bagaimana dengan persaingan di Jepang ?
+ Beberapa TV swasta ada kaitan dengan surat kabar. Kalau surat kabar, salah satu surat kabar yang terbesar, Harian Asahi, ada kaitannya dengan channel Asahi. Begitu juga pesaingnya, seperti persaingan antara harian ini dan harian itu.

Momo sudah menonton siaran RCTI, SCTV, TPI, dan ANTV. Kalau dibandingkan dengan siaran televisi swasta Jepang, apa yang bisa Anda simpulkan ?
+ Kalau di sini, boleh dikatakan masih baru kan... siaran swasta itu. Sepertinya, karena mereka masih baru, mereka bisa menjadi siaran apa saja. Maksud saya, siaran menuju warna begini, warna begitu, belum ditentukan. Kalau di Jepang, sudah ada warnanya. Kalau channel 4, wah... ada banyak acara musik. Channel lainnya, wah... banyak acara tentang saham misalnya. Di sini, kelihatannya mereka masih bingung, ya ? Ini akan menjadi televisi swasta yang bagaimana ? Gambarannya belum ditentukan dengan jelas, begitu.

Kita kembali ke radio, di Indonesia, RRI mempunyai jaringan, seperti Nusantara, Regional, yang tersebar di semua propinsi. Bagaimana dengan NHK ?
+ Sama, NHK juga punya cabang-cabang di daerah. Itu berarti tiap propinsi punya kantor NHK. Di kantor itu, ada siaran televisi dan radio. Seperti di sini, jam-jam tertentu, itu isi siarannya sama dengan pusat. Memang, ada permintaan khusus dari daerah untuk menyiarkan siaran khusus. Jadi, mutu siaran di daerah dibandingkan di Tokyo itu sedikit berbeda, tapi lebih sesuai dengan permintaan, dan tentu saja, banyak informasi daerah setempat. NHK sendiri punya karyawan 12.000 orang, termasuk kantor kami. Kami dalam rangka latihan ke daerah.

Apakah ada satu kewajiban relai bagi radio swasta seperti halnya di Indonesia ?
+ Wow... di Jepang itu beda semua. Tidak ada aturan semacam itu. Tapi kalau ada radio yang bermaksud mengacaukan masyarakat, itu akan dimarahi, karena itu melanggar Undang-undang siaran di Jepang. Baru baru ini, bulan Oktober 1993, salah satu siaran swasta mengalaminya. Di dalam suatu konferensi, mereka menyatakan bermaksud memenangkan salah suatu partai dalam pemilu. Pemerintah maraaaah sekali, pemerintah memanggil beliau (direkturnya, red.) ke kongres, dan dia memang hilang jabatannya.

Ada semacam persatuan radio swasta di Jepang, seperti halnya PRSSNI di Indonesia ?
+ Ada, tapi kalau di Jepang, bentuknya bukan perorangan, tapi kantor.

Radio Jepang tidak sendirian menyiar dalam bahasa Indonesia, bagaimanakah Radio Jepang mengantisipasi persaingan dengan pemancar lainnya ?
+ Kami bekerja sama dengan orang Indonesia asli yang tinggal di Jepang, tapi mereka ternyata, karena begitu lama tinggal di Jepang, tidak mempunyai informasi yang baru untuk memperbaiki kesalahan kami. Maka, kami mengundang penyiar dari Indonesia, misalnya dari RRI, dan ini bukan hanya oleh seksi bahasa Indonesia, tapi setiap seksi juga mengundang penyiar dari negara mereka.

Barangkali satu tim yang ditugasi mengamati stasiun lain, seperti ABC, BBC ?
+ Ada, akan tetapi jumlahnya terbatas, dan sampai dua tahun lalu, kami mengundang produser Radio Canada Internasional (Ian McFarland).

Anda sudah mengamati mereka selama di Indonesia ?
+ Saya pernah datang ke seksi monitoring-nya RRI, di mana mereka menangkap siaran dari luar negeri. Saya melihat naskah berita dari KBS, dari Pakistan, dan lainnya. Kayaknya, Radio Jepang itu beritanya tidak begitu baru, yah. Dan memang, saya menerima kritikan semacam itu.

Mengapa bisa demikian ?
+ Karena kami di Jepang, tenaga kerjanya sangat terbatas, maksudnya orang asing yang mampu berbahasa Jepang. Kami harus menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris terlebih dahulu. Makanya, kadang-kadang isi warta beritanya tidak begitu baru.

Anda sendiri sudah pernah mendengarkan siaran dari stasiun siaran lainnya ?
+ Saya pernah mendengar Radio Nederland. Cara membuat acara itu sangat berlainan, mungkin karena mereka di sana, kayaknya, banyak menggunakan bahasa Inggris, walaupun siaran bahasa Indonesia.

Apa rencana Radio Jepang tahun 1994 ini untuk pendengarnya ?
+ Mulai April 1994, kami meminjam pemancar di Singapura (milik BBC, red.) untuk siaran ke Indonesia, karena selama ini, siaran kami kurang kuat diterima. Dalam hal isi siaran, juga sedikit berubah. misalnya siaran pagi, selama ini beritanya lambat. Untuk itu, kami memperbaharuinya dengan mengudarakan dalam bahasa Inggris langsung. Kalau tidak atau kurang mendapat respon, akan kami kembalikan lagi.

Beberapa stasiun siaran mengalami perampingan manajemen, bagaimana dengan Radio Jepang ?
+ Oh... di Radio Jepang tidak ada, bahkan kami akan menambah. Seperti tiga tahun yang lalu, kami menambah siaran dalam bahasa Persia.

Dengan mengudaranya secara nasional televisi swasta di Indonesia, menurut Momo-san, apakah akan berpengaruh bagi pendengar NHK ?
+ Mungkin tidak, peranan radio di Asia atau di negara berkembang masih besar sekali. Di sinilah, saya ingin membantu dan terjun di bidang ini. NHK sendiri juga merencanakan menyiar bukan hanya lewat radio gelombang pendek, tapi juga televisi. Karena selama ini, mungkin informasi tentang Asia Tenggara sangat kurang, sehingga mereka, sekarang, sedang mempelajari bagaimana situasi televisi swasta di Indonesia.

Momo-san, Anda belajar bahasa Indonesia di mana ?
+ Ya... malu deh. Di Jepang saja kok, Universitas Tokyo bahasa asing, jurusan bahasa Indonesia.

Lantas bergabung dengan Radio Jepang karena tugas belajar atau direkrut ?
+ Direkrut NHK, bukan oleh Radio Jepang. Radio Jepang tidak berhak untuk menentukan siapa yang akan datang.

Ada pesan khusus untuk pendengar ?
+ Surat pendengar merupakan hadiah yang paling dihormati buat saya. Kadang saya sendiri menerima kritikan dari atasan saya. Tapi kalau ada sambutan dari pendengar, saya bisa senang sekali. Jadi kalau ada kritik atau saran, silakan menulis ke NHK, Radio Jepang. (ASB)

 
Dirgantara Online - Vol 4 No 1 Agustus 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space